
"Yo, makan! Kamu belum makan apapun dari pagi!" Bibi masih berusaha untuk menyuapi pria jangkung itu, meski dari pagi pria itu menolak.
Wanita paruh baya itu menghela lelah, dari dulu Rio selalu keras kepala. "Setidaknya makanlah sesuatu, jika adikmu pulang dia akan sedih melihatmu kacau begini."
"Dia pergi gara-gara aku, Bi. Aku ga bisa diam aja di sini, aku harus cari dia!"
Bibi menahan lengan Rio yang akan turun dari ranjang. Pria dengan hoodie marun itu lelah. Seharian menghabiskan waktu di ranjang, tidak melakukan apapun. Dari tadi bibi terus memaksanya untuk makan.
Semalam, dengan baju yang masih basah, Rio menghampiri Zahra di ruang keluarga. Tapi gadis itu telah pergi, Rio mencarinya ke seluruh rumah, tapi ia tidak mendapatkan apapun. Pria itu juga mencari ke sekitar kompleks, bahkan ke jalan raya.
Rio kembali pukul dua pagi, wajahnya pucat. Rizki yang sudah pulang sedari tadi memapah Rio ke kamar, pria itu limbung. Badannya dingin. Pagi tadi, Rio terus memuntahkan makanan yang dikonsumsinya kemarin. Dokter mengatakan jika ia masuk angin dan kelelahan.
Meskipun begitu, Rio tetap menolak apapun yang disiapkan bibi. Selain karena perutnya masih mual, ia terus kepikiran Zahra. Membuat nafsu makannya hilang. Bagaimana adiknya di luar sana? Ini salahnya!
Rizki masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Ia duduk di pinggiran ranjang, menatap dinding polos di depannya. Ia menghembuskan napas, menggerakkan kakinya pelan. "Gue udah cari kemana-mana, anak-anak juga udah gue tanyain. Tapi ga ada yang tau Zahra kemana, dia kayak hilang gitu aja. Tiba-tiba hilang."
"Zahra pasti ada di suatu tempat, tempat yang menurutnya aman, tempat yang akan melindungi sekiranya dia tidak baik-baik aja. Mungkin juga, tempat yang ga bisa gue jangkau!" Rio menerawang, berucap pelan sembari meraih handphone-nya. "Lo udah cek ke club?"
Rizki menyipitkan matanya, menoleh pada Rio yang tengah menyodorkan handphone. Tangannya maju, bergerak menerima handphone itu, tapi tak paham kenapa Rio malah memberinya handphone. "Club? Zahra pergi ke sana?"
"Lo ga lupa kan, kebiasaan Zahra? Dia kalau ada masalah masih sering minum, cuma ga terlalu sering kayak dulu. Tempat di luar yang bikin dia tenang pasti club. Minta Robby melihat CCTV di jalanan sekitar club terdekat."
Rizki mengangguk, segera melakukan apa yang Rio minta. Pria itu hari ini juga absen ke kantor, akan tidak baik jika dirinya pergi bekerja dengan pikiran kalut.
Ruangan itu mendadak lenggang, Rio sudah mau mengambil jatah makannya. Bibi kembali ke dapur untuk membersihkan alat masak.
Rizki meraih tangan Rio, mengarahkan jemarinya pada akses sidik jari. Setelah layar itu terbuka, Rizki segera menelepon Robby.
...***...
Seorang gadis dengan crop top hitam membuka matanya, pandangan matanya mengerling ke segala arah. Manik coklatnya berfokus pada interior kamar dengan nuansa abu-abu gold. Gorden berwarna coklat susu itu telah terbuka lebar, itu artinya seorang maid telah masuk dan membersihkan kamarnya.
Zahra terdiam, isi otaknya kembali pada kejadian semalam. Di mana sang kakak mengusirnya dari rumah karena dirinya menghilangkan benda berharga peninggalan ibu mereka. Tapi bukan hanya itu saja, semalam ia juga menemukan dia. Zahra mendengkus sebal, berdecih pelan. "Penghianat!"
...***...
