
Rivan yang baru tiba dari kantin teringat sesuatu, ia mendekati adiknya yang tengah berbincang dengan keponakannya.
"Kia." Rivan berdiri di depan Azkia dan Ardelia. Wanita dengan dress vintage hitam putih itu memandang Rivan dengan pandangan bertanya, begitu pula Ardelia.
"Abang nemuin ini. Punya kamu, kan? Jatuh di depan kemarin. Abang mau ngasih ini dari kemarin, tapi abang lupa karena dapet kabar bahagia ayah." Revan mengeluarkan kalung emas putih dengan bandul love.
Azkia segera merampas kalung itu dari tangan Rivan, ia membuka liontin di kalung tersebut. Wanita itu menemukan foto dua orang bayi dengan background merah. Mereka kembar. Itu adalah dirinya dan adiknya, Zaskia. Sementara Ardelia memilih memerhatikan kedua orang dewasa di hadapannya.
"In-ini kan, punya Zaskia. Kenapa bisa ada di abang?" Azkia memandang Rivan, meminta penjelasan, dari yang ia tahu Zaskia telah meninggal. Lalu siapa yang memakai kalung ini, atau mungkin?
Rivan menjatuhkan rahangnya, ia tidak salah dengar, kan? Kalung milik Zaskia? Adiknya yang hilang sejak bayi. Ini benar-benar aneh, lalu siapa yang memakai kalung itu? Apa seseorang yang telah menculik adiknya atau memang adiknya?
"Bukannya itu punya kamu?" tanya Rivan memastikan, pria itu mengangkat alis.
Azkia menggeleng, sementara sebelah tangannya merogoh sesuatu di lehernya lalu menunjukkan kalung dengan rupa dan bandul yang sama. Ia memegang bandul itu lalu menunjukkannya kepada Rivan. "Ini punyaku dan yang ada di tangan kiriku ini milik Zaskia."
"Itu artinya Zaskia ada di rumah sakit ini. Abang nemunya di koridor depan ICU."
"Gak. Dia udah tenang di atas sana, Zaskia udah ga ada," kata Askia miris.
"Apa maksud kamu? Kamu yang bilang jika kalung itu milik Zaskia, tapi kenapa kamu bilang dia udah meninggal?"
"Maa ...."
"Iya sayang, bibi kamu udah meninggal."
Ardelia langsung memeluk ibunya, ia tahu ibunya rapuh saat ini. Terbukti saat Azkia berusaha mengusap air mata yang kian diusap, kian deras mengalir.
"Maksud lo apa, Kia? Lo ngelarang gue nyari Zaskia gitu? Lo ga mau Zaskia balik ke kita, terus lo bilang kalau dia udah ga ada?" Tiba-tiba saja Suara Rivan meninggi.
"Bang ... Kia ga bohong, Zaskia emang udah ga ada. Kia pernah denger suara orang, ternyata itu suara Zaskia. Dan dia bilang sendiri ke Kia, kalau dia udah ga ada. Dia nitipin anaknya ke Kia."
"Jangan ngarang cerita lo, hal yang kayak gitu ga mungkin ada," ucap Rivan dengan emosi.
"Abang ga percaya sama Kia? Kia kembarannya bang, Kia bisa ngerasain kalau itu emang dia." Azkia menunduk, bahunya bergetar, mendekap kalung milik Zaskia yang digenggamnya.
Gadis kucir kuda tersebut tidak bisa membiarkan ibunya rapuh sendirian, sudut hatinya terasa ngilu saat melihat ibunya terisak. Gadis itu mendekap ibunya yang telah berurai air mata.
__ADS_1
Rivan terduduk lemas, tiba-tiba saja tubuhnya merosot ke lantai. Dadanya terasa sesak seperti di tusuk-tusuk ribuan jarum. Selama ini ia mencari Zaskia, tapi tidak pernah membuahkan hasil. Dan kini ia tahu dari adiknya, jika adik bungsunya telah tiada.
