
Rio berjalan ke depan, menemui tamunya yang entah mengapa tertarik untuk datang ke rumahnya. Padahal, mereka tidak terlibat kerjasama apa pun. Hanya sesekali bertemu di acara jamuan kolega masing-masing.
Rio menyambut mereka dengan senyum mempesonanya. Menyuruh bodyguard untuk membuatkan minuman pada tamunya. Ada empat orang yang kini memenuhi ruang tamunya
Rio berjabat tangan dengan semua tamunya. Ia terakhir berjabat tangan dengan Revan, memberi kode pada temannya itu. Tapi Revan juga menaikkan bahu tidak mengerti. Ditambah dengan sosok pria di samping Revan yang memiliki wajah yang sama, ia semakin tidak mengerti.
Rio tersenyum ramah. "Apa kabar Pak Wahyu?"
Wahyu membalas senyum itu. "Kabarku baik, Son. Bagaimana dengan kalian?"
Rio tidak salah denger, kan? Raja bisnis ini memanggilkan son? "Kabar saya baik. Maaf, tapi nama saya Darel, Pak." Rio memang menggunakan nama depannya ketika di depan umum, yang memanggilnya Rio hanya keluarga dan temannya saja.
Hanya Wahyu yang tampak berbincang, sedangkan ketiga orang lainnya hanya diam sambil menyimak, sesekali melihat interior rumah ini.
"Aku lebih suka memanggilmu son. Oh ya, di mana adikmu?" tanya Wahyu dengan senyum merekahnya. Sejak ia sadar ia sama sekali belum menemui Zahra, ia sangat merindukan cucunya yang satu itu.
Rio mengerutkan dahi. Ia jadi takut pria di depannya ini mengetahui rahasia yang ia simpan rapat. Rio berdehem untuk menetralkan rasa terkejutnya. "Maaf Pak, sesungguhnya saya anak tunggal."
Wahyu menampilkan smrik-nya. "Tolong map yang hijau dan merah muda, Van."
Pria di sampingnya, yang merupakan seseorang yang berwajah mirip dengan Revan membuka tas jinjing yang dibawanya. Mengeluarkan dua map yang pria itu minta. "Ini, Yah." Ia menyerahkan dua map itu.
"Aku tidak percaya jika kau anak tunggal, media beberapa kali menyorotmu tengah mengantar jemput seorang gadis di kampusmu."
Rio membalas ramah. "Itu mungkin kekasih saya, Pak."
Wahyu terkekeh kencang. Ia membuka map merah muda itu, mengambil pas foto berukuran 3×4, menunjukkannya pada Rio. "Bagaimana jika yang kumaksud adalah gadis ini?"
Mata Rio membulat, bagaimana pria ini bisa memiliki foto Zahra? Ah iya internet, adiknya lumayan laris belakang ini. Apalagi kabar, bahwa Zahra telah menjalin hubungan resmi dengan ahli waris Tecno Company, membuat nama adiknya kian melambung. Ia harus segera menyuruh orang IT-nya men-takedown berita-berita itu.
"Dia sepupu saya," jawab Rio santai.
"Bukannya tantemu belum memiliki buah hati? Kudengar, Ayahmu juga memutuskan hubungan dengan tantemu. Kurasa, jika itu anak dari tantemu, kalian tidak akan sedekat seperti yang diberitakan," balas Wahyu dengan analisanya. Semenjak sang kakek dikabarkan meninggal, berita perseteruan antara ayah dan tantenya menjadi berita panas, terus digoreng oleh media masa.
Berita itu meredup setelah teralihkan dengan bocornya data PT Suryaprita yang memproduksi alat-alat kosmetik. Terakhir diketahui bahwa perusahaan itu menggunakan campuran bahan terlarang untuk produknya. Owner berserta presdirnya berakhir di jeruji besi
Sejak saat itu pula pamor tantenya sebagai seorang model juga meredup. Dan wanita itu seperti hilang ditelan bumi.
__ADS_1
"Ma–maksud saya sepupu dari pihak ibu, Pak. Kami memang akrab sedari dulu." Rio kembali mengulas senyumnya ketika menemukan alasan masuk akal.
Wahyu tersenyum licik. Pria itu merogoh saku celananya. Mengeluarkan seuntai kalung yang dicari Rio.
Rio tentu terkejut mendapati Wahyu juga memiliki kalung yang sama seperti milik ibunya. Sebentar, ia baru tersadar akan sesuatu. Zahra bilang yang membawa kalungnya ialah Rivano Rivan Wahyudi dan tadi orang yang bernama Rivan memanggil Wahyu itu ayah. Jadi, Rivan itu ternyata putra dari Wahyu, Rio baru mengetahui akan hal ini. Dan juga kenapa ia tidak sadar jika Rivan yang ia cari ada di sini. Ternyata Rivan malah memberikan kalung itu pada Wahyu.
