Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
80. Baikan


__ADS_3

Gadis dengan kaus panjang over size itu menuruni tangga, di sampingnya berjalan seorang gadis yang sama tingginya dengan dirinya. Keduanya berjalan bergandengan sembari tertawa bersama.


Saling merindu, melepaskan tawa setelah belasan tahun berjauhan dan saling memandang benci.


Setelah sampai di meja makan, kedua gadis itu menemukan Bi Heni yang tengah mempersiapkan sarapan.


"Mau buat apa, Bi? Adek mau bantu-bantu, nih." Zahra mendekati Bi Heni yang sedang mencuci ayam.


Bibi mengerutkan dahinya. "Tumben kamu jam segini udah bangun, biasanya masih anteng di bawah selimut."


Zahra mengerucutkan bibir, membuat gadis di sebelahnya terkekeh geli.


"Jadi, masih tetap suka telat bangun, nih? Wahh, ada angin apa nih, lo bangun jam segini?" Raisha ikut menjahili adiknya itu.


"Jadi dari dulu adikmu itu suka bangun siang?" tanya bibi, sebelah tangannya sibuk mempersiapkan air rendaman untuk ayam tepung yang akan dibuatnya.


"Iya, Bu. Mami sama papa suka ngomel-ngomel kalau Zahra dibangunkan tapi ga ada reaksi. Terus kalau dibangunin sama papa, kadang-kadang malah papa ditendang gara-gara ganggu waktu tidurnya. Udah gitu malah balik marah ke papa, papa cuma ngelus dada aja, habis itu nyerah. Ga tau lagi gimana buat Zahra bangun. Gantian mami yang bangunin Zahra, sama mami disentil lehernya keras, baru deh Zahra bangun," jawab Raisha antusias. Gadis itu menjadi nostalgia dengan masa kecilnya, masa-masa yang menurutnya tidak akan hilang, tidak akan berganti dengan masa sulit yang menghadang.


Pikiran gadis berusia delapan tahun hanya kesenangan masa kecil, keadaan lah yang membuat mereka bertindak layaknya orang dewasa.


Zahra mencubit kecil lengan Raisha. "Buka kartu lo, Kak. Bisa banget jelek-jelekin gue."


Bibi terkekeh pelan. "Dari kecil udah nakal, ya? Masa papanya ditendang-tendang gitu?"


Bibir tipis itu kembali mengerucut sebal. "Ohh, bibi kok jadi ikut-ikutan Kak Rai, sih?"


Keduanya tertawa bersama, suasana pagi yang penuh tawa.  Zahra memilih menjauh, gadis itu mengambil empat butir telur untuk dijadikan souffle spinach omelette. Mengabaikan Bi Heni dan Raisha yang masih meledeknya.


Setelah puas dengan hiburan itu, bibi memutuskan untuk memasak nasi goreng kesukaan bungsu Ario. Meninggalkan ayam tepungnya bersama Raisha.


Zahra terlihat asik dengan sosis yang telah dipotong kecil-kecil dan smoke beef yang telah dipotong kotak-kotak. Ia sedang memanggang topping untuk omeletnya. Sementara menunggu matang, ia merebus bayam.


Zahra yang sedang mengocok putih telur terkejut mendapati kecupan di pipinya. Ia menoleh ke samping, di mana pria berkaus biru dengan rambut poni belah tengah itu menatap dirinya cerah. Merangkul bahunya erat. "Kangen tau, kita kemarin belum skinship-an loh." Rizki menciumi rambut Zahra yang dipenuhi aroma mawar, tak pernah bosan ia menghirup aroma bunga lambang cinta itu.


"Kan kemarin kakak udah tidur duluan." Zahra mematikan mixernya, menambahkan kuning telur serta lada, garam. Diaduknya kembali adonan omelet itu dengan spatula plastik. Setelah tercampur rata, ia tuang dalam teflon yang telah dipanasi dengan margarin.


"Lo asik sama bibi dan Tria di belakang, gue jadi ga kebagian waktu." Rizki mengambil alih baskom yang masih dipegang Zahra, mencucinya dengan bersih. Pria itu juga mengambil empat telur, melakukan hal yang sama pada telur, seperti yang adiknya lakukan.


