
Jangan membuat perjuangan orang yang menyayangimu menjadi sia-sia jika kamu memang tak ingin bangkit.
...***...
"Ra ...." Rizki melepaskan tangannya yang dicengkeram Zahra, ia merubah posisi duduknya sehingga berhadapan dengan gadis itu. Menggoyangkan bahunya, tapi Zahra masih tetap belum sadar, pandangannya masih kosong.
Rio yang melihat Zahra seperti itu menjadi panik, sedangkan Zaldi tidak tahu harus bagaimana. "Riz ...."
"Iya, Bang." Rizki menangkup pipi adiknya kemudian ia hadapkan pada dirinya. Setelah dihadapkan ke arah Rizki, Zahra malah kembali melihat pada Zaldi. Rizki menangkupnya kembali dan menghadapkannya, tapi kali ini ia tidak melepaskan tangannya dari pipi itu.
Rizki memandang adiknya lembut. "Hey, tatap gue. Jangan lihat ke arah lain, lihat gue aja!"
Zahra akhirnya menatap Rizki meskipun dengan paksaan sedikit. Tadi Rio dan Zaldi sudah Rizki suruh keluar sebentar guna menengkan Zahra.
"Zahra .... Apa yang lo lihat?"
"Kak Rizki," jawabnya lirih sambil menunduk.
Rizki mengakat dagu Zahra supaya gadis itu menatapnya kembali. "Lihat mata gue, ada apa di situ?"
"Gu-gue?" Zahra menunjuk dirinya sendiri.
Di mata Rizki terdapat pantulan Zahra, pantulan itu sangat jelas, tidak samar seperti biasanya. Rizki benar-benar menatapnya.
"Hm, lalu?"
Zahra mengerutkan dahi tak paham. "Lalu?"
"Artinya?"
"Artinya? Eum, ya-ya lo sedang lihatin gue," ucapnya sedikit salah tingkah, kakaknya itu menatapnya intens.
Rizki mengangguk. "Lalu? Apalagi?"
Zahra membuat pose berpikir, Rizki tetap menunggu adiknya sambil menatapnya teduh. Gadis itu mendongak, membalas tatapan itu kemudian menggeleng lucu.
"Dek ... lihat gue. Tatap mata gue!" Rizki tahu jika adiknya ini tidak benar-benar menatapnya, pandangannya tetap membola ke segala arah.
"Heyy!"
Akhirnya Zahra benar-benar menatapnya, menatap manik yang serupa dengan dirinya. Laki-laki di depannya menangkup kembali.
"Lo tau kan, di mata gua ada lo? Kemana pun kita melangkah, kita selalu mandang lo. Lo punya tempat sendiri di hati kita. Gue sama Bang Rio, abang tertua lo—lo adek kita satu-satunya. Kita akan lakuin apapun buat bikin lo baik-baik aja, lo ga perlu takut. Kita akan lindungin lo. Kemarin, adalah salah satu kesalahan kita, kita minta maaf sama lo. Sekarang kita pengen perbaiki, percaya sama kita, Dek!"
Rizki mengucapkan semua itu perlahan sambil menatap teduh gadis di hadapannya. Ia ingin masuk ke hati adiknya dan mengusir bayangan kegelapan dari dalam diri Zahra. Zahra menatap Rizki tanpa berkedip, perkataan laki-laki itu sudah menguatkan sebagian jiwanya.
Benar kata Rizki, ia tidak boleh takut. Ia harus bisa mengusir efek racun yang menjadi penghalang kekuatannya. Jika Rio dan Rizki berusaha untuk mengembalikan dirinya, maka ia juga harus bertekad untuk kembali. Jangan biarkan bayangan kegelapan itu menguasai jiwanya. Ia harus seperti dulu, Zahra yang dulu. Zahra yang tak gentar dengan apapun.
Gue harus bisa, gue ga boleh takut. Mereka semakin merasa menang jika melihat gue kayak gini! Mata itu kembali menerawang.
"Dek!"