Rivan berharap ini adalah salah satu mimpi buruk dari tidurnya, karena ia lupa berdoa. Tapi sayangnya ini nyata, ia benar-benar sadar saat ini. Dan ia mendengarnya langsung dari mulut adiknya sendiri.
Wahyu sebenarnya sudah bangun sedari tadi, ia mendengarkan perdebatan kedua anaknya. Apa benar jika Zaskia sudah tidak ada? Ahhh, benar-benar, ia lupa menanyakan perihal orangtua pada Zahra. Gadis itu pun sepertinya terlihat enggan sekali untuk menceritakan perihal orangtuanya. Apa kedua orangtuanya benar sudah tiada?
"Azkia ...." Wahyu membuka suara.
Azkia yang mendengar seruan serak itu segera mendekati ayahnya, sebelumnya ia menghapus terlebih dahulu air matanya agar ayahnya tak khawatir.
"Ada apa, Yah? Ayah membutuhkan sesuatu?" Azkia duduk di samping brangkar Wahyu.
Wahyu menghapus jejak air mata yang masih tersisa di iris mata putrinya. "Kamu habis nangis, kenapa? Apa sesuatu telah terjadi?"
"Ti-tidak, Ayah. Tidak ada apa-apa, ini hanya terkena debu," jawabnya disertai kekehan, meski begitu suaranya masih serak akibat menangis. Membuat Wahyu tahu tentang kejadian sebenarnya, itu memperjelas kebohongan putrinya.
"Jangan bohong sama ayah, jujur coba. Ada apa, hm? Kenapa putri ayah yang cantik ini menangis?" Wahyu menatap lekat putrinya.
Azkia memeluk ayahnya kembali, ia menumpahkan air matanya di pelukan pria kepala lima itu. Wahyu mengusap kepala putrinya pelan.
"Ab-abang nemuin kalung, kalung yang sama seperti yang Kia miliki. Kalung yang membuktikan jika aku sama Zaskia memiliki ikatan. Abang nemuin kalung itu di koridor rumah sakit, sedangkan yang Kia tau ... Zaskia itu sudah me-meninggal."
"Dari mana kamu tahu kalau adikmu itu sudah meninggal? Memangnya kamu sudah bertemu dengannya?"
"A-aku pernah ketemu sama anaknya Zaskia, Yah. Waktu itu, aku, Mas Vero dan Lia lagi jalan ke mall, saat itu aku duduk sendirian di salah satu kursi, sedang menunggu Mas Vero dan Lia yang sedang berkeliling. Di bangku sebelah, ada sepasang anak muda seumuran Lia. Aku merasa ada hubungan sama salah satu dari mereka dan ternyata benar. Aku berusaha mendekati, tapi dia takut ketika melihatku, dia memanggil Kia 'mami'. Sudah dua kali aku bertemu dia, yang kedua saat di kampusnya Lia. Hal yang sama terjadi, dia takut ngelihat aku, tapi setelah itu Zaskia muncul. Dia bilang kalau itu anaknya. Setelah itu dia hilang, Kia coba ajak dia bicara lagi, tapi suaranya sudah ga ada. Hilang di telan keheningan."
Wahyu semakin erat memeluk putrinya. "Kita pasti bisa menemukan mereka Kia, ayah dan abangmu pasti akan menemukan mereka!" Usapan di bahu Azkia terhenti, Wahyu menatap manik putrinya. "Nama keponakanmu itu Zahra, bukan?"
Azkia mendongak ketika mendengar pertanyaan Wahyu, manik coklat kekuningan itu bertubrukan dengan manik coklat Wahyu. "Zahra ...."
...***...
Zahra masuk dengan wajah lelah, tubuhnya langsung terhempas begitu saja ke kasur king size miliknya.
Tugas kuliahnya hari ini benar-benar melelahkan, hari ini ia mempunyai empat mata kuliah, biasanya ia membolos salah satunya. Tapi kali ini, ia masuk empat kelas full. Ia lebih memilih dua mata kuliah dengan dosen yang terus berbicara atau dosen yang sering mengadakan kuis, dari pada begini— harus menyelesaikan tugas dari empat mata kuliah dengan deadline yang sama pula. Ugh, ini menyebalkan.
