
Zahra melangkah menuju meja makan dengan langkah santainya, tanpa memedulikan dua orang pemuda yang berteriak kelaparan. Tapi mereka menutupinya dengan handphone di tangan mereka. Lihatlah sekarang, kakaknya itu memainkan ponsel di meja makan, padahal dulu dirinya yang menegakkan aturan, jangan memainkan ponsel di meja makan.
Dengan santainya, Zahra mencuci tangan di wastafel dan menghampiri wanita paruh baya yang sedang mempersiapkan menu sarapan pagi ini.
"Ada yang bisa Zahra bantu, Bi?"
"Kamu pindahin aja lauknya ke piring, biar bibi pindahin sayurnya dulu."
"Siap!"
Setelah semuanya siap, mereka duduk di meja makan dan mulai memakan makanan yang telah terhidang.
Kali ini tak ada percakapan di meja makan seperti biasanya, hanya ada suara dentingan sendok. Setelah selesai Zahra membantu bibi mencuci peralatan kotor.
Saat ingin kembali ke kamar, dia melihat kakaknya yang sedang serius bercakap-cakap via telepon. "Ga usah sok serius, muka lo ga ada tampang serius-seriusnya." Adik laknat memang, minta banget ditempeleng sama abangnya.
Rizki sedikit menjauhkan telepon. "Diem dulu!"
Dari belakang Rio melingkarkan tangan pada leher adiknya, lalu membungkam mulut Zahra dengan telapak tangannya.
Zahra melepaskan tangan Rio. "Apaan, sih?" katanya sebal.
"Gimana?" tanya Rio setelah Rizki mematikan teleponnya.
Pria dengan kaus oblong itu menggeleng. "Belum ada kabar, kayaknya rencana ini didukung sama beberapa pihak. Jadi agak sulit masuk aksesnya."
Zahra menatap keduanya sebal. "Dah lah, gue mau siap-siap. Kalian emang ga ngantor? Masih santai aja," setelah berkata demikian, Zahra kembali melangkah menaiki tangga.
Baru selangkah, dirinya sudah terbenam dalam dekapan Rizki. "Nanti berangkatnya bareng gue, oke?"
Zahra mengangguk malas. "Terserah."
...****...
Di meja makan, tengah duduk pria paruh baya dan seorang anak laki-lakinya. Pria paruh baya itu sedang menikmati kopi pagi yang telah disiapkan oleh istrinya tercinta.
"Gimana kuliah kamu, Van?" tanya Arga pada anak laki-laki semata wayangnya.
"Ya gitu-gitu aja, Pa. Kayak papa ga pernah kuliah aja," kata anaknya kesal.
"Loh-loh, papa kan kuliah dulu udah sambil nikah. Beda sama kamu yang masih pendekatan. Level asmara papa lebih tinggi dari kamu," kata Arga membanggakan diri.
Mila meletakkan tumis sayur dengan berbagai lauk di meja makan. Tangannya terulur mengambil sebuah piring untuk suaminya. "Mau makan sama apa, Mas?"
"Terserah. Yang penting makannya sama kamu pasti nambah-nambah." Mila terlihat tersipu dengan gombalan receh Arga. Devan yang melihat itu ingin muntah saja rasanya.
"Sama ikan ya, Mas?"
"Iya, Sayang."
Setelah mengambilkan makanan untuk suaminya, kini giliran anaknya. "Kamu mau makan sama apa?"
"Terserah mama aja."
Setelah memberikan seporsi makanan pada anaknya, giliran dirinya yang mengambil makan.
Mereka memakan makanan yang telah terhidang di depan mereka.
"Terus hubungan kamu sama cewek yang sering ke sini itu gimana? Udah ada kemajuan?" tanya Arga di sela-sela makan.
"Belum, Pa. Ya, masih gitu-gitu aja, orang dianya belum putus sama pacarnya," ucapan Devan membuat kedua orangtuanya saling berpandangan bingung.
"Lohh, kalau dia udah ada cowok kenapa masih kamu dekati?" tanya Mila.
"Cewek bukan cuma dia, Van. Cari cewek lain sana!" Arga geleng-geleng kepala sama anak satu-satunya ini.
"Hubungan dia sama cowoknya kayak sama temen biasa. Orang cowoknya juga lagi deketin junior Dev, ya Dev embat aja ceweknya. Tinggal tunggu kabar resmi mereka putus, baru aku maju. Lagian cowoknya itu juga sahabat Dev sendiri."
