Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
55. Aula Belakang


__ADS_3

Setelah dari kantin, Zahra menunggu Ina di gedung A, keduanya telah membuat janji. Sedangkan dua cowok tadi, mereka latihan futsal, katanya mau tanding sama kampus sebelah.


"Udah lama?" tanya Ina begitu berhasil menemukan gadis dengan jaket jeans tersebut.


Mereka duduk di salah satu kursi kayu yang tersedia di sepanjang koridor.


"Lu mau ngomong apaan?"


"Gua mau curhat tentang ini," jawab Ina sambil mengusap perutnya.


"Ohh. Ya udah ke aula belakang aja yok!"


"Gak, di sini aja!" Ina berusaha meyakinkan sahabatnya, entah kenapa hatinya mengatakan jangan ke aula belakang. Mengingat tempat itu yang jarang terjamah karena hanya dipakai saat acara besar saja.


"Nanti kalau ada yang denger gimana?" Zahra menatap Ina khawatir, ia takut jika ada yang menguping pembicaraan kemudian menyebarkannya. Sahabatnya pasti akan kembali tertekan. Terlebih koridor gedung A yang selalu ramai dan dijadikan tempat gosip yang nyaman.


"Gak, Ra!" Ina tetap membantah meskipun rasa was-was akan ketahuan oleh mahasiswa lain ada. Tapi suasana hatinya jika mendengar aula belakang sungguh tak nyaman.


Zahra tetap kukuh ingin ke aula belakang, akhirnya dengan terpaksa Ina mengikuti keinginan gadis itu.


"Jadi?" tanya Zahra setelah mereka sampai di aula belakang. Mereka duduk berdua di teras.


Ina menatap sekeliling was-was. Dirinya merasa jika ada seseorang yang tengah mengintai mereka.


"Woee! Kok bengong?"


"Eh, iya." Ina memberikan cengirannya, lalu mulai bercerita.


Ina cerita kalau orang tuanya tahu jika ia mengandung. Soalnya mereka juga memasang CCTV di kamar putrinya, jadi aktivitas Ina yang suka berbicara dengan janinnya otomatis terekam. Dan kejadian itu juga terekam, orang tuanya berjanji akan membawa ayah dari janin itu agar mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka juga tidak bisa marah pada Ina, mungkin hanya kecewa dengan perilaku yang diperbuat putrinya selama ini. Tapi mereka juga bangga terhadap putri semata wayangnya itu, Ina mengakui kesalahannya dan menerima janin yang dikandungnya dengan hati terbuka. Meskipun anak itu tercipta dari sebuah kesalahan.


"Gua dukung Om Stevan sama Tante Hani. Pokoknya lu harus jagain nih ponakan gua sampai mereka nemuin ayahnya. Lihat aja kalau udah ketemu, bakalan gua habisin tuh muka songongnya," ucap Zahra berapi-api. Sejak mendengar cerita Ina malam itu, ia sudah berjanji akan merusak wajah tampan ayah dari bayi yang dikandung Ina. Jika saja ia tahu rupanya seperti apa.


Tiba-tiba ada sebuah lengan kekar yang menarik keduanya, memisahkan mereka satu sama lain.


Zahra dengan mudah melepaskan diri dari orang yang menahannya, sedangkan Ina yang sedang mengandung tak dapat berbuat banyak. Ia khawatir mereka akan menyakitinya dan menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi pada janin yang dikandungnya. Benar-benar sial!


Zahra ingin menyelamatkan Ina tapi dihadang oleh dua puluh orang berbadan kekar. Ia merasa dejavu. Kenapa pengeroyokan lagi? Mereka menyerang Zahra yang hanya seorang diri. Sialan!


Bodyguard yang ditugaskan oleh Rio keluar dari persembunyian dan membantu nona mereka, tapi orang yang berbadan kekar tersebut malah keluar semakin banyak. Ini gila!


Sial! Ini jebakan!


Dengan mudah orang badan kekar tersebut mengalahkan bodyguard suruhan Rio.