Ia juga harus protes pada Devan yang menyeretnya ke kelas sore hari ini, padahal dirinya kalau ada kelas sore enggan hadir. Karena kelelahan, gadis itu langsung pulang, menunda acara protes pentingnya.
__ADS_1
Gadis itu memejamkan mata sambil melemaskan otot-otot di tubuhnya. Lagu Suavemente terdengar begitu saja, gadis yang sedang memejamkan mata tersebut langsung merogoh handphone yang berada di tas serut—yang ia letakkan di sampingnya.
"Nona."
"Bagaimana, Xav? Apa kamu sudah dapat petunjuk?"
"Maaf, Nona. Dari data kependudukan yang telah saya rekap dari seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, tidak terdeteksi satu pun nama lengkap, Raisha Rifandi."
"Apa? Bagaimana bisa? Tukang buah itu mengatakan jika Raisha pergi ke Jakarta, apa mungkin saat ini dia sudah pindah ke luar kota?"
"Itu tidak mungkin, Nona. Orang yang pernah tinggal di Jakarta namanya juga tercantum. Tapi ada satu nama menonjol, dia berada di bagian paling atas. Namanya Naysha Rifadin, kalau saya analisis, nama itu mempunyai kecocokan dengan nama Raisha Rifandi, hanya berbeda penempatan huruf dan beberapa konsonan yang berubah. Tapi, jika orang lain mendengar sekilas, maka mereka akan mengira kalau itu nama anak kembar."
"Kalau begitu, kamu cari datanya Naysha Rifadin!"
"Baik, Nona. Setelah ini saya akan kirim datanya."
"Baiklah. Saya tunggu."
Zahra memutuskan sambungan telepon miliknya dan memutuskan berselancar di sosis media sambil menunggu data yang dikirim Xavier.
Panggilan kembali masuk, kali ini dari Samuel. Zahra segera menjawab panggilan tersebut, berharap jika Samuel memberi kabar baik.
Gadis itu melepaskan ponsel dari telinganya dengan senyum lega. Ternyata benar, Samuel memberikan kabar baik, jika kakeknya itu telah siuman. Samuel minta maaf baru menghubungi Zahra sekarang, ia menceritakan jika saat ini, kantor Suryaprima sedang ada masalah.
Setelah mendengar kabar baik tersebut Zahra segera mandi, ia ingin ke markas Black Devil untuk memberitahu kabar bahagia ini. Bahkan ia telah menghubungi beberapa anak buahnya untuk menyiapkan acara syukuran kecil-kecilan.
Setelah selesai bersiap, Zahra kembali mengecek handphone-nya. Xavier telah mengirimkan data seseorang yang Zahra minta.
"Naysha Rifadin, seorang anak dari pasangan buruh yang telah meninggal. Kedua orangtuanya meninggalkan hutang bermilyar-milyar. Sebuah rumah kecil di ujung desa tak cukup untuk membayar hutang tersebut, bahkan membiayai hidupnya. Ia memilih terjun ke dalam gemerlapnya dunia malam. Ia menjadi pemilik, sekaligus pelayan di sebuah mansion megah yang diduga sebagai tempat prostitusi terselubung." Zahra menatap layar ponselnya, menatap biodata dari Naysha Rifadin.
Xavier juga menunjukkan beberapa gambar yang bersangkutan dengan data yang dikirimkan.
"Naysha?" Zahra mengamati salah satu foto di layar ponselnya, gadis itu menatap tak paham.
Naysha yang ia tahu memang bukan perempuan baik-baik, tapi ia tak menyangka saja kalau kehidupannya tak seburuk kelihatannya. Mantan Putra yang sering menjadi sewaan itu, ternyata harus melunasi hutang orangtuanya.
Zahra memilih memasukkan ponsel ke saku jaketnya, tidak perlu memikirkan masalah Naysha, karena ia tidak ada hubungan apapun dengan Naysha. Setelah berpamitan dengan semua orang yang ada di rumah, ia langsung menjalankan motor sport-nya ke markas Black Devil.
__ADS_1