Arga kembali menggeleng. "Dasar! Anak muda jaman sekarang," gerutunya pelan, setelah itu kembali menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Udahlah, Mas. Penting ga ganggu kuliahnya. Awas aja kalau nilai sama IP kamu turun, mobil kamu mama sita!"
"Yaelah, Mah. Kejam amat, sama anak sendiri juga." Devan memandang mamanya dengan raut memohon.
"Mama serius lo!"
"Iya, mamahku sayang. Dev bakalan tetap mertahanin IP, Dev." Laki-laki itu mengembuskan napas kasar.
"Bagus kalau begitu. Oh ya, kamu jangan lupa juga sama tanggung jawab kamu di kantor!" pesan Arga mengingatkan.
"Iya, Pa."
Mereka selesai makan. "Pah, Mah ... Dev ke kamar duluan, ya?" pamit Devan.
"Oke, Sayang," jawab Mila.
Mila membereskan sisa makan mereka, Arga pun juga bersiap-siap berangkat ke kantor.
Setelah selesai, Devan menyalimi kedua orangtuanya lalu berangkat ke kampus.
...****...
Seorang gadis duduk tenang di bangku parkiran sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, tampak seseorang menepuk pundaknya. Dia mendongak dan mendapati seorang pemuda berdiri di depannya.
"Udah lama?"
Gadis itu menggeleng. "Masuk yuk," ajaknya.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan pemuda itu melingkar indah di pinggang gadisnya.
"Kita ada kelas jam berapa, sih?" tanya gadis itu.
"Jam sembilan."
"Nongkrong di mana gitu, males kalau ke kelas jam segini."
"Oke, yukk." Mereka berjalan entah kemana, yang pasti menghabiskan waktu bersama.
Sementara di gedung B, fakultas pendidikan tengah terjadi kerusuhan.
__ADS_1
...***...
Putra duduk tenang sambil menemani Una yang baru saja mengantar sahabatnya ke kelas. Mereka memutuskan duduk di salah satu bangku yang tersedia di depan kelas.
Mereka berbincang-bincang ringan hingga akhirnya seseorang datang.
"Putra ... gue cariin juga taunya lo di sini. Tega banget lo ninggalin gue," marah seorang gadis pada Putra.
Putra dan Una, berdiri secara spontan. Mata gadis itu melihat una, kemudian menunjuknya. "Siapa nih? Target baru lo?"
"Naysha! Diam!" kata Putra tegas.
"Jangan dimasukin ke hati, dia emang gitu orangnya," bisik putra ketika milihat raut gusar Una. Ia mempererat pelukannya pada pinggang gadis itu.
"Lo apaan, sih? Kan udah gue bilang, jangan pernah ikutin gue ke kampus!" kata Putra.
Gadis itu berkacak pinggang. "Hello, lo ninggalin gue di apart tanpa ngasih gue makanan sama sekali ...."
"Loh, gue kan udah ninggalin uang buat lo. Masih kurang?" tanya Putra.
"Heh, lo ga inget kalo gue baru tidur jam tiga pagi. Uang yang lo kasih ke gue itu jelas kurang!"
"Terus, tujuan lo ke sini ngapain?"
"Menurut lo?"
"Ck! Ya, lo kan bisa beli makanan di supermarket apart. Terus lo ngapain ikutin gue sampai sini?" decak Putra kesal.
"Huh. Suka-suka gue dong. Ini siapa lagi? Sok polos gini," katanya sambil mencolek dagu Una.
"Jangan sentuh dia!" gertak putra pada gadis itu.
"Heh, lo—"
"Put!" Putra menoleh pada Ina yang baru saja memanggilnya.
Putra menghela napas, firasatnya tidak enak ketika Ina berjalan mendekatinya. Karena yang Putra tahu, Ina tidak suka saat melihat mantannya bersamanya. Ya, Naysha Rifadin, mantan Putra Rastungo yang bertemu Zahra di tempat protitusi.
"Lo ngapain di sini?" tunjuk Ina pada Naysha.
"Suka-suka gue lah. Lagian ini tempat umum, siapa pun boleh datang, termasuk gue!"
