Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
90. Cerita Rio


__ADS_3

Wahyu meletakkan tubuh Zahra dengan hati-hati. Mereka membawa ke ruang tamu, jika membawa ke kamar Zahra akan jauh dan harus menaiki tangga.


"Sejak kapan adikmu seperti ini, Son?" tanya Wahyu. Pria itu duduk di pinggiran ranjang, masih mengamati Zahra yang masih bernapas tersengal-sengal. Ia menoleh kembali pada Rio, anak itu masih berdiri sambil memandangi Zahra. "Kapan dokter itu akan datang?"


"Sepertinya masih perjalanan, Pak," jawab Rio sambil menghirupkan inhaler, sesekali mengecek hidung dan nadi adiknya. Ia jongkok di samping ranjang Zahra.


Wahyu mengamati mereka dalam diam. Kenapa disaat kunjungannya, cucunya malah seperti ini. Ia mengamati sekeliling ruangan ini, memang kamar tamu, tidak ada yang spesial. Tapi besarnya, nyaris menyamai kamarnya. Ia rasa, kamar di rumah ini lebih luas daripada kamar tidur di mansion-nya.


"Panggil aku Kakek, Son!" perintahnya sambil menatap tajam Rio yang juga menoleh ke arahnya. "Ceritakan padaku, apa yang membuat adikmu seperti ini!"


Rio mengangguk, beberapa kali memberikan napas tambahan pada Zahra sebelum ia memberikan inhaler itu. "Kembalilah, Ra. Jangan biarkan mereka menjeratmu, bangun Dek," Rio menepuk nepuk pipinya, kemudian ganti mengecupi wajahnya.


Pria itu beberapa kali menghela napas. "Baiklah, Kek. Waktu itu sa–Rio baru pulang kantor dan ingin bertemu Zahra, rasa-rasanya ... kangen banget. Tapi saat Rio ingin menemuinya kamarnya kosong, lalu Rio tanya sama bibi juga, Zahra tidak ke sana. Rio coba hubungi temannya tapi juga tidak ada yang tahu. Kemudian Rio kirim bodyguard, soalnya perasaan Rio ga enak. Zahra sudah lama tidak seperti itu, biasanya dia selalu memberi kabar.


"Lalu saat makan malam, Rio mendapat kabar dari bodyguard jika mereka hanya menemukan dompet dan ponsel Zahra di aula belakang kampus. Ada banyak jejak kaki dan bekas orang diseret. Jadi kemungkinan, Zahra diculik.


"Zahra tidak pulang malam itu, bodyguard yang Rio tugaskan mengawasi Zahra juga menghilang. Besoknya Rizki—laki-laki yang tadi di dekat Zahra—mendapatkan kabar dari orang suruhan kami dan juga asisten di rumah lamanya bilang jika Zahra ada di sana dengan keadaan mengkhawatirkan.


"Kami membawanya ke rumah sakit, selama diperjalanan Zahra juga sempat kehilangan napasnya beberapa detik. Ia banyak kehilangan darah akibat luka-luka sayatan di sepanjang lengan kaki dan wajahnya, juga tembakan dan tusukan di kakinya.


"Kurang lebih satu Minggu Zahra tidak sadarkan diri, selama itu kami tak lepas dari tempat tidurnya. Kami berjaga bergantian. Saat-saat ia akan sadar, dia mulai mengalami sesak napas seperti sekarang.


"Dokter mengatakan, jika racun yang telah diserap tubuhnya bekerja, memperburuk keadaan emosionalnya yang kadang terganggu.


"Zahra kecil tinggal dengan keluarga ayah sambungan di Bandung. Setelah ayahnya meninggal, ma–mami selalu disiksa oleh paman dan bibinya. Anak kecil seperti mereka tidak tahu harus berbuat apa, hal itu meninggalkan kenangan buruk yang menjadi momok untuk Zahra


"Zahra mempunyai trauma sejak ibu kami meninggal, saat itu ia menyaksikan sesuatu yang harusnya anak sesuaiannya tidak lihat. Bahkan, proses pemakaman ibu kami diurus oleh tetangga

__ADS_1


"Setelah kejadian itu, fisik dan batinnya terus disiksa hingga beberapa bulan. Tetangga di dekatnya menawarkan diri untuk merawat Zahra dan Raisha, perempuan yang di sana tadi, dia anak ayah Zahra dengan istri pertamanya. Namun, paman dan bibinya menolak keras dan mengurung keduanya.


"Saat pasutri kejam itu ada urusan si luar kota, keduanya sangat lega. Keduanya memutuskan untuk kabur. Pada akhirnya, Raisha meninggalkan Zahra, Raisha merasa ... jika dirinya terus bersama Zahra ... adiknya tidak akan aman.


"Zahra sendirian hidup di tepi jalan, selalu menolak orang-orang yang ingin menolongnya. Hingga pada hari ketiga, Papi bergerak ke Bandung. Karena sudah lima bulan ayah Zahra tidak memberi kabar.


"Papi menjadi curiga, jika sesuatu terjadi pada mereka. Akhirnya Rio dan Papi ke Bandung, berbekal alamat yang pernah diberikan Papa pada Papi.


"Tetangga memberitahu jika kedua anak itu kabur dan dikabarkan pasutri kejam itu sedang mencari mereka. Zahra ditemukan di tepi jalan tengah menangis, butuh hampir satu jam untuk membujuk Zahra. Anak itu kehilangan kepercayaannya pada orang lain. Terlebih Raisha meninggalkannya.


