8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
17. Sedalamnya perasaan.


__ADS_3

Lintar tak mengetahui jika ada motor yang datang adalah pemberian dari Bang Satria. Ia mengira semua barang tersebut adalah pemberian dari Papa Rakit.


"Lahar suka??" Tanya Lintar.


"Suka.." jawab Lahar dengan gaya bahasanya.


Opa Rakit terdiam seribu bahasa tak sanggup mengatakan apapun. Ingin jujur tapi Kapten Satria melarangnya, dirinya seperti kehilangan ketegasan jika sudah menyangkut putri dan cucunya.


"Papa kerja?" Lahar menanyakan 'sang Papa' pada Mamanya dan itu sukses membuat Lintar kebingungan menjawab.


"Iya, Papa kerja. Sabar ya..!!" Lintar berusaha menghibur putranya.


Tepat saat itu Bang Panca datang membawakan mainan untuk Lahar.


"Haiii sayang..!!" Sapa Bang Panca.


Lahar tak menggubris kedatangan Bang Panca padahal Lintar sering mengajak Bang Panca melakukan panggilan video call bersama Lahar.


Tau Lahar tak menanggapinya membuat Bang Panca merasa tak nyaman. "Apa kamu diam-diam suka mengajak Satria video call sama Lahar??"


"Kapan sih Bang, Lintar buat begitu?? Abang yang sering main ke mess nya Lintar. Bang Satria sama sekali tidak pernah menemui Lintar." Jawab Lintar.


Perhatian Bang Panca teralihkan oleh dering ponselnya sendiri. Ia mencabutnya dari saku.


...


"Aku kangen..!!" Tanpa sungkan, tak ada basa basi Tantri mencium bibir Bang Panca dengan liar.


Ulah Tantri sudah cukup memancing b****i Bang Panca. Ia pun mengangkat tubuh Tantri dan merebahkan nya di atas ranjang hotel.


//


"Abang ijin mau bawa lahar ke mess..!!"


"Tapi lahar banyak tingkah Bang, dia pasti merepotkan." Kata Lintar.


"Apa harus disini? Papa, Mama, dan yang lainnya sudah kembali pada tugasnya masing-masing. Apalagi bibi sedang keluar kota karena ada urusan." Jelas Bang Satria panjang lebar.


Kaki Lahar sudah berjingkat-jingkat ingin ikut dengan Papanya sampai Bang Satria harus menggendong nya karena batita mungil itu terus merengek.


"Uluuuhh.. minta main nih jagoan. Mau naik motor ya..!!" Bang Satria mengangkat tinggi jagoan kecil Lintar kemudian mencium pipi nya. "Tolong ambilkan pakaian Lahar. Mau Abang ajak Lahar mandi di mess..!!"


Lintar sejenak tertegun namun kemudian Bang Satria menegurnya kembali. "Cepaat Maaa..!!!"


~

__ADS_1


Bang Satria menggendong tas punggung bermotif bebek berwarna kuning kemudian memainkan remote control untuk menjalankan motor baru milik baby Lahar.


"Motornya dimana Pak Satria?" Sapa seorang ibu. Ibu tersebut merasa lucu karena merasa lucu dengan perlakuan Bang Satria yang lebih mirip seperti ayah dan anak.


"Saya tinggal di mess Bu. Biar bisa ajak jalan-jalan si kecil" jawab Bang Satria dengan santainya.


"Waaahh.. senang sekali nih jalan-jalan sorenya."


"Iya Bu"


Bang Khezin mengurungkan niatnya untuk pergi dinner bersama sang kekasih hari ini dan menggantinya di hari selanjutnya karena ingin makan malam bersama kawan-kawan di barak.


"Pak boss, lu mau menu apalagi? Kambing guling, sop merah, es buah, ayam goreng, tumis brokoli, sambal goreng dan rendang sudah di antar pihak katering..!!" Lapor Bang Khezin sebagai orang kepercayaan Bang Satria.