Ina berkacak pinggang. "Heh, terus lo mau ngapain ke sini? Ngejar mantan lo? Ga tau malu banget, lo itu udah mantan. Ngapain masih ngejar-ngejar?"
"Heh, cewek ganjen. Lo kira gue ga tau, kalau lo juga ngejar-ngejar mantan gue yang sekarang jadi cowoknya sahabat lo?"
Ina menyipitkan matanya lalu mendorong bahu Naysha. "Jaga ucapan lo, Jal*ng!"
Naysha terkekeh sinis. "Huft ... jal*ng bilang jal*ng, apa namanya?"
Putra berusaha memisahkan mereka berdua.
"Diem, lo!" Mereka membentak Putra.
Entah sejak kapan mereka mulai adu bac*t, yang jelas mereka mendebatkan hal-hal yang sama sekali tak penting.
...***...
"Emang, iya?"
"Eh, Marina adu bacot tuh. Kalian pada mau lihat ga?"
"Marina siapa?"
"Itulo, Inaaa, yang segengan sama Zahra."
"Widihh, seru nih. Ke sana yuk!"
"Yuk, yuk."
"Ada paan, sih? Ribet banget keknya." Gadis itu menoleh, mengamati sekitarnya.
Devan mengidikkan bahu. "Mau lihat?"
Zahra mengangguk. "Boleh, kepo gue."
Mereka berjalan beriringan menuju gedung B yang sekarang telah ramai. "Minggir!" Zahra menerobos kerumunan itu dan dengan ajaib mereka menyingkir setelah mendengar suara Zahra.
Setelah sampai di barisan depan, ia dapat melihat bahwa Ina dan Naysha sedang mendebatkan hal yang sama sekali tak perlu, serta jambak-jambakan. Una sesekali memisahkan mereka, namun mereka tetep menempel layaknya perangko.
Zahra menarik Devan menuju Putra yang melihat perdebatan itu dengan tidak tahu harus apa. Putra meraup kasar wajahnya. Devan menepuk bahu putra.
"Eh, Bro. Sorry, gue ga tau kalau lo dibelakang gue," ucap Putra.
Devan mengangguk. "Kenapa, tuh?" Putra mengidikkan bahu kesal.
Lain dengan Devan dan Putra yang terkesan tak peduli, Zahra malah mencengkeram baju Putra yang hanya cengo dengan yang dilakukan Zahra.
Kini sebagian mata telah tertarik dengan yang dilakukan Zahra pada Putra. "Lo kenapa?" tanya Putra bingung.
"Lo kenapa bawa temen ranjang lo ke sini, hah?" tanya Zahra berbisik. Putra melepaskan cengkeraman Zahra perlahan dan merapikan bajunya yang sedikit kusut.
"Gue ga bawa dia, dia yang ngintilin gue. Tadi gue santai-santai sama Una, dia tiba-tiba dateng terus bikin ribut "
"Halah, alasan! Gue ga suka dia bikin ribut di sini, jadi mending lo bawa dia balik!"
"Ga bisa lah, kan gue ada kelas. Lagian habis kelas selesai gue mau nge-date."
"Awas aja kalau lo bawa dia ke sini lagi, gue bilangin nyokap lo, kalau lo nyimpen cewek bayaran di kamar." Zahra pergi begitu saja, lalu menghampiri tiga gadis itu. Sebenarnya ia agak ragu, otaknya kembali memutar kejadian selepas magrib itu. Kembali ia yakinkan diri, melangkah dengan tegap menuju mereka yang tengah menjadi perhatian.
"Van, tolongin dong. Zahra ngambek tuh sama gue," rengek Putra pada Devan.
Devan mengidikkan bahu tak acuh. "Salah lo! Gue ga ikut-ikut."
Zahra memegang bahu kedua gadis tersebut dan menjauhkan mereka. "Kalian apa-paan sih? Bikin rusuh tau ga?" kata Zahra kesal. Atensinya melihat Una sekilas. "Lo ke kelas aja, dosen lo udah mau dateng." Una mengangguk lalu bergerak menjauh.
Zahra melihat Naysha dari atas sampai bawah. "Lo ngapain di sini?"
Naysha tersenyum sinis. "Apa masalahnya buat lo?" Dia terkekeh membuat semua bingung. "Ada ya orang kayak lo, berbagi cowok dengan orang lain. Nga ngeh gue sama jalur pikiran lo atau jangan-jangan ...." Naysha menggantung kalimatnya, "Cowok yang main sama lo bukan Putra, tapi orang lain. Makannya lo ga terlalu memikirkan kalau cowok lo berpaling."