Rizki memegang kedua bahu Zahra dan membuatnya terkejut. Sedetik kemudian tubuh itu ambruk menubruk tubuh Rizki, laki-laki itu langsung mendekap adiknya. Zahra mencengkeram kuat kaus yang Rizki pakai, gadis itu menangis. Menumpahkan segala ketakutan yang ia pendam sejak dirinya di alam bawah sadar.
Rizki diam, tidak ada kata penenang yang keluar dari bibir pink itu. Tapi laki-laki itu mendekap erat Zahra sambil menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Zahra tetap terisak, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rizki. Pria itu membiarkan Zahra meluapkan segala emosinya.
Mereka bertahan di posisi tersebut selama sepuluh menit, selama itu pula Zahra terisak. Rizki mengusap bagian belakang kepala adiknya. "Kakak di sini. Kamu ga perlu takut!" Setelahnya ia kembali menciumi pucuk kepala itu.
__ADS_1
...****...
"Dua kali Riz, dua kali Zahra kayak gini. Gue ga bisa biarin kejadian kayak gini terjadi untuk yang ketiga dan seterusnya. Lo tau kan, apa yang gue rasain?" Rio benar-benar kacau karena keadaan Zahra, ia merasa gagal. Sangat gagal! Zahra mempunyai trauma batin yang sampai sekarang belum sembuh dan kejadian kemarin semakin memperburuk keadaannya.
Sekarang mereka sedang berada di kantin untuk makan siang, Zahra sudah lebih baik. Sekarang gadis itu sedang makan ice cream dengan lahap. Tadi Zahra meminta sendiri, akhirnya mereka membiarkan Zahra sendiri tapi tetap mengawasinya.
Zaldi satu meja dengan Rio dan Rizki. Tapi pria itu sedang izin ke toilet. Mereka menunggu kedatangan Gery, mereka ingin membahas siapa yang akan memimpin Jo campany saat ini. Sebenarnya mereka menawari Zaldi, tapi pria itu terus menolak. Sangat merasa bersalah pada Johan, karena lalai dalam menjaga wasiat itu.
Ini adalah permintaan Zahra setelah dirinya lebih baik. Dia tidak akan membiarkan perusahaan papanya hancur hanya karena ketidakadaan pemimpin. Sebuah perusahaan besar maupun kecil akan hancur bila pemimpin mereka tidak bisa mengurus jalannya perusahaan, apalagi jika tidak ada pemimpinnya.
Gery datang dengan mengenakan kaus hitam yang dipadukan dengan jaket jeans dan celana senada. Di tangannya terdapat kantung plastik kecil dengan warna hitam. Gery langsung saja duduk di antara Rio dan Zaldi, menyapa mereka semua.
"By the way, mau ngomongin apa sama gue?" tanya Gery langsung.
Rizki menunjuk seseorang dengan dagunya, ia memperlihatkan seorang gadis yang sedang menghabiskan sisa-sisa ice creamnya.
"Zahra?" tanya Gery tak mengerti. Memang ada masalah apa lagi dengan gadis itu?
"Zahra yang punya topik, dia yang manggil lo lewat nomernya Pak Zaldi," jawab Rio.
Gery mengangguk, lalu berjalan menghampiri Zahra. Pria itu duduk di depan gadis berjaket gelap itu. "Hy, Ra," sapanya ringan.
Zahra mengangguk tak acuh, lalu melanjutkan melahap kembali ice cream itu.
Gery meletakkan kantung plastik yang tadi dibawanya, meletakkannya di depan Zahra. "Tadi pas gue jemput Ina, dia nanya gue mau kemana, terus gue jawab ke kantornya Rio. Dia langsung beliin itu buat dititip ke lo, tahunya lo udah di sini aja."
Zahra sedikit melirik bungkusan yang dibawa Gery, ia tertarik. "Apaan, tuh?"
"Bakso Mak Kantin kayaknya."
Zahra langsung tersenyum lebar. "Thanks. Salamin buat dia, ya. Gue belum bisa hubungin dia sejak kemarin, handphone gue masih lowbet."
