
...DI PART INI KALIAN BEBAS MENGHUJAT PUTRA!! HUJAT SAMPAI MAMPUS!!!...
...*...
...Topeng bukan segalanya, karena dibalik topeng segala rasa dan luka ada bersamanya....
...~Zaria Marina Stevani~...
...****...
Putra keluar dari sebuah kamar yang habis ia pakai untuk menghabiskan sebagian malam. Ia melihat jam tangan yang dipakainya.
"Masih jam setengah sepuluh, nongkrong dulu kali ya," gumamnya sambil melangkah ke bartender.
"Bang, wine-nya segelas aja!"
"Nih!" Bartender memberikan segelas wine pada Putra. Pemuda yang mengenakan jaket kulit dengan warna coklat tersebut duduk di salah satu meja bundar.
Putra mengedarkan pandangan sambil menenggak wine miliknya. Mata coklat miliknya menangkap seorang gadis dengan gaun biru terbuka di belahan dan pahanya.
Gadis berambut tosca itu sedang merayu laki-laki haus belaian, yang berada di dekatnya. Putra lebih menajamkan penglihatan.
Tak lama Putra mengenali wajah itu. Gadis dengan pakaian terbuka tersebut sedang mabuk, dari yang Putra amati, gadis itu terlihat tertekan.
Mungkin dia ingin menghibur diri dengan mencoba bermain dengan orang-orang yang berada di club.
Putra merasa bersalah ketika melihat gadis itu, sepertinya gadis yang sedang berseteru dengannya itu sangat down, sehingga ia berani mengambil langkah yang tidak diinginkannya. Bahkan ia tahu, dirinyalah yang membuat gadis itu seperti ini.
...***...
Malam itu sekelompok anak muda sedang have fun di sebuah club. Mereka ialah Putra, Fandi, Ina, dan Ica. Mereka berempat berpencar untuk menemui pasangan masing-masing.
Waktu itu salah satu dari mereka sudah mabuk, akhirnya ia menengkan pikiran sebentar di salah satu kamar. Ia memilih tiduran.
Lama ia menutup mata sampai merasakan seseorang tengah mengusap-ngusap pipinya. Ia membuka mata, terkejut ketika melihat salah satu temannya sedang membelai lembut pipinya.
"Put-Putra! Lo–lo ngapain?" Gadis itu menepis tangan temennya yang masih ingin membelai pipinya. Matanya memandang sayu.
Putra duduk di sampingnya dan menatapnya lembut. Laki-laki itu menatapnya begitu dalam, hingga ia merasa jika dirinya terpantul di sana. Ia yang ditatap demikian tidak tahu harus apa. Tatapan Putra seperti memuja dirinya. Seakan terhipnotis, ia membalas tatapan laki-laki itu.
"Lo cantik banget malam ini." Putra membelai wajah gadis itu dengan ibu jarinya. Membuat darah gadis bergaun merah itu berdesir seketika, juga membuat jantungnya tidak dapat berdetak normal.
__ADS_1
Putra semakin gencar melanjutkan aksinya. Gadis itu terbuai oleh sentuhan lembut nan mengasikkan, hingga tak sadar dirinya telah masuk dalam perangkap seorang lelaki brengs*k. Gadis itu tampak memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan yang Putra lakukan padanya. Putra membuat dirinya seakan dunia ini miliknya. Hanya miliknya!
"Lo akan lebih cantik lagi kalau lo di bawah gue," kata Putra dengan suara bass miliknya. ******* kembali bibir pink itu. Gadis yang saat itu memejamkan mata langsung membuka matanya kembali.
"Maksudnya apa?" Kening gadis itu berkerut, menunjukkan bahwa ia tak paham dengan ucapan temannya.
Putra terkekeh, lalu mengusap bibir yang telah basah karena ulahnya. Dia mengusap lembut, pergerakannya seirama dengan dentuman hati sang gadis. Dia tersenyum sebelum melahap lagi bibir menggoda di depannya.
Putra melepas pag*tannya dan mencecap bibirnya puas. Dia menyeringai. "Aku milikmu malam ini!"
...***...
Seharusnya Putra tidak melakukan hal terlarang itu, tapi mau bagaimana lagi, saat itu pikirannya sedang kacau dan nafsunya sudah berada di ujung tanduk. Pikiran jernihnya sudah hilang, hanya kepuasan batin yang ia dambakan. Tak peduli bahwa gadis itu ialah sahabatnya, teman kekasihnya. Hanya karena nafsu, ia tidak memertimbangkan hubungan baik yang telah lama terjalin—tak peduli juga efek samping yang akan mereka berdua terima suatu hari nanti.
Putra segera menenggak tetes terakhir wine miliknya, b0erjalan mendekati gadis yang tengah dikerumuni pria dewasa yang sepertinya telah memiliki anak dan istri. Ia menghalau mereka, mencegah beberapa tangan usil yang akan menjamah tubuh temannya.
Gadis itu meracau, kesadarannya telah diambil alih oleh alkohol. Membuat pandangan matanya buram dan ingin pingsan. Ia mendorong dan memaki Putra yang menjauhkannya dari para pria hidung belang tersebut.
Putra melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Ina, gadis itu terus-terusan menolak. Tak kehabisan akal, Putra menggunakan salah satu kemampuannya untuk membuat gadis itu pingsan. Ilmu yang didapatnya dari bosnya, boleh digunakan jika hanya keadaan mendesak saja.
Setelah Ina pingsan, Putra segera mengangkat tubuhnya keluar dari club. Ia meminta satpam untuk membukakan pintu mobil lalu menidurkan di jok depan, di sampingnya. Memakaikan gadis itu sabuk pengaman, kemudian juga memasangnya pada diri sendiri.
