
Kediaman Ario tengah ramai saat ini. Para cecunguk yaitu, teman-teman Rio semua ada di sana, kecuali Revan yang harus melatih anak baru BD.
Rio juga telah menjelaskan perihal Rizki kepada teman-temannya dan disambut baik oleh mereka. Kini mereka semua berteman.
Rezal dan Rey sedang berebut snack seperti anak kecil. Padahal masih banyak yang masih terbungkus rapi, akibatnya snack itu pun tumpah dan berceceran di lantai.
"Heh, kayak anak kecil aja lo berdua. Makanan masih banyak, noh di lemari masih seabrek. Tinggal ambil aja." Rio mengambil remot dan televisi seketika menayangkan serial anak-anak, Zak Storm.
"Tau tuh, bersihin cepetan. Kalau bibi tau di uleg lo berdua ntar," kata Rizki. Laki-laki itu melanjutkan PS-nya dengan Devan.
Sedangkan Diki lebih memilih di dapur, membantu bibi memasak agar kegiatannya lebih berfaedah dibanding yang lain. Terlebih, Diki juga menikmati pekerjaannya, memasak ialah hal yang gampang.
Memang mereka berempat datang pagi sekali, selain olahraga bersama mereka juga numpang sarapan. Niatnya memang ingin meminta makanan di mansion Ario.
"Yo ...."
"Hmm." Rio hanya menyahuti dengan deheman. Kakak dari Zahra itu lebih memilih memperhatikan televisinya dari pada menyahuti Rey dengan serius, biasanya laki-laki berwajah dingin tersebut mengajukan pertanyaan yang tidak terlalu penting.
Rey berpindah duduk di samping Rio, punggungnya menyandar di sandaran sofa. Mereka menyaksikan Zak yang tengah berbicara dengan pedangnya, Calabrass.
"Si Zahra mana, Yo? Kangen tau sama dia," tanya Rey tiba-tiba.
"Di kamar mungkin, akhir-akhir ini dia lebih banyak di kamar, " jawab Rio.
"Panggilin dong, ajaklah main sama kita."
"Iye-iye, gue panggilan." Rio berjalan menaiki tangga, pria itu mengetuk kamar Zahra. "Dek, keluar sini ada temen-temen gue."
Pintu terbuka menunjukkan Zahra dengan gurat lelahnya. Memang selama minggu ini ia disibukkan dengan tugas kantor dan kampus yang menumpuk. Tak jarang juga gadis itu begadang tanpa sepengetahuan kakaknya. Untuk membuat dirinya lebih fresh, dia mandi kembang, kembang mawar.
Liburan akhir semester beserta akhir tahun kurang tiga minggu, itu sebabnya Zahra begitu berambisi untuk menuntaskan semuanya. Rela lembur, agar saat liburan ia tidak terbebani dengan tugas-tugas yang menumpuk. Ia memilih menyelesaikan banyaknya pekerjaan itu sekarang.
"Apa?"
"Turun yuk, ada temen-temen gue."
"Oke, kakak duluan nanti gue nyusul."
"Iya."
Rio kembali pada teman-temannya, sedangkan Zahra kembali menutup pintunya. Gadis itu mengambil handuk lalu memasuki kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, Zahra menuruni tangga dengan pakaian kasualnya. Celana sebatas lutut beserta kaus Mickey Mousenya. Ia juga mengikat rambutnya asal, tapi rapi.
Sesampainya di dapur, suara bibi yang pertama kali menyambutnya. "Udah mandi kamu?"
Zahra terkekeh. "Males boleh, jorok jangan."
"Hmm, ya udah. Kamu bantuin Diki, bibi mau beli kerupuk dulu."
"Oke."
Zahra dan Diki melanjutkan memasak. Sementara bibi membeli kerupuk uyel, kerupuk berbentuk bulat dengan banyak lubang—kegemaran mereka dengan rasa bawang yang kentara.
Beberapa menit kemudian bibi kembali dengan tiga bungkus kerupuk. Wanita berdaster itu membukanya lalu memasukkan kerupuk tersebut pada wadah plastik berbentuk balok. Selesai dengan kerupuk, wanita itu mencuci tangan lalu menghampiri Zahra.
"Udah siap semua?"
"Udah, Bi. Tinggal disajikan aja."