__ADS_1
Gadis dengan rambut kusut bergelombang mengusap kasar matanya. Sialnya, cairan yang biasa disebut air mata itu tak kunjung berhenti mengalir. Beberapa pria berpakaian hitam menatapnya iba, tapi ia tak mengacuhkan mereka. Gadis itu tetap berjalan. Mungkin memang seharusnya ia meninggalkan rumah ini sejenak.
"Nona mau ke mana malam-malam begini?" tanya salah satu bodyguard yang dilewatinya.
"Saya hanya berjalan-jalan."
Bodyguard itu mengangguk, Zahra terus berjalan ke halaman belakang. Di balik sweaternya ada kunci pintu rahasia di rumah ini. Kunci yang tergabung dengan kunci kamar orangtuanya, yang bisa mengakses segala jalan tikus di rumah ini.
Gadis itu memperhatikan sekitarnya, apakah ada bodyguard yang berjaga atau tidak. Ia menurunkan badannya, tangannya membersihkan tanah yang berada dibawahnya. Setelah bersih, ada sebuah besi dibaliknya, besi itu yang menghubungkan jalan belakang dengan ujung kompleks.
Setelah ia membuka besi dengan kunci yang dimilikinya, penutup berbentuk lingkaran itu bergeser dengan sendirinya. Zahra segera berdiri, menuruni tangga yang ada di dalam lubang itu. Setelah kepalanya telah masuk semua, penutup itu bergeser otomatis, tanah yang menimbunnya kembali menutupi besi gepeng itu.
Ruangan itu gelap gulita, Zahra harus berhati-hati saat menuruni tangga darurat itu. Tangga itu licin dan ia belum bisa melihat sekitar.
Setelah sampai di bawah, Zahra mengeluarkan bolpoin dari balik sakunya, saku yang ia desain di dalam sweater. Saku yang berisi barang-barang bawaannya. Bolpoin dengan warna merah darah itu mengeluarkan kilaunya, bolpoin yang dapat menyala otomatis ketika berada dalam kegelapan. Selain bisa digunakan untuk menulis, jarum pen itu juga bisa berganti dengan besi lancip yang biasa ia gunakan untuk menusuk orang.
Ada beberapa tombol dengan warna berbeda di benda panjang runcing itu, salah satunya tombol untuk berganti jarum dan untuk menyemburkan tinta racun. Cairan yang apabila mengenai kulit manusia akan membuatnya terbakar.
Kaki jenjang itu terus melangkah, menelusuri lorong dengan panjang lima puluh meter itu. Kadang berjalan kadang berlari, hingga sampailah ia pada ujung lorong. Lorong ini juga bisa dimasuki dari dalam mansion, tapi ia belum tahu akan keberadaan pintu masuknya.
Zahra kembali memanjat tangga, kembali mengarahkan kunci pada besi gepeng tersebut. Selain bisa membuka, kunci itu juga bisa digunakan untuk melihat keadaan di sekitar pintu lorong. Memeriksa apakah ada manusia atau tidak.
Macam-macam kendaraan bermotor berlalu lalang di hadapannya. Kakinya mulai melangkah kembali, menuju bangunan terang di ujung jalan.
Zahra menunjukkan kartu membernya pada seorang satpam yang menjaga gedung itu.
"Silahkan masuk, Nona Ra."
Zahra mengangguk, ia langsung menuju meja bar. Aroma alkohol memasuki indranya, untung akal sehatnya masih bisa dikendalikan. Jika tidak, mungkin ia juga akan memesan minuman haram itu.
Zahra kembali menunjukkan kartu membernya. "Private room, please."
Wanita siglet putih dengan jaket denim itu mengembalikan kartu member serta memberikan kunci kamar milik Zahra. "Lantai tiga, Nona Ra."
"Thanks Jessy. Bisa kau antarkan soda ke kamarku nanti?"
__ADS_1
"Akan saya antarkan," ucapnya sembari tersenyum.
Zahra menuju tangga ke lantai tiga, ia mulai mencocokkan nomor kamar dengan kunci yang sekarang digenggamnya. Setelah ketemu, ia langsung memasuki kamar VVIP tersebut. Ia hanya akan beristirahat sendiri, ia hanya ingin menjauhi rumah untuk sementara. Pikirannya masih kacau karena kehilangan benda itu dan perkataan Rio tadi. Mungkin besok ia akan meminta seseorang menjemputnya, membawanya ke mansion pribadi.