Pemuda itu membawa Ina pulang ke rumahnya yang berada tak jauh dari lokasi Merpati Putih. Putra disambut oleh satpam yang membukakan pagar, ia memarkirkan mobil di halaman Ina yang luas.
Putra melepas sabuk pengamannya dan milik Ina, membawa gadis itu keluar. Membopong Ina masuk. Rumah itu terlihat sepi sehingga tidak ada orang yang menanyainya perihal sebab musabab Ina di gendongannya.
Seperti sudah hapal seluk beluk rumah, Putra menaiki tangga dan berjalan ke arah pintu coklat dengan tulisan 'Marina Room'. Ia memiringkan tubuh Ina agar merapat ke dadanya, menumpu gadis itu dengan satu tangan, sisanya memutar knop pintu yang tidak terkunci.
Kamar bernuansa hitam putih, dengan bed cover zig-zag bewarna hitam putih juga, karpet beludru bergambar pemandangan dengan warna hitam putih. Serta beberapa barang seperti, lemari, meja belajar dan beberapa pernah pernik kamar dengan warna hitam putih.
Putra merebahkan tubuh Ina diranjang, melepaskan jaketnya yang dikenakan Ina—secara perlahan. Kemudian menggantinya dengan selimut. Putra duduk di samping Ina yang masih memejamkan mata, mengusap pipi gadis itu pelan.
"Maaf," sesalnya.
Putra mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka aplikasi chating yang berisi teman sepermainannya dan spam teror dari kekasihnya. Ia keluar dari aplikasi WhatsApp kemudian beralih membuka Instagram. Menimang-nimang, apa harus menghapus postingan aib orang di akun fake miliknya? Meskipun akun fake, tapi akun itu sudah memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut. Maka dengan cepat pula postingan aib itu menyebar.
Putra menatap wajah Ina yang damai dalam tidurnya, menghela napas pelan. Akhirnya ia menghapus postingan itu dan membuat postingan lagi dengan harapan nama sahabatnya kembali baik. Ia juga memperingati netizen untuk berhenti menghujat sahabatnya dan menyuruh mereka untuk melupakan postingan dan kejadian kemarin.
Setelah selesai dengan ponselnya, Putra membaringkan diri di karpet beludru yang berada di samping tempat tidur. Ia mengambil bantal yang tak terpakai lalu mengambil selimut yang berada di walk in closed yang berada di kamar itu. Putra dan lainnya memang pernah menginap di rumah Ina, itu sebabnya laki-laki itu tahu banyak tentang rumah ini.
...****...
__ADS_1
Putra mengerang dalam tidurnya lalu mulai membuka mata. Pemuda itu mengucek matanya yang baru 50 persen terbuka. Ia duduk dan menguap. Diliriknya gadis yang masih nyaman dengan tidurnya. Putra melakukan peregangan otot ringan kemudian membuka jendela, memersilahkan cahaya mentari memasuki ruangan.
Pemuda itu melipat selimut yang dipakainya, kemudian mengembalikan bantal ke sisi Ina dan meletakkan selimut itu di atasnya. Putra berjalan ke kamar mandi. Setelah sepuluh menit membersihkan diri, ia pergi ke dapur—memutuskan untuk membuat sarapan.
Putra membuka kulkas, hanya ada telur. Sementara di laci ada mie instan goreng. Akhirnya Putra memutuskan untuk membuat mie dan telur ceplok. Ia menutupi makanan itu dengan tudung saji agar tidak ada hewan yang hinggap di makanannya.
Setelah selesai, Putra kembali ke kamar Ina. Laki-laki itu duduk di pinggiran ranjang, tangannya terulur menepuk-nepuk pipi Ina.
"Na, bangun. udah pagi, nih."
"Eughh." Ina hanya menggeliat kemudian mengeratkan pelukannya pada guling yang bermotif senada dengan bad cover-nya.
"Heyy, bangun. Dah pagi nihh." Putra mengunyel-ngunyel pipi Ina, membuat tidur Ina terganggu.
Ina menepis tangan Putra yang sedang memainkan pipinya, dengan cara meninju dan menusuknya. "Apasi? Ganggu aja!"
"Bangun. Lo ga kuliah?" Putra menjauhkan tangannya dari wajah Ina, menatapnya serius.
Ina duduk, lalu menggaruk kepalanya. Seperti ada yang aneh dengan pemandangannya saat bangun, apa ia masih di alam mimpi?
Ina membulatkan matanya ketika menyadari bahwa Putra berada di kamarnya. Ia menimpuk Putra dengan gulingnya.
"Lo ngapain di sini?" Ina memukuli Putra brutal.
"Eh-eh, apaan nih? Sakit woy sakit." Putra mengangkat kedua tangannya seakan minta ampun.
"Lo kok bisa masuk sini? Yang ngijinin lo siapa juga?"
"Hee? Yang ada gue yang bawa lo balik. Lo ga ingat kalau semalem lo di club, kalau gue ga bawa lo balik, lo masih di sana sama om-om."
"Diem lo!"
"Okey-okey, gue diem." Keadaan menjadi canggung, Putra menghela napas, menoleh pada Ina yang mengalihkan pandangan. "Lo masih marah sama gue?"
Bukannya balas menoleh, gadis dengan rambut acak-acakan itu malah menunduk.
Putra meraih tangan Ina. Gadis itu mencoba menarik tangannya, tapi Putra malah menggenggamnya lebih erat.
"Lepasin!" Ina menarik tangannya, seakan tangan Putra berlapis bakteri mikroba jahat yang perlu dihindari.
Putra menatap gadis dihadapannya sendu. "Gue minta maaf, beneran! Lo mau kan, maafin gue?"
__ADS_1