
Hari ini tiga Ario bersaudara akan berangkat ke Bandung, memulai pencarian Raisha. Memang belum sembuh benar keadaan Zahra, masih tersisa empat hari sebelum kakinya benar-benar bisa digunakan. Tapi ia tetap keras kepala ingin ke Bandung. Akhirnya mau tak mau kedua kakaknya menuruti keinginannya. Mereka menyerahkan segala urusan kantor pada sekretaris masing-masing.
Sebelum berangkat ke Bandung, Zahra dan Gery sudah melapor kejahatan yang Dion lakukan. Kepolisian yang mengusut kasus tersebut mendatangi kediaman Ario untuk kelengkapan laporan. Akhirnya misteri kasus beberapa taun silam terungkap. Mereka membuka kasus itu kembali. Setelah ditutup selama sebelas tahun, karena saksi utama dan korban saat itu tidak mau terbuka pada pihak kepolisian.
Berat bagi Zahra kembali mengingat hal itu, hal yang sampai saat ini mempengaruhi jiwanya. Dia takut kala kembali membuka kasus ini. Takut bila kejadian itu terjadi untuk kedua kalinya, tapi hal itu memang telah terjadi. Kejadian kemarin yang dialaminya, hanya sebagian kecil saja.
Terdampar di sana, benar-benar gelap. Menyeramkan! Hanya suara-suara orang yang menyayanginya saja, yang bisa menolongnya menuju cahaya terang di tengah kegelapan.
Meskipun berat, Zahra akhirnya menceritakan kejadian tentang meninggalnya Zaskia waktu itu, juga tentang berbagai kejahatan yang pernah Dion lakukan.
Semua orang yang mendengar penjelasan Zahra menegang setelah mendengarnya, Gery juga membeberkan pasal ibu angkatnya yang pada akhirnya menjadi korban kerakusan Dion.
Semua akhirnya tahu. Tidak semua yang terjadi malam itu benar-benar diungkapkan Zahra, hanya garis besar kejadiannya saja. Tapi hal itu membuatnya sedikit lega, ia bisa lebih sedikit terbuka. Pihak kepolisian akan bahu-membahu untuk menangkap Dion, karena dia sudah banyak merugikan orang.
Sekarang mereka tengah meminta restu Bi Heni agar mengizinkan ketiganya berangkat ke Bandung.
"Kamu yakin mau ke Bandung sekarang?" tanya bibi pada Zahra.
Wanita itu khawatir, lantaran keadaan Zahra—fisik dan mentalnya yang belum sembuh betul. Bibi takut jika nanti setelah sampai di sana, trauma itu akan kembali. Pergi ke sana sama saja menjemput trauma itu untuk hadir kembali.
"Kalau kamu udah yakin mau berangkat, bibi cuma bisa berdoa. Semoga yang kalian cari di sana bener-benar ketemu, hati-hati ya di sana," pesan Bi Heni sebelum ketiganya berangkat. Netra itu beralih pada Rio dan Rizki. "Jaga adik kalian!"
"Pasti, Bi," jawab Rio mantap.
Bibi mendekati Zahra yang berada di gendongan belakang Rio, wanita itu mencium pipinya. Zahra mengulurkan tangan. Setelahnya, Rio dan Rizki juga mendekati bibi, mencium tangan wanita itu.
"Kita berangkat, Bi!"
Rio memasukkan Zahra ke jok belakang. Rizki dan Zahra memang duduk di kursi belakang, sementara Rio di depan bersama sopir.
Mereka memilih rute tercepat untuk sampai di Bandung. Zahra sudah benar-benar siap menapaki rumah itu kembali.
Tiga jam perjalanan mereka lalui, hingga mobil keluar dari tol dan mengelilingi indahnya Bandung. Mobil terus berjalan hingga sampai di tujuan.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan pemukiman yang berada di pinggiran kota. Kawasan lingkungan yang tak padat penduduk seperti di pusat kota, tapi rumah warganya berdempetan antara satu dan lainnya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar di sudut jalan. Banyak dedaunan berguguran, begitu juga mangga-mangga yang matang hingga busuk, yang tak ada siapa pun mengambilnya. Terjatuh sia-sia, hingga lalat berkerumun di sekelilingnya. Rumah itu pula, dikelilingi garis kuning polisi.
