Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
57. Gores-gores Srett, wkwkw


__ADS_3

Di ruangan yang serba gelap seorang gadis tengah disekap. Badannya terlilit tali, terikat di sebuah kursi kayu dalam ruangan tak berpenghuni. Ruangan mati, begitu ia menyebutkannya. Kedua tangan dan kakinya juga terlilit tali tambang, ia hanya sanggup menoleh dan berharap. Sebagian tubuhnya serasa nyeri karena mereka memukulnya dengan balok sebelum ia dibawa ke tempat ini. Kepalanya terus bergerak, menyingkirkan beberapa helai rambut yang sejak tadi menutupi pandangannya, ia risih. Tangannya serasa perih, pasti luka dan sudah memerah.


"Laper astaga!"


Beruntung ia tadi sempat makan siang, meski hanya sepiring batagor. Jika tidak, ia pasti sudah pingsan. Sudah terhitung 6 jam dirinya dalam posisi seperti ini.


"Lepasin, gua!" Bibir mungilnya kembali berteriak, berharap penghuni rumah ini bisa berbaik hati padanya, meskipun ia tahu itu tidak mungkin. Atau tetangga di sini bisa saja mendengar teriakannya, ia berharap mereka bisa membuat laporan pada pihak berwajib.


"Berisik lu!" tanggap seorang pria. Pintu terbuka, lampu dinyalakan. Sekarang ia tahu ruangan ini benar-benar hampa, tidak ada apa pun di sini kecuali dirinya. Pria itu, berjalan ke arahnya, diikuti seorang paruh baya yang menjadi awal kehancurannya dan pria lainnya.


"Menikmati, eoh?" Senyumnya penuh kelicikan.


Zahra menggerakkan kepala, berusaha menatap tanpa terhalang rambut sialnya ini. Coba saja jika ia membawa kucir, akan ia ikat terlebih dulu sebelum perkelahian itu. "Lepasin gua!" Ia berucap kembali.


"Melepaskanmu, hm? Untuk apa aku susah-susah menangkapmu jika akhirnya akan kulepaskan?" Pria paruh baya itu menyamakan tingginya dengan mantan keponakannya, menangkup kedua pipi yang halus sejak dulu. "Kita bertemu kembali gadis kecil, kaburmu sia-sia!" Pria itu mengakhiri perkataan dengan gertakan.


"Om-om Dion?"


"Bagaimana kabarmu little girl?" Pria itu terkekeh.


Zahra menggeram. "Tidak puas kau membunuh ibu dan ayahku? Apa yang kau inginkan sebenarnya?"


Dion terdiam, sudut bibirnya tertarik ke atas. Membentuk lengkungan miring yang dari dulu Zahra benci. Di balik senyumnya yang ramah pada orang yang baru ditemuinya, secercah akal busuk kembali mengelana. Menumbangkan harapan semu untuk hidup dalam kedamaian, kenyamanan dan ketentraman. Saat akal iblisnya kembali berjalan, apa yang dia mau harus terwujudkan.


Pertanyaannya? Kapan pria di depannya ini akan dijemput Tuhan yang Maha Adil, Maha Berkuasa, Maha Melindungi? Kenapa tidak dari dulu saja ia cari pria yang sebagian rambutnya telah berwarna putih ini? Kenapa?


"Pah, kenapa papah malah menanyai kabarnya? Kapan kita akan menghabisinya?"


Dion tersenyum sambil menepuk bahu putranya. "Tenang, Boy. Apa kalian tidak mau bermain dulu dengan gadis ini? Papah yakin, kalian akan menyukainya."


"Ah, akan aku lakukan, Pah. Eh, Ger, enaknya kita apain ini cewek?" Sebelah tangannya meraup rambut Zahra, menariknya pelan hingga kepala gadis itu menghadap mereka bertiga.


Gery tersenyum senang, sebelah tangannya merogoh saku celananya. Mengambil benda pipih panjang, yang sepertinya baru saja diasahnya. "Kita gores-gores saja dulu, itung-itung buat dia pemanasan sebelum kita habisi."


"Nah pinter, papah juga mau dengar semerdu apa rintihannya!" Mereka kemudian tertawa bersama.


Atha dan Gery mulai melukai wajah, tangan dan kaki Zahra dengan pisau lipat yang baru dikeluarkan itu.


Menggoresnya perlahan dan berulang, mungkinkah di tempat itu akan ada kubangan kental berbau anyir?


Sementara Zahra hanya sanggup meringis tanpa berkilah, tanpa melawan. Jika saja ia tidak lemah di hadapan Dion? Jika saja ia tidak terikat?


"Sa-sakithh."


"Sakit? Mau yang lebih menyakitkan, Baby?" Atha menampar Zahra di bekas goresan yang baru saja dia buat. Bukan sekali, tapi berkali-kali, luka itu semakin sakit saat Gery juga melakukan hal yang sama.


