
...Sakit itu menyerang kembali. Saat diri ini lalai dalam menjaganya. Kelalaianku, kembali kuulangi. Kesalahanku ini, membuatnya kembali merasakan luka yang telah lama hampir hilang. Dia kembali dengan lebih buruk dari sebelumnya. Pi, mi, maafkan Rio karena telah gagal menjaga permata kita....
...***...
Rio mengusap pipi Zahra, pria itu duduk di samping ranjang adiknya. Kemudian membaringkan tubuhnya di samping gadis kecilnya. Tubuhnya menyamping menatap Zahra, yang terlelap di alam bawah sadarnya.
Rio memeluk Zahra dari samping, pria itu mengusap lembut pipi adiknya. Bahkan dalam keadaaan seperti ini, Zahra masih tetap cantik, hanya saja sedikit pucat. Ia merindukan manik coklat itu, manik yang sama dengan yang ia miliki.
Rio menatap wajah itu. Perlahan air matanya mengalir, ketika mengingat dirinya dan Rizki menjumpai Zahra kala itu.
Rio mengendus aroma Zahra. Aromanya masih sama meskipun gadis itu terbaring dan hanya dibersihakan dengan air hangat saja tubuhnya.
Telah empat hari pelupuk itu terpejam, selama itu pula Putra dan lainnya datang menjenguk. Biasanya mereka akan datang setelah jadwal kuliah mereka selesai.
Setelah membersihkan diri sepulang bekerja, Rio selalu bertandang ke kamar sang adik. Hal yang sama selalu dilakukan oleh Rizki. Zahra hanya mendapatkan nutrisi dari selang infus yang menancap di lengannya.
Keluarganya memutuskan agar Zahra dirawat di mansion ini, tidak ada yang menjaga selain bodyguard saat di rumah sakit. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jika di rumah, Bi Heni bisa bolak-balik ke kamar si bungsu. Perawat yang bertugas biasanya tiba saat mengganti cairan infus yang telah habis sekaligus mengganti perban.
"Kakak merindukanmu .... Apa kamu tidak merindukan kakak? Kakak minta maaf karena telah lalai dalam menjagamu, maafkan kakak princess," gumam Rio pelan, ia menggenggam tangan kanan Zahra yang bebas. Pria itu menggesekkan pangkal hidungnya pada pipi sang adik.
...***...
Rio dan Rizki sampai di mansion pribadi milik Rizki, kedua pria itu segera masuk untuk mengetahui keadaan adik kecil mereka.
Mereka sangat terkejut ketika mengetahui keadaan sang adik. Mereka mendekat ke tempat dimana adik mereka terbaring tak berdaya. Keduanya berlutut di samping sofa. Wajah mereka sama-sama menatap keadaan princess-nya dengan saksama.
"Lebam ini ...," Rizki bergumam pelan, ia jongkok di samping sofa. Adiknya terbaring dengan wajah pucat, wajahnya dipenuhi sayatan dan luka lebam.
"Akan kuhabisi siapa pun yang telah menciptakan luka-luka ini," desis Rio tajam.
Pria itu terkejut begitu melihat kaki Zahra, darah merembes dari betis dan pangkal pahanya. Maniknya beralih ke atas, lengannya penuh sayatan dan lengan kanannya kulitnya terkelupas sedikit. Lehernya membiru, di sekelilingnya juga banyak bekas sayatan. Sepertinya mereka mencekik Zahra.
Rio berdiri, tangannya terkepal. "Bibi," panggilnya dengan berteriak.
Wanita berbaju daster itu mendekat dengan tergopoh-gopoh, manik coklat itu menggelap. Suara yang biasanya ringan berwibawa kini bertambah berat. Wanita itu menyadari jika salah satu tuan mudanya tengah murka.
"Kapan dokter itu akan tiba? Anda tidak menjelaskan keadaan adik saya?"
Wanita itu bergetar, kepalanya menunduk. "Maaf, Tuan. Saya sudah menghubungi dokternya, mereka baru bisa sampai di sini setelah melakukan operasi dan beberapa bedah ringan pada pasien kecelakaan."
"Sialan. Kita harusnya bawa dia ke rumah sakit. Terimakasih, Bi."
Wanita itu pergi setelah mengucapkan permisi. Rio menyuruh sopir untuk mengantarkan mereka, tidak akan bagus jika ia menyetir dengan emosi yang tidak stabil. Rizki sudah bersiap membopong Zahra. Rio menahannya sebentar, pria itu membawa beberapa kain untuk menutupi pendarahan adiknya. Lebih baik seperti ini dari pada gadisnya itu kekurangan darah kembali.
