
Sekarang gadis berkaus biru dan pemuda berkaus putih tengah berada di kamar sang gadis, terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka duduk di pinggiran ranjang dengan kaki yang menjuntai. Zahra duduk berdampingan dengan Putra.
Jemari Zahra beralih menggenggam jemari Putra yang bebas dan menautkannya. Putra merasakan tangan mungil Zahra mengusap punggung tangannya pelan, ia balas menggenggam tangan itu erat.
"Kenapa?" tanya Putra setelah mencium tangan Zahra yang di genggamnya. Sudah lama sekali ia tidak mencium tangan itu.
Putra melepaskan genggaman tangannya lalu beralih mendekap Zahra dalam pelukannya. Putra membawa Zahra ke kepala ranjang lalu meletakkan kepala sang kekasih di dadanya sebagai bantal. Pemuda itu membawa Zahra berbaring.
Zahra mendesah pelan. "Huh, sebenarnya minggu ini gue mau ngajak lo jalan," kata Zahra sambil menatap langit-langit kamar.
"Hmm." Putra membelai lembut rambut Zahra yang bergelombang itu, ujungnya masih coklat. Sepertinya gadisnya ini belum mewarnai rambut kembali.
"Seharusnya kita jalan, tapi karena keadaan gue kayak gini, jadinya ga jadi."
"Kan ada hari lain."
Zahra membalikkan badan menjadi tengkurap dan menatap Putra yang telah menaikkan alis. Putra menyelipkan anak rambut Zahra di belakang telinga. Gadis itu menggerakkan jarinya di dada sang kekasih, melukis abstrak.
"Ngebet banget pengen jalan. Lagi kangen sama gue, ya?" Putra terkekeh ringan.
Zahra menggeleng.
"Gue pengen ngukir kenangan manis saat jalan kita, mungkin akan jadi date yang terakhir."
"Bentar. Maksudnya gimana? Udahan gitu?" Putra menatap tak mengerti.
Zahra mengangguk. "Kita udah ga sejalan kan, masing-masing dari kita juga udah nemuin pengganti yang cocok. Kita ga bisa nyakitin mereka karena hubungan yang masih terjalin ini, kan? Mereka pasti diam-diam mikir, kalau kita cuma jadiin mereka tempat singgah. Gue ga mau kita gantungin mereka, gue merasa bersalah. Ya, gue cuma ga mau kayak gini. Hubungan ini kan, udah hancur sejak gue mergok lo waktu itu. Lagi pula, kontrak lo kan berakhir satu bulan lagi, bisalah dibicarain sama bokap gue."
"Ra ... lo itu cewek terlangka, terunik yang pernah gue miliki. Gue bersyukur pernah jadi bagian dari lo. Berat buat ngelepasin lo, lo berarti buat gue. Tapi gue sadar, gue ga bisa nyenengin lo lagi. Dan hati gue, juga udah nemuin sosok yang tepat untuk jadi rumahnya. Maafin gue, ga bisa bikin lo bahagia dan banyak salah."
Zahra membelai pipi Putra. "Gue udah maafin lo dari jauh-jauh hari. Gue pengen lo janji sama gue, ga akan memperlakukan cewek lo kaya lo memperlakukan gue. Gue mau lo lepas kegiatan lo yang suka bayar cewek sewaan. Siapa pun ceweknya, pasti akan sakit hati kalau orang yang dicintainya begituan sama cewek lain. Lo tau kan, maksud gue. Janji?"
Putra mengangguk, lalu mencium tangan Zahra yang tengah membelainya. "Janji," ungkapnya sambil menatap manik Zahra dalam.
"Ra ...." Manik jet itu menatap teduh, menyelami manik coklat yang terpaku. Tangannya bergerak memajukan wajah polos itu, mencium pipinya beberapa kali.
"Sebenarnya gue bohong soal ga ada rasa sama sekali ke elo, gue gengsi ngakuin kalau sebenarnya gue udah jatuh ke pesona lo setelah pertemuan pertama kita hari itu. Gue cuma pengen lo ga terlalu berharap sama gue. Maafin gue, Ra ...."
Zahra memainkan jambul kekasihnya, juga kalung dengan bandul tengkorak itu. Bibirnya membentuk garis tipis. "Ga papa kok, gue juga udah ngelupain hal itu. Ya intinya, kita juga pernah merasa saling memiliki, saling sayang, saling cinta. Kalaupun kini, rasa itu telah hilang. Mungkin memang kita ga ditakdirkan bersama."
