8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
45. Pendadakan dari anak.


__ADS_3

Bang Satria menurunkan daster Lintar dan ada seulas senyum dari sang istri yang menandakan bahwa dirinya sudah mampu memenuhi kebutuhan batin sang istri meskipun dengan cara lain. "Tidur ya..!! Abang merokok sebentar..!!"


Lintar mengangguk mengijinkan.


Flashback Lintar off..


"Kalau begitu ajak saja. Masa kamu nggak tau kelemahan suamimu?" Ledek Ami.


"Tentu saja aku tau."


...


Bang Satria merasa ada yang aneh dari Lintar. Sejak makan siang tadi, istrinya lebih banyak diam.


"Kamu kenapa? Nggak enak badan?? Mau kita periksa ke dokter kandungan??" Tanya Bang Satria cemas.


"Nggak Bang." Jawab Lintar sembari memperhatikan ke arah jalan tapi tangannya bertengger di atas paha Bang Satria.


deg..


"Ehmm.. mau mampir makan ataauu pulang?" Tanya Bang Satria lagi.


"Pulang..!! Punggung Lintar pengen di pijat Abang..!!"


"Ya sudah ayo pulang. Nanti Abang pijat sampai mamanya puas..!!" Kata Bang Satria.


Bang Satria ingin menepis perasaannya tapi usapan tangan Lintar membuat dadanya berdesir hingga tubuhnya menegang, ia pun duduk gelisah tidak tenang sembari melirik tangan nakal Lintar.


:


"Bawa lahar jalan-jalan ke taman Bi, lama sekali Lahar nggak jalan-jalan." Pinta Bang Satria pada Bibi.

__ADS_1


"Baik Pak." Bibi melihat raut wajah Lintar yang nampak berbeda. "Ibu kenapa? Sakit ya?"


"Hanya pengen tiduran saja Bi. Pengen di pijat Abang, maklum perut sudah besar begini rasanya berat." Jawab Lintar.


"Oohh begitu ya Bu. Ya sudah saya bawa Bang Lahar jalan-jalan."


~


Setelah mengganti pakaian, Bang Satria mulai memiringkan tubuh Lintar lalu memijatnya dengan lembut.


Awalnya Bang Satria memijat bahu Lintar. Tak lama tangannya turun perlahan dari punggung hingga ke pinggang. Entah mengapa kali ini Bang Satria melihat Lintar begitu seksi dan menggoda. "Kamu jadi cantik dek..!!"


"Maksud Abang selama ini Lintar nggak cantik??" Ekor mata Lintar terasa begitu menghakimi Bang Satria.


"Maksud Abang bukan begitu, aura ibu hamil tuh memang beda, membuatmu sangat cantik dari hari ke hari." Jawab Bang Satria. Bang Satria mendekati Lintar dan mengarahkan wajahnya agar bisa menatapnya. Satu kecupan ia berikan. "Sayang.. seandainya Abang nyangkul.. kira-kira si adek aman nggak ya?"


Lintar tau Bang Satria mulai tergoda tapi kini dirinya yang bersikap ingin sok jual mahal. "Nggak apa-apa sih, tapi Lintar lagi malas."


"Tenang sayang, Abang yang kerja. Kamu tinggal terima beres..!!" Pinta Bang Satria sudah nampak gelisah.


"Kamj jangan cari perkara. Pupuknya sudah siap nih." Gerutu Bang Satria sembari mengatur posisi yang nyaman untuk Lintar.


:


Karena sudah terlalu lama Bang Satria tidak bermain cinta, kali ini dirinya benar-benar terlena dan terbuai sampai tidak merasakan Lintar yang mendorongnya.


"Bang, perut Lintar rasanya nyeri sekali."


"Mungkin karena perutnya sudah besar dek." Jawab Bang Satria sembari bekerja lebih giat karena sebentar lagi dirinya akan segera memetik hasilnya sampai pada akhirnya Lintar terpekik saat Bang Satria menyelesaikan misinya. "Astaga dek. Kenapa sih????" Tanya Bang Satria sampai dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh. "Anget nih, apa ya??" Untuk sesaat Bang Satria terdiam.


"Bang.. iniiii...................."

__ADS_1


:


Bang Satria ikut berlari mendorong brankar ke ruang bersalin, sungguh dirinya tak menyangka jika pergulatan atas rasa rindunya kali ini malah membuat sang jabang bayi marah besar.


"Katamu si adek kangen. Ini malah ngamuk." Protes Bang Satria.


"Mana Lintar tau, yang memaksa khan Abang."


"Tapi kamu yang memancing Abang. Sekarang malah Abang dapat pendadakan dari anak." kata Bang Satria.


"Kalian ini kenapa berdebat. Ini salah kalian berdua..!!" Tegur dokter.


Bang Satria langsung terdiam karena tidak mungkin dirinya membahas hal seperti di muka umum.


"Aaaaaaahh..!!!!!" Lintar menjerit karena perutnya semakin terasa sakit.


"Ini jelas tanda persalinan Sat." Kata dokter sembari menghitung kontraksi yang terjadi pada Lintar.


"Ya ampun Bang, berarti kurang bulan ya?" Tanya Bang Satria.


"Iya Sat, tapi kami akan mengusahakan yang terbaik untuk persalinan istrimu..!!" Jawab dokter.


"Saya minta tolong untuk di siapkan ruang NICU untuk bayi Pak Satria ya..!!" Pinta dokter pada salah seorang perawat yang mendampinginya.


"Baik dokter." Perawat tersebut segera melaksanakan perintah.


"Bang.. kenapa harus di siapkan NICU?????" Tanya Bang Satria mulai cemas dan panik.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2