Setelah persiapan selesai, mereka segera menuju rumah sakit terdekat. Setibanya, Zahra langsung dilarikan ke IGD. Rizki tidak sengaja menyentuh wajah adiknya, ia tidak merasakan napasnya kembali. Rio yang mendengar pekikan Rizki segera menyuruh sopir mengebut.
Napas keduanya menderu, sedikit lega ketika gadis kecilnya terbaring di ranjang IGD. Dapat dilihat, dokter, asistennya dan beberapa perawat segera menangani adiknya.
Mereka berusaha melakukan yang terbaik, melakukan serangkaian penanganan untuk Zahra. Mereka yang diluar menunggu dengan harap-harap cemas, doa tak henti-hentinya terhenti dari bibir keduanya.
Dua jam berlalu. Wanita dengan jas putih, berwajah oriental dengan rambut bergelombang sebahu itu tersenyum tipis.
Kedua pria itu bangun dari duduk, memandang berharap pada wanita yang baru keluar dari IGD.
"Bagaimana, Dok?"
"Eum, begini Tuan Darel, Tuan Rizki. Saya memiliki dua kabar, satu kabar baik dan satunya kabar buruk. Mana yang ingin tuan dengar terlebih dulu?"
Rio membenarkan kemejanya. "Tolong kabar buruknya?"
Wanita itu berdehem. "Seperti yang sudah kami tangani, salah satu sayatan di tangannya mengenai nadinya. Detak nadinya melemah. Untuk saat ini nona masih menggunakan bantuan selang oksigen, rongga parunya menyempit. Nona kesulitan bernapas." Ia menghela napas, tersenyum tipis. "Peluru yang ditembakkan ke pangkal betis terlalu kuat, amunisi itu hampir saja menembus kulit belakangnya, untung saja benda itu mudah dikeluarkan. Luka-lukanya sudah berhasil kami jahit, tinggal proses pemulihan saja. Nona juga tidak kekurangan darah, itu sesuatu yang istimewa mengingat trombositnya rendah—sehingga darah yang mengalir sulit membeku."
__ADS_1
Keduanya sedikit lega meski masih ada kecemasan. Hari berikutnya gadis itu masih di rumah sakit, esok harinya lagi—Rio dan Rizki memutuskan merawat Zahra di rumah.
...***...
"Kapan kamu akan membuka mata? Kemarin lusa dokter Adrian ngambil sempel darah kamu, ternyata ada racun berbahaya di tubuhmu. Tadi kamu udah cuci darah, harusnya kamu bangun. Tapi kenapa kamu semakin nyaman menutup matanya?" Rio berucap lirih, kembali membelai rambut hitam Zahra.
Pintu terbuka, Rizki masuk dengan setelah casual. Seperti biasa, kaus berlengan pendek dan celana jeans selutut. Itu favoritnya. Laki-laki itu menghampiri Rio, mencium kepala Zahra dengan sayang—berharap putri tidur itu segera membuka mata.
"Gue kangen dia, Bang ...."
Rio kembali membelai adiknya. Mata sayunya tidak lepas dari gadis berkaus panjang navy itu. "Gue juga. Tapi, kita cuma bisa nunggu sama doa. Gue juga ga mau kayak gini, ini karena kita yang kurang jagain dia," sesal Rio. Mereka menghela napas. Kejadian seperti inilah yang menjadi bayang-bayang ketakutan mereka.
Saat tengah bercengkerama dengan Zahra, yang berada di alam bawah sadar—seseorang mengetuk pintu. Mereka selalu melakukan itu setiap hari, selalu yakin bahwa Zahra mendengar setiap kata dari bibir keduanya.
"Tuan ...."
Rizki membuka pintu, di depannya telah ada seorang bodyguard yang menunduk.
"Ada apa?"
"Di bawah ada tamu, sedang mencari Tuan Rizki dan Tuan Rio."
Rizki mengangguk saja, bodyguard itu pergi. Rizki memberitahu pada Rio jika ada yang mencari, keduanya keluar bersamaan. Berjalan ke arah ruang tamu.
Kedua tamu yang asing itu duduk membelakangi Rio dan Rizki. Sesaat kemudian, mereka mendudukkan diri di depan tamu tersebut.
"Selamat malam. Maaf, ada perlu apa ya, mencari kami?" tanya Rio sopan. Dua gelas sirup terjadi di depan dua tamu itu, isinya masih utuh. Sepertinya belum disentuh oleh tamunya.