Zahra dengan sekuat tenaga berusaha mengalahkan mereka, agak terbantu dengan pisau lipat yang selalu ia bawa. Meskipun ia sudah lelah, dirinya harus tetap berjuang meloloskan diri dari mereka. Beberapa orang datang, membantu Zahra melawan musuhnya. Apa itu orang-orang ayahnya?


Zahra berhasil memukul mundur mereka dengan bantuan beberapa orang tadi, salah satu dari mereka juga melemparkan shot gun. Zahra tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menembaki mereka hingga tumbang.


Suara di sekitar sangat berisik, tapi orang-orang di lingkungan kampus kenapa tidak ada yang berlarian ke aula? Padahal jika mereka mendengar gaduh akan segera berkumpul. Zahra curiga jika orang-orang ini memasang peredam suara.


Ia menggunakan kembali pisaunya, berjaga-jaga jika peluru senjatanya habis. Orang-orang yang membantu Zahra tadi juga merasa semakin lemas dan tak bertenaga. Tiba-tiba saja rasanya seperti itu.


Zahra terkejut, kenapa ini bisa terjadi? Ia mengambil salah satu senjata yang terjatuh, memakainya untuk menumbangkan kembali musuhnya yang tersisa beberapa itu.


Hampir saja ia bernapas lega jika mereka tak muncul lagi lebih banyak. Mereka mengenakan jaket dengan logo berlian hitam dan api serupa. Kini ia tahu siapa pimpinan mereka. Tapi untuk apa mereka menyerangnya? Bukankah mereka tidak tahu jika dirinya bagian terpenting Black Devil?


Zahra mengangkat tangannya ke atas, menjentikkannya beberapa kali. Seketika munculah beberapa anak buahnya.


Mereka saling baku hantam. Zahra terdorong oleh seseorang, menyebabkan gadis itu menghantam tanah dengan posisi tengkurap. Dagunya sedikit terluka karena bergesekan dengan bebatuan kecil. Zahra segera tersadar, memperbaiki posisi kemudian melawan mereka kembali.


"Lu ga akan lepas dari gua!" Seseorang menunjukkan seringainya. Orang-orang itu menjadi diam ketika melihat orang yang mendorong Zahra.

__ADS_1


Gadis itu melihat kesempatan untuk melarikan diri, ia melihat belakang sekilas. Setelah menemukan, ia langsung lari, sejauh yang ia bisa.


"Tangkap dia! Jangan sampai dia lolos!"


Beberapa orang kembali menghadang Zahra, mereka muncul dari berbagai arah. Rupanya aula ini sudah terkepung. Mau lari ke segala arah pun percuma. Zahra bingung harus bagaimana. Seharusnya ia mendengar Ina tadi, seharusnya ia tidak memaksanya ke sini. Seharusnya dan seharusnya, tak akan menyelesaikan masalah ini. Bagaimana cara mengalahkan mereka jika jumlah mereka semakin banyak? Amunisi dalam pistolnya pasti sudah menipis.


Ngelawan? Percuma. Kalau tenaga gua habis, mereka pasti bakal nangkep gua, batin Zahra kesal.


Akhirnya ia kembali berlari ke arah tadi, tempat ia kabur. Kesana-kemari mencari celah, nyatanya satu pun kesempatan tak dapat ia temui.


"No-nona," lirih salah satu bodyguard pribadinya.


Mata Zahra menangkap salah satu bodyguardnya yang masih sedikit bertenaga, namun lemas.


Bona? Dia satu dari 20 bodyguardnya yang terkuat. Kenapa Bona kali ini cepat sekali gugurnya? Padahal ia salah satu dari 20 bodyguard pribadinya yang sukar dikalahkan. Tapi mereka mengalahkan Bona dalam sekejap mata. Pasti ada yang tidak beres! Zahra mengerutkan dahi, mereka tadi yang membantunya juga tiba-tiba tumbang.


Bona dengan sisa tenaga yang dia punya bergerak bangkit, tapi saat akan melangkah ke arah Zahra, bosnya itu menggeleng.