Tidak ada hati yang berdebar-debar, tidak ada hati yang menghangat. Rasa itu, sekarang sudah berganti menjadi rasa sahabat. Rasa yang dulu memikat, sekarang bagaikan kutub utara dan selatan. Saling tolak-menolak! Tidak ada cinta di dalamnya. Kedua hati mereka telah memiliki pasangan masing-masing. Saatnya melepas dan mencari pemilik hati yang sesungguhnya.
Berat bagi Putra untuk melepas Zahra, gadis itu unik dan langka. Tapi ia sadar, ia tidak bisa merengkuh hati itu kembali. Hati Zahra sudah milik orang lain, begitu pula miliknya.
Putra menumpukan Zahra pada badannya, sementara tangan sebelah Zahra sudah melilit pinggangnya. Putra tersenyum melihat ekspresi bingung yang ditunjukkan kekasihnya.
"Biarin kayak gini sepuluh menit. Katanya pengen buat kenangan manis."
Putra memberi isyarat kepada Zahra agar kepalanya ditidurkan di dadanya, gadis itu tentu saja menurut. Lagi pula, dada Putra itu nyaman dan hangat. Zahra suka sekali saat mereka berpelukan, kekasihnya itu benar-benar tahu cara membuat gadis terpikat.
Mereka menghabiskan waktu dua puluh menit. Ternyata waktu sepuluh menit tidaklah cukup untuk mereka. Keduanya melakukan kebiasaan seperti saat baru menjalin hubungan, keduanya merindukan hal itu.
Saat hubungan mereka masih penuh dengan taburan mawar, bukan gersang seperti sekarang. Sepertinya mereka tidak akan menikmati momen seperti ini, jadi mereka menikmati setiap detik yang mereka lakukan. Bermain play station, saling menyuapkan makanan dan saling memeluk manja.
Putra membawa Zahra ke dekapannya, wajahnya terbenam di rambut wangi kekasihnya. Aroma mawar. Putra menghirup banyak aroma yang mungkin nanti dirindukannya.
Mereka duduk bersaman, sambil mengunyah kue kering. Ia mengacak gemas rambut kekasihnya itu.
"Thanks satu setengah tahunnya. Gue beruntung bisa dapetin itu dari lo."
Zahra balas memeluk putra, ia mengecup dagu Putra lalu menenggelamkan wajah di ceruk leher pemuda itu. Ia suka aroma mint khas Putra, menyejukkan. Setelah beberapa detik, barulah Putra melepas Zahra.
__ADS_1
"Gue sama yang lain akan berusaha buat nangkap orang yang jadi bayang-bayang mimpi buruk lo. Sekalipun mereka lari ke ujung dunia, pasti kita kejar. Princess yang satu ini harus tetap bahagia dan merasa aman."
Zahra tersenyum manis lalu mengangguk. Putra mencium pipi Zahra lama, setelah itu beringsut turun dari ranjang. Sebelum benar-benar keluar, Putra menyempatkan diri untuk mengacak kembali rambut kekasihnya.
"We over! Jangan kangen sama gue, ya!" Putra menampilkan senyum terbaiknya, sementara Zahra hanya menanggapi dengan kekehan. Setelahnya Putra membenarkan pakaiannya yang kusut, berjalan ke arah pintu.
Zahra membenarkan kasur yang berantakan gara-gara Putra tadi menggelitiknya. Zahra tersenyum kecil lalu berbaring. Gadis itu memasang earphone lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Seseorang begitu saja masuk ke kamar Zahra tanpa mengetuk pintu, ia menatap Zahra tajam lalu duduk di sebelahnya berbaring. Sedangkan Zahra masih asik dengan dunianya sendiri. Seseorang itu mengambil paksa handphone Zahra. Gadis yang diganggu kesenangannya tersebut langsung memberengut kesal.
"Devan ... kebiasaan banget, itu aku lagi nonton," katanya kesal. Mulutnya mencebik, membuat pemuda di sampingnya tertarik mengeksplor bibir pink itu.
Devan langsung menyambar bibir Zahra, gadis itu pun pasrah karena tak siap. Ia membiarkan Devan menjelajahi mulutnya. Ia hanya memejamkan mata kemudian ikut larut dalam ciuman lembut Devan. Perlahan, lidahnya juga ikutan bergerak, menandingi lidah sang dominan.