Pintu kamarnya diketuk dari luar. Itu pasti Jessy yang mengantarkan pesanannya. Ia bangkit, membukakan pintu segera.
Gadis yang ia temui dibawah, tengah membawa soda dan beberapa makanan ringan. Zahra segera mengambil nampan itu. "Kau baik sekali Jessy, Alfian harus menaikkan gajimu."
"Terimakasih, Nona Ra."
Zahra kembali menutup pintunya, ini ruang favoritnya di sini, ia akan mendapatkan perlakuan khusus di sini. Ia bukan pelanggan biasa, tapi tempat ini milik salah satu anak buahnya.
Kamar dengan nuansa biru cerah ini adalah kamarnya ketika di sini, tidak ada yang menempati kamar ini selain dirinya. Setelah menghabiskan soda dan camilannya, gadis itu segera merebahkan diri, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Lima jam berlalu. Zahra menggerakkan kepalanya, mencoba membuka mata. Ah, harusnya ia tidur lebih lama. Ini masih malam hari, suasana club sedang ramai-ramainya. Haruskah ia turun untuk meminta air? Sial. Jika ada handphone ia tidak akan melakukan ini, ia lebih memilih menelepon pelayan daripada keluar dari ruangan nyaman ini.
Zahra berkedip, kembali menggerakkan kepalanya dan bangun. Ia mengucek-ucek sebentar pelupuk itu, sebelum akhirnya melangkah ke arah pintu. Ia mulai menelusuri lorong private room, setelah sampai di depan tangga ia segera menuruninya.
Gadis itu menghentikan langkah ketika mendengar seseorang yang dikenalnya sedang berada di tempat VIP lantai dua.
Seorang pemuda beralis tebal dengan jaket bombernya dan gadis dengan gaun tanpa lengan, berambut coklat sepinggan. Gadis di sana itu memilik tanda lahir di bahu yang bentuknya menyerupai matahari. Di bahunya pula, terdapat bulatan-bulatan kecil yang ia yakini mark.
Zahra berhenti melangkah, ia memutuskan menguping kedua orang itu. Matanya tadi tidak salah lihat, bukan? Mereka baru saja melakukannya. Padahal si cowok sudah janji tidak akan mengulanginya kembali. Hatinya sakit, meskipun bukan ia yang terhianati di sini. Mungkin ia teringat kala pacarnya bermain dengan mantannya di apartemen, itu sungguh menyakitkan.
"Restu, apa ga membebani lo, kalau lo melunasi sepertiga hutang orangtua gue? Ya, emang udah gue cicil sih, tapi kan tetap banyak."
"Enggak Rai, justru semakin hutang itu menipis, lo akan lebih cepat kembali dengan keluarga lo yang sebenarnya. Biar gue yang bayar sepertiganya, lo sama aja ngerusak tubuh lo sendiri kalau kayak gini."
Tunggu, apa tadi panggilan mereka? Restu dan Rai? Ia seperti pernah mendengar panggilan itu? Dulu Raisha melarangnya bermain dengan anak ujung kampung sebelah yang bernama Restu, katanya anak itu membawa pengaruh buruk.
Tanda matahari itu mengingatkannya akan seseorang, seseorang yang tengah ia cari kehadirannya. Ia berharap dan sakit disaat bersamaan.
"Entahlah, Res, dia mau menemui gue apa engga. Gue akhir-akhir ini sering berlaku kasar ke dia dan gue ini hina sekarang." Gadis bergaun tangan lengan itu seperti mengusap air matanya.
Zahra juga melakukan hal yang sama. Kenapa ia tidak langsung mengenali tanda matahari itu? Dadanya menyempit, sulit rasanya bernapas bebas. Tenggorokannya tercekat, ia kehilangan suara.
__ADS_1
Gadis gaun tanpa lengan itu terus bercerita, entahlah. Ia tidak tahu ini benar atau salah. Tapi mereka berdua adalah penghianat. Zahra kembali menyeka kristal itu. Kakinya melangkah pelan menuju dua orang yang sepertinya tidak tahu akan kehadirannya.
"Kak Raisha."