8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
44. Demi anak istri.


__ADS_3

Bang Satria mendorong perlahan kursi roda Lintar masuk ke ruangan kerja.


"Sampai..!! Siap untuk kerja?" Tanya Bang Satria?"


Lintar mengangguk dengan senyum kecutnya. Sebenarnya keadaannya sudah sangat sehat dan pulih tapi karena kejadian beberapa bulan yang lalu, Bang Satria pun jadi lebih over protective menjaganya. "Iyaa.. siap donk Bang..!!"


"Alhamdulillah.. satu jam lagi Abang telepon..!!" Kata Bang Satria.


Lintar hanya bisa menarik nafas dalam-dalam karena tidak mungkin juga untuknya menolak segala perhatian apapun dari Bang Satria.


"Kenapa? Ada yang sesak?? Perutnya sakit?? Mau pulang??" Bang Satria banyak memberondong Lintar dengan berbagai pertanyaan.


"Nggak Bang. Abang cepat pergi apel, Lintar sehat saja..!! Malu sama teman-teman Lintar lah Bang, setiap pagi Abang begini. Lintar sudah bilang kalau Lintar sudah sangat sehat. Sudah tujuh bulan nih..!!" Lintar sampai harus sedikit mendorong pinggang Bang Satria agar suaminya itu segera apel pagi.


"Iyaa.. iyaaaa.. Abang hanya cemas saja. Wajar lah Abang kepikiran..!!" Kata Bang Satria.


-_-_-_-_-


Cctv di ruang kerja Lintar sedang bermasalah jadi haru ini untuk pertama kalinya Lintar bisa bebas mondar-mandir kesana kemari di dalam ruang kantor.


"Jadi di rumah pun suamimu juga bersikap seperti ini?" Tanya Ami.


"Iya, malah lebih parah lagi. Mungkin bibi di rumah sampai jengah mendengarnya. Bang Satria nggak mengijinkan aku bangun karena takut aku pendarahan lagi." Jawab Lintar.


"Berarti soal ke toilet pun sama persis saat kamu hamil muda?" Tanya Ami lagi.

__ADS_1


"Iyaaaaa.."


Karena selama ini Lintar jarang turun dari ranjang dan berolahraga, baru berjalan sebentar saja rasanya sudah sangat lelah, nafasnya terasa berat dan ngos-ngosan.


"Eehh Ami.. sudah dua hari ini perutku rasanya kram, seperti mulas hilang dan timbul.


"Lhoo.. apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?" Tiba-tiba Ami merasa cemas dan takut.


"Rasanya memang mirip seperti kontraksi persalinan tapi nggak mungkin lah kalau aku mau melahirkan di usia kandungan tiga puluh dua Minggu." Jawab Lintar.


"Waaahh.. cepat kamu ijin pulang saja lalu minta suamimu untuk bukakan jalan..!!" Saran Ami.


Lintar tersenyum kecut. "Mau minta bagaimana?? Sejak kejadian aku sakit hingga saat ini saja Bang Satria tidak berani menyentuhku. Bukannya aku sudah katakan sama kamu kalau Bang Satria sangat menjagaku. Kalau sedang masanya Abang sedang menginginkan hal itu.. Abang lebih memilih ibadah atau berolahraga bersama rekannya untuk mengurangi hasratnya yang sedang melonjak."


Fase mual Lintar sudah mulai berkurang, Bang Satria membaca do'a terakhir usai sholat isya.


"Bang.. nggak tidur??" Lintar mengusap perutnya yang sudah mulai membesar. Usai sholat isya, ia hanya bersandar di sisi ranjang.


Bang Satria hanya menjawabnya dengan anggukan kepala karena dirinya sedang berkonsentrasi penuh dalam do'a nya.


"Sepertinya si adek minta di temani Papanya.." bujuk Lintar.


Semakin erat Bang Satria memejamkan matanya seakan tak ingin mendengar setiap godaan dari sang istri.


Tak lama Bang Satria mengusap wajahnya tanda do'anya sudah usai.

__ADS_1


"Kamu ini kenapa sih?? Dari kemarin godain Abang terus. Kamu nggak boleh terlalu capek dek." Tegur Bang Satria.


"Lintar sudah nggak apa-apa. Ya Abang yang kenapa? Memangnya Abang nggak pengen?" Tanya Lintar pasalnya di usia kandungannya yang sudah mencapai enam bulan, Bang Satria sama sekali tidak pernah mengajaknya bermain cinta.


"Ya waktu itu khan sudah, kamu bantu Abang. Pikirannya nggak usah sampai kesana lah sayang. Abang benar-benar pengen punya anak, yang sehat.. demi dia Abang rela melakukan apapun." Jawab Bang Satria mulai jujur jika dirinya memang ingin memiliki seorang anak dari rahim Lintar.


"Jadi Abang nggak mikir Lintar nih?" Lintar sengaja memalingkan wajahnya.. Ia tau betul Bang Satria sungguh teguh menjalankan ibadah bahkan sampai puasa untuk dirinya agar tidak terjadi apapun pada dirinya dan calon anaknya. Bang Satria juga turun tangan langsung merawat Lahar demi dirinya juga.


Bang Satria tersenyum mendengarnya. Ia mengusap perut Lintar. "Mamamu nggak sabar nih dek.."


"Lintar kangen juga."


"Gitu ya?" Bang Satria melepas sarungnya kemudian dengan mukena Lintar. Perlahan dirinya mengangkat sang istri untuk naik ke atas ranjang. "Bumil harus sabar. Yang rindu nggak hanya Mama Lintar, Papa Satria juga rindu setengah mati. Papa minta maaf kalau Mama kesal."


Mulut Lintar terkunci melihat Bang Satria berkorban demi dirinya juga.


"Main tipis-tipis aja ya..!!" Bang Satria mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Lintar. Ia berusaha memberikan yang terbaik meskipun harus sekuat tenaga menahan diri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2