"Kan semalam kita kumpul di ruang keluarga." Zahra mengambil bayam rebusnya, menaburkan bayam itu di satu sisi telur, hal yang sama juga dilakukannya dengan sosis dan smoke beef. Ia memberi taburan keju parut di atas telur, kemudian menangkupkannya menjadi satu sisi. Sembari menunggu Rizki selesai mengocok telur, ia kembali merebus bayam. Karena bayam rebusnya telah habis.


"Lo dimonopoli sama Bang Rio sedari siang, gue ga kebagian nempelin lo tau." Rizki membumbui telur itu, kembali berdiri di samping adiknya.


Telur yang dimasak Zahra sudah matang, gadis itu berjalan ke rak piring saji. Membawa bersamanya, meletakkan telur itu di atasnya. Telur yang dimasak Rizki menyusul, berdampingan dengan telur yang dimasak adiknya.


Keduanya berjalan ke meja makan. Rizki merangkul gadis cepol kuda itu. Mereka mengeluarkan ponsel masing-masing, menunggu seluruh keluarga dengan memainkan game online.


Bibi yang nasi gorengnya sudah siap, memindahkan nasi itu ke piring saji. Sementara Raisha juga telah selesai. Ia membawa ayam tepung itu ke meja makan, setelahnya membantu bibi yang sedang menyiapkan minuman hangat.


Tria dengan kaus over size tiba di samping Zahra, menatap gadis itu dari samping. "Kak, kemarin dicariin Kak Ardi, dari Universitas Ranggana Tunggal. Katanya, kemarin ditungguin di taman, kakak ga datang."


Zahra menjawab dengan mata yang fokus pada layar ponselnya, "Oh itu, gue ada janjian sama dia. Tapi gara-gara gue diculik kemarin, batal deh. Gue lupa juga di rumah mau ngechat dia, ntar deh gue chat orangnya."


"Katanya ga usah ketemuan, Kak. Langsung ditransfer gitu, dia minta ketemu lagi pas kakak ke Kebon Jeruk."


"Okeh-okeh. Thanks ya, informasinya."


Ruangan itu tampak sepi tanpa adanya yang membuka pembicaraan kembali. Tria hanya memandangi Zahra yang tengah bermain game. Suara berisik dapur hanya ditimbulkan oleh kedua wanita beda generasi yang sedang menata minuman dan mengaduk gula.


Gadis bersurai coklat dan pirang itu menerima kecupan selamat paginya dengan terkejut, pasalnya manik mereka fokus memandangi layar miring yang digenggam Zahra. Tidak menyadari seorang lainnya yang datang ke arah mereka.


"Jangan terlalu fokus sama handphone, lupa kejadian di mall waktu itu?" Pemuda itu berdiri di belakang gadis surai coklat. Oh bagus, karena benda pipih sialan itu ia diabaikan. Tangannya naik dengan sengaja, menarik daun telinga adiknya.


"Ahhh, sakit, Kak!" Zahra melemparkan handphone-nya asal, sebelah tangannya memegang tangan Rio yang masih menarik telinganya. "Kak Rio lepas, sakit, Kak."


Rio akhirnya melepaskan tangannya dari daun telinga Zahra, tak tega juga menarik telinga adiknya hingga memerah.

__ADS_1


Zahra mengusap telinganya yang terasa panas, bibirnya mengerucut, memandang sebal kakaknya yang sudah duduk di kursi depan yang tadinya masih kosong. "Ih, itukan di luar, lagian ini di rumah."


Rio mengidikkan bahu, memandang adiknya serius. Ia cukup peka dengan situasi yang sedang dihadapi rumah ini. "Kita ga tau apa yang akan terjadi kedepannya, waspada tetap perlu. Terutama pada hal disekitar kita, benda mati pun sekarang mempunyai telinga."


Zahra mengembuskan napas kasar, sepertinya Rio mulai mengetahui ada seseorang yang berniat jahat di rumah ini.


Bibi dan Raisha membawa minuman dan ayam tepung. Kemudian nasi goreng spesial itu tersaji di hadapan Zahra. Moodnya yang tadi terjun perlahan kembali naik, nasi goreng kesukaannya.


