
Sekarang Zahra tengah berguling-guling ria di kamar Rio, entah untuk apa.
Rio menjauhkan telepon dari bibirnya, ia menoleh pada sang adik yang membuatnya pusing. Cukup, ia sudah pusing karena akses data pemilik perusahaan, jangan ditambah ulah Zahra lagi. "Dek, bisa ga lo diem? Kalau sampai kasur gue berantakan, gue tendang lo dari sini!"
Zahra memilih cuek, kemudian berbaring dengan kedua tangan di belakang kepala. "Lo telponan sama siapa si? Dari tadi ga selesai-selesai."
Rio mengembuskan napas kasar. "Gue mau ke balkon dulu, awas aja kalau gue balik, kasur gue berantakan."
"Iya-iya. Khawatir banget kalau gue berantakin. Males beresin, ya ...?"
Rio tidak menjawab, pria itu sudah kembali menempelkan ponselnya. Menekuni aktivitas sejak lima menit yang lalu.
Zahra tahu, kakaknya pasti memikirkan masalah tadi. Meskipun keamanan dengan sidik jari tergolong kuat, namun Rio tidak mau kecolongan. Bisa saja adik-adiknya menjadi korban keganasan musuh bisnisnya.
Gadis itu memejamkan mata, menikmati angin malam yang masuk akibat balkon yang terbuka. Membayangkan jika peristiwa tadi siang benar-benar terjadi, pasti dirinya masih mendekam di rumah sakit sekarang.
Rio masuk, ikut membaringkan diri di samping Zahra, memeluk gadis itu sambil membenamkan wajah di lekukan leher adiknya.
"Kak?"
"Hm?"
"Kakak ga papa?"
Rio menyuruh Zahra untuk memindah tangannya yang dibelakang kepala, kemudian mengganti dengan lengan miliknya. Dengan begini ia lebih leluasa untuk memeluk adiknya.
Pria itu mengembuskan napas di antara lekukan Zahra, angin hangat itu menerpa dengan meninggalkan sensasi yang membuatnya mengantuk.
Sebelum ia benar-benar tertidur, gadis itu kembali bertanya, "Kakak ga papa?"
"Ga papa kok. Keamanan sidik jari yang diterapkan papi, datanya udah dienkripsi. Sebenarnya masih bisa di bobol dengan memfoto jari tersebut, tapi papi kan udah ga ada. Mudah-mudahan aman ya, jadi lo ga usah khawatir. Tadi kakak udah bicarain soal ini sama pihak IT."
Zahra tersenyum. "Bagus deh kalau gitu. Tapi ini kakak ngapain, manja-manjaan kek orang ketimpuk masalah seabrek?"
"Emang kalau mau manjaan sama lo harus kena masalah dulu, ya?
"Em, ya engga sih, Kak. He-he. Gue mau nanya nih, jangan marah ya tapi?"
Rio mengusap pipi adiknya kemudian menghadapkan wajah itu ke arahnya, matanya menyipit. "Nanya apa emang?"
"Kakak suka ya sama Defi?"
Rio terkekeh kemudian mencium hidung dan dahi adiknya. "Wah, jadi itu alasan lo mindai gue sama Defi tadi? Kalau boleh jujur, sebenarnya kakak dari awal udah suka sama dia. Tapi rasa-rasanya ga mungkin kalau dia mau sama kakak, dia kan bawahan gue. Yang gue takutin, dia tahu rasa gue, kemudian dia menjauh. Makanya gue coba hilangin rasa ini meski itu nyiksa banget, gue ga mau kehilangan dia meski dia cuma salah satu pegawai."
Zahra melebarkan mulutnya, kemudian membalas memeluk pria yang menyandang status sebagai kakaknya. "Kakak belum apa-apa udah pesimis duluan, harusnya kakak ungkapin dulu. Bicara dari hati ke hati, kalau kakak diam, dia ga akan ngerti untuk siapa sebenarnya hati kakak."
