Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
12. Perbincangan Malam Minggu


__ADS_3

Saat ini Zahra duduk manis di depan TV yang menayangkan acara kartun. Kalian tahu kartun apa? Kartun Tayo, entah kenapa gadis itu sangat menyukai kartun tersebut. TV pun sudah diprogram Rio, isinya hanya Tayo, pria itu memang pecinta Tayo sejati.


Telepon yang berada di meja berdering, Zahra mengurungkan niatnya yang akan mengambil brownies. Gadis itu mengerutkan dahi ketika tertera nama Diki di sana.


"Ada apa, Bang?"


"Ada kasus pembullyan baru di kampus, korbannya adik gue, Una."


"Apa? Udah lama lho ga ada kasus pembullyan, kenapa bisa terjadi?"


"Gue udah cek setiap CCTV yang ada di kampus, tapi ga ada yang bisa dijadikan bukti. Dia nelepon gue sejak acara pelantikan tadi, karena HP gue non-aktif makannya baru tahu selesai acara. Gue nemuin dia dan dua temannya meringkuk di aula belakang. Mereka jauh dari kata baik, bekas memar di mana-mana, pakaiannya pun udah rusak, rambutnya juga berantakan," Diki menunda ucapannya, terdengar helaan napas berat dari seberang sana, "saat ditanya pelakunya, mereka malah diam dan nangis, akhirnya gue anterin mereka pulang."


"Terus, Una sendiri keadaannya gimana?"


"Syukurlah, dia sekarang baik-baik aja. Tadi cowok lo ke sini, ngajakin Una jalan, mumpung malam minggu juga."


Zahra mengganti posisi duduknya, ia menyandarkan diri pada sandaran sofa, lalu mematikan TV agar tidak mengganggu pembicaraannya.


"Terus, abang izinin?"


"Iya, biar dia lupa sama kejadian tadi. Sebelum telepon lo, gue juga nanyain teman-temannya Una, dan syukurlah, mereka baik-baik aja sekarang."


"Syukur deh kalau mereka baik-baik aja, soalnya peristiwa kek begitu dampaknya ke mental."


"Iya. Lihat aja, siapa yang ketauhan bully di kampus, mereka bakal dapat ganjaran yang setimpal."


"Gue juga berharap kek gitu, semoga ya. Gue pastiin kejadian kek gini ga akan terulang lagi."


"Ya udah, kalau gitu gue tutup, ya? Eh, Una jalan sama cowok lo ga papa, kan ini?"


"Ga papa, santai aja kali!"


Zahra tersenyum tipis kemudian menutup teleponnya, ia mengetik beberapa huruf lalu kembali menempelkan ponselnya ke telinga.


"Kenapa, Ra? Tumben nelepon malam?"


"Dia udah ngelakuin ke Una, pasti bentar lagi giliran gue. Gimana? Lo udah dapat info siapa cowok itu?"


"Aduh, sayangnya belum. Sepertinya dia benar-benar main api sama lo. Gue udah coba ikutin mereka, tapi mereka sepertinya ga mau bahas soal itu. Yang penting lo tetap waspada, jangan sampai lengah."


"Ya udah, habis ini gue transfer bayaran lo."


"Oke, thanks."


Zahra mematikan handphone-nya, gadis itu melempar HP-nya ke sofa sebelah. Ia mengunyah brownies dengan kesal, kemudian mengambil kembali HP itu untuk mentransfer bayaran pada Rani.


Ah, sial! Bagaimana ini, sepertinya ia harus menghidupkan kembali invisible bodyguard—pengawal yang dibentuknya untuk mengecoh Rio dan lainnya.


Rio duduk di sebelahnya dengan membawa sepiring gorengan. Selesai dengan brownies yang telah dikunyahnya, Zahra langsung mencomot salah satu gorengan yang di bawa Rio.


"Dapat gorengan dari mana, masih anget lagi," ucap Zahra setelah menghabiskan satu gorengan.