Hal yang telah Zahra impikan sejak datang ke rumah ini, keluarga yang utuh. Kini, Raisha telah ada bersamanya kembali, perlu perjuangan agar ayah dan ibunya juga kembali menikmati suasana makan kekeluargaan seperti ini. Itu pasti sulit, tapi Zahra akan berjuang. Ia tidak mau keluarganya terus seperti ini. Saling berbohong dan mengorbankan kebahagiaan masing-masing.


Mereka mengambil piring masing-masing, menuangkan nasi goreng itu ke piring mereka. Suasana sarapan yang tenang dan disiplin, seperti yang ingin Rio terapkan sejak lama, namun karena bungsu itu masih di sana, adiknya itu mulai merusuh. Memakan nasi gorengnya sambil memainkan game lain.


Rio menggeram tertahan. "Dek! Taruh ponselnya, habisin dulu makanan lo. Hargain yang lain!"


Rizki menyenggol Zahra dengan sikunya, abangnya itu sepertinya serius dengan ucapannya.


Zahra menoleh sekilas, kemudian meletakkan ponsel itu. Tangannya akan menusuk ayam jika pandangannya tidak menangkap sesuatu. Garbu ditangannya tetap bergerak menusuk, seperti menusuk mangsanya.


Raisha menginjak kaki Rio, pria yang akan bertanya itu teralihkan ke bawah saat gadis di sampingnya menarik kausnya. Raisha memperlihatkan ponselnya, gadis itu menulis sesuatu.


"Zahra aneh." Dahi Rio berkerut, kemudian kembali menyendok nasi. Dilihatnya Zahra yang masih menusuk-nusuk lauknya, arah pandangnya juga entah kemana, yang jelas—Rio melihat manik adiknya perlahan menggelap. Bibir itu bergumam kecil, ia tak dapat membacanya karena bibir Zahra hanya terbuka sedikit.


Pandangan matanya kembali pada ayam yang tadi dimainkan, Zahra memakan potongan itu. Tak lama, gadis berkaus over size itu berdiri, beranjak meninggalkan makanannya yang belum sepenuhnya habis.


Bi Heni dan Tria tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi firasat mereka buruk.


Rio menghabiskan kunyahannya, pria itu juga berdiri.


Rizki mengerutkan dahi. "Ada apa, Bang?"


Rio menatap Rizki dengan isyarat mata, tak lama Rio pergi mengikuti Zahra, sementara Rizki juga menyusul kedua saudaranya itu.


Setelah di luar, Zahra tak menemukan apa pun, hanya terlihat bodyguard-nya yang terlihat kelelahan. "Di mana dia?" Zahra mendesis, menatap tajam lawan bicaranya.


Bodyguard itu terkejut akan hadirnya nona mereka, lima orang itu menegakkan badan. "Apa yang nona bicarakan?"


Melihat reaksi dari bodyguard-nya yang diam, sepertinya ia tahu apa yang terjadi. "Bodoh kalian semua. Masa nangkap satu orang aja ga becus?"


"Maaf nona, mereka telah melumpuhkan sebagian dari kami. Yang lain telah gugur dan pingsan. Kami terpaksa menghindar agar dapat memberitahukan informasi ini. Perkelahian terjadi di halaman depan, mereka berkelompok. Menyembunyikan diri di—"


Zahra langsung berlari sebelum bodyguard itu menyelesaikan ucapannya. Langkah kakinya terhenti kala menemukan banyak bodyguard yang jatuh dan pingsan. Tidak ada luka serius, namun, ia tahu apa yang terjadi di sini.


Maniknya menangkap seseorang yang sepertinya masih sadarkan diri. Kakinya terus melangkah dengan gelisah, mereka mulai menjamah kawasannya. Ia berjongkok di samping orang itu, membantunya duduk. "Apa orang yang sama, Bon?" tanyanya agak berbisik.


"Ya, Non. Kau benar, mereka masih di sini. Bahkan semakin berani. Ini seperti ancaman."


Zahra mengangguk, membantu Bona berdiri dan mendudukkannya di kursi panjang yang tersedia di tempat itu. Ia meninggalkan Bona agar beristirahat. Kaki jenjangnya menyusur kembali pada bodyguard yang jatuh. Sopir, satpam, bahkan asisten kakaknya itu pun ada.


