
Rio berteriak keras, membuat semua orang yang ada di situ memfokuskan pandangan pada Rio, bahkan sang pemilik nama juga menoleh pada sang kakak. Pria itu berlari, kemudian menerjang seseorang yang berada tepat di belakang adiknya.
Zahra mematung, terkesiap lantaran tidak tahu apa yang sedang terjadi. Matanya membulat saat melihat Rio tengah memperebutkan sesuatu dengan seseorang yang tadi berdiri di belakangnya.
Tiba-tiba sebuah pisau runcing, dengan mata tajam dan mengkilat— terlempar hampir mengenai wajah Zahra. Seorang bodyguard maju terlebih dulu sebelum benda tajam itu mengenai nonanya. Ia mengambil penggorengan yang dibawa salah satu pembeli, meminjamnya untuk melindungi Zahra. Pisau itu terpental setelah terkena bagian belakang penggorengan, benda itu jatuh tepat di samping seseorang yang berebut dengan Rio.
Saat semua mata tertuju pada Zahra, mereka mengembuskan napas lega—kesempatan itu digunakan seorang pria bertopeng untuk melarikan diri. Apalagi, cengkeraman Rio pada pria itu mengendur saat memfokuskan atensi pada adiknya.
Zahra tersadar lebih dahulu. "Kejar dia, jangan biarkan dia lolos. Tutup semua akses masuk dan keluar gedung ini!” perintah Zahra tegas, bodyguard yang mengelilinginya sebagian berlari mengejar pria bertopeng, sedangkan sisanya tetap siaga menjaga Zahra.
Mereka ialah bodyguard milik Rio, yang akan langsung bertindak apabila tuan ataupun nona mereka dalam masalah. Beda dengan invisible bodyguard, mereka akan muncul apabila Zahra meminta, mereka lebih siaga—mengikuti kemana pun nona mereka.
“Nona tidak apa-apa?” tanya salah satu karyawan.
“Saya tidak papa,” Zahra mencoba untuk tersenyum agar gurat khawatir di wajah mereka sedikit berkurang.
Mungkin diantara mereka ada yang masih kesal jika mengingat perbuatan dan ulah Zahra dulu, selain sombong gadis ini juga menjengkelkan. Tapi dibalik sifat itu, mereka tahu jika gadis itu akan tumbuh menjadi gadis baik seiring waktu berjalan. Mereka juga akan melindungi jika gadis itu dalam bahaya, tidak hanya Zahra, tetapi Rio juga.
Rio bangun dan menghampiri adiknya. "Lo ga papa, kan?"
Zahra mengerutkan dahi, tidak suka dengan ucapan yang terlontar dari bibir itu. “Harusnya gue yang nanya kek gitu. Kakak pikir rebutan pisau tajam ga bahaya apa?” tanya Zahra kesal, ia tidak habis pikir dengan Rio yang memperebutkan pisau yang hampir mengenainya.
“Ulyana Zahra!” kata Rio tegas.
Jika Rio telah mengucapkan nama lengkapnya, ia lebih baik mundur. Gadis itu menunduk. "Maaf," cicitnya pelan.
“Lain kali jangan asik sama dunia sendiri, perhatiin juga lingkungan sekitar. Apa jadinya jika semua ini terlambat, gue ga bisa bayangin lagi," Rio berbalik setelah menasehati adiknya.
Tiba-tiba bibi datang dan langsung memeluk Zahra, menanyakan keadaan gadis itu. Seperti sebelumnya, Zahra tersenyum dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Rio menghadap semua orang yang memperhatikannya, kejadian tadi mengundang banyak pasang mata berdatangan. Pria itu meminta salah satu karyawan menyiapkan microphone yang telah terhubung dengan pengerasan suara yang tertempel atap mall.
__ADS_1
“Maaf atas ketidaknyamanan ini, saya akan meningkatkan keamanan di sini, saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali baik itu kepada dia (menunjuk Zahra), para karyawan saya ataupun kalian semua. Tolong yang sudah tahu tentang hubungan saya dengan dia (menunjuk Zahra lagi), simpan rapat-rapat informasi itu. Untuk yang tidak tahu dan penasaran, buang jauh-jauh rasa penasaran kalian, saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali di lain waktu. Saya percaya kepada kalian semua. Silahkan kalian melanjutkan aktivitas masing-masing."
Setelah Rio selesai bicara, mereka segera melanjutkan aktivitasnya. Sejujurnya, mereka takut pada mata Rio yang menyorot tajam dan memandang mereka dengan sorot intimidasi. Rio kembali ke samping adiknya, tidak lama kemudian bodyguard yang tadi mengejar pelaku kembali dengan tangan kosong.
“Maaf Tuan, Nona. Kami tidak berhasil menangkapnya, ternyata dia tidak sendiri, rekan-rekannya membawa senjata api,” kata salah satu bodyguard.
Rio memang melarang bodyguard untuk memakai benda-benda tajam ataupun senjata api, karena pria itu tidak mau mengambil risiko kalau ada orang yang luka karena benda itu. Rio juga tidak suka kalau ada orang yang tewas karenanya, sekalipun orang itu jahat. Beda dengan Zahra yang akan menghabisi orang sampai akar-akarnya.
