
"I_ya Bang"
"Abang tanya sekali lagi. Hanya itu saja???" Ucap tegas Bang Satria sekali lagi.
Suara Bang Satria memang tidak begitu kencang namun cukup membuat hati Lintar sangat takut.
"Katakan saja. Abang tidak marah, malah kalau kamu menyimpan kebohonganmu.. Abang akan sangat marah" kata Bang Satria.
Air mata Lintar menggenang tapi ia masih bisa menahan laju air matanya. "Di dalam hati Lintar, masih ada nama Bang Jenar. Lintar takut Bang Jenar akan marah kalau tau Lintar menikah lagi"
Bang Satria menghadapkan pandangannya menatap indahnya langit malam. "Dia yang sudah tenang disana jangan kamu usik lagi. Mungkin Abang tidak sebaik almarhum suamimu. Tapi Abang juga punya cinta, tak kalah besar dari Jenar dan pastinya ada sebentuk rasa untuk si kecil Lahar."
"Lintar tidak tau, kenapa rasa ini masih datar saja" jawab jujur Lintar.
"Kamu mau tau bagaimana caranya?"
Lintar menunduk menatap mata Bang Satria.
"Bagaimana caranya?"
Tanpa banyak bicara Bang Satria beralih membalik tubuhnya hingga Lintar berada dalam kungkungannya. Ia menarik salah satu lengan Lintar agar merengkuh belakang tengkuknya.
Perlahan Bang Satria mengecup bibir Lintar dan wanita kesayangannya itu begitu tegang namun juga tak menolak segala perlakuannya hingga tangan Bang Satria menjelajah ke segala arah.
~
Awalnya Lintar menolak tapi Bang Satria terus memberinya sentuhan hangat. Kini mereka berdua telah saling saling memberi dan menerima. Cecap kecil terdengar dari keduanya. Sadar tempat itu tak akan baik untuknya, Bang Satria segera menarik diri dan menyudahi permainannya. Ia menutup seragam Lintar dan segera membenahi posisi celananya.
"Kenapa Bang?" Tanya Lintar terdengar kecewa. Ia masih memegangi seragam luar Bang Satria yang terbuka.
"Kok kenapa? Ini hutan dek. Masa mau anu-anu disini???" Jawab Bang Satria dengan suara berat.
Lintar memasang wajah cemberut khas seorang wanita yang sedang merajuk.
"Ini nih yang buat Abang pusing. Kemarin di rayu di rumah nggak mau, sekarang di tempat yang banyak dedemit.. kamu malah minta. Makanya jadi perempuan jangan maju mundur beri keputusan. Kalau mau ya mau.. kalau nggak ya bilang nggak??" Tegur Bang Satria yang sebenarnya juga sangat stress tidak bisa melepaskan rasa rindunya.
Lintar beranjak dan segera meninggalkan Bang Satria.
"Deekk..!! Ya sudah ayo lah"
"Sudah nggak mood" jawab Lintar.
Bang Satria menepuk dahinya dengan frustasi.
__ADS_1
***
Pagi hari Lintar menggendong ransel di punggungnya namun terasa sangat ringan. Ia pun menoleh ternyata Bang Satria sedang mengangkat ransel di punggungnya.
"Cckk.. lepas..!!" Lintar menepis punggungnya agar Bang Satria tidak lagi menyentuhnya.
"Sini Abang bawakan..!!"
"Nggak usah. Lintar bisa bawa sendiri" tolak Lintar mendengus kemudian berjalan bersama Ami dan Tere.
"Waduuuhh... Roman-romannya habis berantem nih Bang. Memangnya semalam pa-tro-li dimana?" Tanya Bang Bismo setengah meledek.
"Di mimpi. Mana mungkin saya patroli di tempat seperti ini" jawab Bang Satria kesal.
Pahamlah Bang Bismo mungkin keadaan semalam tidak sesuai dengan yang di harapkan hingga setiap harinya Kapten Satria harus tegang dalam emosi.
