
Cerita masih sangat panjang dan belum usai. Harap sabar dalam cerita Nara. ( Masih dalam alur mundur ).
🌹🌹🌹
"Lintar.. tidak bisa sekarang. Kalau Lintar sudah lulus dan Letnan masih bersedia menunggu.. silakan" imbuh Lintar kemudian.
Senyum Bang Satria merekah. "Jadiii????"
"Lintar mau. Tapi jika Letnan sabar"
"Alhamdulillah..!! " Tak terkira bahagianya hati Bang Satria. "Saya akan sabar menunggu kamu, seperti ucap saya.. tidak ada wanita dalam hati saya kecuali jika itu kamu."
Lintar menunduk dengan senyumnya.
\=\=\=
Satu tahun kemudian.
"Ini masih training dan kamu belum penugasan. Kamu harus berhati-hati dalam tugasmu..!! Saya awasi kamu..!!" Ucap Bang Satria saat mengawal Lintar untuk belajar menggali informasi dari pihak luar.
Mata Bang Satria terus memperhatikan model pakaian Lintar.
__ADS_1
"Apa tidak ada pakaian yang lain, pakaian itu terlalu minim" kata Bang Satria.
"Tapi Let, menurut yang saya baca.. baju juga bisa menimbulkan hasrat pria" jawab Lintar.
"Itu yang saya tidak mau, badanmu bukan untuk di umbar.
Saat itu Bang Gesang Wira sebagai Dantim menyentuh bahu Bang Satria. "Saya tau kamu tidak ikhlas, tapi tugas tetaplah tugas. Kita saling jaga saja..!!"
"Siap Bang"
...
Bang Satria tersulut emosi saat target mereka mengecup bahu Lintar dengan penuh hawa nafsu. Ia berdiri berniat menghajar pria tersebut tapi Bang Gesang menahannya.
:
"Lain kali kamu ikut misi yang lain saja. Abang nggak suka kamu ikut misi seperti ini."
"Tapi Lintar nggak punya niat macam-macam Bang, niat Lintar kerja" Lintar berusaha mengambil hati Bang Satria.
"Abang tau, tapi siapa yang bisa mencegah sakitnya dalam hati melihat kamu berdekatan dengan pria lain. Pria menyentuh wanita tidak akan berbekas, tapi wanita yang tersentuh pria pasti akan menimbulkan bekas. Abang menjagamu, melindungi kamu.. menahan gairah dalam diri Abang sendiri hanya demi kamu. Tidak ada pria normal yang rela wanitanya tersentuh pria lain, begitu juga Abang." Cukup jelas Bang Satria mengungkap kegelisahan dalam hatinya.
__ADS_1
"Lintar pasti hati-hati Bang, Lintar juga akan menjaga diri demi Abang" Lintar mengusap dada Bang Satria sekedar untuk menenangkan prianya.
"Abang cemas kamu mempelajari dunia luar, jika bukan karena tuntutan pekerjaan, kamu tidak boleh melakukannya di hadapan pria lain dan harus memakai pakaian yang sopan..!!" jelas Bang Satria menegaskan setegas-tegasnya pada Lintar.
Lintar berjinjit dan mengecup sekilas bibir Bang Satria. "Hanya Letnan Satria yang Lintar mau"
Di balik ruang toilet pria, Bang Satria membalas kecupan Lintar, darahnya memanas merangkak naik. Nafasnya memburu menuntut penyelesaian. Bang Gesang yang hendak menuju toilet segera mengurungkan niatnya.
Perasaan Bang Satria semakin tak terkendali, tangannya mengepal menahan diri. Menyadari kelemahan batinnya, ia pun menarik tubuhnya. "Kita keluar saja ya..!! Nggak enak sama yang lain" ajak Bang Satria.
Lintar seakan enggan beranjak, ia pun memeluk Bang Satria dengan manja. "Sebentar lagi..!!" Tolaknya.
"Abang juga maunya berlama-lama, tapi berlama-lama berdua disini juga nggak baik. Abang laki-laki dan kamu perempuan. Tidak ada yang menjamin kamu aman bersama Abang. Bagaimana kalau Abang khilaf?? Satria mode sachet bisa launching tanpa di harapkan. Sabar ya, selepas ikatan dinasmu.. kita nikah." Sesabar mungkin Bang Satria membujuk Lintar yang baru saja memahami 'dunia luar', dirinya tidak ingin terpengaruh apapun karena cintanya pada Lintar bukan hanya karena nafsu semata.
"Iya Bang, Lintar paham. Hmm.. kalau satu kali lagi boleh??" Tanya Lintar dengan polosnya.
"Nggak boleh" tegas Bang Satria. "Kamu kuat, Abang yang nggak kuat" ucap jujur Bang Satria demi melindungi kesucian wanita pujaan hatinya.
.
.
__ADS_1
.
.