Pak Mahes, Rio dan Rizki keluar dari mobil. Ketiganya mengerutkan dahi saat melihat penampakan rumah yang kotor tak terurus.
"Ini beneran rumah papa?" tanya Rio pada Pak Mahes.
"Iya, Tuan. Maps yang dikirim nona berhenti di sini."
"Kenapa ada garis polisinya?" gumam Rio pelan.
Saat Rio ingin masuk dan meneliti rumah itu, seseorang menginterupsi langkah pria dengan jaket bomber itu.
"Maaf, Anda siapa, ya? Rumah ini tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang," cegah seorang wanita paruh baya, ia menebak itu adalah tetangga samping rumah yang kemungkinan dimintai tolong agar tidak membiarkan sembarang orang memasuki kawasan rumah elite itu.
Belum sempat Rio menjawab, pintu mobil tiba-tiba terbuka. Menampilkan seorang gadis dengan mata terpejam sedang duduk di kursi dengan menghadap ke mereka.
"Kak Rio ...," panggilnya pelan sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Rizki yang kebetulan masih dekat dengan mobil mencegah Zahra yang sudah ingin turun. "Di sini aja!"
Rio mengurungkan niatnya untuk masuk rumah, dia menghampiri adik-adiknya. Sementara wanita tadi berjalan mengikuti Rio.
"Kalian siapa? Mau apa ke rumah ini?"
"Maafkan kelancangan saya. Saya Rio, mereka adik-adik saya, Rizki dan Zahra. Kami ke sini menemani adik bungsu kami, dia rindu dengan rumah beserta kenangannya dulu. Selain itu, kami juga mencari kakaknya yang hilang beberapa tahun silam."
Wanita berhijab itu pun mulai memikirkan sesuatu, lalu pandangannya beralih pada seorang gadis yang memandang mereka bingung.
"Di-dia Zahra? Dia Zahra?" Wanita itu menunggu jawaban dari kedua laki-laki di depannya, setelah mereka mengangguk wanita itu tampak mendekati Zahra. Dia menyamakan tingginya dengan Zahra lalu memeluknya.
"Alhamdulillah, kamu selamat, Sayang." Wanita itu tentu bahagia dapat dipertemukan kembali dengan anak temannya dulu. Tetangga pendatang baik hati yang disenangi dan diterima masyarakat dengan baik. Wanita itu telah menganggap tetangga tersebut saudaranya sendiri. Ia juga menyayangi anak-anak tetangganya tersebut, karena dia sendiri belum dikaruniai seorang anak kala itu.
Wanita itu melepaskan pelukannya dan tersenyum kecil kala Zahra menatapnya. Ketiga muda-mudi tersebut bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
...***...
"Apa? Jadi Dion yang sudah membuat Zahra seperi ini?"
"Iya, Bi. Bahkan Zahra sampai tidak sadarkan diri selama empat hari, kami sangat khawatir dengan keadaannya," jawab Rio seadanya.
Sementara yang dibicarakan tengah menikmati cookies buatan Bi Zaida. Kebetulan sekali wanita itu membuat banyak cookies kemarin dan salah satunya cookies kesukaan Zahra sewaktu kecil.
"Syukurlah dia masih selamat, sebab dulu sebelum Dion ke Jakarta. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan melenyapkan Zahra begitu pula Raisha. Sungguh tragis nasib keluarganya Mas Johan. Padahal Dion itu hanya anak angkat keluarga Adhitama, tapi seperti kacang lupa kulit. Kami para tetangga sangat ingin melapor kejadian tersebut, tapi mereka mengancam kami. Akhirnya kami memilih bungkam dan pura-pura tak mengetahui sesuatu."