Kakinya kembali goyah kala ingatannya berputar pada kejadian satu bulan lalu, kejadian yang membuatnya tak dapat menggunakan kakinya selama dua minggu. Seseorang menangkap tubuhnya, memeluk Zahra.


"Lo ga papa?"


Zahra mengangguk, ia membalas pelukan itu. Menyembunyikan wajahnya di dada sang kakak. Ia meremas kaus yang dipakai Rio, kesulitan bernapas mulai menjalar. Pandangannya memburam, terakhir—ia kembali berada dalam kegelapan seperti saat itu.


Rio merasakan tangan adiknya yang berubah dingin dan bergetar. Ia merenggangkan pelukannya, melihat apa yang terjadi. Adiknya itu menutup mata. "Zahra?" Ia menepuk pelan pipinya, gadis itu tetap tidak mau membuka kelopaknya. Tubuh yang ia tumpu juga menjadi berat. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menggendong adiknya brydal style.


"Bang!" Rizki memanggil dengan tiga orang wanita dibelakangnya. Lima bodyguard yang tadi juga ikut.


Rio membalikkan badan dengan Zahra digendongannya, pria itu berjalan mendekat. Sirat kekhawatiran ia tangkap di manik mereka.


"Adikmu kenapa, Yo?" Bibi mendekati Rio, melihat wajah Zahra yang terlihat gelisah, meskipun gadis itu menurut mata.


Rio menatap adiknya, mengembuskan napas pelan dan tetap tenang. Ia tidak boleh panik, atau akan menghancurkan semuanya. "Dia pingsan, Bi. Aku ga tau pasti, tapi kelihatannya—Zahra masih trauma. Kulitnya pucat dan dingin." Manik itu mengedar, kali ini menatap Rizki yang masih menatapnya dengan sejuta keingintahuan. "Telepon Gery, beritahu kejadian ini dan suruh bawa obatnya. Sampaikan juga ke Putra, ga usah ke sini, Zahra absen." Pandangannya beralih pada bodyguard yang masih berdiri di sana. "Kalian, angkat dan kumpulkan mereka semua di markas."


Bodyguard menunduk. "Baik, Tuan."

__ADS_1


Rio mulai melangkah, meninggalkan keluarganya yang masih menatap banyaknya bodyguard yang pingsan.


"Bu, Zahra ... ga apa-apa, kan? Tapi kenapa dia pingsan?"


Bibi mendekati kedua gadis itu, senyuman tipis terpatri di bibirnya "Ayo masuk dulu, nanti ibu jelaskan."


...***...


Rio meletakkan tubuh adiknya di ranjang. Kembali menghela napas. Jika seperti ini terus, kapan hidupnya akan kembali tentram? Masalah terus menerus datang lalu pergi.


Berdiri, menggerakkan tangan ke nakas. Mengambil minyak kayu putih dan inhealer yang dulu digunakan untuk peristiwa ini. Membawanya ke ranjang, mengoleskan minyak itu di bawah hidung sang adik. Sambil menunggu, ia mendekatkan ujung inhealer pada lubang hidung adiknya. Berharap gadis dua puluh tahun itu bangun lebih cepat.


Baru saja ingin merebahkan diri, seseorang membuka pintu. Raisha duduk di sampingnya, dengan sesekali melirik pada Zahra yang masih asik memejamkan mata.


"Lo udah baikan sama dia Rai?" tanya Rio tiba-tiba. Ia baru teringat jika kedua gadis itu masih berseteru kemarin. Tapi sepertinya mereka baik-baik saja hari ini, tapi ia ingin memastikannya sendiri.


Raisha mengangguk, seulas senyum penuh arti dilayangkan pada Rio.


...***...


Raisha mematut dirinya di depan cermin. Ia masih ragu akan dirinya. Apa pantas ia tinggal di rumah ini, apa pantas setelah sebagian perjalanan hidupnya yang dipenuhi kehinaan? Rasanya ia seperti cahaya hitam yang tersesat dalam lorong penuh cahaya.


Mengambil wadah plastik dengan dua lubang, tangannya bergerak melepas softlens yang dipakainya. Ya, ia memakai lensa kontak. Matanya memang minus setelah beberapa hari tiba di Jakarta. Ia tidak ingat apa yang membuatnya minus, tapi sepertinya itu terjadi sejak sebelum ia melarikan diri.