Wahyu mengangkat kalung itu di depan wajah Rio. "Ini bukan yang kau cari? Yang kau inginkan?"
Ia langsung mengangguk. Melihat Rio yang kehilangan kata-kata ia terkekeh. "Anakku menitipkan kalung ini padaku untuk dikembalikan pada gadis itu. Sekarang di mana dia? Aku ingin memakaikannya sendiri."
Wajah Rio pias, kenapa mengambil kalung itu sesulit ini? Jika saja yang ia hadapi sekarang orang biasa, sudah ia suruh bodyguard untuk mengusir mereka setelah merebut kalung itu.
"Tolong berikan pada saya, Pak. Kalung itu sebenarnya milik mendingan ibu saya. Tolong ...." Rio merendah supaya pria ini segera memberikan kalung itu. Namun, Bukannya memberikan kalung itu pada Rio yang rela merendah, Wahyu malah kembali mengantungi benda berbandul love tersebut.
"Tidak semudah itu Son, katakan dulu jika gadis tadi itu adikmu," ucapnya mutlak.
"Pak Wahyu sudah mendengarnya tadi, gadis itu sepupu saya. Saya anak tunggal. Kalung itu memang diamanahkan pada Zahra supaya ia mengenakan kalung itu. Tidak mungkin kan, saya yang memakainya." Tangan Rio terkepal, kesabarannya seakan menipis, tapi ia masih berusaha sabar untuk menjaga nama baiknya.
Senyum licik itu masih terbit di wajah tuanya, ia akan meladeni remaja ini dengan senang hati. Berdebat seperti ini membuatnya dua puluh tahun lebih muda, ia merindukannya.
Rio berdiri dengan tangan terkepal. Ia harus menghentikan ini, pria itu tidak bisa menyudutkannya. Masa bodoh dengan nama baiknya, ia bisa men-takedown berita sialan itu nantinya.
"Katakan! Apa mau Anda sebenarnya!" ucap Rio dengan nada tinggi, tak lama bodyguard yang sejak tadi berdiri di sana menodongkan senjata api pada ketiga orang itu, kecuali Revan yang tampak santai. Pemuda itu sedari tadi memakan snack kesukaannya. Karena bodyguard juga sudah mengenal Revan dengan baik.
"Jaga ucapanmu Darel!" ucap pria yang satunya, ia juga baru ingat jika pria itu Vero Ardiansyah, ayah dari Ardelia, sahabat adiknya.
"Turunkan senjata kalian!" kata Wahyu, ia menatap beberapa bodyguard yang ia kenali, tentu saja. Mereka itu anak Black Devil, ternyata Zahra memasukkan beberapa orang juga di mansion ini. Wahyu tersenyum kecil.
Wahyu berdiri, mendekati Rio, menepuk bahunya pelan. "Duduklah, baca dulu kedua map itu." Anehnya, Rio langsung menurut—kembali duduk dan mulai membaca kedua map itu. Membuat Wahyu tersenyum kecil. Tidak sulit juga menjinakkan anak ini. Pria itu berdiri di belakang Rio, ia ingin lebih dekat dengan pemuda ini.
Rio membuka map itu, membacanya secara teliti. Bergantian dengan map satunya. Dahinya terus berkerut, membaca kata demi kata. Ba–bagaimana mereka mendapatkan ini? ucapnya dalam hati.
Rio mendongak pada pria itu. "A–apa maksud file ini? Dari mana Anda mendapatkan file ini? Ini file palsu." Ia meletakkan kembali dua map itu.
"Kau tau Son, dari mana Ibumu berasal?"
Rio sedikit terkesiap ketika pria itu tiba-tiba membahas ibunya, namun ia segera mengangguk. Sepertinya pria ini akan membicarakan hal inti mengenai kedatangannya kemari, bukan sekadar mengembalikan kalung. Apalagi, pria itu mengajak anak dan menantunya kemari.
__ADS_1
"Lebih baik Bapak duduk dulu, rasanya tidak sopan membiarkan tamu berdiri," ucap Rio, tangan kanannya mempersilahkan Wahyu untuk kembali ke kursinya. Sejak ia tersulut emosi tadi, ayah dari Ardelia tersebut tidak berhenti menatapnya tajam.
"Baiklah Son, kuturuti permintaanmu." Wahyu segera duduk, sudah cukup main-mainnya, saatnya memberitahukan yang sebenarnya.
