
Pertama, aku mau minta maaf selama beberapa Minggu ini belum bisa update... akan ku bayar bertahap yaa... Minggu kmaren aku ada pbak kampus, abis itu ada resume... jadi belum bisa nulis. Terimakasih buat yang selalu dukung AGB, sehat2 selalu ya kalian, semoga impian kalian tercapai. Selamat membaca.
...****...
Sudah terhitung satu minggu mereka berlibur di Raja Ampat, kini saatnya mereka harus kembali ke Jakarta.
Beberapa dari mereka telah siap dengan barang yang akan dibawa pulang. Mereka menunggu di ruang utama sambil menikmati acara kartun.
"Woii, udah belum?" teriak salah satu perwakilan remaja laki-laki yang sudah bersiap di ruang utama, mereka sedang menunggu para gadis yang masih di kamar, membereskan barang ataupun membersihkan diri.
Bibi mengomeli remaja yang berteriak tadi, menyuruhnya menunggu dengan tenang. Wanita itu juga ikut menunggu bersama remaja laki-laki. Ia sudah berbenah semalam dan memperingatkan gadis-gadis untuk menyiapkan barang mereka. Tapi hingga kini belum ada yang keluar dari kamar, kecuali Zahra yang pagi-pagi buta sudah keluar penginapan. Entah kemana perginya gadis itu, sampai saat ini belum menampakkan diri. Bahkan, ia melewatkan waktu makan paginya.
Seseorang mengetuk pintu, seorang gadis dengan jaket kulitnya masuk dengan membungkuk. Matanya mengerling, mencari seseorang yang ingin dicapainya, memberi kode lewat bahasa mata.
Setelahnya, gadis itu keluar ruangan, membuat orang yang berada di situ bertanya-tanya.
"Dek ...?"
"Biar gue aja, Bang." Laki-laki dengan jaket bomber mengikuti langkah gadis yang meninggalkan tanya tersebut. Ia berjalan keluar, mencari kemana perginya sang kekasih.
"Ra ... Zahra!" Laki-laki itu celingukan, netranya tak menemukan gadis berjaket kulit itu. Ia berjalan ke samping penginapan, menemukan kekasihnya yang tampak memuntahkan sesuatu. "Zahra ...." Ia berlari mendekat, memandang kekasihnya itu khawatir. Putra memijat tengkuk kekasihnya, agar cairan itu lebih mudah keluar.
Cairan kental dengan warna merah hati itu menghiasi tanah berpasir di sekitarnya. Kening Putra berkerut menatap cairan yang dimuntahkan kekasihnya. Kini ia paham untuk apa gadis itu pergi pagi-pagi buta.
Zahra merogoh sakunya, mengeluarkan sebungkus tisu dan sebotol air dengan kemasan 220ml. Membersihkan mulutnya yang terkena lelehan darah dan menggunakan air itu untuk berkumur. Ia mengeluarkan lagi air dengan kemasan yang sama. "Putra, tolong," rintihnya sambil memegangi perut.
__ADS_1
Putra menggeleng keras, laki-laki itu menutupi cairan merah dengan pasir di sekitarnya. Ia membawa kekasihnya menjauh dari penginapan, tidak terlalu jauh juga—hanya ke tempat yang bisa dibuat duduk selain di sudut teras penginapan.
"Kenapa lo harus nekat sih, Ra?" Putra mengacak rambutnya kesal. "Kita ke rumah sakit, ya?"
Zahra menggeleng. "Putra, sakit banget. Mana obatnya? Lo bawa, kan?" Karena Putra yang hanya diam saja, gadis itu membuka bomber yang dipakai kekasihnya.
Putra menghentikan tangan Zahra yang mencari-cari sesuatu di balik pakaiannya. "Luka lo bisa tambah parah kalau ga dapat penanganan yang sesuai!"
"Please, Put. Lo harus kasih obat itu!"
Putra menghela napas, sebenarnya ia tak tega. Tapi jika dibiarkan begini terus, lama-lama akan ada sistem tubuh yang rusak. Dengan berat hati, laki-laki itu mengeluarkan tabung berisi pil putih panjang.
Zahra langsung merebut benda itu ketika Putra mengeluarkannya. Membukanya dengan rakus.
"Zahra, jangan melebihi dos—" Perkataan Putra terhenti ketika Zahra telah membuka airnya lalu menelan tiga pil itu sekaligus. Harusnya gadis itu hanya meminum satu buah, bisa-bisa kekasihnya ini overdosis.
"Kenapa lo jalan sendiri, Ra? Lo bisa panggil gue atau anak buah lo!"
