Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
10. Tanda Tanya


__ADS_3

Vero baru saja keluar dari toilet dengan hanya menggunakan lilitan handuk pada pinggang, sedangkan bagian atasnya nampak shirtless. Melihat istrinya merenung di sudut ranjang, pria itu segera memakai boxer dan kaus oblongnya.


Vero memeluk istrinya dari belakang, melingkarkan tangannya di perut serta meletakkan kepala di bahunya. Azkia menyadari keberadaan suaminya, ia memainkan tangan suami yang melingkar posesif di perutnya.


"Kenapa, hm?" tanya Vero di sela-sela kecupannya pada leher Azkia. Wanita itu ingin mengatakan sesuatu tapi ia ragu. Menyadari ada yang aneh, Vero menghentikan kecupannya. "Sayang ... ada apa?"


"Mas ...."


Vero akhirnya membalik tubuh istrinya, mengecup bibir mungil itu sekilas kemudian tersenyum manis. "Katakan, Sayang!" 


Azkia tak kunjung bicara, membuat suaminya gemas terhadapnya. Setiap kali ingin bicara, ia terlihat ragu.


Vero mengangkat tubuh istrinya, kini Azkia berada dipangkuan suami tercintanya itu. Wanita itu hanya diam, ia mengagumi salah satu ciptaan Tuhan, yang kini telah menjadi suaminya.


"Katakan sesuatu, Sayang. Jangan memandang mas seperi itu, kamu terlihat menjadikan mas seolah-olah mangsa terlezatmu." Pria itu terkekeh. Perkataan Vero membuat pipi ibu anak satu tersebut merona, refleks ia menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya. Lagi-lagi Vero terkekeh.


"Katakan sayang ... apa kiranya yang mengganggu pikiranmu itu?" tanya Vero sambil membelai lembut rambut istrinya.


Azkia mengangkat wajah menatap suaminya. "Entahlah, Mas. Kia rasa ... Kia menemukannya," ungkap Azkia setelah mencecap bibirnya beberapa kali.


"Kamu yakin?"


Azkia mengangguk ragu. "Kia merasa kalau Kia memiliki sebuah ikatan dengannya. Tapi—" Azkia tak sanggup untuk melanjutkannya, wanita itu kembali mengatupkan bibir.


"Tapi apa, hm?" Vero meraih dagu itu kemudian mel*mat lembut bibir istrinya. Ia melepas pag*tan setelah beberapa saat, ia kembali membelai rambut istrinya. Azkia memejamkan mata menikmati usapan lembut di kepalanya. "Tapi apa?" Vero kembali menyuarakan pertanyaannya.


Pertanyaan Vero membuat Azkia kembali ke dunia nyata, ia membuka matanya. "Dia menatapku dengan ketakutan, ada sebuah ketakutan besar di matanya."


"Dia menatap istriku yang cantik ini dengan takut, yang benar saja!" kata Vero sambil mencolek dagu istrinya.


Azkia menepis tangan Vero. "Jangan menggodaku seperti itu. Kia serius, Mas." Azkia menatap suaminya jengkel.


"Mas juga serius, kamu memang cantik, Sayang!" Vero kembali menggoda istrinya, kali ini dengan sebuah kedipan mata.


Baru saja Azkia akan beranjak, Vero menahan pinggang istrinya. "Kali ini mas serius, ayo lanjutan kembali ceritamu!"


"Kia memutuskan untuk menyapanya, tak disangka Kia malah mendapati perkataannya, yang membuat jantung kita seolah berhenti berdetak. Kia ingat, waktu itu dia berjalan mundur dan menatap Kia dengan kaki bergetar." Azkia kembali mengingat kejadian itu, beriringan dengan air matanya yang kembali mengucur.


Ma-mammii, ja-jangan mendekat! Za-zahra janji bakal ba-balasin de-dendam, Ma-mami. Ja-jadi, ma-mami bi-bisa tenang di a-alam sa-sana.  Maaf, Za-zahra mau pamit. Se-sekarang mami ba-balik ke alam mami, se-semoga mami tenang. Ja-jangan kayak gini lagi, Za-zahra takut. Assalamualaikum.


Vero mengusap pelan air mata yang jatuh dari pelupuk mata istrinya. "Kalau tidak kuat jangan dilanjutkan, air matamu sangat berharga, Sayang."