"Bikinan bibi, he-he. Tadi ada tiga piring, yang dua suruh kasih ke yang lain, yang satu ke kita."


"Terus bibi?"


"Bibi udah nyisain buat dia."


"Bibi bikin banyak dong? Kakak tadi di sana bantuin ga, atau malah bantuin ngerusuh? Kasian loh bibi bikin banyak tapi ga ada yang bantuin."

__ADS_1


"Enak aja, gue bantuin tahu, makannya bikin banyak."


"Syukur deh, kirain kakak bantu habisin."


Rio langsung saja meraih leher Zahra yang duduk di sampingnya, pria itu memiting leher adiknya karena dituduh asal. Rio terkekeh saat perutnya disikut Zahra dengan keras. "Makannya, jangan asal tuduh."


"Iya-iya. Lepasin dulu, sakit nih leher gue," ucap Zahra kesal. Gadis itu mengusap lehernya yang hampir merah karena pitingan Rio yang kuat.


"Oh ya, Dek. Tadi salah satu OB nemuin CCTV yang sengaja dirusak terus di buang ke tempat sampah. Tadi dia udah lapor ke bagian teknisi, tapi di suruh lapor lagi ke gue, awalnya mau ke Diki tapi Dikinya masih di panggilan lain."


Ohhh, jadi CCTV-nya dirusak, ucap Zahra dalam hati.


"Ada pembullyan di kampus, korbannya adiknya bang Diki sana temannya. Karena ga mau ketahuan, makannya CCTV yang ada disekitar lokasi dirusak, dan peristiwa terjadi saat pelantikan rektor baru dan rekan lainnya. Saat semua orang fokus di depan, si pelaku ini menjerat korban ke belakang."


"Kakak kira kasus kayak gini udah ga ada, soalnya dulu waktu kakak yang menjabat semua orang takut sama gertakan. Dan yahh, kakak pikir ga akan keulang lagi."


Zahra menggeleng tidak setuju dengan argumen Rio. "Kasus kek gini sering terjadi dan berseliweran—mulai dari yang paling kecil seperti perundungan sampai pengeroyokan yang biasanya main fisik. Tapi, hanya satu atau dua kasus yang biasanya terlihat oleh umum, lainnya mungkin udah ditutup sama teman pelaku atau korban. Banyak kasus seperti ini tanpa lapor ke PA atau pihak terkait, karena mereka takut akan gertakan dari si pelaku, atau memang ga mau memperpanjang masalah. Sebagian besar korban mengganggap kasus seperti ini aib, padahal jika disiasati lebih dalam, kasus kek gini bisa selesai lho dan ga mudah terulang kembali."


"Iya, harusnya gitu. Karena dengan laporan, pihak terkait tersebut dapat menindaklanjuti kasus, kalau kasusnya parah bisa juga berakhir di meja hijau. Uhm, gimana kalau sosialisasi tentang bullying, mungkin itu dapat mengurangi kasus bully."


"Gimana?"


"Di kampus kan ada prodi bidang psikologi, mungkin mereka bisa sosialisasi tentang bullying beserta dampak-dampaknya. Nanti kakak hubungi Diki, biar dia bicara sama ahli disana, kalau bisa sosialisasinya dilakukan secepatnya."


"Terserah kakak sih, gue mah ngikut aja."


Rio tersenyum tipis, kemudian mendekatkan diri pada Zahra, memeluk gadis itu dari belakang, mencium rambutnya yang beraroma wangi khas Zahra. Mawar esens!


"Sekarang lo udah bisa fokus kuliah, soalnya tanggungjawabnya udah pindah ke Diki. Jadi, kakak ga mau dengar kamu bolos dengan alasan ngerjain tugas rektor! Paham?"


"Iya, lagian gue juga udah niat memperbaiki nilai. Malu sama yang lain, masa lainnya dapat IP B, gue C sendiri. Malu-maluin banget!"