Zahra membuka bungkusan tersebut dan mengeluarkan isinya. Ada bakso, keripik pangsitnya sama keripik ubi kesukaannya. Ah, Zahra tak sabar ingin menikmati itu semua.
"Manja ya, Ina sekarang. Dulu aja dia ga mau diantar jemput, sekarang malah lo yang antar jemput dia." Zahra terkekeh, kemudian melahap habis tiga cone ice cream yang sedari tadi dipegangnya. Tangannya mulai menjelajahi bungkusan keripik ubi tersebut.
"Ya, gue yang maksa. Gue ngerasa ada tanggungjawab atas dia, sekalian pedekate juga. Dia kan belum buka hati buat gue."
Zahra menaikkan alis, kembali menggigit keripik berwarna ungu tersebut. "Yakin?"
Gery mengangguk.
"Emang kalau lo nyentuh dia, dia nolak? Engga, kan? Buktinya aja dia sayang banget sama anak lo. Terus juga sekarang dia udah maafin lo. Mungkin dia ada rasa, tapi malu buat ngungkapin. Tunjukkan dong ke dia kalau lo bener-bener sayang sama dia, biar dia ga ragu kalau mau bales." Zahra mendongak menatap Gery. "Betewe, janin Ina baik-baik aja kan, kok gue ada firasat buruk?"
Gery tersedak salivanya sendiri. Dia tak menyangka jika Zahra akan bertanya tentang anaknya yang meninggal gara-gara ulahnya. Huft, ia benar-benar menyesal setelah berbuat demikian. Apa yang harus ia katakan pada Zahra?
Zahra manautkan alis, masih menunggu sebuah kata keluar dari mulut pria di depannya.
Gery menoleh, menghadap Zahra yang masih mengunyah keripiknya.
"Itu ...."
Zahra menangkap raut gelisah dan sedih Gery secara bersamaan. Ia tahu arti ekspresi seperti itu, itu bukan pertanda baik. Pasti telah terjadi sesuatu dengan kandungan sahabatnya.
"Lo ga perlu jawab pertanyaan gue, dari muka lo udah kelihatan," ucap Zahra pelan.
Gery membalas tatapan Zahra yang sedang menatapnya. Rasanya ia tidak bisa berkata apa-apa selain menyetujui Zahra.
__ADS_1
"Kalau lo serius, mulai semua dari awal. Dengan cara yang benar. Awal yang baik akan berakhir baik. Dekati dia perlahan, lo terlalu pemaksa!"
"Kampret!" Gery mengumpat pelan.
"Ger, lo dengerin gue, kan?"
Gery mengangguk. "Ya, tapi jangan bongkar jati diri gue dong!"
"Biar lo sadar aja. Lo masuk salah satu blacklist gue sebagai cowok berengsek tak berperasaan!"
Gery menjatuhkan rahang, laki-laki itu mendelik pada gadis yang kini sudah mengunyah baksonya. Ternyata dirinya mendapat reward seperti itu dari Zahra.
"Ra—" Baru juga mau membuka mulut, Gery malah di usir. Laki-laki itu menghela napas, lalu kembali duduk di antara Rio dan Zaldi.
Oh ya, tadi Gery sempat lupa untuk menanyakan perihal keadaan Zahra. Dari yang Gery lihat, sepertinya gadis itu habis menangis, terbukti dari matanya yang agak sembab dan merah.
"By the way, tadi gue lihat Zahra matanya sembab? Dia kenapa?" Gery memandang ketiganya dengan tanya.
"Tadi dia kambuh. Dia ga kuat, ya udah nangis. Tapi sekarang, lo lihat? Dia udah lebih baik. Dia cuma butuh temen berbagi," jawab Rizki sambil memerhatikan adiknya.
"Terus kenapa kalian biarin dia sendiri?"
"Dia yang mau. Tadi aja dia ga mau makan and see? Setelah lo bawain makanan akhirnya dia mau makan. Thanks."