Zahra terdiam, matanya menerawang dalam. "Mereka ternyata udah mengintai kita sejak datang ke sini, waktu di puncak kars itu, gue lihat mereka mengendap-endap pengen nyentuh bibi dan lainnya. Tapi setelah ngelihat keberadaan lo, mereka mengurungkan niatnya. Berhari-hari gue merasa diikuti, tapi gue ga berhasil nemuin mereka. Gue capek, merasa was-was itu ga enak banget. Waktu kita ke Piaynemo itu, mereka udah mulai berani. Mereka hampir nyerang gue waktu itu, terus lo ingat? Waktu gue tiba-tiba buat kerusuhan dan kita mengganti sejumlah properti yang gue rusak? Gue menghindari mereka, Put."
"Apa yang mereka lakuin sama lo?"
Zahra diam, cairan bening itu kembali keluar. "Kenapa kalian ga ada yang keluar? Gue ga bawa orang ke sini, gue kira mereka ga akan seberani itu. Gue udah ga bisa mikir jernih, akhirnya gue mutusin buat keluar sendiri. Mereka licik, main kroyokan, gue benci."
"Kenapa ga ngomong dulu sama gue? Kita bisa cari solusi bareng, Ra." Putra memegang kedua bahu gadisnya, menatap gadis yang tengah menunduk itu intens.
__ADS_1
"Gue udah buntu, Put. Buntu, asal lo tau!" Zahra berteriak, melampiaskan kekesalannya pada Putra, gadis itu menyeka air matanya kasar.
"Gue boleh lihat lukanya?"
Zahra mengangguk lemah. "Punggung, leher dan betis. Gue ga tau pasti, tapi kelihatannya organ dalam gue juga ada yang luka."
Putra melepaskan jaket Zahra perlahan, mengangkat kaus oblong yang menampakkan goresan-goresan kuku, tidak-tidak, ini goresan pisau yang disengaja. Lehernya pun ada yang terluka, ada darah yang menggenang di beberapa titik. Pantas saja Zahra mengurai rambutnya. Tapi ia bingung, bagaimana benda tajam itu menembus kulit kekasihnya yang terlindungi jaket kulit?
"Betis?"
Zahra menatap Putra tak yakin, tapi ia menaikan legingnya dengan mendesis. Begitu melihat yang terjadi, gadis itu bisa melihat kemarahan di mata kekasihnya.
Putra meraup kasar wajahnya, sebelah tangannya langsung memeluk pinggang Zahra. "Jadi, lo tadi ...."
"Gue ga mau semuanya tau, Put. Makanya gue nahan sakitnya, toh gue udah terbiasa. Mereka tetap harus pulang hari ini, dan kita juga harus pulang!"
Putra terkejut mendengar kalimat terakhir Zahra. Gadis itu menggeleng ketika Putra menatap penuh tanya.
"Selama di kamar, kedua abang gue selalu ngawasin. Gue ga bisa bebas, ga bisa masukin pisau, revolver or glock, shot gun. Semuanya udah ada di tas, tapi pandangan mereka ga lepas dari gue. Tau gini gue ga milih sekamar sama mereka."
Putra mengerti, karena posisi Zahra terdesak, dengan sangat terpaksa gadisnya itu melepaskan jaket yang bisa digunakan sebagai senjata. Sebagai gantinya, Zahra harus mengorbankan dirinya karena kekurangan pelindung. Ini menjawab pertanyaannya, kenapa saat membuka jaket Zahra ia menemukan kaus kekasihnya yang robek, tapi bagian luar jaket yang tetap utuh?
"Kita harus tetap di sini, Ra. Lo harus tetap ke rumah sakit. Sepertinya bos juga belum tau pergerakan mereka, beliau hanya menegaskan jika harus berhati-hati seperti biasa. Gue juga ga fokus dan ga becus jagain lo."
"Apa kita bener-bener ga bisa pulang sekarang?" Zahra menatap pacarnya penuh harap. Putra mengeratkan pelukannya, laki-laki itu menggeleng tegas. Akan ia urus semuanya agar kekasihnya itu mendapatkan perawatan yang maksimal. Terutama kakinya yang harus segera ditangani, betisnya itu terkena tembak dan pendarahannya tidak terlihat karena celana gelapnya yang menyerap darah.
__ADS_1
Keduanya tidak sadar jika ada seorang gadis berambut sepinggang tengah memerhatikan mereka sejak Putra mengikuti Zahra keluar. Ia selesai berkemas saat Zahra pulang, mereka terlalu fokus dengan gadis itu hingga tak menyadari jika dirinya telah usai. Ia mengetahui semuanya yang mereka lakukan, luka-luka di tubuh Zahra pun ia tahu. Jujur ia terkejut, tidak pernah ia lihat luka separah itu. "Apa sebenarnya yang terjadi sama lo, Ra?"