Fyi, siang tadi memang diadakan pelantikan rektor baru di Merpati Putih. Diki menjabat sebagai rektor utama, dia didampingi oleh beberapa wakil rektor. Untuk warung makan yang dimiliki Diki pun sudah bertransformasi menjadi rumah makan. Tentu rumah makan tersebut telah dipercayakan kepada seseorang, sehingga Diki dapat mengeceknya seminggu atau sebulan sekali. Rio menginvestasikan sahamnya di rumah makan milik Diki, sebagai bangunan dan properti lainnya. Untuk keuntungan, Rio hanya mengambil 10% tiap bulan. Sebenarnya pemilihan rektor dibagi menjadi beberapa jenis, ada yang ditunjuk langsung oleh presiden RI—musyawarah dan voting dari senat maupun mahasiswa. Namun, untuk kampus swasta satu ini menerapkan sistem monarki, sistem yang rektornya ditunjuk langsung oleh pemilik yayasan. Biasanya orang yang ditunjuk telah memiliki ilmu di bidang tersebut dan hubungan erat dengan pemilik yayasan itu sendiri.


"Iya, untung kakak waktu itu ngenalin gue jadi sepupu. Coba kalau adik kandung." Zahra menahan tawanya kemudian memasukkan potongan gorengan ke mulutnya.


"Hmm, bisa ga punya muka gue kalau berkunjung ke kampus," timpal Rio.


Mereka menghabiskan goresan dan brownies yang tersaji di depan mereka, dua gelas air yang di dapat dari bodyguard habis tak bersisa.


Iya, Rio menempatkan bodyguard di setiap sudut mansion, bahkan di dalam sekalipun. Tapi itu hanya untuk lantai satu, karena lantai dua adalah batas privasi mereka. Jangan salah, para bodyguard itu memiliki tempat sendiri jika ingin beristirahat.


Zahra menyandarkan tubuhnya pada tubuh Rio, gadis itu mulai mengantuk, terbukti saat tangan besar Rio menutupi mulut adiknya yang menguap lebar. Sejak Rio lebih memperhatikannya, lebih sering ia tidur satu ranjang dengan Rio—pola tidurnya semakin terjaga, tidak seperti dulu yang terbiasa tidur larut.


"Ke kamar aja yuk, mata lo udah tinggal lima watt, tuh!" ucapan Rio hanya ditanggapi dengan gumaman tidak jelas. Setelah diperiksa, ternyata adiknya telah terbang ke dunia mimpi. Rio berdiri perlahan, membetulkan posisi adiknya agar telentang di sofa, laki-laki itu ingin membereskan meja sebelum mengangkat Zahra ke kamar.


Selesai dengan membereskan meja—mencuci piring dan gelas yang telah digunakan, Rio kembali ke sisi adiknya. Mengangkat tubuh mungil Zahra menuju pintu hitam legam, merebahkan tubuh adiknya dengan hati-hati, agar tubuh mungil kesayangannya itu tidak terjaga.


Namun siapa sangka, saat ia membalikkan badan, justru jemari Zahra malah mencekal lengannya. Perlahan sayup itu terbuka, mengerjab sesaat sebelum memandang Rio dengan tatapan memohon. "Tidur di sini aja, Kak."


Rio tersenyum tipis kemudian mengangguk, pria itu setuju saja ketika adiknya mengajak tidur bersama. Toh yang mereka lakukan selama ini hanya tidur, lagi pula mereka mempunyai kamar sendiri, mereka melakukan ini hanya seminggu sekali. Bisa juga beberapa kali seminggu, jika keduanya ingin.


"Gue tutup dulu pintunya."


"Cepetan ...," ucap Zahra merengek.


Rio dengan segera menutup pintu lalu membaringkan diri di samping Zahra, begitu menemukan gulingnya—Zahra memeluk erat hingga melupakan guling Doraemon yang terjepit di sela-sela mereka.


...****...

__ADS_1


Skicate Bar, 02.00 AM


“Gimana? Rencana lo udah jalan?” tanya Lisa setelah menghabiskan segelas beer.