"Ya udah, panggil abang-abang kamu. Suruh makan!"
Zahra berjalan ke ruang tamu lalu memanggil abang-abangnya. Makan telah usai, Zahra membantu bibi membersihkan piring kotor dan membersihkan meja. Tak lupa mengemas kembali sisa sayur, nasi dan lauknya.
Zahra mencuci tangan lalu berpamitan pada bibi. Gadis itu berjalan ke ruang tamu, rambutnya berayun seiring Zahra melangkah. Ditatapnya ruang tamu yang berantakan, ia memilih duduk di sofa. Menyisip diantara Rio dan Rey yang menonton berita infotainment.
Mereka menikmati tayangan tersebut sambil sesekali memakan camilannya. Zahra sendiri lebih memilih fokus pada ponselnya, acara televisi yang itu memuakkan. Zahra tidak suka.
"Dek, bagi wafernya dong." Jelas itu suara Rizki, beberapa bungkus snack di sebelahnya sudah kosong, tinggal sampah yang perlu dibersihkan. Sedangkan di meja depan televisi, masih banyak snack yang terbungkus rapi. Mulai dari keripik, wafer, wafer roll, kue-kue kecil masih tersusun rapi.
Zahra mengambil salah satu wafer dengan rasa Strawberry, lalu ia berikan camilan itu pada Rizki.
Rey menoleh pada Zahra yang sudah kembali fokus pada ponselnya. Pria berjaket kulit tersebut menggoyangkan lengan Zahra. "Eh, Ra?"
Zahra menoleh lalu menaikkan alis, hanya dengan begitu Rey paham maksudnya.
"Gue heran deh sama lo."
Zahra mengerutkan dahi, mengeluarkan tampilan ponselnya dari aplikasi Line. Gadis itu mematikan benda perseginya, lalu meletakkannya di atas meja. Kembali menoleh pada Rey, orang yang mengajaknya bicara. "Heran gimana?"
"Lo kan pembalap ya, hobi lo kan balapan. Terus mobil lo tiap kali balapan juga mesti ganti. Nahh, tadi kan gue liat-liat garasi sini, di sini tuh ga ada satu pun mobil yang pernah lo pake buat balapan. Pertanyaan gue, itu mobil-mobilnya siapa yang lo pakai buat balapan?" pertanyaan dari Rey membuat suasana menjadi akward dan hening. Ternyata yang lain juga menyimak obrolan dari Rey tersebut.
Mereka seakan menanti jawaban dari Zahra. Bener juga bukan, yang ditanyakan oleh Rey?
Pertanyaan lo bikin orang pengen kabur aja, Bang, batin Zahra. Gadis itu menggigit lalu membasahi bibirnya sendiri. Semua orang masih menatapnya, terutama dua kakaknya yang menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.
"He–he, kalau itu mah mobil temen. Kan temen-temen stadion gue mobilnya bagus-bagus tuh buat balapan, tapi mereka ga pandai nge-drive aja. Makannya mereka pada pinjemin gue mobil," jelasnya setelah terdiam.
__ADS_1
"Enak dong lo, tinggal gas doang," sahut Rezal.
"Ya gitu lah, kan gue queen."
"Terus hadiahnya kan uang, kalau ga uang ya mobil ... lo apain tuh hadiahnya?"
"Nah, kalau uang gue pake buat nraktir anak-anak sama bagi-bagi ke mereka. Terus kalau mobil ya gue jual lagi lah, kan mayan duitnya. Terus yang seperempat biasanya juga gue kasih ke anak-anak."
"Ga rugi emang?"
"Ya engga lah, Bang. Kan karena dukungan mereka juga gue menang. Jadi ya gue cuma berbagi kesenangan aja."
"Wihh, kapan-kapan kalo menang lagi traktirin kita lah, Dek."
"Iya. Kapan-kapan kalau gue ikut balap lagi. Kagak menang juga tetep gue traktir." Mereka bersorak setelah mendengar kalimat terakhir Zahra. Memang gratisan selalu oke untuk segala situasi.
Tiba-tiba handphone Zahra berdering, ia izin menjauh untuk menjawab telepon. Siapa tahu pelakunya dari anak buahnya, bisa gawat kalau mereka mendengar.
"Halo."
"...."
"Serius lo?!"
