8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
21. Cara lembut.


__ADS_3

"Apa maksudnya semua ini Bang? Kita bisa di gerebeg kalau tinggal satu atap tanpa ikatan yang jelas"


"Ya di jelaskan donk.. bilang saja kita sudah menikah" jawab Bang Satria enteng dengan senyum sarat kelicikan.


"Lintar nggak main-main Bang, Abang jangan senyum nggak jelas begitu..!!"


"Tenang sedikit kenapa sih ma. Papa sudah bantu urus nama di kantor nih. Papa sudah hapus nama Panca dan sudah menggantinya dengan nama keren Papa.. Kapten Satria Jayanegara.. dengan alasan yang kemarin salah nama." Kata Bang Satria.


"Apa Bang, lancang sekali Abang bertindak begitu. Kita berdua bisa di tindak. Lintar sudah menghadap kesana sini berdua dengan Bang Panca."


"Anggap saja refreshing.. nggak usah jadi masalah..!! Harusnya kamu berterima kasih sama Abang, bukannya ngomel" Bang Satria menghembuskan asap rokok dan memainkannya sampai membentuk lingkaran.


"Nggak bisa, kita harus buat surat perjanjian pakai materai. Abang nggak boleh dekat-dekat sama Lintar." Ucap tegas Lintar.


"Okee..!!"


...


Bang Satria melotot melihat banyaknya tumpukan surat perjanjian yang di bawa Lintar di hadapannya. Sedangkan Bang Satria hanya menulis satu kalimat dalam surat perjanjiannya.


"Kamu mau buat perjanjian atau mau melamar pekerjaan. Banyak sekali..!!"


"Tanda tangan atau batal????" Tanya Lintar terdengar seperti ancaman.


Tanpa kata Bang Satria mengambil tumpukan kertas itu lalu membacanya.


1. Tidak boleh ada kontak fisik atau denda satu juta rupiah di hitung kelipatan.


2. Jangan sebut nama Sherina.


"Ayolah berteman sama Sherina.. kenapa sampai sekarang kamu masih sangat cemburu sama Sherina" kata Bang Satria menahan tawanya.


"Cemburu?? Kenapa harus cemburu. Memangnya Abang siapanya Lintar??"


"Suamimu lah, suami tersayang.. Papa nya lahar." Jawab Bang Satria dengan percaya diri.


"Iisshh.. makhluk satu ini percaya diri sekali" Lintar memutar bola matanya, malas sekali berurusan dengan Bang Satria. Ia menyambar kertas perjanjian milik Bang Satria.

__ADS_1


JIKA TERJADI SESUATU HARUS BERUNDING. DILARANG KERAS MINTA CERAI.


"Apa nih?? Kapan menikahnya sampai Lintar harus minta cerai" cerocosnya kemudian membubuhkan tanda tangan di atas materai.


Alis Bang Satria terangkat naik, ia pun membubuhkan tanda tangan tanpa membaca urutan perjanjian yang lain.


"Mana kertasnya, Lintar yang simpan. Di khawatirkan Abang bisa menambah atau mengurangi isi perjanjian sepenggal kata itu" kata Lintar.


"Abang tidak selicik perempuan yang tidak pernah bisa salah"


Ekor mata Lintar melirik Bang Satria. Setiap mengingat nama Sherina hatinya selalu kesal dan tidak pernah bisa lupa.


tok.. tok.. tok..


Lintar panik mendengar suara ketukan pintu. Ia berdiri dan kebingungan mencari tempat untuk bersembunyi.


duuugghhh..


Saking bingungnya kaki Lintar sampai terantuk kaki kursi. Bang Satria tertawa melihat tingkah Lintar.


"Kamu ini kenapa?? Biasa saja lah, status kita aman" Bang Satria berjalan menuju ruang tamu.


"Heeehh.. opo sih Khez.." secepatnya Bang Satria melepas 'kalung' itu dan mengantongi benda keramat tersebut agar Lintar tidak sempat melihatnya.


"Kau jangan pura-pura tidak tau, Lahar masih kecil. Jangan kau buatkan adik..!!" Jawab Bang Khezin.


Secepatnya Bang Satria membungkam mulut Bang Khezin. "Bang Khe sialan. Kecilkan suaramu.. Lintar belum tau keadaan yang sebenarnya. Mulutmu jangan ember begitu..!! Malah aku harus cepat buatkan adiknya Lahar, kalau dia hamil anakku, dia tidak akan kabur kemana-mana"


"Waaahh.. parah..!! Kau ini keterlaluan sekali pintarnya..!!"


Kedua pria itu pun terkikik dengan pikiran nakal masing-masing.


"Ngomong-ngomong modalin gue pacaran donk..!! Kurang modal nih..!!"


"Aahh.. sialan lu..!!"


"Lintaaaarr.. ada tamu nih..!!" Teriak Bang Khezin.

__ADS_1


"Astaga Khez.." Bang Satria merogoh sakunya dan mencari beberapa lembar uang berwarna merah lalu memberikan ke tangan Bang Khezin.


Lintar melongok kan wajahnya. "Eehh.. ada Kapten Khezin..!!"


Bang Khezin tersenyum membalas senyum cantik Lintar. "Lintar cantik sekali."


"Masuk dek.. kesurupan kamu nanti..!!" Gerutu kesal Bang Satria.


//


Pikiran Bang Panca sangat berantakan, hatinya hancur mengetahui Lintar sudah terlepas dari genggamannya.


"Kapan kamu nikahi aku??? Kehamilanku akan segera terlihat" desak Tantri.


"Kamu bisa sabar atau tidak, karena rengekanmu itu aku gagal nikah. Sekarang gadis yang kucintai sudah bersama Satria"


"Apaaa?? Kamu dekat dengan Satria???"


Bang Panca sangat frustasi, kepalanya pening, dadanya sesak memikirkan Lintar. "Kenapa Satria selalu selangkah lebih maju dariku?"


"Siapa yang tahan dengan pesona Satria. Sampai saat ini aku juga masih suka padanya. Hanya saja adiknya terus mengganggu dan menjadi benalu. Aku tidak suka berbagi apapun yang berhubungan dengan Satria"


"Aku tidak bila melepaskan Lintar, aku cinta sama dia." Ucap jujur Bang Panca.


"Lalu aku bagaimana???" Tanya Tantri.


"Aku pasti nikahi kamu, tapi aku nggak bisa naikan status kamu di kantor. Aku ingin Lintar yang jadi istriku..!!"


plaaakkk..


Satu tamparan mendarat di pipi Bang Panca. "Kamu tega sekali bicara begitu. Ini anak kamu Panca..!!"


"Kamu bisa bilang itu anak Satria..!! Dengan begitu kamu dapat Satria.. aku dapat Lintar..!!" Bang Panca mencoba mempengaruhi pikiran Tantri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2