Zaida melirik Zahra sekilas lalu melanjutkan ceritanya "Setiap malam, kami mendengar suara-suara rintihan seseorang dari rumah Mas Johan. Tapi kami tak berdaya untuk menuntut keadilan. Saat saya dan lainnya sedang mengadakan arisan, tiba-tiba Raisha dan Zahra berlari ke arah kami dengan air mata yang deras. Mereka hanya menangis sambil menunjuk-nunjuk rumah.
"Kami tentu saja bingung, kami langsung saja menggendong mereka menuju rumah. Dan kami semua terkejut dengan apa yang kami lihat, hal itu terjadi. Kami hanya bisa menengkan Raisha dan Zahra yang menangis tanpa henti. Kami yang mengurus pemakaman Mbak Zaskia, sementara Dion dan Hana saat itu malah ingin membuang jasad Mbak Zakia." Zaida menangis sendiri mengingat hal itu.
Zaida menceritakan apa saja yang dia tahu, termasuk bagian yang Zahra tidar katakan. Benar dugaan itu! Zahra masih terluka bila mengupas kejadian kelam itu.
Zaida segera menghapus air matanya ketika Zahra menoleh ke arahnya.
"Bibi nangis?"
"Engga, Sayang. Bibi cuma seneng aja lihat kamu udah sebesar sekarang. Gimana? Cookies-nya enak?"
"Pastinya. Cookies bibi selalu nomer satu di kampung ini. Nanti pas pulang aku pesan 2 kilo ya, Bi? Mau aku bagi sama orang rumah yang di Jakarta."
"Iya, Sayang. Nanti bibi buatkan." Zaida memilih mengganti pembicaraan karena Zahra sudah ikut dalam obrolan. "Nanti kalian nginep di mana?"
"Di hotel sepertinya, Bi," jawab Rizki.
"Nope. Kita ga akan tidur di hotel, kita tidur di rumah papa!"
"Rumahnya pasti kotor, berdebu. Kasian kakak kamu, mereka pasti capek. Kalian nginep di sini aja, kamar anak saya kosong, dia di kosannya," saran Zaida.
Zahra menggeleng, ia bersikeras ingin bermalam di rumah lamanya. Meski ia harus siap saat sesuatu tiba-tiba menerjangnya.
"Aku bisa kok bersihin, kelihatannya debunya ga terlalu tebal."
Rio dan Rizki membelalakkan mata, tidak tebal bagaimana? Dari luar saja sudah kelihatan jika rumah itu sangat kotor, tidak mungkin kan jika ada yang membersihkan rumah itu dan debunya menjadi sedikit.
Zahra tetap menggeleng setelah perkataan Rizki, ia tetap kukuh dengan keinginannya.
"Kalau kalian ga mau, biar gue sendiri!" Suara Zahra meninggi dan ia sudah mengambil posisi berdiri. Baru saja ingin melangkah, Zahra merasakan kalau saat ini tubuhnya melayang.
Rio langsung membawa tubuh Zahra ke luar, sementara Rizki tak percaya dengan yang Rio lakukan. "Bang ...."
Zaida menahan Rizki yang ingin mengikuti Rio, wanita itu memberikan sebuah kunci. Itu pasti kunci rumah Johan.
"Kalau butuh sesuatu langsung ke sini saja," kata Zaida sambil tersenyum, lalu ia memberikan setoples mini cookies yang disukai Zahra. Dari kecil Zahra sudah suka makan camilan, di rumah itu pasti tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan camilan, kalaupun ada pasti sudah basi.
"Terimakasih." Rizki tersenyum sambil menerima kunci dan camilan tersebut.
...***...
Sudah tiga hari Ario bersaudara itu tinggal di rumah Johan, rasanya aneh. Mereka merasakan ada aura tersendiri yang bersarang di rumah tersebut. Wajar saja, di rumah tersebut telah terjadi peristiwa pembunuhan beberapa tahun silam.
Mereka terkejut saat awal memasuki rumah, rumahnya sangat bersih jauh dari pikiran mereka jika banyak debu tebal dan sarang laba-laba.