"...."
"Iya-iya, gue ke sana."
Zahra memutuskan sambungan, kembali menggenggam handphone-nya. Langkahnya membawa pergi ke tangga, tapi sebelum itu ia berdiri di dekat Devan. Menjawilnya pelan. Laki-laki itu meletakkan stik PS-nya, mendelik ke arah Zahra.
"Ikut gue! Bentar, gue mau ganti baju dulu."
Devan mengacungkan jari jempolnya, kemudian menatap kembali layar PC itu. Zahra kembali menaiki tangga, tak sampai lima menit—Zahra turun dengan hoodie dan jeansnya, lalu menghampiri Devan.
"Yuk, Van."
"Hmm. Nih, Bang. Lanjut main sama Bang Rezal atau Bang Diki nohh." Devan menyerahkan stiknya pada Rizki. Laki-laki itu berdiri di sebelah Zahra.
"Kalian udah janjian?" tanya Diki heran.
"Kaga sii, cuma pengen keluar aja. Dahlah, bye. Kak, kita cabut. Selamat bersenang-senang." Zahra menarik tangan Devan keluar, sebelum diintrogasi oleh manusia yang ada di rumahnya. Masalahnya mereka seperti tak percaya dengan yang Zahra katakan.
Devan duduk di kursi kemudi sementara Zahra duduk di sebelahnya.
"Kenapa?"
"Udah tau tempatnya emang?"
"Udah. Tadi Putra udah share lock."
"Ya udah, kamu arahin aku. Aku gatau tempatnya di mana."
"Oke."
...****...
Seorang pemuda tampak menunggu di sebelah gang sempit, tak lama kemudian ada seseorang yang menepuk bahunya. "Heh!"
Pemuda itu menoleh ke belakang. Dilihatnya dua orang pemuda dan pemudi dengan pakaian kasual tengah menatapnya. "Syukur deh kalian udah dateng. Gue khawatir banget sama dia."
"Di mana mereka sekarang?"
"Ikuti gue!"
Di lain tempat seorang gadis tengah terikat sempurna di sebuah kursi. Ia tidak tahu ini di mana, seseorang menculiknya.
"Tollonggg-tollongg. Siapapun tolongin guee. Tolong!" Gadis itu berteriak, berharap ada orang yang mendengar suaranya dan menyelamatkannya dari penculikan ini.
Seorang gadis lain keluar dari balik pintu, ia terkekeh sinis pada gadis yang terikat di kursi. Sosoknya yang angkuh membuatnya mudah dikenali, meski hanya mendengar suaranya saja.
"Ha–ha–ha ... di sini jauh dari perumahan warga. Seberapa keras pun lo teriak, mereka ga bakal dengerin lo." Gadis itu memutari kursi, memainkan rambut gadis yang terikat.
"Lo siapa? Kenapa lo nyulik gue?" Ia tidak mau salah sangka, tapi dari suaranya sangat kelas itu siapa. Sosok yang dulu pernah membullynya. Sosok yang membuatnya khawatir, gadis dengan otak jahat dan liciknya.
"Hee? Lo ga tau gue siapa? Lo ga ngenalin gue?" Gadis itu menjambak rambut Una, bibirnya mengembangkan saat mendengar rintihan merdu itu. Kembali memutari kursi, berdiri di depannya. Mencengkeram mulutnya kasar, kembali terkekeh sinis saat gadis di depannya ini membulatkan matanya.
"Ka-kak Ina?"
Ina menunjukkan evil smile-nya. "Ah? Lo ingat gue rupanya, tapi satu yang ga lo ingat! Lo lupa kalau gue udah peringatin lo buat engga deket sama Putra? Tapi apa? Lo malah semakin lengket sama dia, udah berapa kali lo jalan sama dia, ha?!" Ina kembali menarik rambut Una hingga beberapa helai nampak rontok.
"Toll-tolong. Sa-kithh."
"Hah? Apa? Gue ga denger!" Ina mendekatkan wajahnya pada Una, membuat gadis dengan sweater maroon itu menciut.
"Sakith, Ka-kakk."
Ina melepas jambakannya, sebelah tangannya mengayun lalu mendarat di pipi kiri Una. Gadis itu menamparnya kuat hingga berbekas. "Itu baru sakit!! Lemah lo jadi cewek! Gara-gara lo, gue sama dia jadi ada jarak!"