Setelah merasa cukup, Devan melepaskan tautan bibir mereka. Ia kemudian ikut berbaring di sebelah Zahra dan memeluknya. Kakinya melilit kaki Zahra, sementara sebelah tangannya juga sudah mengapit pinggang gadis itu. Tangan satunya lagi digunakan Zahra sebagai bantal.
"Kangen ...," kata Devan dengan senyum manis, ia tak dapat membendung rasa bahagianya karena Zahra akhirnya terbangun setelah empat hari tak sadarkan diri.
Zahra tersenyum lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Devan.
"Tadi pas Putra turun, parfum kamu nempel di dia. Kamu ngapain aja sama Putra?"
Zahra mengabaikan pertanyaan Devan, ia malah semakin pengeratkan pelukannya. Mencari posisi nyaman.
"Sayang ...."
"Eh itu, tadi kita cuma menghabiskan waktu terakhir di hubungan pacaran. Kita akhirnya sepakat untuk melepas masing-masing."
"Akhirnya, kamu putus juga sama dia."
Zahra terkekeh, melepas pelukan dan berganti posisi menjadi duduk. Ia menyodorkan tangan pada pemuda di sebelahnya, pemuda itu menautkan jemari mereka. Dalam satu tarikan, Devan sudah duduk bersila di samping gadisnya.
Devan mengangguk membenarkan, rasanya gurih dan lembut. Walaupun kue yang disuapakan Zahra sedikit gosong, tapi rasanya masih enak.
"Akan lebih enak lagi kalau kamu yang bikin." Devan juga mengambil kue tersebut lalu menyuapkannya pada Zahra.
"Aku ga bisa bikin gue kering, tapi kalau cake bisa."
"Dicoba dulu, pasti bisa. Kalau gitu kapan-kapan kamu bikinin aku cake yang paling enak, ya!" pinta Devan.
"Gampang itu." Zahra mengambil sisa cake yang berada di nakas, hanya sepotong. Mereka menghabiskan sisa cake itu berdua.
Mereka menghabiskan waktu berdua di kamar zahra. Peluk-pelukan dan tiduran. Devan juga menemani Zahra menonton film yang belum selesai tadi.
Zahra bosan di kamar karena filmnya juga sudah habis. Mereka menonton dua buah film yang memakan waktu dua jam setengah. Sekarang sudah jam empat.
Biasanya Rio dan Rizki sudah pulang jam segini, tapi kenapa mereka lambat sekali pulangnya?
"Kenapa? Mau mandi, ya?"
Zahra menoleh, mematikan ponsel itu lalu mengangguki Devan. "Biasanya kakak yang bantuin aku mandi."
"Kalau gitu biar aku siapin keperluan mandi kamu."
Zahra mengangguk saja, pasalnya tubuhnya juga sudah lengket karena banyak tertawa. Tadi Devan memilih komedi, jadi ia tidak bisa berhenti tertawa karena film yang mereka tonton benar-benar lucu.
"Tuangin aja sabun, parfum yang ada di rak atas, terus dikasih taburan mawar yang ada di rak bawah. Airnya make air dingin aja."
Devan mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah siap, Devan menggendong Zahra dan ia turunkan di bathtub.
"Kamu mandi ya, habis aku. Nanti bajunya pake baju Kak Rio yang ketinggalan di kamar. Ada di rak bagian bawah sendiri, nanti kamu ambil aja. Tuh kecipratan air baju kamu."
__ADS_1
"Oke, kalau udah selesai bilang, ya!"
Zahra mengangguk, Devan keluar kamar mandi. Membiarkan gadis itu bermesraan dengan banyak busa.
Lima belas menit berlalu. Zahra dan Devan sekarang sudah kembali duduk di kasur, mereka telah selesai mandi. Zahra meminta Devan menggendongnya ke lantai bawah, ia benar-benar bosan saat ini.
Setelah sampai di bawah, ternyata masih ada Defi dan Rani yang menikmati berita sore. Zahra dan Devan juga ikut menikmati berita tersebut, jarang sekali mereka melihat berita karena kebanyakan kartun yang ditonton.
Dari arah depan terdengar suara langkah kaki, benar saja Rio dan Rizki sudah pulang.
...****...