__ADS_1
Plak!
Tanpa diduga, Zahra sendiri bingung kenapa ia melakukannya. Gadis itu langsung menarik tangan kanannya yang masih menempel di pipi Naysha. Mantan Putra itu memandang Zahra sinis.
"Ohh, berani juga ya ternyata, gue kira lo kehilangan muka di depan gue. Kalau gitu kita impas! Well, sepertinya bagus jika kita swinging, kita bisa berbagi dan saling mencoba. Itu ide bagus, bukan? Kita lihat siapa yang paling jago!" Naysha menaikkan alisnya, menatap Zahra yang bergeming.
Berani sekali Naysha berucap demikian di depan umum, kenapa mulutnya kembali membuatnya sesak? Setelah membuat dirinya merasa bersalah karena tak sengaja menampar, kenapa Naysha berucap seperti itu? Apa dia pikir Zahra seorang gadis seperti yang ada di otaknya itu?
Zahra mengatur napasnya, menunduk mengurasi rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Suara tamparan membuatnya kembali mendongak, Ina menampar Naysha untuk kedua kalinya.
"Berani ya lo ngehina, sahabat gue!"
Naysha mendorong bahu Ina. "Ga usah sok suci gitu lo, kalian sama-sama murahan! Terutama lo, Marina!"
"Situ ga ngaca, ya? Miris gue," balas Ina.
Zahra memilih memalingkan wajah, Naysha menatapnya miring. Ia tidak nyaman bersitegang dengan Naysha setelah pertemuan hari itu. Zahra memejamkan mata sesaat lalu berjalan mendekatinya.
"Nay, ini kampus, bukan tempatnya ribut. Gue mohon sama lo buat angkat kaki dari sini. Kalau lo masih ribut, gue suruh satpam buat nyeret lo!"
Naysha mendengkus, ia menatap tidak suka pada Ina dan Zahra. Kemudian melangkah pergi dengan menahan senyum. Tujuan sebenarnya, ia ingin memastikan seseorang baik-baik saja dan ia telah membuktikannya langsung.
Zahra menyuruh Ina kembali ke fakultasnya dan menyuruh gerombolan itu pergi. Ia lalu menghampiri kedua bodyguard dadakannya yang menunggu.
"Yuk, ke kelas!"
Putra merangkul bahu Zahra. "Maaf ya ... gue ga tau beneran kalau dia ngikutin gue." Zahra melepaskan tangan Putra yang bertengger di bahunya lalu berjalan lebih cepat.
Devan menepuk bahu Putra. "Lebih berusaha ya, kan lo tau kalau dia ngambek susah dibujuknya." Putra mengangguk lesu.
Mereka berjalan mengikuti Zahra menuju gedung C, tempat kelas mereka. Putra mendengar suara gemerusuk, sedetik kemudian laki-laki itu berlari mengejar Zahra—menarik tangannya, yang membuat kepala Zahra membentur dadanya.
Tiga buah anak panah melesat tepat di depan mereka berdua, panah itu menancap di tiang yang berada tak jauh dari posisi mereka.
"Lo ga papa?" tanya Putra.
Zahra mengangguk dan melepaskan diri dari Putra. Ia mengambil kertas yang tersangkut di anak panah itu.
Terdapat kata 'Dead' yang tertulis dengan tinta merah, aroma anyir yang keluar dari kertas itu sangat menyengat.
Putra mendekati Zahra. "Siapa pengecut yang ngirim ginian?" Pemuda itu mengambil handphone disakunya dan hendak menelpon seseorang. Tangan Zahra lebih dulu mencekalnya. "Ga perlu, ga penting."
Ini pasti ulah Om Dion sama anaknya, batin Zahra.
Devan menghampiri mereka. "Kalian ga papa?"
"Ga papa kok, cuma iseng mungkin. Udah yuk, ke kelas." Zahra meremas kertas tersebut, lalu membuangnya ke sembarang arah.
...****...
Devan menatap gadis di sampingnya, yang asik melamun. Ia menyentuh telapak tangan gadisnya, lalu menggenggamnya. Gadis itu terkesiap, "E-eh?"