Dengan isyarat, Zahra menyuruh Bona lari sekencang-kencangnya atau bersembunyi. Pokoknya supaya tidak tertangkap.


"Woi, ada yang mau kabur!" teriak salah satu musuhnya.


"Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!" perintah seorang pria.


Bona lari walaupun kondisinya tidak stabil, pemuda berwajah bule tersebut lari dengan sempoyongan.


Semoga Bona selamet dan bisa cari bantuan buat gua, mohon Zahra dalam hati.


Sementara gadis yang memakai hoodie coksu tadi dibawa ke tepian oleh orang-orang tersebut. Ia yang melihat sahabatnya di tengah lingkaran setan itu teriak, "Tolong-tolong ...." Berharap ada mahasiswa atau siapa saja yang bisa menolong mereka.


Orang yang menahan Ina membekapnya dengan tangan yang berbau jengkol itu. "Diam! Berisik banget lu."


"Akh, sialan!"


Ina berhasil lepas, gadis itu kemudian berlari menyusuri tepian agar bisa keluar dari aula belakang. Tapi sayang, langkahnya tidak sepanjang harapan miliknya. Seseorang mencekal pergelangannya, merengkuhnya hingga tubuh mereka bertabrakan. Membekap bibir pink Ina yang akan kembali mengeluarkan suara.


"Ayo! Tangkap cewek itu, jangan diem aja!" perintah orang yang menahan Ina.


Zahra berlarian tak tentu arah, yang penting ia tak tertangkap oleh mereka. Tapi semua itu sia-sia saat ia terjatuh oleh sebuah tali yang melintang. Seseorang yang menunggu hal itu langsung saja memaksa Zahra bangun, memborgol kedua tangannya yang terus memberontak.


"Hah! Lepasin gua!" Zahra menatap sekelilingnya berang, orang yang memborgolnya menuntun Zahra pergi.


"Gak! Gak akan pernah!" Suara ini, suara yang menjadi dalang dalam semua ini, Atha.


Sebenarnya Zahra bisa teriak dengan suara ultranya, tapi kenapa kali ini tenggorokannya rasanya sakit. Tuhan kali ini bener-bener tidak berpihak padanya.


"Lepasin, ga?"


"Gak!"


"Zahra ...," teriak Ina saat ia berhasil lepas.


Zahra menggeleng ketika Ina ingin mendekatinya. "Mau ke mana lu?" Orang yang menahan Ina kembali menjangkau gadis itu.


"Hah lepasin! Gua mau nyelamatin temen gua!" Ina terus memberontak sampai ia terjatuh. Semoga saja janinnya tidak apa-apa.


"Tha, lu urus cewek itu. Biar cewek ini jadi urusan gua!" sahut sebuah suara yang berhasil membuat Ina membeku.


"Ra! Tunggu gua, lu jangan khawatir," kata Ina setelah kesadarannya kembali


"Lu nyelamatin dia, nyawanya bakalan lenyap lebih cepat!" Seseorang jongkok di depan Ina, mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya.

__ADS_1


Atha menyeret Zahra dengan tidak berperasaan. Gadis itu meringis saat bebatuan kecil mengenai p*nt*tnya yang bohai.


"Dasar! Cowok ga berperasaan!"


"Lu akan lihat seberapa tidak berperasaaannya gua!" balas pria itu sambil tetap menyeret Zahra. Membawanya ke jalan sepi belakang kampus.


"Lepasin gua! Siapa lu sebenarnya, hah?" Meskipun ia mengenal pria yang di depannya, tetapi saat dirinya menjadi seorang Ario, ia tidak mengenal apa itu Black Diamond.


Atha berbalik, laki-laki berjambul tosca tersebut menyeringai. "Mana pisau sama senjata lu tadi? Gua bener-bener terpukau loh, sama cara lu megang senjata dan pisau itu. Sepertinya lu udah terlatih untuk hal seperti ini."


Zahra menggeram, tak disangka ternyata Atha memerhatikannya sejak tadi.


"Lu sembunyiin di mana barang itu? Biar gua yang ambil!" Atha menyamakan tingginya dengan Zahra, berjongkok di depan tawanannya.


