8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
29. Sebelum berangkat.


__ADS_3

Sore ini ada rapat tentang keberadaan anggota yang akan pergi melaksanakan dinas luar.


"Apa Lintar tidak bisa di tinggal saja Bang? Kasihan Lahar" kata Bang Satria masih memikirkan putranya.


"Tugas tetaplah tugas Sat. Kamu harus kuat dan bisa membedakan antara pekerjaan dan perasaan."


Bibir Bang Satria terkunci, tak ada kata terucap. Baru kali ini hatinya sangat lemah memikirkan anak dan istri.


"Kamu kenapa? Biasanya kamu sangat tegas dalam segala hal. Tapi kali ini kamu tidak menggunakan akalmu Sat" tegur Danyon.


"Ijin Bang, siap salah. Saya hanya kepikiran anak. Bibi yang biasa membantu Lintar sedang pulang kampung karena merawat lahan, beliau tidak punya sanak famili lagi. Saya hanya berat di anak" jawab jujur Bang Satria.


"Mau bagaimana lagi, kamu dan Lintar adalah seorang abdi negara. Di lingkungan kerja tim kita hanya ada empat perempuan. Dua pergi, dua tinggal" ucap Danyon. "Dia berangkat sama kamu, saya tau kamu sangat cemas"


"Siap"


:


"Lintar berangkat juga Bang?"


"Kualifikasi kamu sudah 'mewajibkan' kamu yang berangkat." Jawab Bang Satria. "Siapkan barang. Besok kita berangkat..!!" Perintah Bang Satria.


Lintar mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang abdi negara tentu ia menyadari segala resiko yang ada.


:


"Aman Kapten.. siap berangkat..!!" Kata seorang perawat yang mengontrol kondisi para anggota team yang akan berangkat. "Mohon maaf, untuk yang wanita silakan pakai testpack dulu ya.. dan beberapa test lainnya..!!"


"Siaap.." Lintar dan seorang rekan wanitanya menerima benda tersebut dan segera memakainya.


"Aman khan Sat?" Tanya Danyon setengah meledek.


"Insya Allah aman Bang" jawab Bang Satria.


...


"Khez.. saya benar-benar minta tolong kamu jaga Sherina dan Lahar. Saya berusaha keras menjaga sikap agar adik perempuan saya tidak di permainkan orang."


Bang Khezin sangat paham hitam dan putih seorang Satria di masa lalu terutama Satria dengan para wanitanya. Senakalnya seorang pria, ia tidak pernah merusaknya dan itupun yang membuatnya juga tidak pernah melakukan hal di luar batas bersama Sherina. "Apakah jika aku menikahi Sherina.. kamu akan mengijinkannya?" Tanya Bang Khezin.

__ADS_1


Sorot mata Bang Satria langsung menekan sahabatnya itu.


"Aku nggak munafik Sat, aku sama seperti mu."


Saat itu juga Bang Satria paham ucap Bang Khezin. "Baiklah, selepas kerja saja..!!"


...


Bang Satria duduk berhadapan dengan Bang Khezin dan menjabat tangan kanannya. Tangannya sendiri terasa dingin karena saat ini dirinya akan melepaskan adik kandung satu-satunya untuk melepas kesendirian.


"Saya nikahan kamu.........."


:


Lintar mengambilkan Bang Satria segelas air minum. Sejak menikahkan adiknya tadi.. Bang Satria banyak terdiam, wajahnya datar saja.


"Abang mau makan?"


"Nggak" jawab Bang Satria singkat. Ia menerima air minum yang di ambilkan Lintar untuknya.


"Abang kenapa?" Tanya Lintar.


Lintar mengarahkan tangan Bang Satria yang begitu dingin untuk segera minum. "Sudah ikhlas kah Abang melepas Sherina?"


"Insya Allah sudah ikhlas. Dia menikah dengan sahabat yang Abang tau pasti bagaimana luar dan dalam sifatnya" jawab Bang Satria kemudian membuang nafas kelegaan. "Sekarang pikiran Abang hanya terfokus pada anak dan istri karena Sherina sudah ada yang menjaga"


Lintar mencoba terus menatap wajah Bang Satria. "Menikahi Lintar.. ikhlas atau paksaan?" Tanya Lintar.


"Ikhlas. Lahir batin ikhlas. Karena kamu yang Abang inginkan sejak dulu" ucap jujur Bang Satria. "Kamu sendiri??"


Senyum Lintar tersungging tipis. "Terpaksa" jawab Lintar kemudian pergi meninggalkan Bang Satria.


"Aseeemm.. opo sih karepe wadon siji iki?" Gumam Bang Satria saat melihat gaya berjalan Lintar yang seakan sengaja menggoda dirinya. "Marai puyeng wae"


Saat itu kemudian Sherina mendekati Bang Satria. "Bang..!!"


Bang Satria menoleh dan kemudian Sherina menubruk dan memeluknya. "Ada apa Sher?" Tanyanya bingung dengan sikap Sherina.


"Terima kasih banyak Abang sudah mendidik dan membimbing Sherina selama ini. Sherina tidak pernah merasakan kesepian karena Abang selalu ada untuk Sherin." Ucap Sherin tulus.

__ADS_1


Perasaan Bang Satria terasa tertekan dan tercampur aduk.


"Iya dek"


"Terima kasih karena Abang sudah menjadi Abang sekaligus Ayah yang bertanggung jawab untuk Sherin. Sekarang Sherin sudah menjadi seorang istri. Abang tidak perlu mencemaskan Sherin lagi..!!"


Bang Satria tidak bisa membendung air mata yang akhirnya tumpah di hadapan Sherina. "Baik-baik kamu jadi istri Angkes. Jangan jadi istri yang pembangkang." Bang Satria menciumi pipi Sherina.


"Deekk.. jangan nempel terus sama Satria. Suamimu juga mau" Bang Khezin mecolak-colek bahu Sherina.


Bang Satria mengerti littingnya hanya ingin memecah keharuan. "Sini lu. Kalau nggak sungkem.. jangan harap nanti malam kamu tidur satu kamar sama Sherina" ancam Bang Satria.


Mau tidak mau Bang Khezin sungkem juga menunduk di paha Bang Satria.


"Begitu khan ganteng lu"


"Nanti malam titip Lahar ya Bang Sat" ucap Bang Khezin.


"Lama-lama ngelunjak juga lu yeeee.."


...


Lahar terus menempel pada papanya. "Papa sama Mama mau kerja ya?"


"Iya nak, Papa sama Mama cari uang buat Abang lahar ya" jawab Bang Satria.


"Abang nggak mau uang. Abang mau adik" pinta Lahar kecil dengan polosnya.


"Insya Allah ya Bang, Mama belum mau tuh" bisik Bang Satria.


"Tapi Abang mau" jawab Lahar.


"Jangankan Abang, papa saja mau. Tapi Mama belum siap. Masa memaksa seseorang yang belum mau sih Bang, memaksa itu tidak boleh" Bang Satria sedikit mengajarkan pada putranya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2