"Tapi dia bawahan gue, dia bakal pikir-pikir kalau mau punya hubungan sama atasan."
"Kakak sih ga upgrade, padahal ya ... kisah kayak gitu udah umum banget. Coba tanya deh sama rekan-rekan bisnis kakak, pasti salah satunya ada tuh yang kepincut sama bawahan. Sekarang aja majikan sama ART aja banyak yang naik jabatan jadi suami-istri. Masa kakak ga mau nyoba, pacaran aja dulu. Kalau cocok, pacarannya ga usah lama-lama, langsung nikah gitu. Mayan loh, nanti gue dapet hadiah baby mini yang ucul, biar ini rumah ga sepi juga."
"Sembarangan, lo pikir nikah udah gitu aja? Enak banget lo ngomong, lo ga mikir si gimana pusingnya gue ngurusin lo, apalagi nambah, bisa-bisa darah tinggi gue."
"Huft, kakak ga ngerti. Gue kan cuma nyuruh kakak buat ungkapin rasa itu, kenapa malah kemana-mana?"
"Sekarang gue tanya, tadi yang mulai duluan siapa ya?"
"Emang kakak kalo pacaran sama Defi ga mau? Kayaknya dia juga suka sama kakak."
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri, Ra!"
"Kakak yang jangan mengambil kesimpulan sendiri, gue tahu kalau dia emang suka sama lo. Jadi kalau kakak ungkapin, dia pasti bakal terima."
Rio terdiam, begitu pula Zahra. Ia hanya ingin kakaknya mendapatkan orang yang sesuai, ternyata selama ini kakaknya telah menaruh hati pada seseorang-pantas jika dia selalu menolak setiap gadis yang Zahra sodorkan.
Ia mengenal Defi dan Rani sejak OSPEK dulu, awalnya mereka bekerja part time di Ra cafe. Penghasilan di sana lumayan untuk biaya hidup di Jakarta selama satu bulan. Waktu itu Zahra iseng melihat biodata para pegawainya, gadis itu menemukan data keduanya. Entah mengapa, ia langsung tertarik hanya dengan melihat biodata mereka yang tidak berarti apa-apa untuknya.
Ia menemui mereka secara pribadi, ia mengatakan tertarik pada keduanya dan mengangkat mereka menjadi tangan kanannya di beberapa cabang cafe. Mereka menurut dengan beberapa perjanjian, salah satunya menjadi mata-mata dan menjadi sahabat secret -nya saat ia butuh.
Saat awal berdirinya Uly's Group, bertepatan pula dengan jadwal magang Defi dan Rani, Zahra berinsiatif untuk memberi tempat yang sesuai untuk magang mereka. Salah satunya Uly's Group, dan Ario Company—dari sekian banyak mahasiswa magang, hanya tiga yang lolos seleksi di masing-masing perusahaan.
__ADS_1
Saat magang selesai, Zahra dan Rio merekrut keduanya untuk menjadi karyawan tetap di perusahaan masing-masing. Tidak ada yang iri dengan keduanya.
Rani beruntung dengan kekuasaan Zahra yang memegang kendali penuh. Karyawan yang dipilih langsung oleh pimpinan Uly's Group merupakan orang yang wajib dihormati dan dihargai oleh karyawan lainnya. Jika melawan atau bahkan melayangkan protes, maka mereka akan berakhir di markas besar BD.
Sementara Defi, Rio juga menggunakan kekuasaannya. Jika ada yang menuntut dirinya tidak adil, ia akan menjatuhkan skors atau bahkan PHK mendadak. Pria itu sudah lelah dengan sekretaris lamanya yang menurutnya lamban dan tidak tepat waktu, ia butuh sekretaris yang bisa diandalkan di segala kondisi.
"Kakak pikir-pikir dulu ya," ucap Rio setelah terdiam cukup lama. Gadis yang berada di pelukannya tersenyum sumringah. Ah, rasa-rasanya ia telah berhasil membujuk kakaknya yang keras itu.
