Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
87. Kumpul Keluarga


__ADS_3

Zahra dan ketiga saudaranya tengah berkumpul di ruang keluarga dengan televisi, yang menayangkan serial kartun Spongebob. Hari Minggu ini mereka berempat memutuskan untuk quality time di rumah saja. Awalnya mereka ingin menonton bioskop, karena terlalu mager untuk keluar rumah akhirnya mereka memutuskan untuk menonton televisi saja.


Zahra dan Rio berduaan di sofa panjang. Rio duduk di ujung sofa, sedangkan Zahra berbaring dengan paha Rio sebagai bantalan.


Rizki sedang membantu Raisha mempelajari laporan keuangan perusahaan, serta mengajari adik barunya mengetahui trik-trik meraih keuntungan besar dalam perusahaan.


"Kok berhenti, Kak?" tanya Zahra, ketika Rio berhenti menyuapkan snack ke mulutnya.


"Sabar, ini masih Kakak buka," jawab Rio, sambil membuka bungkusan snack baru. Tentu saja snack aneka keripik dengan berbagai rasa yang jadi serbuan Zahra.


"Makan mulu lo, sini ikut belajar!" ucap Rizki agak sengak.


"Dih, apaan, sih? Kekurangan murid ya, lo? Gue udah kuliah tiap hari ya, capek lah. Kak Raisha aja tuh, gue kan ga megang perusahaan, jadi ga perlu lo ajarin trik-trik begitu," balas Zahra heboh. Tidak tahu saja kakaknya ini jika ia juga memegang perusahaannya sendiri. Tapi ia juga belum siap untuk membagi info itu untuk saudara-saudaranya.


"Ya lo bisa bantu-bantu kita lah, Ra. Cowok lo kan juga pewaris utama, ntar siapa yang bantuin dia kerja, seenggaknya ngasih masukan. Jadi lo harusnya belajar dikit-dikit lah," ucap Rizki tak mau kalah.


"Yehh, ngarep aja gue jadi murid lo. Devan ga minta tuh gue belajar bisnis," ucapnya tak peduli. Gadis itu merubah posisinya, menyandar pada Rio. "Kak Rio aja ga sewot kek lo."


Rizki msngidikkan bahu lalu kembali mengajari Raisha. Zahra tahu jika Rizki berniat baik, tapi untuk saat ini—dirinya hanya ingin bersantai.


"Kak Rai, emang lo ga capek apa dari tadi belajar mulu?" tanya Zahra pada Raisha. Mulutnya kembali mengunyah keripik rasa bakso. Keripik yang dipesan langsung dari pabriknya khusus untuk putri Zahra.


Raisha meringis mendengarnya. "Ya ...." Milirik Rizki sekilas, merasa tidak enak. "Capek sih engga, cuman agak je–jenuh aja."


Rizki menoleh pada Raisha, meletakkan bolpoin lalu menyodorkan segelas air dingin pada gadis itu. "Minum dulu."

__ADS_1


Raisha mengangguk, mengambil sodoran air itu. Meneguk air itu, sekarang otaknya sudah agak jernih kembali. "Kayaknya gue cuma capek deh, bukan jenuh. Gimana kalau istirahat dulu, Riz?"


"Ya udah, kita istirahat dulu. Lain kali kalau capek bilang aja, jangan sungkan. Belajar juga ada batas wajarnya, sewaktu-waktu bisa kok dilanjut lagi. Tapi kalau emang Lo udah capek jangan dipaksain." Rizki tersenyum, kemudian mengacak rambut Raisha sekilas. "Beresin dulu, baru nonton. Ok?"


Raisha mengangguk lalu tangannya ke atas membentuk pose hormat. "Siap, Kapten!" Ketiganya terkekeh. Rizki membantu Raisha membereskan beberapa note dan dokumen, mengembalikannya ke kamar.


Beberapa saat kemudian keduanya sudah kembali ke hadapan Rio dan Zahra, ikut menonton televisi sembari menghabiskan snack.


"Ra?" panggil Rizki saat keduanya tidak sengaja bertatap.


"Kenapa?" Zahra curiga pada kakaknya, raut wajah Rizki yang tersenyum mencurigakan membuatnya menduga sesuatu yang negatif.


Rizki memunculkan smrik-nya, berpindah duduk di samping kanan Zahra. Mulai menjahili adiknya itu. Mengecupi seluruh wajahnya yang membuat Zahra kesal. "Lo ga ada niatan nyeritain tahapan jadian lo sama Devan gitu?"


Mendengar pertanyaan Rizki, Rio dan Raisha menjadi tertarik. Ketiganya menatap Zahra dengan aura iblis masing-masing.