"Ha–ha–ha, pintar kalian. Buat gadis ini menderita sampai kepercayaan dirinya untuk lolos dari sini hilang."


"Iya, Pah. Ini menyenangkan sekali, andai saja waktu itu aku ikut menyiksa ibunya. Pasti sangat seru!"


"Lalu apa yang akan kita gunakan untuk menghabisi gadis sialan ini?" ucap Dion sambil mengamati Zahra yang merintih kesakitan, karena ulah anak-anaknya.


Atha dan Gery menghisap kuat cairan kental yang mengucur dari lengan Zahra, yang baru saja mereka cabik-cabik dengan pisau.


"Membunuh dengan pisau atau kater dan gunting, sudah terlalu biasa. Sepertinya kita perlu berinovasi."

__ADS_1


"Kita buat yang anti mainstream, supaya dia dapat mengenangnya di neraka sana!" Atha tergelak dengan ucapannya.


"Emm, bagaimana kalau kita lubangi setiap inci tubuhnya—kita potong-potong jemarinya. Kita buat sup lalu menyuruhnya makan dengan tubuhnya sendiri. Itu menyenangkan, bukan?" Dion membeberkan apa yang terlintas di otaknya.


"Hm, menarik. Ide yang brialliant, Pah," ucap Gery bersemangat.


"Atau kalau engga, kita cekik saja sampai bola matanya keluar!"


"Apa bisa, Tha?" Paruh baya itu terkekeh. "Mungkin dia akan mati terlebih dulu sebelum bola matanya keluar. Tidak perlu repot-repot, kalian gagahi saja dia seharian. Dia akan mati dengan sendirinya, jangan memberinya ampun, hajar trus!" Dion mengompori keduanya.


"Kalian jahat! Ga punya perasaan," ucap Zahra dengan napas tersengal-sengal, ia bisa bernapas bebas sejenak sembari kedua anak dari mantan om-nya itu memutuskan cara untuk menghabisinya.


Atha menepuk bahu adiknya. "Boleh juga ***, masih rapet ini!" kekehnya.


"Ha–ha, besok aja lah, sebelum kita bunuh. Lagi ga ***** gua!"


"Sama. Papah aja deh yang main sama dia!"


"Ga punya pengalaman dia, ga seru!"


"Kenapa kalian pengen bunuh gua? Apa salah gua sama kalian?" Zahra menegakkan tubuhnya, menatap nyalang ketiga pria di depannya.


"Salah lu? Karena lu udah jadi anak pungutnya, Om Jo! "


"Gua bukan anak pungut!" sentak Zahra berapi-api.


"Lalu apa? Om Jo mungut lu sama ibu lu itu apa? Karena kasian, Om Jo nikahin emak lu!"


Sungguh, rasanya Zahra ingin merobek mulut Gery saat ini juga, tapi sayang. Saat ini tangannya terikat erat. Ia tidak memiliki kebebasan gerak sekarang.


"Apa dia anak yang terbuang, makannya Om Jo memungutnya?"


"Bukan, malahan dia anak yang sangat disayang. Ayahnya memberikan pada Jo karena ingin melindungi gadis ini. Kalian tau, kita juga bisa mendapatkan harta Ario, warisan terbesar di Ario juga miliknya. Jika kita berhasil membunuhnya, kita akan sangat kaya."


"Apalagi jika kita membunuh kedua kakaknya!"


"Itu akan lebih bagus lagi!" Dion terkekeh.


Sejujurnya Zahra kaget dengan apa yang dikatakan Dion, bagaimana pria itu bisa tau hal semacam ini. Padahal dirinya yang bersangkutan sama sekali tidak tahu menahu.


"Kalian ga akan bisa bunuh gua atau saudara gua yang lain!" ucapnya penuh amarah. Tentu, setelah ia keluar dari sini, tidak ia izinkan mereka menyentuh saudaranya barang seujung kuku pun.


Mereka menertawakan Zahra. "Ayolah, lu ga lagi mimpi, kan? Keluar dari sini aja ga bisa, kok sok-soan."


"Ayo lanjutkan lagi karya kalian, papa mau ngopi dulu." Dion keluar dari ruangan, meninggalkan mereka bertiga.


"Iya, Pah," ucap Atha dan Gery serempak.


"Mau apa lagi kalian?" teriak Zahra. Kedua laki-laki biadab itu mendekat lagi ke arahnya. Ia hanya takut mereka membuka jati dirinya, mengetahui jika ia leader Black Devil.


"Tentu saja melanjutkan karya kita yang tertunda," ucap Atha.


Srett!


"Akhh, awshh ...."

__ADS_1


"Kalau dilihat dari dekat, ternyata lu cakep juga." Atha menyunggingkan bibirnya.


