
Dokter sudah memeriksa kondisi Kapten Satria. Dokter pun bingung menyimpulkan keadaan Kapten Satria. Fisik Kapten Satria cenderung kuat tapi ada masalah lain dari Kapten Satria. Pria tersebut sangat tertekan secara psikologis.
"Ada apa Bang? Apa ada masalah serius?" Bang Panca masih mencemaskan sahabatnya.
"Di jaga saja kestabilan emosinya, itu bisa membantu kesembuhannya..!!" Saran dokter.
"Baik dok, saya akan mengawasinya setiap saat"
...
Bang Panca menyiapkan makan malam Bang Satria. Sesaat setelah sadar tadi Bang Satria lebih banyak diam.
"Kamu nggak perlu sesibuk ini. Temani Lintar saja" kata Bang Satria.
"Lintar sudah sama Serda Ami dan kawannya. Dia pasti aman di barak, kamu yang lebih banyak butuh perhatian, lukamu masih sangat basah"
"Luka yang basah akan kering dengan sendirinya. Bekasnya bisa hilang, tapi rasanya tidak akan pernah ku lupa" jawab Bang Satria berusaha sekuat mungkin untuk melupakan Lintar. Wanita yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
Bang Panca tersenyum kecut mendengarnya. Jiwa egoisnya masih melekat erat. "Bagaimana jika sesampainya di tanah air... Aku menikahi Lintar?"
Tak ada kata yang bisa terucap dari bibir Bang Satria. Hutang budi terus saja mengingatkan nya tentang segala kebaikan sang sahabat karib, sahabat seperjuangan bahkan saat masih di bangku sekolah.
Flashback Bang Satria on.
Beberapa orang pemuda berkonvoi usai kelulusan sekolah. Bang Satria membonceng Tantri, gadis yang mendapat predikat tercantik satu SMA sedangkan Bang Panca lebih kalem lebih memilih membonceng sahabat lelakinya Bang Khezin.
"Apa kita nggak ganteng? Kenapa setiap kali kita ada event selalu saja Satria selalu laris bak kacang goreng dan kita tidak di minati?" Gerutu Bang Khezin.
"Biar saja lah, sehancur-hancurnya tingkah Satria.. dia hanya nakal cover nya saja. Kau tau sendiri bagaimana sayang nya Satria sama Sherina. Satria tidak mau mencolek perempuan sembarangan. Saat kerja pun dia pantang berurusan dengan perempuan." Jawab Bang Panca.
__ADS_1
"Iya juga sih, tebal sekali mentalnya. Kira-kira kapan ya aku punya pekerjaan.. aku ingin melamar Sherina."
"Nggak usah macam-macam. Kau tau sendiri Abangnya galak begitu. Mau jadi tumbal jembatan lu.. ganggu adiknya Satria??" Kata Bang Panca.
~
Konvoi kelulusan telah berjalan. Bang Satria tidak bisa mencegah tingkah Tantri yang berdiri di atas motor hingga mengakibatkan pihak sekolah lain terpancing emosi dan mengira Tantri menyerukan lambang peperangan.
"Seraaaang...!!!!!!!!" Teriak kubu sebelah hingga akhirnya tawuran antar pelajar pun tidak terhindarkan.
Bang Satria mengamankan Tantri lebih dulu sebelum dirinya bertindah menghadap musuh.
:
Sudah banyak siswa yang luka hingga akhirnya ada beberapa truk tentara berhenti di tengah mereka.
Semua siswa lari berhamburan tak terkecuali Bang Satria, Bang Panca, Bang Khezin dan dari kubu sebelah.. Bang Zakaria namun mereka berempat tertangkap razia.
:
"Apa papa mendidikmu untuk jadi pria seperti ini???? Kamu.. Bang Zeni dan Bang Rakit tidak pernah papa bedakan, semua anak Papa dan akan mendapatkan perlakuan yang sama. Sekarang kamu masuk test pendidikan tentara. Susul kedua Abangmu..!!!!!!" Bentak Papa Galar. Beliau sangat tegas dalam mendidik seluruh putranya. Lebih dari enam anak laki-laki yang menjadi putra angkat Pak Galar. Hanya Bang Zeni saja putra kandung Pak Galar namun tidak pernah beliau menganak tirikan.
"Jangan Pa... Kalau saya masuk tentara, saya tidak bisa bekerja dan mencari uang untuk Sherina." Tolak Bang Satria, sungguh dirinya tidak ingin menjadi seorang tentara.
"Sherina juga anak Papa. Dia anak perempuan Papa dan Mama Syahnaz. Papa yang akan menanggung semuanya. Sekarang berangkat kamu ke tempat test untuk pendidikan..!!!" Perintah Papa Galar.
"Nggak Paaa..!!!!"
"Seret Satriaa..!!!!!!!" Ucap Papa Galar tak main-main.
__ADS_1
\=\=\=
Enam bulan kemudian.
doooooorr..
"Kheee.. Sat.. Jack banguun..!!!!!! Pendadakan nih" Bang Panca membangunkan kedua sahabatnya.
Bang Khezin gelagapan bangun sedangkan Bang Satria tidur tertelungkup tak mau tau.
"Satriaaaaa.. ini pendadakan..!!!!" Teriak Bang Panca.
Karena Bang Satria tak kunjung bangun. Bang Khezin, Bang Panca dan Bang Zakaria menggotong Bang Satria sampai ke lapangan.
~
"Apa-apaan ini. Kamu masih pakai celana pendek???? Kemana seragam mu??????"
Bang Satria belum bisa menjawab apapun karena nyawanya masih juga belum genap.
"Barak E sikap tobat semua..!!!"
Seluruh mata melirik ke arah Bang Satria dengan kesal.
.
.
.
__ADS_1
.