"Mas tidak tau, rasanya hati Kia seperti teriris-iris ketika mendengarnya bicara. Ki-Kia sangat yakin bahwa itu dia, tapi Kia menyangkal kebenaran kalau yang diucapkannya sebuah kenyataan pahit tentang Zaskia yang telah tiada. Itu ga bener kan, Mas?" Mata sayu dengan bola mata kecil itu menatap Vero, sungguh ia tak bisa melihat istri yang dicintainya seperti ini. Pria itu mendekap istrinya erat, membawa Azkia ke pelukan hangatnya.


"Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Suatu hari nanti, mas yakin kalau kamu akan bertemu lagi dengannya, dengan suasana yang berbeda. Suasana hangat seperti keluarga bahagia. Berbincang-bincang dengan menikmati biskuit dan menyeruput secangkir teh bersama. Percaya sama mas, ya?" Azkia mengangguk dalam diam, ia mengeratkan pelukan pada suaminya.


Seseorang mengetuk pintu, Azkia langsung melonggarkan pelukannya. Vero mencium kening dan kedua kelopak mata istrinya. "Bersihkan dirimu, mas akan membukakan pintu." Azkia mengangguk dan beranjak. Saat ia ingin turun dari pangkuan Vero, pria itu kembali menahan pinggangnya. Azkia menautkan alis bingung, Vero mencium bibir ranum itu secepat kilat.


"Udah sana!"


Azkia tersenyum kecil dan berlalu ke kamar mandi. Vero membukakan pintu, terpampanglah wajah cantik turunannya dan Azkia.


"Selamat malam, Pi," sapa seseorang berwajah cantik dengan senyuman yang mengiringi sapaannya. Gadis itu meraih tangan ayahnya, lalu menciumnya.


"Assalamualaikum, Baby girl, " jawab Vero sambil mengusap kepala putrinya.


"He–he, waalaikumsalam, Pi," kata gadis itu riang sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf 'v'.


"Mami mana, Pi?"


Bukannya menjawab, Vero malah merangkul pundak putrinya. "Kita tunggu mamimu di ruang keluarga aja."


Dua orang beda generasi tersebut berjalan menuju ruang keluarga. Mereka duduk berdampingan. "Tumben pulang jam segini, biasanya juga malam. Ga dugem dulu?"


Gadis itu tergelak dengan candaan ayahnya, kemudian mengerucutkan bibir. "Yeee, papi mah. Aturan senang Lia pulang jam segini. Jam berapa sih sekarang? Jam tujuh, ya?" katanya setelah melihat benda navy di ujung lengannya.


"Pulang sama siapa kamu? Mobil masih di bengkel, kan?"


Gadis itu mengangguk. "Diantar teman, Pi. Lagian akhir-akhir ini sahabat Lia ada yang ga masuk, kata kakaknya sih sakit. Ga enak tau pi, ngampus ga ada dia. Dugem juga ga asik kalo ga ada dia mah."

__ADS_1


"Terus, kamu ga—"


"Ngomongin apa hayo? Pasti ngomongin mami, ya?" Azkia datang dan duduk di depan anak dan suaminya.


"Pedean si mami," cibir Ardelia pelan.


Gadis itu pindah duduk di sebelah Azkia, mencium tangannya, kemudian memeluknya dari samping.


"Kenapa?" tanya Azkia seraya membelai rambut ombre putrinya.


"Setiap ngomongin sahabat Lia, pasti jadi sedih sendiri."


"Kenapa?" tanya Vero dan Azkia kompak.


"Sahabat Lia udah ga ada orangtua, dia cuma hidup sama kakaknya," kata gadis itu dengan raut murung.


"Bersyukur kamu masih ada kita, ya meskipun kita ga selalu ada buat kamu."


"Maka dari itu, Lia terimakasih banget sama Tuhan karena bolehin Lia kumpul sama keluarga. Lia bersyukur banget punya kalian."


"Mami jadi mewek nih. By the way, kamu udah makan?" tanya Azkia pada putrinya.


"Belum, Mi."


"Ya udah mami mau masak dulu, tadinya sih mau go food kalo kamu belum pulang. Karena kamu udah pulang, ya udah mami masak aja sekalian."