Pria berkemeja kotak-kotak merah itu menunduk, tak lama kemudian, manik auburn itu menatap Rio mantab.
Rio mengepalkan tangan setelah melihat rupa dari tamunya, ia berdiri, mendesis pelan. Berjalan mendekati tamunya, mencengkeram kemeja itu.
"Berani juga lo nampakin diri di sini? Mau bikin adek gue lebih menderita lagi, hah?" Rio melayangkan kepalannya pada pria itu, laki-laki itu terhuyung dengan satu pukulan telak yang diberikan tuan rumah. Rizki ngilu sendiri saat mengingat Rio melakukan hal sama padanya hari itu.
Bugh!
Bugh!
"Mau apa? Mau bikin dia celaka lagi? Iya?" Rio memotong ucapan orang tersebut, kembali melayangkan kepalan tangannya. Kesabarannya hampir terkuras.
Seorang gadis dengan jaket berbulu, yang datang bersama pria auburn—menghalangi Rio ketika laki-laki itu ingin melampiaskan emosinya kembali. "Bang, udah ... dengerin dulu penjelasan dia."
"Apa? Lo mau belain dia? Lo sahabat adek gue bukan, si?" bentak Rio dengan nada tinggi. Bahkan seseorang itu langsung terdiam, baru kali ini ia mendapati Rio seperti ini. Ia yakin saat ini Rio sangat marah.
"Bang ...." Putra kedua Ario berusaha menghentikan pertikaian itu.
Rio menatap Rizki tajam. "Diem, Ki!" Rio akan kembali melayangkan pukulan, jika saja kalimat Rizki tak mencegahnya.
"Bang, dengerin dulu. Siapa tau dia punya obat buat Zahra."
"Bang, please. Gue pengen nengok sahabat gue. Gue izin naik." Tanpa mendengarkan persetujuan Rio, Ina langsung berlari menaiki tangga. Akhirnya mereka bertiga mengikuti gadis itu. Sedangkan Rio menyusul dengan tak begitu ikhlas, laki-laki itu masih ingin merusak wajah Gery. Seperti mereka yang merusak wajah adiknya.
Ina membuka pintu hitam Zahra, ia terkejut melihat keadaan sahabatnya saat ini.
"Astaga, Zahra. Bang Rio, Rizki, Gery, cepet ke sini!"
Ketiganya segera berlari ketika mendengar teriakan Ina, kamar Zahra masih berjarak 5 meter dari jalan mereka saat ini. Mereka sama terkejutnya saat telah melihat keadaan Zahra.
Napas Zahra terlihat tersengal-senggal, dadanya naik turun tak beraturan. Yang melihatnya dengan kondisi seperti ini pasti langsung panik.
Melihat Zahra seperti itu, Gery langsung mendatangi gadis yang terbaring itu. Menggenggam tangannya yang serasa dingin, padahal suhu ruangan ini hangat. "Ra. Tenang, ini gue ... Gery. Jangan takut, ada kita di sini. Kita selalu nemenin lo, ada buat lo. Tenang Ra ...."
__ADS_1
Gadis itu sedikit tenang, meski dadanya masih naik turun. Gery memandang Rio dan Rizki yang berdiri di belakangnya. "Zahra udah di diambil sempel darahnya?" tanyanya.
Rizki menggaguk.
"Hasilnya udah keluar? Apa kata dokter?" tanya Gery beruntun.
"Ada racun berbahaya yang dapat mempengaruhi mentalnya, kemarin juga dia udah cuci darah," jawab Rio.
"Cuci darah ga akan berpengaruh. Kalian ada nemu inhealer?"
"Maksudnya gimana, Ger?" Kening Ina berkerut bingung.
"Inhealer? Ya, ada. Kenapa?"
"Mana?"
Rio memberikan inhealer yang diberikan dokter Rea setelah Zahra selesai ditangani hari itu. Pria itu menyimpan inhealer tersebut di laci nakas adiknya.
"Hirupkan!" Gery memberikan inhealer itu pada Ina, menyuruh menghirupkan ujungnya pada indra penciuman Zahra.
"Gue balik dulu, habis ini gue balik ke sini. Terus bisikkan kata penenang, itu akan membuat keadaannya lebih baik," pesan Gery sebelum melangkah keluar.
Rio menahan tangan Gery. Ia tidak rela pemuda itu kabur. "Jangan kabur lo, urusan kita belum selesai!"