"Sekarang gantian gue yang nanya. Hubungan lo sama Devan kelihatannya berkembang, jadi sejak kapan nih mulai buka hati?"
"Eumm, mudah-mudahan ya, Kak. Gue juga mulai ngerasa nyaman sama dia. Tapi, kakak tahu dari mana nih?" Mata Zahra mengerjab, menatap Rio yang menatapnya dengan senyum miring.
"Udah kakak duga, lama-lama lo bakal nyaman sama dia—kakak sih berharap banget kalau lo sama dia jadi. Dari pada sama cowok lo, yang ternyata disuruh jagain lo doang. Lo ingat waktu Devan masuk rumah sakit gara-gara cowok lo, di situ gue seneng banget waktu denger penjelasan dokter yang mengatakan kalau lo khawatir banget sama dia. Bela-belain nungguin dia sadar, sampai lo ketiduran. Gue udah duga saat tahu kalau Devan yang jagain lo selama gue ke Bandung, satu Minggu sama dia, memungkinkan kalian buat menggali satu sama lain."
Zahra mengeratkan pelukannya, ia malu sekarang. Gadis itu membenamkan kepalanya di dada sang kakak, dirinya yang dulu menolak Devan mentah-mentah karena cowok itu pintar dan rajin—sekarang malah masuk perangkap sendiri. Ia dulu berpikir jika mempunyai hubungan spesial dengan orang seperti itu, akan flat. Tapi entahlah dengan yang ini, tapi jika akhirnya mereka mempunyai hubungan, ia tidak ingin hubungan ini flat seperti tembok-tembok di sekelilingnya.
Rio mengusap rambut Zahra yang halus, kembali menghirup aroma mawar yang menjadi ciri khas Zahra. "Kamu udah besar, Dek. Ga nyangka sekarang kamu udah dua puluh tahun, kita udah bareng sepuluh tahun dan kamu udah sebesar ini. Terus buat kakak bangga sama perubahan baik yang kamu lakukan, sampai perbuatan buruk kamu kakak lupakan dan terkenang sebagai album kelam."
"Gue sayang sama lo, Brother. Thanks buat apreasiasi kebangganya, ditengah attitude dan perilaku gue yang buruk."
"Seburuk apa pun itu, yang penting kamu udah berusaha berubah. Inget janji kamu!"
"Selalu ingat dong, Kak."
Rio melepas pelukannya kala handphone-nya berdering. Sang penelepon menjelaskan sesuatu yang sepertinya serius, terlihat dari dahi Rio yang berkerut. Rio mengakhiri teleponnya dengan ucapan terimakasih. Zahra hanya diam melihat kakaknya, ia tidak dapat mendengar apapun kaena Rio tidak me-loudspeaker.
"Kenapa, Kak?" tanya Zahra setelah Rio kembali meletakkan handphone di nakas.
"Ada perkembangan dari kasusnya Om Aldo, memang ga banyak, tapi sedikit membantu."
Zahra menaikkan alisnya sebelah. "Perkembangan yang gimana, nih?"
"Mereka bilang, mereka nemuin pakaian yang waktu itu dipakai sama Om Aldo, mereka nemuin itu di dasar laut. Eum, sama cincin emas, cincinnya nempel di pakaian saat pakaian itu diambil."
"Wah, kalau gitu bisa disimpulkan bahwa Om Aldo selama ini hilang di lautan."
"Selain pembatalan kerja sama, mereka juga ga bertanggungjawab atas hilangnya Om Aldo sama yang lain?"
"Mereka tanggungjawab kok, mereka juga ikut nyari—tapi karena hampir satu tahun pencarian ga membuahkan hasil, bibi sebagai perwakilan keluarga yang hilang hanya meminta ganti rugi dan mereka diperbolehkan untuk tidak mencari. Jadi pencarian cuma dilanjut sama pihak kepolisian."
