
"Selamat pagi Dan.. Kapten Satria mohon ijin menghadap..!!" Ucap Bang Satria secara formal.
"Kapten Khezin mohon ijin menghadap..!!" Bang Khezin pun akhirnya juga minta ijin untuk menghadap.
~
Bang Satria dan Bang Khezin berdiri usai berguling, push up dan sit up. Danyon sangat kesal perihal kejadian semalam yang mengakibatkan dirinya di kejar petasan roket.
"Lain kali konfirmasi dulu kalau mau buat sesuatu. Saya khan jadi kaget..!!" Kata Danyon.
"Siap salah Bang."
"Ya sudah, silakan kembali ke tempat kalian..!! Saya nggak mau berurusan dengan bumil. Nyawa saya bisa terancam." Jawab Danyon.
:
Bang Khezin langsung kembali ke ruangan sedangkan Bang Satria mengendap, melipir menuju kantor Lintar.
"Selamat pagi kapten..!!" Sapa rekan satu ruangan Lintar.
"Pagii.. istri saya dimana?" Tanya Bang Satria.
"Tadi katanya pengen cari camilan, tapi setau saya Lintar sedang mual di toilet." Jawab Ami.
"Hmm.. ya sudah, terima kasih Ami.. biar saya susul ke toilet."
"Siap Kapten."
~
"Kenapa nggak segera hubungi Abaang??????" Bang Satria memijat tengkuk Lintar yang sedang bingung antara menutupi matanya dari paparan sinar matahari atau kah sedang merasakan mual hebat.
__ADS_1
"Abang jangan ribut..!!!!! Lintar mual...!!!!!!" Ucap Lintar sudah kehabisan tenaga. "Cepat bantu Lintar..!! Lintar nggak kuat lihat matahari..!!!!!"
Secepatnya Bang Satria melepas seragam luarnya lalu menutup kepala Lintar dengan seragamnya lalu menggendongnya menuju mobil.
:
Lahar ikut mondar-mandir di dalam rumah saat Bang Satria merawat sang Mama.
"Mama kenapa Pa?" Tanya Lahar dengan sedih.
"Mama sakit Bang, dedek bayi di dalam perut Mama tidak bisa tidur dan terus mengajak Mama bermain." Jawab Bang Satria menjabarkan pada Lahar agar putranya itu bisa jauh lebih mengerti.
Lahar melongok melirik sang Mama. "Kenapa dedek nakal sekali? Kasihan Mama."
Bang Satria mulai was-was takut penjabaran akan di salah artikan putranya.
"Dedek nggak nakal Bang. Dedek masih terlalu kecil. Belum pintar seperti Abang." Kata Bang Satria.
"Astagfirullah.. bagaimana caraku menjelaskan nya." Gumam Bang Satria.
...
Sampai malam tiba Lintar masih saja mengeluh tidak enak badan.
"Matikan lampunya..!! Lintar nggak kuat Bang..!!!" Lintar menggelinjang tak nyaman.
"Iyaa.. iyaaaa Ya Allah.. sabar yank..!! Abang masih cari seragam." Bang Satria pun tak kalah bingung menghadapi kelakuan bumilnya.
Baru persekian detik, Lintar sudah bangkit dan berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya yang tidak terisi.
"Pelan dek..!!!!!" Bang Satria pun segera mengikuti langkah Lintar.
__ADS_1
~
Bang Satria begitu syok saat Lintar tiba-tiba saja mengejang dan begitu kaku.
"Dek.. sadar sayang..!! Kenapa jadi begini??" Guncangan pada bahu Lintar tapi Lintar tidak merespon ucapnya.
...
Dengan wajah pucat pasi, Bang Satria harus kembali menemani Lintar masuk ruang UGD. Hatinya sungguh nyeri melihat banyaknya alat menempel pada tubuh Lintar.
"Kenapa sayang? Kenapa sesulit ini kamu mempertahankan anak kita, kalau memang segalanya sangat menyiksamu. Abang ikhlas jika dalam hidup kita hanya memiliki Lahar. Abang juga sangat menyayanginya." Ia memegang tangan Lintar sekuatnya. Sedalam-dalamnya ia menarik nafas panjang.
"Sabar ya Sat..!!"
"Bang, saya memberi Abang kewenangan untuk mengambil anak saya dari rahim istri saya..!!"
"Kamu serius??" Dokter kandungan memastikan kesadaran dan kesiapan mental Bang Satria.
"Saya sangat serius Bang, saya sungguh tidak tega melihat Lintar terus menerus sakit seperti ini." Jawab Bang Satria yang sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakannya. "Saya tau kalau janin di dalam rahim Lintar tidak bisa berkembang karena nutrisinya sangat kurang. Setiap Lintar tidak mendapatkan perawatan, badannya akan sangat lemas." Wajah Bang Satria sudah memerah menahan hujan tangis yang bersiap tumpah.
Dokter menepuk bahu Bang Satria. "Kalau memang kamu sudah paham keadaannya, kita lakukan tindakan sekarang..!!"
"Silakan lakukan Bang..!!"
Lintar berusaha membuka matanya di sela kesadaran. "Jika Abang lakukan, Lintar tidak mau lagi jadi istri Kapten Satria."
.
.
.
__ADS_1
.