8-6 Mencintaimu

8-6 Mencintaimu
7. Egois.


__ADS_3

Bang Panca terus memperhatikan raut wajah cemas Lintar namun dirinya seakan tidak peduli atau mungkin saja pura-pura tidak tahu tentang keresahan Lintar yang pastinya sedang memikirkan mantan kekasih nya dulu.


"Kamu kenapa? Bukankah dokter bilang Satria sudah di awasi dengan ketat" kata Bang Panca.


"Tapi Lintar masih khawatir Bang. Bang Satria belum juga melewati masa kritis nya, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan?" Ucap cemas Lintar.


Bang Panca mengusap rambut Lintar. "Bisakah kamu tidak mencemaskan laki-laki lain?" Entah kenapa Bang Panca tidak bisa menahan rasa cemburunya, ia pun tidak bisa mengendalikan sikap egoisnya. Rasa cintanya buta dan tidak berarah.


Tak lama Dokter menghampiri Kapten Panca dan Lintar. "Keadaan Kapten Satria memburuk, masa kritisnya belum lewat dan beliau membutuhkan donor darah AB tapi stok di Bank darah tidak ada." Kata dokter sipil yang bekerja sebagai relawan di Sudan.


Bang Panca terdiam sejenak. Hati dan pikirannya terombang ambing.


Lintar yang tau betul golongan darah Kapten Panca tak tahan untuk tidak angkat bicara. "Bukankah golongan darah Kapten AB??" Tegur Lintar.


"Lalu????" Bang Panca melirik Lintar.


"Tolong selamatkan Kapten Satria..!!" Pinta Lintar.


"Saya takut jarum suntik" tolak Bang Panca.


"Tolong Kapten..!!" Lintar sampai menekuk lutut di hadapan Bang Panca.


"Dok.. tolong tinggalkan kami berdua..!!" Perintah Bang Panca.


~

__ADS_1


Lintar sesenggukan memeluk kaki Bang Panca.


"Kenapa sebegitu nya kamu menangisi pria lain? Apa kalau tadi Abang yang tertembak, kamu akan berlaku sama seperti ini???"


Sungguh terkejut Lintar mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran nya.


"Apa maksud Abang??"


"Abang bersedia mendonorkan darah, asalkan sekembalinya kita dari Sudan.. kamu menikah sama Abang..!!" Ucap tersebut lebih terdengar seperti ancaman.


Melihat kondisi Bang Satria tidak memiliki banyak waktu lagi, ia pun mengangguk menyetujui permintaan Bang Panca. "Iya Bang, cepat selamatkan Bang Satria.


"Kamu serius mau nikah sama Abang???" Tanya Bang Panca memastikan pendengarannya tidak salah.


~


Bang Panca memijat pelipisnya, ia menyadari kelakuannya yang sudah di luar batas, tapi cinta sudah membutakan perasaannya.


'Maafkan saya ya pot, saya tau kamu menyimpan rasa untuk Lintar begitu juga sebaliknya tapi saya pun mencintai dia. Saya janji akan menjaga Lintar dan Lahar dengan sepenuh hati saya'


Bang Panca menoleh melihat sahabatnya terbaring lemah tanpa daya karena menyelamatkan Lintar.


"Sudah selesai Kapten..!!" Kata seorang perawat militer.


"Iya, terima kasih ya. Apa setelah ini keadaan Kapten Satria akan membaik?" Tanya Bang Panca.

__ADS_1


"Semua tergantung kondisi fisik Kapten Satria. Jika tubuhnya merespon dengan cepat maka keadaan Kapten Satria akan cepat membaik" jawab perawat tersebut.


"Terima kasih atas penjelasannya"


"Siap Kapten. Saya permisi dulu..!!" Pamit perawat tersebut.


"Silakan..!!" Bang Panca pun perlahan duduk sembari memulihkan keadaan dirinya sendiri setelah mendonorkan darah untuk Bang Satria.


Dilihatnya kembali wajah tenang dari Kapten Satria. "Aku boleh khan menikahi Lintar?" Tanya Bang Panca.


Di saat yang sama, amat sangat dengan jelas sekali Bang Panca melihat Bang Satria menitikan air mata tapi Bang Panca menekan kuat menepis kuat segala rasa bersalah di dalam hatinya. "Maaf Sat, maaf..!!"


...


Lintar tersenyum haru dalam kegetiran, ia hanya bisa menyentuh jendela kaca ruang ICU rumah sakit melihat Bang Satria tengah berjuang menghadapi saat hidup dan mati.


Tak ada kata terucap, hanya tangis mengurai rasa dalam dada. "Kalau saja dulu Abang tidak berselingkuh dengan perempuan itu, mungkin sekarang kita sudah bersama"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2