Zahra tersenyum tipis ketika Rio membawanya masuk. Ia yakin bahwa arwah maminya mendiami rumah tersebut. Terlihat siluet seseorang di sudut ruangan, saat gadis itu berbalik—seorang wanita dengan gaun hijau memandang mereka dengan senyuman.
Mereka bertiga menempati satu kamar, yakni kamar Zaskia. Ranjang di kamar itu lumayan besar. Selama tiga hari ini, Zahra ke sana kemari menggunakan kursi roda peninggalan Tiffany dulu, kursi rodanya masih bersih, bebas karat. Seperti selalu terawat.
Zahra menemukan beberapa barang yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Ia menemukan sebuah tablet usang di kamar Tiffany dan beberapa surat yang sempat Zahra ambil. Suratnya tersimpan di map coklat yang berada di rak bawah lemari. Ia curiga dengan isinya. Zahra menyembunyikan barang itu di tasnya, ia tidak mau kakaknya sampai ikut campur masalah ini. Kasus ini harus diusut hingga tuntas. Sampai sekarang Zahra belum mengetahui motif Dion, kecuali kalau soal harta itu. Tapi ia meyakini ada hal lain di balik ini semua.
Saat kedua kakaknya juga tidak berada di kamar, Zahra juga mengobrak-abrik kamar maminya. Ia menemukan album milik maminya, Zahra membawa hal itu untuk disampaikan pada kakaknya. Ia mengobrak-abrik lemari bekas Zaskia dulu. Pakaian Zaskia masih rapi di sana, tidak ada yang berubah ketika dulu ia tinggalkan. Di selempitan pakaian, tangan Zahra menyentuh sesuatu yang kaku dan diambilnya. Di situ Zahra menemukan satu map coklat. Dia penasaran. Dengan terpaksa gadis itu jongkok di bawah untuk mengobrak-abrik pakaian bagian bawah. Di sana ia menemukan tiga map coklat lainnya.
Setelah menemukan map itu ia kembali merapikan perbuatannya dan kembali duduk di kursi roda. Ia segera memasukkan benda tadi ke dalam tas sebelum kakaknya tahu apa yang ia temukan.
Saat ini Zahra sedang menikmati acara televisi sendiri. Namun, bukan televisi yang ia nikmati, ia malah melamun. Ia rindu suasana hangat keluarga ini, keluarga yang telah membesarkannya, merawatnya sedari kecil.
...***...
__ADS_1
Dua orang gadis kecil sedang memperebutkan benda persegi panjang dengan berbagai tombol itu.
"Kakak ih, aku mau nonton Doraemon. Kakak mah ga asik nontonnya Naruto."
"Huhh ... bagusan Naruto tahu!"
Kemudian terjadi lagi aksi berebut remote. Tapi siapa sangka jika ujung remote yang dipegang Raisha tiba-tiba terlepas dan akhirnya remote itu mengetuk dahi adiknya. Isak tangis mulai terdengar, Raisha yang kebingungan akhirnya mengusap-usap saja dahi adiknya. Dahinya memar, pasti itu sakit sekali.
"Cup ... cup ... cup. Udah dong de ... jangan nangis. Nanti papa sama mami marahin kakak ... berhenti ya," bujuk Raisha, gadis kucir dua kanan kiri itu berusaha menenangkan adiknya, tapi bukannya berhenti—isak tangis itu semakin bertambah keras.
"Aduh, sakit banget ya, Dek? Maafin kakak, ya ...?" Raisha berucap pelan sambil mengusap pelan dahi adiknya, matanya menatap remote yang terjatuh di bawah meja, lalu sebuah ide melintas di kepalanya.
Raisha jongkok di bawah meja, kemudian mengangkat sebuah toples camilan. "Remotnya nakal ya, Dek. Biar kakak pukul ya, remotnya?" Raisha mengambil toples tersebut, memukulkannya pada remote yang tak bersalah.
Zahra mengamati kakaknya, ia mengusap air matanya dan ikut-ikutan berjongkok dengan sesenggukan. Sesekali menyeka cairan kental yang keluar dari hidungnya, mengusapnya pelan dengan ujung baju. Gadis kecil itu ikutan mengambil toples, lalu menghantamkannya ke remote, bergantian dengan Raisha.