Dulu ia berkacamata, kata orang-orang, ia terlihat semakin imut dengan kacamata itu. Tidak. Memakai kaca mata itu merepotkan. Pada akhirnya, sebelum ia menerjunkan diri dalam dunia malam, ia memutuskan berhutang untuk membeli sepasang lensa kontak.


Raisha menghela napas. Setelah menyimpan softlens itu, ia berjalan ke arah ranjang. Mulai merebahkan diri di kasur queen size. Tidak sebesar miliknya yang dulu, tapi terasa nyaman. Kamar bernuansa hijau muda ini dipenuhi oleh gambaran alam. Temboknya dipenuhi oleh pepohonan hutan, yang dibelakangnya terdapat sebuah gunung. Di sisi lain terdapat birunya air terjun yang menambah kesan sejuk untuk kamar ini. Dan jika ia mematikan lampu utama, hanya menyalakan lampu tidur—maka langit-langit akan menampilkan gemerlapnya bintang. Ia bisa memejamkan mata sambil menghitung banyaknya bintang di atas sana.


Kamar impiannya. Lebih seperti kamar anak sepuluh tahun memang, tapi ia suka. Ia tidak perlu menanyakan siapa yang mengusulkan desain ini. Pasti adik nakalnya itu, tentu saja. Ia tidak menyangka jika Zahra memang menginginkan dirinya setelah bertemu keluarga kandungnya. Tapi ternyata salah, pikirannya salah, ia kira gadis itu akan melupakannya. Ternyata adiknya itu tetap ingin bersamanya. Bertahun-tahun ia membohongi semua orang, membohongi diri sendiri—jika dirinya juga merindukan Zahra. Tapi kenyataan di depan mata yang mengurungkan langkahnya.


Ia melepaskan ikatan rambutnya, meletakkannya di nakas. Dirinya yang akan menarik selimut menjadi urung karena ketukan di pintunya. Sebelum melangkah turun, gadis berkaus hitam dengan gelungan itu masuk, berjalan ke arah ranjang—di mana dirinya yang hanya menatap dalam diam.


"Zahra?" ucapnya dengan suara rendah.


Gadis di depannya itu menghamburkan memeluknya, membuat tubuhnya terjengkang dan akhirnya berpelukan dengan posisi ia di bawah. Posisi yang ambigu. Ia jadi teringat akan aktivitas malam harinya, bergumul dengan seorang lawan jenis yang tak terikat ikatan. Saling berlomba menuntaskan hasrat surgawi dunia.


"Ugh, lo gemukan, ya? Berat tau," dengkus Raisha kesal, berusaha menyingkirkan Zahra dari atasannya.


Gadis manik coklat itu berguling ke samping, kemudian tertawa riang. Gadis di sebelahnya menjadi begidik takut. "Ngapa lo, gila?"


"Sembarangan." Tubuh itu memiringkan diri, menghadap gadis yang telah memakai baju tidur. "Gue tuh seneng, akhirnya lo balik ke sini. Balik ke gue. Dan soal bebe, emang bebe gue dari dulu segini, ideal tau. Lo tuh yang kurusan, olahraga malem mulu!" Zahra terkekeh, membuat Raisha memberengut kesal.


Raisha mendengkus lagi. "Lo ngapain ngingetin gue? Bukannya, lo benci gue ya, malam itu ...."


Zahra menghela napas, memeluk erat gulung di sebelahnya. "Gue tuh kecewa sama lo, kecewa banget. Bingung harus ngomong apa. Lo itu keterlaluan. Bisa-bisanya nyemplungin diri ke dunia malam, emang lo ga mikir dampak buat kesehatan, ya? Ga habis pikir. Padahal kerjaan banyak loh, lo juga bisa ke gue."


"Situasinya beda, Ra. Gue ga mau datang ke lo cuma buat minjem uang, lunasin hutangnya orangtua gue. Gue hutang budi banget sama mereka, yang ngerawat gue sepenuh hati. Gue sebenarnya juga ga mau, tapi mau bagaimana lagi? Hutang menumpuk itu juga buat pendidikan dan kebutuhan sehari-hari.