"Ga ada! Gua ga punya!" Kedua benda itu memang terjatuh saat ia tersungkur tadi.


"Alasan!"


Pria itu mencekik Zahra, tapi tidak terlalu kuat. Begitu saja sudah membuat wajah gadis di hadapannya memanas.


"Lep-lep-pasin, akhh."


"Gua! Malaikat maut lu. Jangan ngibulin gua kalau kematian lu mau gua percepat!" Pria itu berbicara sambil tetap mencekik Zahra. Gadis itu tidak bisa melawan, hanya sanggup menggerakkan kepala ke kanan-kiri yang sialnya, malah membuat lehernya semakin sakit. Kakinya pun juga tak bisa memberontak, b*stard itu juga memborgol kakinya.


Pria itu melepas cekikannya setelah beberapa detik, menunggu wajah dihadapannya membiru. Ia tertawa senang setelah melihat gadis itu terbatuk-batuk. Ia menyeret Zahra lagi sampai mobil, sudah tidak memerdulikan kedua barang itu. Lagi pula apa yang bisa Zahra lakukan dengan tangan terikat?


Pria yang saat ini masih bersama Ina memerintahkan anak buahnya untuk membawa seluruh bodyguard Zahra sebagai tawanan. Dan akan menjadikan mereka sebagai anak buahnya.


"Kenapa lu lakuin ini? Dia ga ada hubungannya sama kita!" teriak Ina tepat di depan wajah pria itu.


Pria berjaket dengan logo api itu tersenyum kecil. "Dia emang ga ada hubungannya sama kita, tapi dia yang berurusan sama keluarga gua. Setidaknya lu ga ngadu ke siapa pun, atau kalau enggak 3 jam dari sekarang Zahra bakalan tewas mengenaskan!"


Ina memukul lengan pria itu. "Lu jahat!"


"Of course, lu cuman baru tau jati diri gua yang sebenarnya. Dan setelah Zahra mati, lu yang bakal gua bunuh!" Ia berdiri, meninggalkan Ina yang terisak di tempat.


Ternyata ayahmu orang yang jahat, Nak, batin Ina sambil menunduk, menatap perutnya yang akan berusia 3 bulan.


"Bawa gadis ini ke rumahnya, usahakan tidak ada yang melihat. Kalau sampai ketahuan, kalian yang gua bunuh," ucapnya pada sisa anak buahnya.


Mereka menunduk takut. "Siap, Tuan." Kemudian berlalu, membawa Ina dengan paksa.


Guu janji bakal nyelamatin lu, Ra! Tunggu gua! batin Ina saat dirinya dibawa paksa.


Di lain tempat, Wahyu Hartarajasa yang sedang koma, menjadi kejang-kejang. Mungkin raganya yang berada di rumah sakit, tapi jiwa pria berambut putih itu pasti panik saat mengetahui signal bahaya yang ditimbulkan oleh cucunya.


"Dok, tolong selamatkan ayah saya!" Azkia terisak di pelukan suaminya, Vero.


"Kami akan berusaha Bu Azkia." Dokter itu masuk ke ruang ICU, tubuh Wahyu memang sudah dipindahkan sejak satu jam lalu. Dari luar Azkia dapat mendengar dokter itu berteriak, "Siapkan alat-alatnya, Sus!"


"Mas, bagaimana ini? Ayah?"


"Sabar sayang, kita sama-sama berdoa buat ayah. Semoga ayah baik-baik saja di dalam. Semoga ayah bisa melewati masa kritisnya ini." Vero menenangkan istrinya dengan mengusap punggungnya. Di dalam hati, Azkia mengamini ucapan suaminya.


Ardelia datang bersama omnya dengan wajah khawatir. Ardelia memeluk pria bergaya kasual tersebut. Mereka menyaksikan kakek dan ayah mereka yang kritis sedang di tangani dokter.


***


Jawab yahh.... kalian lebih suka make lo-gue atau lu-gua?


Yukk jawab... Jan kacang

__ADS_1


__ADS_2