"Masak yang simple aja, Mi. Yang makan cuma tiga ini," kata Vero.


"Loh? Emang Bi Ati sama Mang Jaja kemana?" tanya Ardelia.


"Bi Ati pulang kampung, kalo Mang Jaja ngantar. Kemungkinan Mang Jaja nginep di sana," ucap Azkia.


"Ohhh, ya udah. Lia bantuin mami masak, ya?"


"Oke, Sayang."


"Kalau gitu papi ke ruang kerja dulu."


  


...****...


"In, Ina ihhh, sadar napa. Ini gue gimana bawa pulangnya, anying?" Ica menggoyangkan lengan Ina, tapi tetap saja gadis itu tak kunjung membuka mata. Ica mendumel sendiri di club, lantaran Ina tidak sadarkan diri akibat miras yang ditenggaknya.


"Gini nih kalo dugem cuma berdua, kalo tepar kan susah jadinya. Gue kudu gimana ya, Tuhan? Kalau ni bocah gue tinggal di mari, bisa dig*ngb*ng dia. Kan ga elit kalau ada bocah mencak-mencak lantaran kehilangan kegadisan karena dibobol waktu di club."


Tiba-tiba handphone Ica berbunyi, gadis itu segera merogoh saku jaketnya. "Hah, Ardel nelepon? Kali aja ni bocah mau ke sini, terus bantuin gue bawa Ina pergi."


Ica langsung mengangkat telepon dari Ardelia.


"Del-del, sini, Dell. Ina tepar, gue ga tahu cara bawa balik gimana? Tolongin gue dong ... masa gue tinggal ni bocah di sini, kan ga elit banget tempatnya," adu Ica pada Ardelia. Lain dengan Ica yang kebingungan, Ardelia hanya terkekeh di seberang.


"Bego si lo, lagian ke club berdua. Bingung, kan sekarang kalau salah satunya tepar. Ingat ya, Ca ... lo masuk club berdua jadi, keluar pun juga harus berdua."


"Dell-dell, jangan gitu napa. Teman lagi kesusahan juga, bukannya kasih solusi malah nyudutin. Bantu mikir kek, apa kek!"


Ardelia di seberang sana terdiam sebentar. "Kenapa lo ga minta tolong anak cowok buat bawa Ina ke mobil? Minta bantuan dugem lo tuh, kan banyak?"


"Jangan ngasal deh, Del."


"Coba minta bantuan Vino sama Arga, mereka kan biasanya juga bantuin kita pulang. Asal lo nebengin mereka buat pulang aja, mereka pasti nolongin."


"Jangan gila, Del. Mereka pada mabuk, emang lo ga takut gue sama Ina kenapa-kenapa?"


"Lo mah mikirnya gitu, mikir positif lah, Ca! Lo ingat? Pas kita lagi mabuk-mabuknya, di situ yang nolongin kita mereka, kan? Terus apa salahnya kalau minta tolong lagi."


"Tapi, Del?"


"Ikuti apa kata gue. Udah ya lo ga bakal kenapa-kenapa. Gue mau makan dulu, masakan gue udah siap," terdengar suara deheman dari seberang, "maksudnya masakan mami dibantu gue, dah ah. By, Zeyenk."

__ADS_1


"Lah b*ngke, dimatiin." Ica menghentakkan kakinya kesal, bagaimana mungkin Ardelia menyuruhnya meminta tolong pada kedua cowok itu. Mulut Ica berkomat-kamit layaknya mbah dukun yang merapalkan mantra, tapi yang sebenarnya gadis itu sedang menyumpah serapahi Ardelia dengan semua isi kebun binatang.


"Butuh bantuan?"


Ica terkejut mendengar ada yang menawarkan bantuan kepadanya, gadis itu berbalik badan. Lebih terkejut ketika mengetahui dua cowok yang dimaksud Ardelia berdiri di belakangnya.


"Kita lihat dari tadi lo kek bingung gitu, kalau bingung bawa teman lo pergi, lo bisa minta bantuan kita," ucap cowok dengan hoodie abu-abu, Vino.


"Ah-eh, anu ...."


"Jangan ambigu, deh!" ucap Arga. Vino menyenggol lengan Arga, karena dirasa candaannya mungkin tidak sesuai dengan kondisi.


