
Bang Bismo mengantar beberapa puluh lembar berseri angka lima di belakang uang yang ia bawa ke kamar Lintar.
"Terima kasih Bismo. Ini uang gantinya..!!" Bang Satria menyerahkan uang sebagai ganti susah payahnya Bang Bismo mencari uang yang di mintanya.
"Memangnya Lintar kenapa Bang? Dia sakit apa?"
"Lagi isi" jawab Bang Satria menata uang tersebut dan Lintar masih nyenyak dalam tidurnya tanpa ada cahaya terang di sekitarnya.
"Isi Bang?? Isi apa??".
"Lontong..!!! Ya isi bayi lah. Ada saja pertanyaan mu" kata Bang Satria.
Bang Bismo sampai ternganga. Seingatnya Bang Satria tidak sedekat itu dengan Lintar bahkan lebih terkesan menjaga jarak aman, tapi sekarang ia mendengar Lintar sedang hamil. Ia pun menepis pikirannya. Ada beberapa waktu sebelum tim mereka berangkat. 'Aahh.. itu urusan rumah tangga mereka. Lagipula mereka adalah pasangan suami istri. Wajar saja kalau Lintar sampai mengandung.'
"Selamat ya Bang. Saya nggak nyangka, si kecil main secepat ini di perut mamanya"
"Terima kasih. Saya juga nggak nyangka. Saya sampai ngilu memikirkan membawa Lintar yang sedang hamil dalam tugas. Jadi Lintar sering pingsan karena tidak tahan terpapar sinar matahari" kata Bang Satria. "Kamu tau sendiri kalau malam dia berangsur pulih."
"Iya Bang. Yaa.. memang bawaan bayi terkadang aneh, tapi Alhamdulillah anak Abang masih anteng di perut mamanya."
"Alhamdulillah.. mamanya saja pendekar, gimana anaknya." Senyum Bang Satria mulai terurai.
tok.. tok.. tok..
"Masuk..!!"
Seorang anggota membawakan nasi tempong pesanan Lintar.
"Ijin Dan.. sesuai dengan permintaan ibu, ikannya hadap kiri" lapornya.
"Okee.. terima kasih"
Bang Bismo kembali ternganga mendengar permintaan bumil. "I_kan hadap kiri?"
"Sudahlah.. jangan banyak berkomentar. Yang penting permintaan nya ada. Sudah cukup" bisik Bang Satria.
Bismo mengangguk pasalnya ia pun juga merasakan memiliki bumil di rumah.
...
Banyak ucap syukur dalam hati Bang Satria karena sang istri berangsur pulih dan sehat, tapi ada rasa cemas bagaimana Lintar akan menjalani hidupnya jika terus merasa mual saat bertemu sinar terang terutama matahari.
"Abang sudah mewakili lapor datang. Kamu nggak perlu lapor lagi" kata Bang Satria meletakan piring di nakas usai Lintar menghabiskan makan malamnya.
__ADS_1
"Lintar masih lapar Bang"
"Oohh.. masih lapar ya. Mau makan apalagi?" Tanya Bang Satria.
"Mau duku"
"Bulannya sedang tidak musim dulu dek" kata Bang Satria.
"Kalau anak Abang yang minta, ada pertimbangan nggak"
Jelas Bang Satria tidak bisa menjawab apapun lagi kalau Lintar sudah membawa anak dalam kasus ruwetnya. Tak membuang waktu lama ia segera meminta anggotanya untuk mencari buah duku.
***
Bang Satria membuka pintu kamar rawat Lintar. Ada Bang Panca sedang menggendong Lahar dan Tantri berjalan di belakangnya.
"Papaaaa..!!" Si kecil Lahar langsung menghambur ke arah Papanya.
"Haaii sayang.. Papa kangen." Bang Satria menciumi jagoannya. "Huusstt.. kita pelankan suara. Mama sedang tidur"
"Iya Pa" bisik Lahar mengecilkan suara seperti papanya.
"Mana Om Angkes sama Tante Sherina?" Tanya Bang Satria.
"Sherin mual. Hamil muda" jawab Bang Panca.
"Kenapa sampai Lintar tertembak? Bagaimana suasana disana?" Bang Panca melirik Lintar yang sedang mendengkur dengan gaya tak tertata.
Bang Satria segera berjalan dan menutup tirai agar Bang Panca tidak melihat pose ajaib sang istri.
"Aku yang tertembak, kalau Lintar.. aku yang menembak." Jawab Bang Satria jengah. "Kau tidak update berita ya?"
Kening Bang Panca berkerut perlahan ia mengembangkan senyum tulus namun terasa pahit. "Alhamdulillah.. selamat Sat. Mudah-mudahan berkah untuk keluargamu. Aku juga menunggu dia lahir." Tangan Bang Panca mengusap perut Tantri yang terlihat menyembul.
"Aiiisshh.. kalian ini. Kenapa tidak jadian saja dari dulu kalau akhirnya kau juga yang menang" ledek Bang Satria yang baru benar-benar menyadari kehamilan Tantri. "Batalyon kita jadi ramai"
Tantri banyak diam dan jauh lebih kalem. Tak terlihat Tantri yang dulu banyak tingkah dan berulah.
"Jodoh di tangan Tuhan."
Tantri membawa buah duku dan memberikannya pada Bang Satria.
"Ya Allah.. inilah kalau sudah rejeki. Lintar ngidam duku"
__ADS_1
~
Suara tawa tamu di kamar itu membuat Lintar terbagun.
"Abaaang..!!"
"Dalem. Kenapa dek?" Jawab Bang Satria.
"Dukunya mana?"
"Masih untung Panca membawakan mu buah duku. Itu dukunya" Bang Satria menunjuk meja di samping Lintar.
Lintar melihatnya namun seleranya hilang saat tau Bang Panca yang membawanya. Rasa mual begitu saja datang tanpa undangan.
"Ini sulit lho dek dapatnya. Kamu nggak mau?"
"Suruh dia pergi. Lintar mual" pinta Lintar.
Bang Satria merasa tidak enak dengan sikap Lintar. Meskipun dirinya juga menahan rasa kesalnya tapi Lintar begitu ekspresif menunjukan rasa tidak sukanya pada Bang Panca. "Dek.. jangan bicara begitu..!!" Tegur lembut Bang Satria.
"Anakmu ini nggak suka sama dia, mual..!!!" saking emosinya, seketika perut Lintar kram dan membuat panik Bang Satria.
"Doookk.. dokter...!!!!!"
"Aku keluar Sat.." secepatnya Bang Panca keluar ruangan diikuti Tantri.
"Aaahhh" Saat mata Lintar bertemu pandang dengan Tantri.. perut Lintar terasa semakin tak karuan.
"Maaf Pan..!!"
"Santai saja Sat.. aku ngerti" jawab Bang Panca.
"Permisi Sat.. Lintar..!!" Pamit Tantri.
:
Dokter menjelaskan bahwa ada kemungkinan Lintar teringat dan tertekan dengan kisah masa lalunya bersama Bang Panca. Wajar saja. Panca tak datang di hari pernikahan mereka, tak ada kata maaf dan kini Panca telah menikah dengan wanita lain, hamil dan wanita itu adalah mantan Bang Satria.
"Saya paham, tapi tidak mungkin meluapkan amarah. Ada bumil yang keadaannya tidak stabil. Saya nggak mau membuat mereka semakin terbawa perasaan"
.
.
__ADS_1
.
.