Sandresa Company, salah satu perusahaan properti besar di Indonesia, bisnisnya sudah terkenal di berbagai negara. Perusahaan yang dulunya wajah dari properti di Indonesia, kini telah berganti wajah pada Ario Company. Peristiwa tiga tahun lalu, saat mereka masih bekerja sama di bidang yang sama, saat itu Sandresa mengajak Ario untuk membangun hotel apung di salah satu pantai yang berada di Maluku Tengah.
Sandresa sebagai pihak pelaksana dan Ario sebagai pihak pinanjau. Saat pengecekan lokasi, Sandresa menuntut peninjauan lebih cepat, agar jadwal mulai proyek berjalan sesuai yang telah direncanakan.
...****...
Kamis, 24 September 2015
Aldo dan tim survey lokasi dari Ario Company telah tiba di pantai Batu Kapal, Maluku Tengah. Angin kencang menyambut mereka, sementara air laut mulai pasang secara perlahan.
Para penduduk sudah memperingatkan mereka untuk tidak mendekati laut saat angin kencang, apalagi langit sudah mulai menghitam. Mereka mengambil sore hari karena pengunjung sepi, memudahkan mereka untuk mengobservasi laut tersebut.
Sebenarnya mereka bisa saja mengikuti usul penduduk untuk tidak mendekati wilayah laut, tapi karena waktu mereka yang singkat-mereka mengabaikan nasihat itu. Besok mereka harus sudah mengetik proposal untuk diajukan pada Sandresa Company. Agar minggu depan proyek bisa langsung terlaksana.
Mereka tidak bisa membatalkan proyek ini, proyek yang keuntungannya sangat besar. Apalagi mereka bermitra dengan perusahaan besar pula.
Tim sudah terbagi menjadi dua, tim satu berjaga di tepi pantai untuk memegang alat ukur. Selain itu mereka juga mencatat kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan untuk proyek, contohnya, jalan apung dengan panjang sekian.
Sementara tim dua yang dipimpin Aldo telah sampai di tengah laut, angin semakin kencang tetapi mereka tetap melakukan tugas masing-masing. Mereka berlayar dengan dua kapal, kapal 1 bertugas untuk membantu orang yang dipinggir pantai untuk mengukur panjang jalan. Sementara kapal 2 bertugas untuk mengukur luas hotel serta mencari tempat yang strategis.
Bertepatan dengan Aldo yang memberi arahan, kawan mereka yang berada di tepi pantai berteriak kencang. Entah mereka mendengar atau tidak, mereka tetap berteriak.
Ombak setinggi 2 meter bergerak cepat menghampiri mereka yang berada di tengah laut. Kapal mereka bergoyang, ombak yang lebih besar datang disusul dengan ombak lainnya. Angin berembus kencang, petir menyambar-nyambar, hujan turun dengan derasnya.
Guncangan ombak dan angin membuat kapal mereka tidak seimbang, panik, gelisah menjadi satu. Ombak besar kembali menghantam, mengakibatkan kapal mereka terbalik dan mereka terapung-apung di tengah lautan.
Tidak ada yang bisa menolong di tengah badai laut, mereka yang berada di tepian segera meninggalkan tempat agar tidak terseret ombak.
...****...
__ADS_1
Keduanya terdiam, sama-sama tersakiti atas kejadian tiga tahun lalu. Sama ketika Bi Heni mereka anggap ibu, Aldo pun juga menjadi ayah kedua bagi mereka.
Handphone Rio bergetar, pria itu membuka aplikasi WhatsApp. Membuka chat paling atas, orang yang menangani kasus Aldo mengirimkan gambar. Kaos putih yang usang, berlumut dan berlubang, serta cincin emas.
Rio bangun, mengerjab beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. Memperbesar gambar itu dan berpikir. Zahra menepuk bahu Rio. "Kenapa sih, Kak? Liatin handphone-nya serius banget?"
Rio menoleh, memberikan handphone itu pada Zahra. Gadis itu mengerutkan kening.
"Lihat bagian cincin, itu mirip banget sama cincin nikah punya papi."