"Gaji ayah dan ibu sebulan itu ga sampai satu juta. Mana cukup buat kehidupan satu bulan, biaya di Jakarta kan mahal. Aslinya hutangnya hampir lunas, tapi bunganya itu yang semakin tahun tambah banyak. Ayah mulai sakit-sakitan dan kita setiap harinya di kejar debt kolektor. Membuat ayah sakitnya bertambah parah dan akhirnya meninggal karena ga bisa bawa ayah untuk perawatan yang memandai.


"Kalau ibu, dia ngajak lari, tapi gue ga mau. Itu bakal memperburuk keadaan. Satu hari, waktu gue pulang kerja, ibu udah ga sadarkan diri di depan pintu. Rumah berantakan. Setelah gue konfirmasi ke tetangga, ternyata debt kolektor itu ke rumah pas gue ga ada, ibu kena serangan jantung. Gue shock, sempet depresi juga. Bingung, udah ga punya apa-apa. Rumah udah gue jual, meskipun ga cukup buat nebus hutang itu. Terus salah satu temen gue ngajak kerja di tempatnya, itu awal gue masuk dunia malam. Ya, meskipun rendahan dan harus mengorbankan diri, seenggaknya gajinya gede.


"Gue nabung dari hasil main, akhirnya bisa juga buat kredit rumah gedong itu. Gue jadiin prostitusi tersembunyi. Ya pokoknya ga ada cara lain dan mendesak, semua cara gue lakuin biar bisa lunasin hutang orang tua gue."


Raisha menghapus air matanya, seseorang memeluknya dari samping. "Gue ga peduli, sangat. Mau lo kerja di dunia malam, dunia bawah, dunia atas, gue ga peduli. Yang penting lo balik ke gue, lo kakak gue, Raisha!"


"Tapi gue malu-maluin, gue hina, gue kotor. Ga pantas bersanding sama kalian."


"Ustt, ga peduli seberapa hinanya lo, seberapa kotornya lo. Kita terima kok, dari dulu lo itu emang udah bagian dari kita, hanya saja bagian yang hilang." Zahra bangun dari tidurnya, menatap Raisha yang masih telentang. "Sekarang tidur, udah malem."


Raisha menahan tangan Zahra yang akan turun dari ranjang, ia mengingat suatu kejadian yang membuatnya marah dan berakhir menampar Zahra. "Lo bisa jelasin kenapa hari itu datang ke tempat gue dengan luka dan berbagai kissmark, terus jalan lo juga aneh. Akhirnya gue nampar lo, bisa jelasin ke kakak? Itu kenapa? Siapa yang ngelakuin ... itu?"


Zahra tersenyum tipis, melepaskan tangan Raisha pelan. "Itu, gue hari itu habis ribut sama anak-anak dan dapat luka lalu jatuh, makannya jalan gue aneh. Dan soal kissmark, gue emang habis ciuman sama cowok gue. Kakak ga perlu khawatirin sesuatu, yang penting gue baik-baik sekarang. Kakak ga usah minta maaf juga, gue udah maafin lo dari awal." Kembali tersenyum tipis, melangkah menuju pintu untuk meninggalkan kamar Raisha.


Gadis dengan piyama bergambar aneka makhluk hidup air itu tentu tidak bodoh. Sangat lama ia berkecimpung dalam dunia malam, ia tahu mana perempuan yang masih gadis atau bukan dan ia melihat Zahra—adiknya itu sudah bukan gadis lagi. Tapi siapa yang melakukannya? Tidak mungkin Putra, karena setiap mereka bermain—tak jarang laki-laki itu meracaukan nama orang lain. Terkadang nama adiknya atau siapa, Raisha melupakannya.

__ADS_1


Raisha menolak percaya, ia tahu, sampai kapan pun Zahra tidak akan jujur padanya. Dia menutupi seseorang yang bertanggungjawab atas kejadian itu. Ia memposisikan dirinya di bantal dengan benar, kembali menarik selimut. Baiklah, jika Zahra tidak mau jujur, mungkin itu yang terbaik. Semua orang punya cara dalam menyikapi sebuah hal dan dirinya tak pantas jika mencampuri urusan adiknya.


__ADS_2