"Ayo, Dek. Berbagi kesenangan dengan saudara itu sangat bagus." Rio mencekal lengan Zahra erat, ketika adiknya itu akan beranjak.


Zahra menatap Rizki dengan kesal, bibirnya mengerucut, matanya menyipit kesal. Tangan satunya mencubiti pinggang Rizki. "Ini Kak Rio sama Kak Rai jadi kepo gara-gara lo ya ... terima, nih!""


Rizki tergelak, bukannya sakit tapi geli. Cubitan Zahra kali ini seperti tidak niat, malah cuma menoel-niel pinggangnya. Bagaimana Rizki tidak kegelian jika seperti itu?


Selesai dengan cubitannya, yang sebenarnya malah berupa toelan tak jelas—zahra memeluk Rizki erat. Menyandarkan kepalanya di dada bidang milik sang kakak. "Rasanya seneng banget, sulit dilukiskan dengan kata-kata." Setelahnya gadis itu langsung menyembunyikan wajah di dada Rizki, ia salah tingkah sekarang.


Lebih tepatnya malu pada Rio, dulu memang Rio yang menyarankan agar ia lebih baik putus saja dengan Putra—sewaktu masih menjalin hubungan dengan pemuda itu, saat Rio masih belum memberikan restunya. Ia menolak keras saat Rio menyodorkan Devan sebagai kandidat untuk menjadi kekasihnya.

__ADS_1


Namun kini, ia malah terperosok dalam pada pesona pemuda itu. Hahhh, ia termakan ucapannya sendiri, bahwa tidak akan dekat-dekat dengan Devan sampai kapan pun. Kenyataan kini berbanding terbalik, ia mencintai sosok yang tidak disukainya di masa lalu. Kehadirannya malah membawa dampak positif untuk kesehariannya di kampus. Ia sangat berterimakasih pada Devan, sosok pemuda dengan mata hazel yang memukau—yang sekarang menjabat sebagai kekasihnya.


"Salting tuh, gue yakin dia lagi senyum-senyum sendiri," ucap Rio mengejek. Ketiganya terkekeh.


Zahra akhirnya kembali memunculkan wajahnya, namun posisinya tak berubah. Tetap bersandar di tubuh Rizki. Bibirnya mengerucut sebal, kakinya naik ke sofa. Mendorong-dorong paha Rio dengan kakinya.


"Kakak kayak ga pernah kasmaran aja," cibirnya.


"Tapi gue ga jual mahal kek lo, Dek." Rio menyugar rambutnya ke belakang, sesuatu yang tampak menyebalkan di mata Zahra.


"Hah, kata siapa ga jual mahal? Gue rekam juga tuh curhatan Kakak malam-malam. Gue puter juga nih di sini!" balas Zahra kesal.


Rio terkekeh, menatap Zahra dengan bibir terangkatnya. "Nyatanya lo ga punya rekanan itu, kan?"


"Ya ... tapi, kan ...," ucapan Zahra menggantung, sebab bodyguard tiba-tiba muncul di samping Rio.


Setelah memahami raut Rio, bodyguard itu mulai menjawab. "Maaf Tuan, Nona. Ada Tuan Wahyu Hartarajasa, ingin bertemu dengan penghuni mansion ini."


Keempatnya terkejut, tentu mereka mengenal nama itu. Salah satu konglomerat yang masih memiliki darah biru dan merupakan orang yang merajai elektronika bidang komunikasi. Perusahaanya merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara. Apalagi Zahra, ia tentu sangat mengenal konglomerat itu.


Pertanyaan mereka berempat adalah? Untuk apa konglomerat itu mendatangi mansion mereka? Apalagi kata bodyguard, ia tidak datang sendiri dan diantaranya mereka ada Revan. Ya, Revan.


"Benar, Tuan. Mas Revan temannya Tuan Rio ada bersama rombongan mereka." Bodyguard itu memperjelas informasinya.


"Baiklah, persilahkan mereka masuk. Saya akan menyusul sebentar lagi." Rio mengusir bodyguard itu. Pria itu sedikit merapikan rambutnya dan membenahi bajunya yang tampak berantakan. Menatap ketiga adiknya yang belum membuka suara. "Kalian tunggu di sini, biar gue yang menemui mereka."

__ADS_1


Menyembunyikan ketiga adiknya ialah yang Rio lakukan, untuk saat ini ketidakpastian siapa keluarga mereka itu lebih baik, apalagi kondisi menemui salah satu orang terkemuka. Hal ini bisa saja menjadi bumerang untuk keluarganya.


Ketiganya mengangguk patuh. Raisha memelankan volume televisi, lalu memainkan ponselnya.


__ADS_2