"Dari saya tidak ada, kamu ada request?" Tanya Bang Satria.


"Buah donk Sat..!!"


"Apa?" Bang Satria sibuk melepas pakaian Lahar.


"Belimbing wuluh" jawab Bang Khezin tertawa-tawa saat Bang Satria sedang dalam mode serius.


"Lu nggak ada rencana makan jeruk nipis???" Suara Bang Satria mulai meninggi.


"Tuh Pa, jangan suka marah seperti ibu-ibu" imbuh Bang Khezin.


Bang Satria tak bisa berucap apapun jika itu sudah berurusan dengan lahar kecilnya. "Maaf ya le, Papa nggak marah lagi..!!" Janji Bang Satria. "Sekarang mandi yuk, nanti ikut Papa main sama om-om" ajak Bang Satria selalu membahasakan dirinya sebagai Papa jika tidak ada Lintar.


"Om boleh ikut mandi?" Tanya Bang Khezin seketika mendapat lirikan tajam dari Bang Satria.


"Cukur dulu Om baru ikut mandi sama Lahar" jawab Bang Satria selembut mungkin menyabarkan hati karena dirinya menahan diri di hadapan baby Lahar.


...


Malam itu Lahar sampai tidak mau makan karena sudah terlalu kenyang, Bang Satria terus menyuapinya makan hingga tak sadar Lintar menghubungi nya puluhan kali karena dirinya tidak segera memulangkan Lahar.


Saat akan mengambil minuman, ia berpapasan dengan Bang Panca.


"Baru nongol Pan..!! Makan dulu..!!" Sapa Bang Satria.


"Ada perlu tadi diluar. Kamu buat acara?" Tanya Bang Panca.


"Iya, biar 'anak-anak' senang. Biar bujangan nggak kemana-mana. Hiburannya kumpul makan-makan" jawab Bang Satria. "Sudah sana.. makan dulu..!!"


"Aku titip Lahar ya, dia baru tidur. Aku ada sedikit pekerjaan..!!"

__ADS_1


:


Lintar cukup terkejut karena ternyata barak terlalu penuh dengan para bujangan dan saat itu Lintar melihat Bang Panca sedang makan sambil menemani Lahar yang tidur nyenyak.


Bang Panca melambaikan tangan agar Lintar duduk bersamanya.


Lintar bengong dan heran. Matanya celingukan tak melihat ada Bang Satria disana.


"Ya ampun Bang, apa dari tadi Lahar sama Abang???" Tanya Lintar.


Bang Panca mengangguk sambil menikmati makan malamnya.


'Kenapa Bang Satria tidak mengasuh lahar, apa anakku sudah makan sampai malam begini???'


"Mana Bang Satria?" Tanya Lintar lagi.


"Sepertinya di dalam."


Lintar mencium pipi Lahar dan ternyata ada bau makanan dan lagi lahar masih menggenggam potongan pisang. "Terima kasih ya Bang, sudah mengurus Lahar"


"Lahar khan anak Abang juga" Jawab Bang Panca dengan santai.


"Lintar.. kamu jemput Lahar??"


"Kalau Abang nggak bisa mengasuh Lahar lebih baik nggak usah di bawa..!!" Tegur Lintar dengan jengkel.


Bang Bismo melangkah maju ingin menjelaskan tapi Bang Satria mencegahnya.


"Abang minta maaf" kata Bang Satria.


Lintar yang kesal masih cemberut duduk dengan kasar di samping Bang Panca.


"Mamanya lahar mau makan apa? Biar Abang ambilkan" bujuk Bang Satria.


"Lintar takut gemuk Bang, apa saja deh" Bang Khezin menirukan gaya bahasa Lintar.


"Abang ambilkan..!!" Bang Satria melangkah meninggalkan tempat membiarkan Lintar bicara berdua dengan Bang Panca.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2