__ADS_1
Una menggeleng, rambutnya yang sudah berantakan menutupi sebagian wajahnya. Tangannya meronta berusaha meloloskan diri. "Maksud Kak Ina apa? Bukannya Kak Putra sama Zahra masih pacaran?"
"Nah itu lo tau, terus kenapa Putra masih lo pepet juga? Dasar, cewek munafik! Kegatelan!" Ina kembali mendaratkan tangannya.
Suara pintu didobrak mengagetkan keduanya, disusul suara seorang gadis yang mereka kenal. "Ina, berhenti!" Zahra memasuki ruangan tersebut diikuti Devan dan Putra.
"Zahra, bagus lo datang. Lo harus nikmatin ini cewek gue siksa. Cewek yang udah coba-coba ngerebut cowok lo." Ina mencengkeram rahang Una.
Zahra membalikkan tubuh Ina hingga cengkeraman itu terlepas paksa. Karena muka Una yang memar bekas tamparan, membuat gadis itu meringis ketika rahangnya bebas dari jemari Ina yang mempunyai kuku panjang. "Apa yang lo lakuin, Na?"
Ina terkekeh. "Apa yang gue lakuin? Gue bantu lo lah, buat dapetin hak lo yang direbut sama cewek munafik ini!"
Zahra murka mendengar perkataan Ina, ia menggeleng pelan. "Bukan dia, tapi lo! Lo pikir gue gatau, kalau lo ngikutin Una selama ini? Juga mau jebak Una yang lo kasih perangsang?! Gue yang ganti orange jus kalian jadi air abstrak." Matanya berkaca-kaca, tidak disangka sahabatnya ini banyak berubah.
"Gue belain lo ... kok lo jadi nuduh gue?"
"Gue ga nuduh, itu fakta! Sadar, Na, lo cuma obsesi sama Putra. Gue tau, lo iri sama gue. Lo pengen milikin apa yang gue punya. Tapi ga gini caranya. Lo nyakitin anak orang, b*go!" ucap Zahra dengan lantang.
Sementara itu dua laki-laki yang masuk di belakang Zahra tadi tengah membebaskan gadis yang terlilit tali.
Putra berdiri setelah berhasil membebaskan Una, memeluk gadis itu erat. Matanya menatap Devan yang memandang ke arahnya. "Van, gue minta tolong, bawa Una keluar dari sini. Ada hal yang perlu gue selesaikan di sini."
Devan mengangguk, kemudian menuntun Una keluar dari tempat mengerikan itu. Sementara Putra berjalan ke arah dua orang gadis yang terlibat adu mulut. Pemuda itu menarik bahu gadis yang hanya memakai tank top, kemudian tangan yang terkepal itu mendarat di sisi kiri Ina. Menamparnya dua kali, seperti yang Ina lakukan pada Una.
Zahra memegang lengan Putra, sepertinya pemuda itu mulai lepas kendali. "Apa yang lo lakuin?"
Putra menoleh pada Zahra. "Dia harus bayar apa yang udah dia lakuin ke Una tadi."
"Tapi ga gini, Putra. Dia cewek dan lo cowok."
"Ga peduli, Ra!"
"Serah, lo!" Zahra melepaskan tangannya dari lengan Putra, gadis itu bersedekap dada. Memandang marah pada dua orang di hadapannya.
Ina memegangi pipinya yang ditampar Putra, panasnya menjalar hingga ke telinga. Pelaku dari tamparan tersebut menunjuk wajah Ina, sedangkan gadis itu melangkah mundur.
"Dasar, cewek murahan! Sukanya ngerebut cowok orang. Gue tau lo busuk, gue tau lo suka main sama cowok ntah itu siapa. Lo jual diri kan, ngaku lo? Bahkan lo lebih rendah dari b*tch! Munafik!"
Zahra merasa jika Putra terlalu berlebihan. "Putra! Jaga omongan lo!" Gadis itu mendelik tak suka.
"Kenapa, Ra? Kenapa? Dia memang pantas dapat sebutan seperti itu," balas Putra tak mau kalah.
"Fitnah, lo Put. Gue ga kayak gitu." Ina mendongak menatap Putra, pandangan mata itu menantang lawan jenisnya.