Gery mengangguk. Ketiganya membahas hal-hal random seputaran pria seusia mereka, terkadang Zaldi juga ikut menimpali. Paruh baya itu sepertinya menikmati sekali jika disuruh menceritakan perihal anak laki-lakinya yang baru masuk SMP.
Beberapa saat kemudian, Zahra telah selesai menghabiskan makanannya. Setelah membuang sampah, gadis itu berjalan ke meja di mana para laki-laki berkumpul. Meskipun dengan tertatih, ia tetap memaksa.
Saat dirinya hampir sampai di meja itu, Zahra memekik, "Akhh!" Kakiknya terasa berat, sangat berat. Bahkan untuk melangkah pun ia tak lagi sanggup.
Rio yang posisinya paling dekat dengan Zahra langsung menopang tubuh adiknya supaya tidak terjatuh. Semuanya langsung panik saat mendengar pekikan adik bos besar, semua orang yang ada di kantin langsung menoleh ke arahnya.
Rio membawa Zahra ke mejanya, menuntunnya pelan. Ia berjongkok untuk memeriksa kaki adiknya, menyentuhnya perlahan. Tidak ada yang aneh dengan kaki ini, tapi melihat raut Zahra, kenapa gadis itu tampak kesakitan?
"Kenapa?"
"Sakit, Kak. Ga bisa digerakin," Zahra mengeluh, bahkan saat Rio memegang kakinya pun ia tak merasakan apa-apa. Seperti mati rasa. Rio dan Rizki langsung panik begitu mendengarkan keluhan adik mereka.
"Nyeri?"
Zahra menggeleng. "Berat. Ga bisa gerak."
Rio langsung berdiri, memeluk adiknya erat. Sedangkan Rizki dan Zaldi menatap Gery meminta penjelasan. Gery yang tersadar akan tatapan itu akhirnya mengangguk.
Gery menghela napas, ia sudah tahu hal ini akan terjadi. Kemarin ia lupa memberitahu sesuatu, tapi melihat keadaan Zahra yang tampak terbiasa dengan kakinya—membuatnya lupa akan satu hal. "Sorry, Ra. Lo ga bisa gunain kaki lo sampai proses penyembuhannya selesai total dan lo harus rajin minum obat yang dikasih sama dokter."
"Tapi kata dokter, perbannya udah bisa dilepas besok." Rizki mengerutkan dahi, masih mengamati adiknya yang ditopang abangnya.
Gery mengangguk lagi. "Memang, perbannya udah bisa dilepas karena luka luarnya udah sembuh, udah kering. Tapi, efeknya masih ada, karena di tempat itulah pertama kalinya racun ditembakkan."
Zahra mempererat pelukan Rio, sementara pria itu mengusap punggung adiknya agar tenang. Adiknya yang lincah sekarang harus diam tanpa menggunakan kakinya. Rio tidak bisa membayangkan itu.
"Kira-kira, kapan Zahra bisa jalan normal?" Rizki kembali bertanya.
"Dua minggu setelah rancun ditembakkan. Dia bisa menggunakan kakinya kembali, tapi mungkin agak nyeri dikit. Tapi kalau dia ngeyel pengen make kakinya, maka proses pemulihan akan semakin lama. Kira-kira satu bulan," jelas Gery.
"Dek ...." Rio mengusap perlahan rambut Zahra, semoga adiknya satu ini mengerti.
__ADS_1
Zahra memejamkan matanya, berusaha menguatkan dirinya atas perkataan Gery barusan. Ia tidak menyangka efek berseteru dengan omnya berakibat fatal seperti ini. Zahra mendongak menatap Rio, ia tersenyum hangat dan mengangguk. Tidak masalah sebenarnya jika ia tidak berjalan terlebih dulu, hanya saja ia memikirkan kedua kakaknya dan orang yang tinggal dengannya. Mereka pasti akan kerepotan mengurusnya. Huft, gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Rio.
Syukurlah, mereka lega. Zahra mau mengerti keadaannya. Rio mendaratkan kecupannya pada kening Zahra, lalu mengusap puncak kepalanya.