"Gua ga butuh pujian lu!"


Wajah laki-laki di depannya berang, tak butuh waktu lama—tangan yang tadinya hanya menggores itu menamparnya dengan kuat, sudut bibirnya memerah. Sudut itu juga mulai mengeluarkan cairannya. Atha menatap dengan seringai, lalu mencium bibir Zahra paksa. Karena gadis itu tidak kunjung membuka bibirnya, Atha sedikit mengiris leher Zahra dan berhasil. Gadis malang itu meringis, Atha menciumnya hingga kehabisan napas. Setelah sepersekian menit, Atha baru melepasnya, seringaian tak pernah luntur dari wajahnya.


"Bibir lu manis, jadi ga sabar pengen nerkam lu." Atha menyeka sudut bibirnya, kemudian keluar ruangan. Dia sudah mendapat apa yang diinginkan, lalu pergi. Gery hanya terkekeh melihat saudaranya yang tampak menikmati sesi tersebut.


"Sekarang tinggal kita berdua." Gery juga menatap Zahra dengan seringai. "Gimana ciumannya abang gua? Enak? Enakan mana sama ciuman gua?" katanya terkekeh.


Zahra meludah untuk menghilangkan bekas air liur Atha yang tertinggal dimulutnya. "Gua ga sudi dicium sama lu!"


Gery mengangkat dagu gadis di depannya. "Gadis menarik. Tapi sayang, hati ini udah terukir satu nama."


"Gua ga peduli!" teriak Zahra di depan wajah Gery yang masih di depannya.


Gery terkekeh lalu mengecup bibir mungil yang kata Atha manis itu. "Lu di sini jangan berisik kalau ga mau kita berdua gadang seharian," perkataan Gery membuat Zahra terdiam. "Mimpi indah, karena ini bakalan jadi mimpi indah lu yang terakhir." Gery mengusap pucuk kepala Zahra lalu keluar sambil mematikan lampu. Kembali mengunci ruangan itu.


Zahra kembali dalam kegelapan, ia meneteskan air mata. Ia merasa benar-benar sendiri di sini, hanya tetesan demi tetesan yang mengucur dari pelupuknya yang kini menemaninya.


"Biad*b! Gua ga pernah diperlakukan sehina ini! Terbuat dari apa hati mereka. Gua harus gimana?" gumamnya lirih, geram disaat bersamaan.


"Berdoalah sayang, Tuhan selalu bersamamu," kata sebuah suara.


"Itu suara mami?" ucapnya lirih, mengharap.


"Mami-mami di mana, Mami!" Suara putus asa itu kembali keluar, meneriakkan sebuah kata—berharap yang diinginkannya dapat terwujud.


"Tenanglah sayang, mami di sini. Di hatimu. Sekarang diamlah dan tidur. Besok kamu harus berjuang."


Aneh, sehabis mendengar suara itu matanya perlahan mengantuk, tangisnya pun tiba-tiba berhenti. Suara itu, mengeluarkan nyanyian merdu yang sangat dirindukan Zahra, entah sejak kapan, gadis itu langsung terlelap dalam lautan nyanyian merdu tersebut.


Sosok tak kasat mata itu menitikkan berbulir-bulir cairan bening, tetap bernyanyi sambil mengusap rambut putrinya yang berantakan. Apakah mantan suaminya akan berhasil dan mencabut penderitaan putrinya kini? Apakah laki-laki itu mengetahui jika semua ini berasal dari dosa masa lalunya?


"Mami akan tetap di sini, Sayang. Sampai semuanya berakhir dan mami bisa kembali ke atas sana."


...****...


Sepasang suami istri tengah duduk bersama di ranjang, dengan sang istri yang terisak dan suaminya yang menenangkan.


"Mas, putri kita, Mas. Kamu kok biasa aja, padahal dia sebentar lagi ...." Sang suami langsung membekap mulut istrinya dengan ciuman.


"Tenanglah sayang, mereka tidak akan berani berbuat apa-apa jika di sini. Besok mereka akan membawa putri kita ke luar kota, tempat putri kita tidak memiliki akses sama sekali. Mereka akan melakukannya di sana dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tenanglah, dia pasti baik-baik saja, jangan khawatir!"


"Ta–tapi, mas, ibu mana yang tidak khawatir saat anaknya berada di masa sulit. Mereka membawanya, menyakitinya!"


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Tidurlah, akan kutemani!" ujarnya penuh kelembutan.


"Katanya mau pergi?"


"Aku akan pergi, setelah kamu tidur."


"Memangnya kamu mau ke mana?"


"Memastikan dia baik-baik saja. Sekarang istirahatlah!" Sang suami menghapus air mata istrinya dan membantu sang istri berbaring. Menemaninya hingga terlelap, sebelum ia pergi melihat keadaan bungsunya.

__ADS_1


__ADS_2