"Ha–ha, fitnah? Malu kalau kelakuan busuk lo diketahui sama Zahra, iya? Masih punya malu juga lo," ucap Putra sarkastik.
"Putra! Udah cukup. Mending lo susulin Una sama Devan!" Zahra berusaha mendorong pacarannya untuk keluar dari ruangan itu, nyatanya laki-laki itu tidak bergeser sama sekali.
Putra menyeringai lalu kembali menunjuk wajah Ina. "Kali ini lo lolos b*tch, tapi ingat ... gue bakal bales lo! Camkan itu!" Laki-laki itu mengusap rambut Zahra sebentar, sebelum keluar dengan membanting pintu. Zahra bernapas lega.
"Kok lo bisa kayak gini, sih? Mana Marina yang gue kenal?" Zahra menatap Ina sendu.
"Kenapa lo masih di sini, sana lo nyusulin cowok lo! Atau lo mau ngomong kalau gue b*tch juga, iya?" Ina melambaikan tangan kanannya ke arah pintu, bermaksud mengusir Zahra.
Zahra menggeleng pelan. "Enggak, lo salah! Gue cuma pengen lo balik. Lo cuma obsesi Ina, sadar dong. Lihat, Putra aja marah sama lo, jadi mending jangan nekat buat dapetin dia. Gue pengen lo yang dulu, Marina sahabat gue." Zahra menepuk bahu sahabatnya, kakinya melangkah pelan menjauhi Ina. Ia tersenyum tipis sebelum menutup pintu.
Sepeninggal Zahra, Ina mengacak kesal rambutnya. Seseorang keluar dari kamar yang tadi, ia hanya memakai boxer, yang membuat otot perutnya terexpose sempurna. Berjalan menghampiri Ina yang tampak frustasi. "Gagal ya ... kasian!"
Ina menatapnya berang, bergerak menjauhi pria itu sebelum sampai di sebelahnya. "Ini semua gara-gara lo. Lo bilang tempat ini aman, tapi kenapa mereka bisa nemuin cewek itu."
Pria itu mengidikkan bahu, meraih pergelangan Ina—menarik gadis itu hingga tubuh mereka bertabrakan. "Sesuai kesepakatan, setelah lo dapat yang lo mau kita akan bermain," bisiknya dengan suara menggoda. Ia menggigit lalu mengulum daun telinga Ina.
Ina berusaha melepaskan diri dari pria yang sekarang sudah menahan pinggangnya. Ini tidak adil untuknya. "Main sendiri sana! Target gue aja udah dibawa kabur!"
Pria itu terkekeh lalu menyatukan dahi, menatap Ina lebih dekat. "Tidak ada tapi-tapian, Marina. Let's play the game." Dengan cepat ia mengangkat tubuh Ina layaknya karung beras, lalu membawanya kembali ke kamar. Ina memukul-mukul punggung pria yang seenaknya itu dengan kesal.
...****...
Zahra berjalan menghampiri Devan yang sedang bersandar di kap mobil. "Udah?" tanyanya begitu Zahra sampai di hadapannya.
Zahra mengangguk lalu mengajak Devan masuk. Mereka memakai safety belt-nya masing-masing. Gadis itu menoleh pada Devan yang sedang membenarkan tali sepatunya. "Una sama Putra udah duluan, Van?"
"Hooh." Devan mengambil tisu basah lalu mengusapkannya pada tangannya. Ia membuang tisu itu di tempat sampah mini yang sengaja ia buat di dasbor.
Zahra menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata, perlahan dia merasakan seseorang mengusap kepalanya perlahan. Rasanya sangat nyaman.
"Kamu kenapa?"
"Aku capek, Van."
"Ya udah, kamu tidur aja. Nanti kalau udah sampai rumah aku bangunin."
Sontak Zahra langsung kembali membuka mata, membuat Devan terkejut dengan ulahnya. "Jangan pulang!" Wajahnya cemberut, menatap Devan berharap.
"Jangan pulang gimana? Tadi katanya capek, emang mau main ke mana, hm?"
"Ke rumah kamu aja, yuk. Nanti aku bobo di kamar kamu, kamu temenin aku bobo yah?" Gadis itu mulai mengeluarkan puppy eyes-nya.
__ADS_1
"Hah?!"