“Belum. Besok gimana?” balas Ina sambil mengunyah snacknya.


“Besok?” Kening Tantri berkerut, tapi gadis itu mendukung apa saja yang dilakukan gadis bernama Zaria Marina Stevani.


“Maybe, biar gue hubungi dulu orangnya, kalau dia besok bisa ya besok dijalankan,” ucap Ina dengan yakin. Gadis itu merogoh tas selempangnya untuk mengambil handphone. 


“Lo yakin dia benar-benar ga tahu tentang semua ini?”


“Emang kalian melihat ada yang mencurigakan di sini?” tanya Ina balik, gadis itu mengidikkan bahu.


“Enggak sii,” jawab Mia setelah menerawang ke segala penjuru, memang tidak terlalu jelas karena mereka di bar saat ini.


“Ya udah, yakin aja, ada gue ini.”  Ina mulai mengutak-atik handpohone lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


“Besok jalankan rencana!” ucap Ina dengan nada penuh perintah.


“Lo siapa? Merintah-merintah gue seenak jidat lo? Tapi lo tenang aja, gue akan menikmati permainan ini, permainan yang gue suka,” jawab orang ditelepon dengan kekehan kecil.


“Sebenarnya lo masih cinta, 'kan sama dia?”


"Cinta? Lo gila? Enggaklah, gue ga ada rasa sedikit pun sama dia. Sebenarnya semua ini udah lama pengen gue lakuin, tapi karena Rio sialan itu, gue ga dapat apa-apa,” kata orang ditelepon.


Ina terkekeh mendengarnya. "Curhat, Bang?” balasnya diselingi tawa.


“B*ngke lo! Ga jadi nih?”


Sentakan itu membuat Ina tersadar dari tawanya. “Ehh jangan, gue udah bayar mahal lo tahu ga!” balasnya dengan penekanan.


“Gue si ga butuh duit lo sebenarnya, tapi ga papa itung-itung buat tambahan saldo.”


“Bangs*t ya, lo!” maki Ina geram.


Orang di seberang sana tertawa. "Udah-udah, capek gue ketawa mulu. Lo ga usah khawatir, gue pasti lakuin itu kok. Cepet pulang gih, tuh liat di sebelah barat, om-om udah pada melihat kalian dengan tatapan lapar. Pulang kalo ga mau di gangbang! Night b*tch.” Orang itu kembali tertawa.


Ina meletakkan HP-nya di atas meja tanpa memutus panggilan, pandangannya mengedar ke segala arah. Setelah beberapa saat mengedarkan pandangan, fokusnya kini hanya kepada satu titik. Seorang pria kini sedang menatapnya dengan ponsel yang masih nyaman menempel di samping telinga.


“Damn!” ucap ina diakhiri geraman.


“Why?” tanya Tantri mewakili dua temannya.


“Dia ada di sini,” jawab Ina tanpa mengalihkan pandangan. Mereka yang paham akhirnya melihat ke mana arah pandang Ina, seketika mata ketiganya melotot tak percaya.


“Cabut girls!” Ina keluar mendahului teman-temannya setelah meletakkan dua lembar kertas berwarna merah muda.


Entah, dari dulu Ina memang tidak menyukai orang itu, jika ia berdekatan dengan orang itu, ia merasa bahwa harga dirinya seperti terinjak-injak. 


Orang yang berada di sudut ruangan itu hanya terkekeh kecil melihat para gadis keluar dari bar.  “Wait me little sister,” gumamnya pelan lalu tersenyum miring.


****


*IPS atau biasanya dikenal IP merupakan hasil rata-rata nilai prestasi dalam satu semester.


* PA (Pembimbing Akademik/Penasehat Akademik) atau Dosen Wali. Tuganya sama dengan Wali Kelas, yaitu memberikan arahan, membimbing, dan membantu mahasiswanya dalam permasalahan yang dihadapi selama aktif studi.


Jangan lupa like, vote dan komennya ❤️

__ADS_1


__ADS_2