Saat ini ketiga bersaudara tersebut tengah berada di ruang keluarga. Defi dan Rani diantar pulang oleh kekasihnya masing-masing, sebenarnya Devan menawarkan tumpangan. Tapi kedua gadis itu ingin kekasihnya yang mengantar sendiri, ingin menikmati waktu yang lebih lama bersama pujaan hati. Defi, Rani dan Devan pulang seusai magrib, setelah salat berjamaah.
Sebenarnya mereka juga ditawari makan malam bersama, tapi ketiganya menolak halus.
"Tadi kenapa lama banget, Defi dan Rani lama banget nunggu kalian."
"Maaf. Tadi kita ada meeting bareng, kita kira akan pulang cepet karena topik pembahasannya sedikit. Tapi client tersebut malah mengulur waktu. Dia malah goda-goda kita, risih sebenarnya, tapi kita harus tetap formal dan profesional."
"Kenapa ga ditolak aja, client kayak gitu mah ga usah diladenin."
"Ga bisa, Dek. Separuh dana udah masuk dan pembangunannya pun udah jalan."
Zahra langsung menoleh ke arah Rio. "Kok bisa? Kalau kakak ga setuju, otomatis berkasnya ga kakak tanda tangan. Jadi pembangunan ga jalan, karena ga ada persetujuan kakak. Jadi, kenapa pembangunan itu bisa jalan?"
Rio mengela napas. "Manager gue diketauhi nyuri dana sebesar 50 juta buat pembangunan itu, maka dari itu gue rugi besar kalau dia ga menandatangani kontrak tersebut. Gue bisa ga balik modal."
"Lapor polisi. Cari pengacara, gampang, kan?"
"Dana perusahaan ga balik, Ra."
"Kalian lopor aja, duit itu urusan gampang. Dalam waktu dekat, pasti ada perusahaan yang akan ngajak lo kerjasama, keuntungannya 30% lebih besar. Udahlah, ikhlasin aja!"
"Iya bang, lebih baik gitu. Manager lo PHK aja, lancang banget. Terus staf-staf yang ikut ngurusin hal itu, padahal tau kalau lo ga setuju—pecat aja sekalian. Tapi para pekerja proyek, tetap bayar. Mereka kan ga tau kalau itu tanpa persetujuan lo."
"Bukan gitu, masalahnya gue ga bisa cari manager baru dalam waktu dekat. Kalau staf sih, gampang. Peran manager itu penting banget buat ngatur keuangan kantor. Gue harus cari orang yang bener, tanggungjawabnya gede!"
"Gampang. Kalau kakak mau, besok pun dia udah siap kerja."
"Iya, Bang. Lo kan udah buktiin sendiri kalau orang yang dikirim Zahra itu terbaik dan bisa dipercaya. Max itu kan udah kinerjanya bagus, tanggap, udah gitu tanggungjawabnya besar buat perusahaan lo."
Rio mengangguk. "Kalau gitu, besok suruh ke kantor. Suruh nunggu di lobby, habis itu biar ke HRD dulu buat interview. Thanks ya, saran kalian. Pusing gue."
Rizki berdehem dan Zahra melanjutkan mengunyah snack-nya. "Terus kenapa kalian bisa meeting bareng, beda bidang, kan?"
"Dia bangunnya kayak tempat fashion gitu, toko pakaian lah, tas, sepatu, aksesoris, banyak deh. Terus buat salah satu brand jualannya, dia ambil dari perusahaan-perusahan lain, salah satunya konveksi punya gue."
Zahra manggut-manggut mendengar penjelasan Rizki.
"Kak, play station sama televisi di kamar gue kasihin aja ke siapa gitu. Udah ga kepake sama gue, dari pada bibi capek bersihin, terus rusak."
"Iya tuh deh, di kamar gue play station sama televisi juga ga kepake. Kita kan biasanya kalau main di tempatnya Rizki atau di sini, kalau nonton televisi juga enaknya di sini."
"Di kasih ke bodyguard aja tuh, Mayan, biar ga spaneng mereka."
"Boleh. Ntar yang ada di kamarnya Zahra lo copotin aja kabel-kabel sama yang lainnya."
"Besok aja lah, Bang. Mager malem-malem."
"Siniin!" Zahra merebut toples camilannya yang diambil oleh Rizki. Rio tertawa ganteng saja melihat adik-adiknya berebut camilan.
__ADS_1