Rio menatap mereka semua tajam, lain dengan Zahra yang terkesan santai tapi membuat mereka merinding. Gadis itu terkekeh sinis.
“Ga papa, lain kali lebih berusaha lagi! Kalau kalian melihat orang itu kembali, segera lapor ke saya. Orang yang telah berani bermain-main dengan saya akan terima akibatnya. Baiklah, kalian boleh pergi!” ucap Zahra.
“Baik, Nona." Mereka segera pergi dari hadapan Rio dan Zahra.
“Gue pergi dulu, ada yang harus diomongin sama team keamanan mall ini,” kata Rio sambil menatap adiknya. Gadis itu mengangguk, paham akan apa yang akan dibicarakan kakaknya.
“Iya, hati-hati.” Zahra menoleh pada bibi yang masih berdiri di sebelahnya. “Bi, belanjanya udah selesai?”
“Belum, Non. Tadi waktu denger suara Den Rio teriak, bibi langsung ke sini, takut terjadi apa-apa sama, Non.”
“Iya, saya aja sampai kaget tadi. Ya udah, bibi mau lanjut belanja dulu, sekalian mau perawatan. Ga papa kan, Non? Saya udah lama lho ga perawatan,” ucap bibi dengan cengiran.
“Iya ga papa, asal semua belanjaan udah kebeli. Bibi hati-hati juga, ya,” pesan Zahra. Bibi mengangguk, setelah itu pergi meninggalkan Zahra seorang diri.
Gadis itu melanjutkan antriannya, posisinya di desak oleh ibu-ibu karena tadi ia tak kunjung kembali mengantri. Dengan sabar, ia mengantri kembali menunggu giliran. Beberapa saat kemudian, gadis itu sampai di meja kasir—yang mana kasir itu adalah salah satu anak buahnya. Xavier.
Gadis itu memang menempatkan anak buah di semua gedung peninggalan Deron. Biar apa? Tentu saja jika ada kejadian seperti ini, anak buahnya dapat bergerak bebas.
“Carikan informasi tentang orang yang mencoba melukai saya,” kata Zahra berbisik ke kasir.
“Baik, Nona.”
__ADS_1
Kemudian kasir itu kembali berbicara, “Totalnya 342 ribu."
Zahra mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah dan selembar uang dengan warna biru.
“Ambil aja kembaliannya!” Zahra langsung pergi setelah menyerahkan uang, gadis itu menitipkan belanjaannya pada satpam yang berjaga, sementara ia menaiki eskalator ke lantai empat. Rupanya gadis itu mau bermain sebentar di Timezone.
Sekitar 20 menit Zahra bermain, Rio telah meneleponnya untuk segera ke restoran yang berada di lantai satu. Ia segera menyelesaikan permainannya, kembali turun dengan eskalator—lalu mengambil belanjaan yang tadi ia titipkan pada satpam.
Gadis itu melihat Rio, pria itu sedang menusukkan garbunya ke steak. Zahra berniat mengagetkan kakaknya. Dengan langkah pelan ia mendekati Rio, berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi saat ia berjalan mendekat.
"Haaa!" Dengan segera Zahra memegang bahu Rio, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Pria itu memandang adiknya datar, kebiasaan jahilnya telah terbaca oleh Rio.
Zahra mengerutkan bibir, kemudian menarik kursi yang berada di depan Rio. "Kok kakak ga kaget, sih?"
"Udah kebal gue," jawab Rio abai, kemudian memasukkan potongan steak ke mulutnya.
Zahra yang sebal akhirnya memainkan makanan yang ada di depannya, Rio menatap adiknya gemas. "Makan atau makanan yang di mulut gue bakal pindah ke mulut lo!"
Zahra menatap kakaknya dengan senyum remeh. "Emang kakak berani?"
"Berani! Mau bukti? Bikin bibir lo jadi lebih bengkak kakak juga bisa," ucap Rio yakin.
Zahra menatap pria di depannya malas. "Dahlah, kok kakak jadi mesum gini?"
"Tadi nantangin. Salah siapa, huh?"
Zahra tidak menjawab, gadis itu juga memotong steak miliknya kemudian memasukkan ke dalam mulut. "Punya bibi udah, Kak?"
Rio menelan makanan yang dikunyahnya. "Udah, nanti kakak ambil waktu bayar."
Tidak ada percakapan lagi, mereka menikmati makanan masing-masing. Seseorang memanggil nama Zahra dengan cempreng, membuat si pemilik nama menjadi tersedak. Rio langsung mengambil minuman miliknya, kemudian mengarahkan sedotan ke mulut adiknya.
__ADS_1
Gadis itu melepas sedotan setelah tenggorokannya agak enakan, matanya memindai seluruh sudut, siapa yang memanggilnya dengan suara seperti itu?
Rio memandang garang dua orang gadis yang berjalan dari belakang Zahra. Gadis itu mengikuti arah pandang Rio, seketika ia membulatkan mata.