Zahra melihat cincin itu. "Cincin punya Om Aldo lah, ngapain punya papi. Kan yang tenggelam Om Aldo bukan papi, kakak ada-ada aja."
"Coba lo lihat ulang, sumpah itu mirip banget sama cincin nikah papi."
"Itu jelas punya Om Aldo, mungkin cuma hampir mirip sama punya papi."
"Gak, Dek. Gue yakin banget itu punya papi."
Zahra memutar bola matanya. "Plis deh. Yang tenggelam itu Om Aldo bukan papi, nggak nyambung lah kalo cincin itu punya papi. Sekarang mereka udah nemuin barang-barang itu, berarti jasadnya Om Aldo juga hampir ditemukan."
Rio merebut handphone-nya, "Ya udah kalo ga percaya. Gue berharap semoga jasadnya segera ditemukan, kasian bibi sama Tria."
"Iya, Aamiin ya, Kak. Kalau gitu gue balik ke kamar, udah malem, kakak juga butuh istirahat."
Rio mengangguk kemudian mencium puncak kepala Zahra. "Jangan lupa doa."
Zahra tersenyum tipis, kemudian mengecup pipi Rio. Gadis itu berjalan ke luar kamar.
...****...
Zahra tersenyum tipis ketika mengingat Devan memberi tahu bahwa Putra bukanlah cowok yang baik, dia cowok yang senang memainkan cewek, bahkan di ranjang sekalipun. Ia pun akhirnya tahu sendiri kedok kekasihnya itu.
Zahra diberi tahu beberapa bulan yang lalu, tapi entah mengapa dia masih menyimpan sedikit rasa untuk Putra. Setelah kejadian di apart hari itu, rasa itu hilang tak berbekas.
Gadis itu kembali mengulas senyum, bahkan saat mabuk berat hari itu Devan lah yang selalu telaten mengurusnya. Bahkan, laki-laki itu tidak jijik dengan muntahan yang selalu dikeluarkannya sehabis mabuk.
Memang saat itu malam hari dan bibi juga sudah terlelap, Devan tidak mau membangunkan bibi karena harus membersihkan bekas muntahan. Akhirnya Devan sndiri yang membersihkan muntahan itu, takut kalau nanti dikerubungi semut.
Senyumnya kembali terukir saat ia berpelukan dengan Devan hari itu, mengingat hal itu membuat pipinya memanas. Sekarang ia ingin cepat-cepat tidur, memikirkan hal itu membuat telapak tangan dan kakinya terasa ngilu. Gadis itu memeluk guling, bersiap untuk tidur.
Alih-alih menutup mata, Zahra malah mendapat telepon dari seseorang.
"Ga liat sikon banget si? Nelpon malem-malem, mana kaki gue rasanya pengen nendang orang mulu," gerutunya saat mengangkat telepon.
"Halo."
"Maaf nona malam-malam mengganggu. Saya telah menemukan alamat orang yang berada di makam Tuan Johan waktu itu."
"Terus, siapa orang itu?"
"Orangnya begitu misterius, dia memakai masker sepanjang pulang, saya tidak dapat bertindak lebih jauh."
"Ya udah ga papa, kirim aja alamatnya. Habis ini saya transfer bayaran kamu."
"Baik, Nona. Terimakasih."
Pesan langsung masuk ketika ia selesai mentransfer sejumlah nominal pada anak buahnya. Memang sehabis dari makam waktu itu, ia menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu siapa orang itu.
Zahra membaca pesan yang masuk ke WhatsApp-nya, "Besok gue bakal ke alamat ini, semoga gue nemuin petunjuk tentang keberadaan Kak Raisha."
Gadis itu menghela napas kemudian meletakkan handphone ke nakas. Memilih posisi yang tepat untuk tidur, kemudian memejamkan mata. Dalam sekejap, Zahra telah terbang ke alam bawah sadarnya.
****
TBC!!
Maap yaa, baru update
See you ❤️
__ADS_1