
"Kamu kenal sama dia?" Tanya Bang Bismo.
"Siaap.. kenal Let"
"Waaahh.. nggak bilang sama saya. Pelanggaran kamu" protes Bang Bismo.
Bang Satria semakin berang sampai mengepalkan tangannya.
"Letnan sudah punya istri.. nggak boleh melirik perempuan lain lagi" kata Lintar.
Seketika raut wajah Bang Satria yang semula tegang berubah menjadi anteng. Ia menyangka sosok yang di peluk Lintar adalah seorang pria.
"Laaahh.. Abang senyum sendiri, tadi ngamuk Bang" ledek Bang Bismo.
"Saya nggak ngamuk. Nggak pantas lah ghibah di tengah hutan" alasan Bang Satria menghindari rasa malunya. "Cepat makan lalu istirahat. Besok pagi kita harus jalan lagi..!!"
"Siap Dantim."
Para anggota segera meninggalkan tempat, yang tersisa hanya Bang Satria dan Lintar saja.
"Baaaanngg.. malam ini Abang boboknya dimana?" Tanya Lintar dengan sengaja. Suaranya mendayu menguji mental Bang Satria.
"Ya di tenda saya, masa di tendamu" jawab Bang Satria masih waspada.
"Oohh.. Lintar kira Abang mau bobok sama Lintar"
Bang Satria menoleh ke kiri dan ke kanan cemas kalau ada anggota yang mendengar. "Huusstt.. jangan macam-macam kamu..!!"
"Lintar nggak macam-macam Bang, hanya satu macam. Mau bobok sama Abang"
"Astagfirullah.. kamu memang bandel ya, beraninya kamu menggugah macan tidur" tegur Bang Satria.
__ADS_1
Lintar mendekati Bang Satria. Gelapnya malam membuat kedekatan mereka tersamarkan. Lintar menyentuh dada bidang Bang Satria lalu berjinjit mengecup basah bibir pria yang telah menjadi suaminya itu.
Mendapat perlakuan nakal sang istri membuat akalnya tiba-tiba saja mati. Naluri prianya terpancing dan membuatnya menegang. Sebisa mungkin ia beristigfar sekedar melegakan diri namun semua itu tak cukup melegakan 'lapar dan dahaga'nya untuk merengkuh tubuh Lintar.
Lintar menarik diri tapi Bang Satria menarik tengkuk sang istri.
"Apa-apaan kamu? Kalau nyalimu masih setengah jangan pernah menguji Abang" ancam Bang Satria. Lintar gemetar tapi ia ingin memberi pelajaran pada suaminya yang garang itu.
"Abang nggak berani??" Tantang Lintar.
"Diam Lintar. Abang nggak bawa pengaman satu pun..!! Tidak tau kapan kita akan pulang. Abang nggak mau berbuat ceroboh. Abang nggak mau kamu hamil duluan" Bisik Bang Satria sudah tak karuan.
"Lalu kemarin apa? Bukankah Abang sudah mencobanya?" Tangan Lintar semakin nakal bermain naik turun di tubuh Bang Satria bahkan sampai berani menyentil kecil senjata rahasia milik Kapten Satria.
"Sok tau, Abang sudah bilang hanya test jalan tol. Ngintip ujungnya saja.. belum los. Jadi bagaimana sayangku????" Suara Bang Satria terdengar semakin kecil namun sangat mengimbangi kenakalan Lintar.
"Lin_tar haid Bang" jawab Lintar gugup.
"Oya.. apa kamu lupa kalau Dantim selalu mengontrol riwayat kesehatan anggotanya?" Alasan Bang Satria.
Mendengar itu Lintar tak bisa berkutik. Apalagi saat Bang Satria sudah menggandeng tangannya dan berjalan menjauh dari lokasi.
Jujur saat ini hatinya sedang tergoda namun bukan berarti dirinya tidak bisa berpikir jernih.
"Bang mau kemana?" Tanya Lintar.
"Sudah ikut saja..!!" Ajak Bang Satria.
"Lintar nggak mau mati ga**et Bang..!!"
Bang Satria terkikik geli mendengar kecemasan Lintar.
__ADS_1
"Baaaanngg..!!!!!!!"
"Abang hanya mau mengajakmu duduk di tepi sungai." Kata Bang Satria kemudian menarik tangan Lintar untuk duduk bersamanya. Setelah Lintar duduk dan bersandar di sebatang pohon, Bang Satria pun merebahkan dirinya di paha Lintar.
Lintar terhenyak. Dulu Bang Satria menempel padanya pun enggan hingga ia merasa Bang Satria tidak pernah menyimpan rasa padanya. "Kenapa tiba-tiba Abang berani berduaan sama Lintar.
"Sudah sewajarnya karena kamu istri Abang."
"Lintar belum mau punya anak Bang, Lahar masih kecil." Pinta Lintar.
"Abang tau. Abang tidak memaksa, apa Abang kurang hati-hati? Kemarin saja Abang masih menahan diri" jawab Bang Satria.
Sekali lagi Lintar tak berani berkomentar apapun sebab dirinya sudah lebih dulu merasakan dunia pernikahan sedangkan Bang Satria baru awal namun bekas sisa 'pertempuran' saat yang lalu membuatnya tidak percaya begitu saja Bang Satria sudah pandai dalam menguasai alat tempurnya.
"Memang kenapa? Kamu nggak percaya sama Abang?" Tanya Bang Satria memastikan.
Lintar sangat takut untuk menjawab karena hal tersebut sangat sensitif bagi para pria. Hati-hati sekali Lintar bicara dengan Bang Satria. "Jujur Lintar tidak tau dan tidak menikmati. Abang berbuat ulah saat Lintar tidur, tapi kenapa Lintar merasa Abang meninggalkan jejak" secara terbuka mengungkap yang seharusnya.
Bang Satria berdehem melonggarkan tenggorokan yang terasa tercekat. Antara yakin dan tidak ia berusaha mengingat kejadian malam itu. "Memangnya kenapa? Kamu marah?" Selidik Bang Satria.
"Lintar sudah tau kita sudah menikah, jadi Lintar tidak akan marah.. Lintar hanya tidak mau Lahar punya adik sekarang. Kasihan dia Bang. Belum dapat sayangnya Lintar. Masa sudah harus punya adik" kata Lintar.
"Benarkah hanya itu alasannya??"
Lintar mengangguk.
"Bukan karena kamu tidak ikhlas Abang menyentuhmu?" Bang Satria menegaskan sampai Lintar tak sanggup menjawabnya.
.
.
__ADS_1
.
.