"Sabar ya Bang, setelah pulang dari penugasan cepat di gas pooll. Selesaikan setuntas-tuntasnya." Kata Bang Bismo dan Bang Satria hanya membalasnya dengan senyum.
\=\=\=
bruuugghh..
"Astagfirullah.. Lintaaaarr..!!" Bang Satria terpekik kaget melihat Lintar tiba-tiba saja ambruk sampai hampir terperosok ke dalam jurang jika tangan Bang Satria terlambat menggapai nya.
"Apa kita kurang istirahat?? Apa saya terlalu berat mempercepat misi??" Bang Satria mengoreksi diri sendiri melalui anggota teamnya.
"Siaap.. tidak.. Dantim" jawab anggota yang lain.
"Pasti karena Lintar nggak mau makan Dan" kata Ami.
Bang Satria juga menyadari beberapa hari ini Lintar memang tidak mau makan hingga tubuhnya lemas. "Saya tau satu bulan ini sangat berat untuk kita, tinggal sedikit lagi usaha kita. Makan seadanya dan jangan meniru kelakuan Lintar"
"Siaap.."
"Kalau begitu kita istirahat saja dulu sampai keadaan Lintar membaik" arahan Bang Satria.
~
Mata Lintar yang nanar mulai terbuka, rasanya sangat kesal melihat wajah Bang Satria. "Abang minggir..!!" Usirnya kemudian bangkit dan duduk.
"Tiduran dulu..!! Abang pijat ya. Kamu pasti capek"
"Nggak usah urusi Lintar..!!" Ucapnya ketus.
__ADS_1
Bang Satria tak mengambil hati ucap Lintar, ia pun mengajak Lintar merebahkan diri dan berbaring bersamanya. "Sini..!!" Bang Satria menepuk lengannya.
Meskipun dengan cemberut, Lintar akhirnya mau tidur di lengan Bang Satria.
"Abang tau kita ini suami istri tapi kita ini abdi negara dan sedang bertugas. Tapi tidak pantas, tidak patut di lihat rekan yang lain. Nggak hanya kamu yang merasa rindu.. Abang juga menahannya.. bahkan sudah bertahun-tahun. Bisa kamu bayangkan bagaimana hari-hari Abang menata perasaan?" Bujuk Bang Satria. "Sabarlah sebentar. Abang sudah mengusahakan tugas kita segera selesai.. kita pulang dan memulai semuanya dengan tenang. Lagi pula.. seperti katamu, nggak mau khan kalau kita mati g**c*t"
Lintar pun akhirnya mengerti dan menetapkan hati.
"Bang..!!" Lintar mendongak.
"Dalem"
"Nggak jadi deh" kata Lintar. Lama kelamaan dirinya tertidur.
:
"Bagaimana Tere.. apakah kondisi Lintar aman untuk melakukan misi?"
"Puji Tuhan aman Dantim. Hanya saja memang Lintar butuh bantuan soal barang-barangnya." Jawab Tere sembari melirik Lintar.
"Itu urusan saya. Kamu standby kondisi Lintar"
"Siap Dantim."
-_-_-_-_-
"Allahu Akbar" Belum ada satu jam perjalanan, Lintar kembali pingsan mengagetkan semua orang.
"Dantim.. Sertu Lintar tidak kuat jalan"
Angin berhembus sangat kencang dan para anggota berusaha memaklumi apalagi satu minggu ini tubuh mereka terguyur hujan hingga pakaian basah dan kering di badan.
"Dek.. sayang...!!" Bang Satria kembali menidurkan Lintar dan menggosok telapak tangannya yang dingin. Kali ini dirinya tak peduli dengan anggotanya, ia sungguh mencemaskan keadaan Lintar.
doooooorr..
Refleks seluruh anggota tiarap. Bang Satria memberikan arahan dalam senyap. "Sayap kanan dan kiri.. maju..!!"
.
.
.
__ADS_1
.