"Papi membawa kami pulang ke Jakarta. Besoknya ia kembali ke Bandung untuk mencari Raisha dan pasangan itu. Serta menyelesaikan kasus kematian Papa dan Mami.


"Dari orang-orang yang Papi kirim, mereka menemukan hal tidak wajar dalam kasus kematian keduanya. Kasus Papa akhirnya selesai setelah diselidiki Papi selama satu bulan penuh. Polisi berhasil menangkap pelaku sabotase dan komplotannya, tapi tidak dengan otak mereka. Dia masih lolos dan dikejar hingga sekarang, tapi tidak dengan mami. Kasusnya ditutup karena para saksi mata yang berbuat melapor tiba-tiba hilang dan beberapa saksi takut untuk melapor, melindungi nyawa dan keluarga mereka. Pelaku mengancam mereka.


"Sedangkan saksi utama, Zahra sendiri bungkam hingga penculikan tempo hari. Setelah penculikan itu Zahra baru mau bicara tentang kasus itu. Otak dari kecelakaan Papa Johan, pembunuhan Mami dan penculikan Zahra itu sama. Polisi masih mengejar mereka hingga saat ini. Mereka belum diketahui keberadaannya di mana, tapi mereka melakukan penyerangan ke rumah ini beberapa waktu lalu. Cctv kami dirusak dengan memasukkan virus.


"Graha Bima Lesmana, nama aslinya adalah Dioniel Alfareza Adihtama. Media tidak ada yang tahu jika ia anak angkat keluarga Adhitama, jadi dia bebas melakukan sesuatu tanpa takut identitasnya terbongkar. Dia ke Jakarta untuk menyusul Zahra dan Raisha. Zahra disembunyikan oleh Papa dengan merubah, memalsukan orang tuanya. Sedangkan Raisha selama di Jakarta, sebelum bertemu dengan kami, dia hidup dengan keluarga yang kurang berada. Hanya keluarga itu yang mau menerimanya, sekalipun keadaan mereka juga mengkhawatirkan. Anak itu juga mengganti namanya.


"Ketakutan kami berawal saat pria itu menunjukkan kemunculannya di Jakarta. Salah satu anak buahnya berbuat menikam Zahra saat kami berjalan ke mall di siang hari. Setelah itu, teror kerap kami terima.


"Selama pria itu belum masuk jeruji besi, keluarga ini tidak akan pernah tidur nyenyak. Itu selalu menjadi sumber ketakutan kami." Rio menyelesaikan ceritanya, ia menyeka air matanya yang sempat keluar. 


Wahyu sempat menahan napas ketika Rio menceritakan segala kejadian dengan singkat. Ia menyesal kenapa tidak segera menemukan anak dan cucunya, mendampingi mereka melewati masa yang berat ini.


Rio menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ia harus mengontrol emosinya setiap kali membicarakan hal ini. Pria itu merasakan seseorang menarik ujung kausnya. Ia menoleh ke samping.


Mata cokelatnya membola, mendapati Zahra tengah menatapnya dengan senyum tipis. Juga terdapat sisa-sisa air mata di pelupuk adiknya, manik itu juga masih terlihat berkaca-kaca. Ia menghapus air itu, tersenyum merekah, kemudian memeluknya sekilas. Memeriksa denyut nadinya dan memeriksa gerak napas Zahra.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan?"


Wajah Zahra masih pucat tapi tidak sepucat tadi. Tangannya yang lemas terangkat menunjukkan dadanya, suaranya masih terdengar lemah. "Sakit ...."


Rio mengangguk, ia segera mengatur bantal Zahra agar lebih tinggi, agar memudahkannya untuk mengambil napas. sementara tangan kanannya menumpu kepala adiknya.


Ketika manik cokelat Zahra bertemu dengan goldenrod milik Wahyu, gadis itu hanya sanggup tersenyum tipis. Tenggorokannya kering dan agak sedikit nyeri. Ia belum bisa terlalu banyak bicara.


Melihat Zahra yang melihat terus ke arah galon di sudut ruangan, ia beranjak. Membalikkan gelas itu lalu mencucinya terlebih dulu. Lalu baru mengisinya dengan air hingga penuh. Wahyu memberikan air mineral itu, bersamaan dengan Rio yang telah selesai membenahi bantal Zahra. Ia sedikit mengangkat kepala Zahra, mendekatkan ujung gelas.


"Terimakasih."


Wahyu tersenyum, mengusap rambut Zahra, aroma strawberry yang telah ia rindukan. "Sama-sama."


"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Rio, tangannya menerima gelas dari Wahyu menyimpannya di nakas.


"Cerita."


"Sejak Kakak bercerita?"


Zahra menggeleng.


"Lalu apa?" Rio tampak berpikir sebentar. "Oh, terbangun karena cerita Kakak?"


Zahra tampak mengangguk. Setiap tarikan napasnya masih terasa berat. Rio segera mendekatkan ujung inhaler itu pada hidung adiknya.


Zahra menggeleng, menepuk dadanya pelan. Tangannya melambai menghadap Rio. Gadis itu kembali menarik napas, memejamkan mata sesaat.

__ADS_1


Zahra menoleh ke samping, semua orang ada di depan kamarnya. Mereka melihat dari luar, karena pintunya yang terbuka. Melihat Zahra yang kesulitan bernapas membuat mereka menunggu di luar. Gadis itu memandang sayu pada orang yang juga melihatnya, ia tersenyum tipis. Kembali menepuk dadanya.


__ADS_2