
Lintar menghitung jumlah uangnya meskipun rasa mual masih menderanya.
"Satu juta enam ratus ribu rupiah. Masa Lintar hanya dapat sedikit?" Tanya Lintar tidak percaya.
"Abang nggak bohong. Setengah suap saja Abang hitung satu." Jawab Bang Satria. "Tadi tiga suap pertama senilai tiga ratus ribu. Suapan selanjutnya dua ratus ribu per suapan." Kata Bang Satria menjelaskan.
"Iiihh.. kurang."
"Makan yang banyak kalau kurang. Oiya.. kalau mampu menghabiskan jus ini satu gelas.. Abang bayar seratus lima puluh ribu rupiah." Bujuk Bang Satria.
Lintar pun melirik jus melon di atas nakas. "Lintar mau coba Bang..!!" Pinta Lintar.
Bang Satria segera mengambilnya. Satu teguk.. dua teguk.. tiga teguk.....
"Alhamdulillah... Sehat ya anak Papa..!!" Kata Bang Satria sampai mengusap perut Lintar saking senangnya.
"Sudah Bang, Lintar nggak kuat..!! Mana uangnya..!!" Lintar menyorongkan uangnya meminta jatahnya karena sudah berhasil meminum beberapa teguk jus melon.
"Ya Allah, jadi apa anakku nanti kalau mamanya mata duitan begini" gumam Bang Satria kemudian mengambil uang dari gepokan uang tersebut. "Setelah ini kamu tidur ya..!!"
Lintar pun mengangguk. "Iya."
__ADS_1
***
Bang Satria masih tidur saat dokter senior memeriksa kondisi Lintar saat hari menjelang subuh.
Mau tidak mau dokter membangunkan Bang Satria karena ada hal yang akan di sampaikan.
Dokter menyentuh lengan Bang Satria agar suami Lintar itu bangun dari tidurnya. "Sat.. bangun Sat..!!"
"Eeehh.. iya Bang, ada apa?"
"Kita harus bicara..!!" Ucap dokter serius.
~
Bang Satria terdiam cukup lama. Hatinya terombang-ambing. Sebelumnya dirinya memang sudah siap kehilangan seorang anak tapi kini saat melihat perjuangan Lintar sebagai seorang ibu, hatinya tersentuh, sakit dan tidak tega jika harus kehilangan sang calon bayi dalam kandungan apalagi calon bayi tersebut adalah benar nyata berasal dari benihnya.
"Saya mohon waktu Bang. Kali ini saya harus bicarakan dengan Lintar, siap tidak siap.. sesakit apapun itu.. dia harus mendengarnya karena Lintar adalah ibunya. Saya sudah menyadari tidak berhak menekan batin seorang ibu hanya karena kelemahan hati saya..!!" Jawab Bang Satria.
"Baiklah, saya memberimu waktu dua jam. Hanya dua jam saja..!!" Ucap dokter dengan tegas. "Tiap detiknya, calon bayimu yang lemah juga akan membuat kondisi istrimu melemah." Pesan dokter memberikan ultimatum peringatan untuk Bang Satria.
"Saya paham."
__ADS_1
:
"Nggak Bang, Lintar nggak mau..!! Lintar bertahan untuk anak kita. Lintar menahan segala sakit demi anakmu Bang." Teriak Lintar.
"Iya sayang, Abang tau.. tapi tidak semua kehamilan selemah ini. Mungkin kali ini kita tidak berjodoh dengan dia." Bujuk Bang Satria.
"Lintar nggak mau Bang, dia hadiah terbesar dari Abang untuk Lintar. Sekalipun harus mati.. Lintar ikhlas memberi gelar ayah untuk Abang." Tangis Lintar semakin pecah.
Bang Satria memeluk erat tubuh Lintar. "Taukah kamu sakitnya hati Abang saat ini. Abang ada disini tapi tidak bisa melakukan apapun untuk kamu dan anak kita. Abang pun sayang sama anak kita, tapi Abang memilih tidak mendapat gelar ayah daripada kehilangan kamu. Tolong mengertilah dek.. Abang juga punya batas kekuatan..!!!"
"Aaaahh.. sakiiiit..!!" Lintar sampai merintih kesakitan karena tidak sanggup terlalu banyak berpikir. "Bang.. tolong nyalakan lampunya, sepertinya ada yang mengalir dari sela paha Lintar..!!"
Bang Satria menidurkan Lintar perlahan lalu segera menyalakan lampu. "Astagfirullah hal adzim dek..!!!!"
"Aaaaaa.. tolong Lintar Bang..!!" Lintar menjerit histeris.
"Iyaa.. iyaaa.. tenang dulu..!! Anak kita nggak apa-apa. Tenang ya..!! Tadi kamu pasti lupa, minum air mineral gelas kamu letakan di sela paha." Kata Bang Satria yang sebenarnya sempat ikut panik. "Kamu rileks sedikit, kalau Mamanya panik, si adek juga ikut nggak tenang..!!!
.
.
__ADS_1
.
.