Devan terkekeh dan mengecup pipi gadis itu sekilas. "Kenapa? Mikirin yang tadi?"
Zahra menggeleng pelan. "Engga kok," jawabnya sambil tersenyum pada Devan.
"Engga gimana? Dari tadi lo itu ngelamun terus. Ngelamunin apa, sih?" Devan menggeser duduknya supaya lebih dekat dengan Zahra.
"Ga tau, gue bingung," ucapnya lirih.
"Mau cerita?"
Zahra menggeleng. Ia bingung jika bercerita, harus cerita model bagaimana? Ia hanya merasa sikap Naysha hanya dibuat-buat, hatinya yang berkata demikian, entah mengapa. Rasa ragu juga menyelinap di benaknya, wajar saja jika Naysha bersikap demikian. Gadis itu pasti menganggapnya saingan.
Zahra mendekat pada Devan. Putra pernah melakukan ini padanya, ia tersenyum mengingat itu—semoga berhasil kali ini.
Tanpa aba-aba, Zahra mendekatkan bibirnya pada bibir Devan, lalu menghisap benda kenyal tersebut kuat-kuat. Devan saja terkejut, ia kini mengontrol jantungnya yang tak mau berhenti disko.
Devan mengusap perlahan kepala Zahra setelah gadis itu melepaskan bibirnya. "Udah mulai nakal sekarang?" Devan menunjukkan smirk-nya
Usapan Devan turun ke pipi, membuat Zahra sedikit merona. Tangannya menyusup ke balik leher Zahra dan memajukan tengkuknya, membuat jarak yang tadi sempat terbuat kini kembali terkikis.
Devan menempelkan kembali bibirnya pada bibir ranum Zahra, ia menutup matanya dan menggerakkan lidahnya. Zahra yang melihat Devan menutup mata akhirnya ikut menutup mata. Merasakan lembutnya ciuman Devan yang memabukkan dan perlahan menjadi candu, Zahra mulai membalas ciuman itu.
Mereka berhenti setelah pasokan oksigen mereka habis, Devan terkekeh lalu menyeka sudut bibirnya serta sudut bibir Zahra.
Zahra mengembuskan napas lega, tangannya tergerak memeluk Devan. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang laki-laki yang kini dicintainya.
Devan tertawa ketika berhasil membuat pipi Zahra kembali merona, gadisnya itu malu. Zahra sadar dengan apa yang dilakukannya, tapi ia butuh itu sekarang. Rasanya lebih lega.
"Thanks."
Devan tahu saat ini gadisnya tengah kalut, hanya saja ia tidak bisa memaksa Zahra bercerita. Yang ia lakukan hanya membalas pelukan Zahra dan mengusap kepalanya pelan. Membiarkan Zahra senyamannya.
Zahra melepaskan pelukannya, mendongak—menatap Devan yang kini juga menatapnya teduh. "Putra nyuri ciuman waktu di rumah sakit kemarin," ucapnya polos.
Devan terkekeh lalu kembali memeluk Zahra. "Sekarang lo yang nyuri ciuman gue, Ra. Gimana bibir gue? Suka?"
Zahra Mencubit pinggang Devan kesal. Laki-laki itu tertawa jenaka, Zahra mencebikkan bibir.
"Uluh-uluh, jelek gitu kalau bibirnya maju. Ga usah malu-malu gitu, gue optimis kalau lo suka!"
"Devan ...," rengek Zahra.
Mereka melepaskan pelukan, Zahra kembali membetulkan posisi duduknya lalu memasang safety belt.
"Ha–ha, gemes banget sih sama calon pacar!" Devan mencubit pipi Zahra.
"Sakit ...." Zahra kembali mencebikkan bibir. Hal itu membuat Devan tambah gemas sekaligus sayang pada gadis di sebelahnya ini.
Devan kembali mengecup sekilas bibir itu. "Maaf-maaf. Jangan monyong-monyong gitu bibirnya. Bisa digebuk calon kakak ipar gue, kalau bawa lo pulang dalam keadaan bibir bengkak." Devan menjauh dan mulai melajukan mobil.
****
Swinging adalah sebuah istilah di mana kita bertukar pasangan dalam bercinta. Sedangkan orang yang melakukannya disebut swinger.
Oke , seperti biasa....
__ADS_1
Jangan lupa like sama komennya
Thanks ❤️