
Terima kasih banyak atas segala koreksi dari pembaca setia. Memang untuk penulisan karya untuk judul ini Nara masih amat sangat beresiko, banyak kekurangan dan butuh banyak revisi. Saat di end kan ternyata pembaca masih penasaran dengan kisah Lintar. Jadiii.. Next Nara akan perbaiki kembali alur silsilah nya. Mohon maaf atas kesibukan dan kekurangan waktu hingga Nara kurang menarik garis tokoh dan cerita. Sekali lagi thank's pembaca setia 🥰🥰😘😘🙏🙏.
🌹🌹🌹
Lintar gugup saat Bang Satria memberinya satu kecupan hangat. Ingin rasanya menolak tapi entah kenapa tubuhnya seakan tak sanggup beranjak. Perlakuan manis Bang Satria membuatnya teringat pada almarhum Bang Jenar.
Seumur hidup dirinya tak pernah tersentuh oleh pria di hadapannya ini. Ia akui Bang Satria sangat sopan dalam memperlakukan dirinya. Namun ia belum bisa sepenuhnya melupakan pria yang pertama kali memberinya kehangatan dunia.
Lintar menarik diri membuat Bang Satria begitu kecewa. Jelas sekali pria itu sakit hati, karena jelas Lintar paham bagaimana seorang pria yang sedang dalam fase maskulin nya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka Abang sayangi" tanya Bang Satria.
"Jangan Bang, Bang Jenar tidak suka Lintar dekat dengan pria lain. Sebenarnya Lintar takut menjalin hubungan dengan Bang Panca.. apalagi sampai berbuat seperti ini dengan Abang. Ini sudah keterlaluan dan melewati batas Bang" jawab Lintar.
"Kamu istri Abang..!!"
Lintar menghempaskan tubuh Bang Satria. "Jangan menipu Lintar Bang..!! Lintar sudah lelah"
"Abang nggak bohong..!!"
tok.. tok.. tok..
Seketika tangan Bang Satria menghantam sandaran ranjang. Dirinya sungguh frustasi setiap kali mendekati Lintar selalu berujung gagal. Tangan nya mengepal kuat.
"Cepat ganti pakaian..!!"
:
Beberapa orang anggota dan perwira sudah datang dan mengadakan rapat untuk mengejar pelaku perusuh negeri tapi konsentrasi Bang Satria seakan hilang.
"Bagaimana Bang, kita harus langsung turun ke 'medan'." Kata Bang Bismo meminta pendapat Bang Satria sebagai Dantim.
__ADS_1
"Hhmm.." Jawab Bang Satria.
"Bagaimana Bang?"
"Laksanakan saja seperti analisa mu tadi..!!"
"Berarti kita bawa Sertu Lintar dan Sertu Ami ya Bang?" Bang Bismo menegaskan.
"Buat apa bawa Lintar dan Ami???" Bang Satria mulai tersadar jika sedari tadi dirinya tidak menggubris ucapan lawan bicara.
"Ada sandera perempuan Bang, putri menteri. Kalau kita bawa Ami atau Lintar saja ke dalam misi jatuhnya kurang etis. Nanti ada bantuan team kesehatan.. Serda Teresia." Terpaksa Bang Bismo harus menjelaskan ulang karena seniornya tidak fokus.
"Baiklah, lakukan saja mengikuti prosedur yang ada..!! Oya, apa Lintar sudah tau kalau dia akan berangkat dinas luar?" Tanya Bang Satria.
"Siap.. sudah Bang. Daripada Lyta yang berangkat. Mending kita masukan yang paham dengan alur kerja kita"
Bang Satria mengangguk mendengar penjelasan Bang Bismo. Hanya dengan melihat raut wajah Bang Bismo, dirinya paham paham maksud junior nya. 'Sambil menyelam minum air' Bang Bismo mengatur semua ini. "Terima kasih banyak atas kerja keras mu Lettu Bismo..!!" Ucap Bang Satria secara formal meskipun suasana malam itu sangat santai.
***
Ia menoleh melihat kamar Lahar yang sudah tidur nyenyak bersama Sherina sedangkan Lintar tidur sendiri di kamarnya. Suasana dinginnya angin malam membuatnya semakin gelisah.
"Kenapa aku bisa punya pikiran sejahat ini? Jenar sudah memberikan seorang anak untuk Lintar. Sudah pasti kisah mereka akan lekat meskipun hanya seumur jagung. Apalah aku yang tidak punya cerita apapun dalam hidup Lintar." gumam Bang Satria. 'Aku harus bisa menerima kenyataan ini. Aku memang bukan yang pertama tapi aku pasti menjadi yang terakhir di hati Lintar.'
Angin kencang semakin menerpa. Dingin semakin terasa. Buku kuduk Bang Satria meremang. "Aku ini laki-laki.. masa nggak berani?" Bang Satria memantapkan hati, berdiri dan menghampiri Lintar ke kamarnya.
~
Lampu kamar sudah menyala remang-remang. Tak ada tanda Lintar terganggu dengan suasana di luar, itu berarti Lintar sudah tidur nyenyak.
Perlahan Bang Satria berjalan menuju ranjang dan masuk ke dalam satu selimut bersama Lintar. "Huuuhh.. ademeeee." Gumamnya, siapa sangka Lintar malah berbalik badan dan memeluknya.
__ADS_1
"Lintar mau begini..!!" Pinta Lintar sembari menarik tangan Bang Satria.
Ada seulas rasa bahagia di hati Bang Satria namun sekaligus pahit. "Kamu pasti kangen di peluk Jenar ya? Maaf ya, di sini yang ada Abang Satria.. bukan Abang Jenar" kata Bang Satria kemudian mengecup kening Lintar hingga turun ke bibirnya. Tangannya meraba lengan Lintar hingga sampai ke telapak tangan lalu menggenggamnya erat. Tangannya membuka piyama tidur satin tipis milik Lintar.
"Baang.." Lintar menggeliat.
"Dalem sayang." Bang Satria segera mematikan lampu hingga tak ada cahaya sedikitpun di dalam kamar.
-_-_-_-_-
Lintar menggulung rambut usai mandi. Ia bingung dengan kejadian semalam, entah nyata atau mimpi. Ia seperti mendengar suara Bang Satria dalam mimpinya itu. Pria itu menindihnya dan mend***h dan membuatnya ikut merasa panas. Sedikit rasa sakit dan pedih di sekitar dalam pahanya. 'Semalam aku bisa sampai basah ya?'
"Tumben mandi keramas mbak?" Tegur Sherina.
"Gerah aja sih tidurnya semalam" jawab Lintar kemudian ekor matanya sedikit melirik Bang Satria namun karena pria itu tanpa ekspresi dan sewajarnya saja maka ia pun menepis tuduhannya. "Hmm.. Bang..!! Semalam Abang tidur dimana?" Tanya Lintar.
"Di sofa lah, kamu pelit sekali bagi ranjang" jawab Bang Satria.
"Oohh"
Bang Satria melanjutkan acara makannya tapi dalam dadanya berdesir naik turun. 'Seksi sekali kamu sayang.. colek tipis-tipis nggak apa-apa lah ya sampai nanti kamu siap terima Abang dalam hatimu.' Sejenak matanya terpejam mengingat kejadian semalam. Saking tak tahannya menahan rindu, dirinya sampai 'nakal'.
"Astagfirullah.. Ya Allah..!!" Gumamnya tanpa sadar.
"Abang kenapa?" Tanya Sherina.
Bang Satria tersadar dari lamunannya. "Nggak, kepikiran tugas menumpuk di kantor." Alasannya.
.
.
__ADS_1
.
.