Gery menggeleng. "Lo ga perlu lakuin ini Yo, gue tau gue salah. Tapi gue pengen memperbaiki kesalahan gue. Gue mau bantu Zahra di alam bawah sadarnya, dia lagi dikondisi ga baik."
Rio masih saja mencekal tangan Gery. "Yo, please, gue harus cepet. Efek inhealer itu ga sepadan sama racun yang masuk di tubuh Zahra. Zahra bisa—"
"Buktiin!" Rio memotong ucapan Gery lalu melepaskan cekalannya. Laki-laki kemeja kotak-kotak mengangguk dan segera pergi.
...****...
Sudah 20 menit Gery tak kunjung kembali, sementara keadaan Zahra kembali tak stabil. Napasnya kembali memburu dengan tak beraturan, dadanya kembali naik turun. Sementara pelipis Zahra mengeluarkan keringat dingin.
Keadaan seperti ini juga terjadi pada Zahra sesaat setelah melakukan cuci darah. Dokter yang selesai menanganinya kembali memeriksa keadaan Zahra. Kemudian dokter itu menyuntikkan cairan pada selang infus Zahra, tapi hasilnya sama saja. Keadaannya tak kunjung membaik. Setelah 15 menit diposisi seperti itu, barulah keadaan Zahra membaik.
Mereka yang ada di kamar Zahra terus merapalakan doa dan membisikkan kata-kata penenang. Bukannya membaik, kini tangan kiri Zahra malah bergetar.
Ina memeluk Zahra, gadis bersurai tosca itu terisak untuk sahabatnya. Dari keadaan Zahra yang menyakitikan, tapi ia tidak pernah melihat keadaannya hingga seperti ini. "Ra ... lo kenapa? Lo baik-baik aja kan, di sana? Ra ... bangun ... Zahra .... Lo kenapa? Lo harus tenang, ada kita di sini. Kita lagi doain lo ... Zahra bangun ...."
Rizki berdecak kesal, padahal jantungnya sudah dag dig dug tak karuan melihat keadaan adiknya. "Gery mana, si? Jangan-jangan dia bohongin kita."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan tak santai, Gery masuk dengan tergesa. Ia langsung menghampiri ranjang Zahra. Laki-laki itu mengeluarkan tabung kecil yang di dalamnya terdapat sebuah cairan dengan warna bening. Ia kembali merogoh sakunya, mengambil jarum suntik. Mengambil cairan itu untuk disuntikkan pada selang infus Zahra.
"Kalian abangnya, mendekatlah!"
Rio dan Rizki mendekat, Gery memberikan inhealer lain pada Rio. "Kalian kuatkan Zahra dengan kekuatan batin yang kalian miliki, keluarkan dia dari belenggu ketakutan yang saat ini dia lalui. Lakukan itu sambil menghirupkan inhealer-nya."
Ina menyingkir, memberi tempat untuk Rio dan Rizki agar bisa di dekat Zahra. Keduanya melakukan seperti yang Gery perintahkan. Setelah melakukan itu selama 5 menit, keadaan Zahra kembali stabil. Semuanya bernapas lega.
Rio mengecup dahi Zahra. "Maafin gue. Gue ga bisa nemenin lo di sana. Kamu pasti capek, kalau gitu selamat tidur. Mimpi indah, Dek," bisik Rio, kemudian mengusap rambut yang masih tercium aroma mawar itu.
Mereka keluar kamar, membiarkan Zahra istirahat dengan tenang.
Mereka sekarang telah berada di ruang tamu. Rio dan Rizki menceritakan pada Gery dan Ina tentang keadaan Zahra saat mereka menemukannya. Keduanya terkejut dengan apa yang terjadi.
Gery menduga jika peluru dan pisau yang dilayangkan pada Zahra sudah berlapis racun. Itu yang membuat keadaan Zahra menjadi seperti ini. Itu adalah obat ilegal, para dokter pun tak pernah menggunakan itu pada pasiennya karena berefek besar. Hanya penghuni dark web yang biasanya menggunakan racun tersebut untuk keuntungan mereka.
Jika Gery terlambat tadi, maka keadaan Zahra akan jauh lebih buruk. Meskipun begitu, Zahra tak sepenuhnya sembuh. Efek racun itu telah menodai saraf Zahra, dia akan mengalami keadaan seperti tadi jika dirinya bertemu seseorang yang mungkin membuatnya ketakutan.
****
__ADS_1
Semoga racun itu ga ada ya gaess di dunia nyata... meski di Black Market sekalipun. Bisa hancur dunia kalau beneran ada.... ngeri sangat!!!