"Mau pulang sekarang?" tanya Vino.


"Buset, kagak ada basa-basinya lo!" Arga menabok Vino pelan, tidak setuju jika Vino ingin cepat pulang, padahal dirinya masih ingin menikmati malam ini hingga larut.


"Apaan sih, main tabok aja. Lagian gue juga udah ngantuk, paling gue juga yang nyetir. Kasian juga sama Icanya kalo pulang kemalaman," balas Vino, laki-laki itu melirik Arga dengan kesal.


Ica hanya tersenyum tipis, apakah dirinya telah berburuk sangka pada kedua pemuda yang di depannya ini?


"Ga asik lo, Vin."


Vino memilih mengabaikan ucapan Arga, laki-laki itu kembali bertanya pada Ica, "Jadi gimana, pulang sekarang?"


"Sekarang aja, kasian juga sama Ina," sahut Ica cepat.


Vino mengangguk. "Ya udah, Ga. Bawa Ina ke mobil."


"Gue lagi dah." Walaupun berat hati, Arga segera membopong Ina ke mobil yang telah ditunjukkan Ica.


Semuanya telah masuk mobil, Ica di belakang bersama Ina yang tak sadarkan diri. Vino berada di belakang kemudi dan Arga di sampingnya.


"Kalau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan, lagian kita juga udah kenal lama." Vino menatap Ica dari kaca tengah yang digantung di mobil.


"Iya." Gadis itu tersenyum tipis. Selepasnya mobil melaju meninggalkan club, sebelum pulang Ica mengantarkan mereka semua.


...****...


Seorang gadis tengah duduk bersila di tepi kolam, bulan yang dipandanginya terasa lebih indah dari biasanya. Kakinya ia masukkan ke kolam, merasakan dinginnya air dan udara malam yang mungkin bisa membuatnya masuk angin. Terlepas dari itu semua, Zahra memandang bulan sembari tersenyum tulus. Berharap orangtuanya melihat dirinya dari atas sana, sungguh ia rindu terhadap mereka.


"Zahra!"


Seseorang memanggilnya dari belakang, ia menoleh dan tersenyum.


"Kakak? Sini!" Gadis itu melambaikan tangan, lalu menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Dicariin juga, tahunya di sini." Seseorang itu pun duduk di samping Zahra. "Gimana, lega?" tanyanya. Ia merasakan udara dingin yang ingin menerobos melewatinya, berjalan pelan menembus tulang-tulangnya.


"Jauh lebih baik, makasih, Kak." Zahra memeluk kakaknya dari samping, pria di sebelahnya tersenyum tulus.


Rio mengusap pelan kepala adiknya. "Masuk yuk, udah malem. Ga dingin emang?"


"Dingin sih," kata Zahra lirih.


"bulannya indah banget, ya, Kak?" lanjutnya.


"Iya, cantik kayak lo." Rio melingkarkan tangannya di pinggang Zahra, membuat gadis itu terasa lebih hangat.


"Tau ga, Dek? Kakak seneng banget, akhirnya lo kembali." Rio mengecup kening Zahra sekilas, gadis itu balas mengecup pipi Rio.


"I am always back," kata Zahra tepat di telinga Rio.


Rio sangat lega mendengarnya, ia tersenyum simpul. "Bobo bareng, kuyy?" ajak Rio. Gadis di sampingnya mengangguk dengan menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


Rio menggandeng adiknya ke kamarnya, kamar yang biasa mereka gunakan jika ingin tidur bersama. Selalu seperti itu. Jika mereka ingin tidur di kamar tuan putri, maka sang pemilik yang meminta.


Mereka berdua meninggalkan kolam, menyisakan bulan yang menyinari malam itu dengan sinar terangnya. Bulan pun tahu bahwa hati kedua insan ini sedang meletup bahagia, maka hari ini bulan berjanji tidak akan bersembunyi di balik awan hitam. Ia ingin menampakkan diri pada semua orang yang telah ia perhatikan selama berabad-abad lamanya. Agar semua orang tersebut tahu, bahwa ia masih ada dan tetap bersinar.


****

__ADS_1


Heyo, selamat beraktivitas dan sampai jumpa. Jangan lupa jejaknya ❤️


__ADS_2