Sebelum Rio sempat bicara, bodyguard menyajikan berbagai minuman di depan mereka berempat. "Silahkan diminum," ucapnya mempersilahkan.
Setelah menyesap lemon hangat, Wahyu kembali memandang Rio, mengkode untuk melanjutkan jawabannya tadi.
Rio mengangguk. "Jadi, Ibu saya bukan berasal dari sebuah keluarga yang lengkap. Beliau adalah satu diantara beberapa orang yang berhasil lolos dari penculikan keji yang menjual organ tubuh. Selama mereka masih hidup, Ibu dan teman-temannya dipaksa untuk mengemis. Pada akhirnya, saat remaja— Ibu saya berhasil lolos bersama seorang teman. Mereka hidup berdua di bawah kolong jembatan, mengamen dan menjadi kuli panggul adalah pekerjaan yang bisa mereka kerjakan kala itu. Sampai suatu hari, seorang remaja lain bergabung bersama keduanya. Mereka menjadi sahabat dan berjuang bersama di tengah kehidupan Jakarta ini.
"Hanya kalung itu harta yang dimiliki oleh Ibu saya, penculik itu sama sekali tidak tertarik. Mereka lebih tertarik dengan organ tubuh yang mereka akan jual. Sampai akhirnya takdir mempertemukan Ibu dan Ayah saya. Kehidupan ketiganya berubah." Rio mengakhiri ceritanya, membuat tiga orang dewasa itu terdiam.
Wahyu mengulas senyum tipis. Ia tidak tahu jika kehidupan anak bungsunya sesulit itu. "Kamu tau, Son? Istriku dulu melahirkan bayi kembar perempuan dikelahiran keduanya. Kami sangat senang waktu itu akan kehadiran dua bayi kami. Pada hari keempat, kami memberikan tanda berupa kalung dengan liontin love yang berisi foto keduanya saat baru dilahirkan." Menyadari Rio mendongak ketika bagian ini, kembali membuatnya mengulas senyum. Tak lama lagi, keluarganya akan segera lengkap.
"Akan tetapi, ternyata kebahagiaan kami bersifat semu. Hanya beberapa hari kami menikmati masa bahagia itu. Genap usia bayi kami tujuh hari, perampokan terjadi di rumah. Beberapa barang sempat ada yang hilang, tapi kami tak menyangka jika mereka akan membawa bayi kami.
"Satu hari, penyelidikan kami untuk menangkap perampok itu akhirnya berhasil. Dia yang menjual bayi kami pada orang pengepul anak-anak, yang pada akhirnya akan dijual organ tubuhnya. Saat kami berhasil menangkap penjual organ tubuh itu, semua telah terlambat. Ternyata putri kami memilih meloloskan diri terlebih dulu. Aku bangga dengan yang ia lakukan, tapi pada akhirnya aku belum bisa menemukan putriku sampai akhir hayatnya."
Wahyu mengakhiri ceritanya, berakhir menitikkan air mata. Kini, ia telah mengetahui perjalanan sang putri, dari lolos melarikan diri hingga berakhir menjadi seorang istri. Setelah menjadi sang istri pun, cobaan rupanya belum berakhir. Tuhan terlalu sayang pada putrinya.
"Kamu sudah tahu bukan, maksud kedatangan kami ke sini?" tanya Vero, cerita itu telah usai dan ia berkesempatan untuk berbicara.
Rio mengangguk samar, menyeka beberapa bulir yang juga membasahi pipinya. Hidungnya tersumbat akibat menahan isakan, membuatnya kesulitan bernapas selama beberapa detik dan berakhir bernapas menggunakan mulut.
"Da–dan Revan?" tanyanya ragu.
"Dia putraku, saudara sepupumu," kata pria yang berada di samping Wahyu.
"Dengar Tuan, saya masih belum sudi menganggap orang tidak bertanggung jawab seperti anda menjadi Ayah saya," balas Revan dengan ketus.
"Revan! Bersikaplah sopan! Bagaimanapun juga, dia tetaplah Ayahmu," ucap Vero.
Revan mengembuskan napas kasar. "Saya belum memaafkannya, Tuan Vero."
Rio tidak menyangka. Revan, sahabatnya, ternyata sepupunya sendiri. Juga Ardelia, sahabat adiknya, juga sepupunya. Ternyata mereka secara tidak sengaja telah berkumpul dengan keluarganya.
Keheningan itu buyar karena pekikan seorang wanita, setelahnya suara berat adiknya terdengar khawatir.
__ADS_1