
"Sudah cukup dek. Bismo sudah kalah" kata Bang Satria melunakan bumil yang sekarang berubah menjadi kucing Oren saking galaknya.
"Jangan bawa dia lagi Bang. Nyawa saya terancam" kata Bang Bismo.
"Kamu saja terancam. Apalagi saya" Bang Satria terkikik geli.
...
Lintar duduk mendekap sekantong camilan dan bibirnya tak hentinya mengunyah kacang.
"Makan siang yuk sayang..!!" Ajak Bang Satria.
"Bang.. makan siang di kondangan yuk"
"Lahdalaah.. kita khan nggak ada undangan apapun dek" Bang Satria pun siaga satu mendengar permintaan sang istri.
"Abang serius sayang sama Lintar nggak?" Lintar mulai melirik Bang Satria. "Mintanya anak Abang hari ini minimal dapat Snack box"
Dada Bang Satria terasa sesak. Apakah kali ini dirinya harus bertaruh segalanya.. mencari makan siang di pesta undangan atau menjambret snack box milik orang lain. "Ku jitak betul ini anak kalau kepalanya sudah nongol" gumamnya mengancam gemas.
"Abang mau jitak anak Lintar?????"
"Nggak.. itu loh si Bismo. Belum Abang gulung..!!" Jawab Bang Satria menghindar.
...
Bang Satria mengumpulkan para anggotanya untuk di interogasi saat jam kerja usai.
__ADS_1
"Apa disini ada yang punya info tentang penduduk yang melaksanakan hajatan??" Tanya Bang Satria.
Para anggota saling pandang tidak mengerti arah pembicaraan Kapten Satria. Bang Khezin pun sampai melongo tak paham dengan sahabatnya itu.
Dengan penuh wibawa menahan rasa malu, Bang Satria berdehem di hadapan para anggotanya. "Istri saya ngidam. Pengen makan di hajatan orang, atau minimal dapat snack box."
Beberapa anggota ada yang takjub namun tak sedikit yang menyimpan tawa bahkan tertawa lepas seperti Bang Khezin.
"Apa ada yang lucu??" Tegur Bang Satria.
"Siaapp.. tidak Kapten." Jawab para anggota.
"Saya minta tolong carikan info ya..!!"
"Siaap"
"Oohh begitu ya.. Alhamdulillah.. masih rejeki istri saya tuh" senyum Bang Satria pun mengembang.
-_-_-_-_-
Bang Satria menggendong Lahar dalam acara tersebut. Lintar benar-benar tidak mau makan jika tidak makan dari hajatan orang dan itu sungguh membuat Bang Satria pusing tujuh keliling.
Senyum Bang Satria mengembang meskipun hal konyol beberapa kali ini terjadi karena kehamilan sang istri.
"Owalaah dek.. melas banget to kamu. Seperti Abang nggak bisa kasih makan enak" gumam Bang Satria.
"Ini khan..........."
__ADS_1
"Anak Abang yang minta" jawab Bang Satria yang sudah hafal di luar kepala kalimat yang akan di ucapkan Lintar.
"Itu tauuu" Lintar bersungut sembari menyantap nasi goreng dan koloke yang ada di piringnya.
Lega hati Bang Satria melihat Lintar mau makan banyak. "Setelah ini mau makan apa lagi dek?" Tanya Bang Satria.
"Kenapa wajah Abang masam sekali? Apa tidak boleh Lintar makan makanan yang lainnya? Apa Abang takut Lintar gemuk?" Jawab Lintar berapi-api dan langsung meletakan piring makannya.
"Astagfirullah hal adzim.. nggak jadi nanya deh. Masa komandan yang gagah penuh wibawa di hadapan anggota bisa kena omel istri begini??" Gerutu Bang Satria menarik nafas dalam-dalam dan bersabar hati.
"Kalau Abang nggak mau kena omel, seharusnya jangan menikah dulu.. apalagi pengen punya anak" kata Lintar.
"Allahu Akbar.. Lailaha Illallah. Sensitif sekali istri Abang. Nggak pernah Abang mikir begitu sayang"
"Bohong.. Lintar sudah badmood." Wajah Lintar meremang dan mulai menangis.
"Abang kudu nyebut bagaimana lagi to yooo" secepatnya Bang Satria merogoh saku dan menyerahkan seluruh uang dari dalam sakunya. "Ini nih, tadi Abang dapat rejeki."
Seketika Lintar menghapus air matanya. "Ini berapa Bang?"
"Hitung saja" meskipun masih ada tangis tapi bibir Lintar sangat lancar menghitung jumlah uang tersebut.
.
.
.
__ADS_1
.