Entah Zahra yang terlalu kuat menghantam atau apa, yang jelas toples itu sekarang sudah tercerai-berai. Isinya pun sudah kocar-kacir tak karuan.
Raisha takjub memandang Zahra. "Eh, dek, bisa pecah gini. Hebat kamu." Gadis berkaus kupu-kupu itu menunjukkan dua jempolnya pada adiknya.
Zahra mengabaikan ocehan Raisha, matanya berbinar menatap isi toples yang berceceran. Makanan berbentuk tabung melengkung berwarna merah ada di hadapannya. Makanan yang selalu di idam-idamkan, makanan yang selalu ia dambakan, makanan yang dulu ditatapnya dari balik kaca toples. Dan sekarang, makanan ini ada di hadapannya. Zahra segera mengambil makanan itu lalu memasukkan ke mulutnya. Mengunyahnya dengan riang.
Risha yang melihat Zahra menikmati makanan tersebut akhirnya ikut-ikutan mencicipi.
Belum sempat lima suap, makanan itu masuk ke mulut mereka—keduanya sudah menangis. Bedanya, Raisha menangis sambil memasukkan jarinya ke mulut, bagai memakan permen sunduk. Sedangkan Zahra malah kembali memasukkan makanan itu lagi, mengunyahnya sembari terisak.
Seorang wanita dan pria berlari dari dapur dengan tergesa-gesa, mereka khawatir sejak mereka mendengar suara barang pecah.
"Astaga!" Mereka terkejut melihat pecahan toples di antara anak-anak mereka. Mereka mengangkat keduanya, mendudukkannya di sofa.
Pria itu menoleh pada istrinya. "Kamu tenangin mereka dulu, biar aku yang ambilin mereka minum."
"Sayang ... keluarin jari kamu!"
Raisha menggelengkan. "Pedas, Mam ...."
"Sebentar, papa lagi ambil air, tuh." Pandangannya beralih ke anak satunya yang meronta ingin ke bawah lagi, jarinya menunjuk-nunjuk makanan yang tadi dilahapnya.
"Mami, mau ...."
"Jangan, Sayang. Itu bukan makanan kamu!"
...***...
"Hey, ngelamun aja. Ngelamuin apa, si?"
Zahra tersenyum, menatap Rio yang kini duduk di sampingnya.
Zahra menggeleng singkat, kembali menonton televisi. "Gue cuma kangen suasana hangat rumah ini."
Rio merangkul adiknya, lalu mencium pipi dan pelipisnya. "Tadi baju-baju lo udah gue beresin. Besok terakhir kita di Bandung dan terakhir kita nyari Raisha. Besok kita langsung pulang!"
"Iya, Kak."
"Tumben lo nonton sinetron, biasanya juga ogah."
"Pengen aja."
Rizki masuk lalu duduk di depan keduanya.
"Lama banget, Kak?" Zahra mengambil kantung plastik yang baru saja diletakkan Rizki. Melihat menu makan malam mereka kali ini.
"Jauh banget warteg di sini, gue aja nemu di pinggir jalan gede, tuh. Tau gini mending delivery aja kayak biasanya."
"Udah-udah. Makan gih, gue ambilin air bentar." Rio berdiri, berjalan ke arah dapur.
Rizki dan Zahra terdiam di posisinya, tapi tangan gadis itu membagikan bungkusan tersebut pada kedua saudaranya.
Rio datang dengan membawa teko dan sebuah gelas. Pria itu kembali ke posisinya di samping Zahra. "Kok ga dimakan?" tanyanya sambil menaikkan alis.
__ADS_1
Zahra tersenyum tipis, menggeleng kemudian. "Nungguin kakak dong, he-he."
Rio mengacak rambut adiknya karena gemas. Ketiganya akhirnya memakan nasi rames itu bersamaan. Rizki juga meminta nasi lebih dan lauk lebih, karena ia tahu jika dirinya dan kedua saudaranya makan dengan porsi besar.