
"Nggak.. kamu yang makan, Abang yang opname. Bisa nggak sih yank mintanya yang normal aja. Liver Abang pecah nih mikir kamu"
"Ya gimana, anak Abang yang mau." Jawab Lintar.
Bang Satria duduk sampai meneteskan air mata. Hatinya benar-benar susah dan sedih memikirkan Lintar. Terus terang ia menyalahkan dirinya sendiri tapi juga bingung menguraikan kesalahan apa yang di buatnya sampai sang istri seakan menguji mentalnya. "Itu makanan kucing sayaaaang, bukan takjil" Bang Satria mengacak jambulnya karena frustasi. "Tak jilatin jidatmu sini biar sadar. Allahu Akbar.. Abang masih mampu belikan kamu makanan yang bener. Asal jangan ituuuuu..!!!"
Lintar tersenyum kecut tapi sungguh ia sangat menginginkan makanan itu. Entah bagaimana awalnya. Hanya makanan itu yang dia inginkan. "Ya sudah, gantikan dengan makanan lain..!!" Jawab Lintar mengalah.
...
Bang Satria sedang sibuk di dapur. Suami Lintar itu benar-benar berusaha keras untuk menyenangkan sang istri. Sembari berlinang air mata, ia terus memasak sebisanya dan akhirnya jadilah menu makanan hasil karyanya.
Kedua tangannya bertumpu pada meja makan. Sakit hati sekali rasanya melihat hasil karyanya.
"Papa kenapa nangis?" Lahar mengusap pipi sang Papa.
"Kelak kalau kamu dewasa, pasti akan mengerti. Kalau sudah sayang.. gunung pun akan kamu tabrak." Jawab Bang Satria yang pasti tidak akan di mengerti oleh sang putra.
"Iya Pa, Abang nggak suka nabrak gunung. Abang sukanya nabrak pagar"
Bang Satria tersenyum kecut. "Makanya kalau main hati-hati biar nggak nabrak..!!" kata Bang Satria menasihati putranya.
~
Lintar melihat roti berisi daging kornet dan selada. Ia pun tersenyum haru melihat perjuangan Bang Satria mengabulkan segala inginnya.
"Semoga suka ya dek, biar si kecil anteng..!!"
"Lintar suka kok Bang" Lintar segera melahap roti buatan Bang Satria. Rasanya sungguh enak hingga Lintar sanggup menghabiskan dua buah sedangkan Lahar langsung tertidur usai menghabiskan satu buah roti isi kornet buatan papanya.
Bang Satria menunduk terisak. "Apa gunanya Abang kerja kalau pilihanmu makanan seperti itu dek." Bang Satria masih melow karena syoknya belum juga hilang.
"Maaf ya Papa.. adek nyusahin Papa ya?" Lintar mengusap punggung Bang Satria. "Lain kali adek nggak gitu lagi, tapi nanti malam kita main petasan di rumah Danyon yuk..!!" Ajak Lintar.
Seketika Bang Satria bersandar lemas. "Ya Allah Ya Rabb.. masalah satu baru usai, ini sudah timbul masalah lain lagi."
"Sabar ya Bang..!!" Lintar berganti mengusap dada Bang Satria.
__ADS_1
"Kurang sabar opo dek?? Saking sabare dadi subur" jawab Bang Satria kemudian mencium perut Lintar. "Papa turuti semua maunya adek, tapi jangan sampai adek nakal sama Mama atau Papa marah besar sama adek...!!" Ancam Bang Satria.
***
Doooooorr...
"Heeeehh.. siapa main petasan???????" Teriak Danyon.
"Siap salah.. saya Bang." Jawab Bang Satria.
"Ora duwe duuuurr.. tau nggak ini jam berapa????" Bentak Danyon lagi sampai Wadanyon dan para Kasie keluar rumah.
"Siap salah Bang, ampuuunn.. anak saya yang di perut ngajak main. Kalau mau hukum, besok saja saya terima. Saya nggak akan nolak Bang..!!"
"Ooohh.. bumilmu berulah lagi??" Suara Danyon pun merendah.
"Siap Abang..!!"
"Ya sudah lah, di kantong mu ada berapa petasan??" Tanya Danyon.
"Ini saya bawa lagi petasan roket Bang...!!" Kata Bang Khezin menunjukan plastiknya.
"Waahh seru juga nih ngidamnya bumil. Ayo kita main..!! Kapan lagi kita refreshing dari penatnya usai kegiatan" Ajak Danyon dengan semangat.
"Benar Bang. Ayo kita main lagi..!! Bumil sudah menunggu..!!" Ajak Bang Khezin.
~
"Salah arah Khez..!!" Teriak Bang Satria.
syuuuuuuuuuuuuutttt....
"Laaaahh.. piye iki????" Bang Khezin ikut panik, lebih panik lagi saat petasan roket itu berputar dan mengejar Danyon.
"Tolooooong..!!!"
"Hahahaha.." bumil tertawa tergelak tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Bang Satria bergerak berusaha menolong Danyon tapi naas petasan itu balik mengejarnya sampai tak sengaja dirinya bertabrakan dengan Bang Khezin.
daaaaarr.. daaaarr
"Hwaaaa.. b*****t..!!!!" Bang Satria mengibaskan sarungnya karena petasan tersebut meledak-ledak di dalam sarungnya. "Sesok ojo melu-melu Khez.. marai moloooo..!!!!" Gerutu Bang Satria sampai naik pitam.
"Ini gara-gara ngidamnya istrimu yang aneh itu..!!" jawab Bang Khezin.
"Jangan bawa-bawa Lintar dalam masalah kita ya..!!" bentak Bang Satria.
"Aku sarankan baik-baik nih ya. Cepat sulut petasan terbaikmu biar dia nggak minta yang tidak-tidak lagi lalu kita pulang..!!!"
"Aku nggak bisa main kasar. Yang meledak di perutnya saja belum mengudara."
"Astagaaa Sat. Petasan yang ini.. bukan punyamu yang suka buat masalah ituuuu" mencak-mencak Bang Khezin saat pikirannya sedang pada jalur yang benar.
Danyon dan Wadanyon baru saja berdiri usai jatuh berguling. "Kalian berdua besok menghadap saya..!!!!" perintah Danyon.
"Siap Bang."
"Siap Abang..!!" jawab Bang Satria pasrah.
.
.
.
.
Skip jika tidak sesuai dengan hati. Nara menulis khusus bagi yang suka. Haters silakan buang suara di WC. Terima kasih..!!!
.
.
.
__ADS_1