
Tangan Rizki berjalan ke sana ke mari, menyusuri berbagai pepohonan di hutan rimba. Ia menyukai kegiatan ini, sebab adik dan kekasihnya tidak mau di beginikan. Namun, kini ia menemukan kesenangan baru.
Tangan seorang gadis berkali-kali menepis tangan itu, tapi ia tak juga mengangkat kepalanya dari pangkuan seseorang. Ia berusaha menikmati semuanya meski tangan itu tak berhenti bergerak di kepalanya. Tak pernah disangka, ia akan ketiban saudara sepupu semacam mereka. Ia memang tidak tahu seperti apa keluarganya, namun—hari ini, kakeknya memberikan kejutan istimewa untuknya. Hal yang pernah ia duga sebelumnya. Meski sebelum kebahagiaan timbul, ia harus meneteskan telaga beningnya untuk sahabatnya yang kini menjadi sepupunya.
"Lo kira rambut gue ada kutunya apa!" Tangan itu kembali menyentak jemari seseorang yang aktif bergerilya. "Riz, berantakan tahu." Ia mengangkat kedua tangannya, lalu berusaha menghentikan tangan yg sejak tadi aktif di kepalanya. "Kan ... kena!"
Dengan cepat tangan itu meloloskan diri, kembali bergerilya. Rambut yang ia mainkan kali ini beraroma kayu manis. Ia tersenyum kemenangan begitu melihat raut di bawahnya kesal. "Panggil gue Abang coba! Lo aja manggil Raisha kakak, sekarang panggil gue Abang!"
"Pengen banget lo dipanggil Adel Abang," ucap Revan. Laki-laki itu sedang menghabiskan satu toples stik coklat. Selalu ada makanan yang meraung-raung minta dilahap di rumah ini.
Jangan kira, Rizki dan Ardelia berduaan. Tentu ada Revan, Rio dan Raisha di sana. Raisha dan Rio sedang beradu game Commando Strike. Siapa yang menyelesaikan 20 level tercepat akan menang. Jika Rio kalah akan mengisikan saldo shoppe pay ke rekening Raisha, sedangkan jika Raihsa kalah maka harus menjadi asistennya di kantor selama satu bulan. Raisha tidak bisa membayangkan jika dirinya kalah, laki-laki itu pasti mengerjainya habis-habisan.
"Ga nyangka gue bakal saudaraan sama lu pada." Revan menatap mereka satu per satu. Tak pernah disangkanya ia akan bertemu kembali dengan sosok yang mengkhianati ibunya, tinggal di istana Wahyu Hartarajasa yang digadang mimpi semua orang, malah menjadi kenyataan untuknya. Lalu dikejutkan oleh seseorang yang telah dianggap Zahra sebagai kakeknya, malah memperkenalkan diri sebagai kakeknya. Memperkenalkan dirinya pada keluarga inti Wahyu. Atasan yang ia hormati. Pantas saja ia merasa jika Wahyu memberi perhatian lebih untuknya dan untuk Zahra.
Rio hanya sanggup tersenyum tipis, bagaimanapun dirinya masih terkejut dengan ini semua, tak disangka kehidupannya akan diawasi oleh kakek yang baru ditemuinya. Jika saja, orang yang menemukan kalung itu bukan omnya sendiri, kalung itu pastilah sudah terjual. Kalung itu membawanya dalam pertemuan menegangkan yang ia telah lalui tadi.
Ibunya bukan berasal dari keluarga biasa, pantas saja ibunya begitu luar biasa. Rupanya keluarbiasaan ibunya menurun pada adiknya. Ia menyesal kembali sudah berbuat tidak baik pada Zahra malam itu.
"Kenapa, Bang?" tanya Raisha, ia mengamati wajah Rio seperti memikirkan sesuatu.
Rio menggeleng. "Engga kok." Pria itu mengibaskan tangannya, sebelum akhirnya memegang lehernya karena terasa tercekik. Ia menepuk-nepuk tangan seseorang yang melingkari lehernya.
"Ra, udah dong. Kasian Bang Rio," Raisha menegurnya sebelum ia membuat salah satu kakaknya berhenti bernapas. Gadis itu meringis sebelum akhirnya melepaskan tangannya dan mengecup pipi Rio sekilas, setelahnya mendudukkan diri di sebelahnya. "Dari mana lo?" Menoleh pada Zahra yang sudah anteng.
"Lo habis nangis, Ra?" ucapan Ardelia membuat kelimanya menoleh pada Zahra, gadis itu hanya mengidikkan bahu sekilas.
"Eh iya, bener. Mata lo sembab banget." Revan mendekati Zahra, menangkup wajah itu. Membolak-balik wajah di hadapannya, mencari secercah luka yang mungkin membuat adiknya menangis.
"Lepasin, Abang ih," ucap Zahra kesal, masih tersimpan serak di suaranya. "Lebay, gue ga kenapa-kenapa coba." Menyadari tatapan para saudaranya yang tak santai, gadis itu menghela napas. "Gue benaran ga papa, kalian terlalu khawatir. Tapi makasih udah perhatian sama gue." Zahra menatap mereka satu per satu. "Sebaiknya kita pergi tidur, bukan? Kita masih memiliki pekerjaan untuk besok."
__ADS_1
"Kita emang harus tidur, udah jam sepuluh." Rio mengamati jam di ponselnya, diikuti saudaranya yang lain.
Zahra tersenyum kecil di tempatnya, mengulurkan tangan pada Ardelia. "Ayo ke kamar." Begitu sahabatnya berdiri, ia segera mengucapkan selamat malam pada semuanya.
Rio juga menyuruh Raisha untuk segera mengikuti kedua gadis yang telah sampai di tangga. Ketiga laki-laki ini punya hal untuk diselesaikan sebelum merebahkan diri di ranjang.
Zahra mematikan lampu utama, setelahnya ikut berbaring di samping Ardelia. Menarik selimut untuk mereka kenakan. Gadis di sebelahnya tampak fokus memandang luar yang bisa dilihat melalui pintu balkon. Sesuatu di luar sana bisa terlihat jelas dari balik kaca, sedangkan orang di luar tak kan tahu apa yang berada di balik kaca.
Zahra mengikuti arah pandang Ardelia. Ia menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas. Ia tahu apa yang membuat gadis di sampingnya enggan mengalihkan pandangan.
Objek yang dilihat keduanya menghilang, Ardelia segera berbalik ke arah Zahra. "Ra, tadi kayak ada orang di pohon-pohon sana. Tapi ga tahu juga, itu orang beneran apa bukan, ga terlalu jelas soalnya. Kayaknya dia mau ngintai lo, deh."
Zahra menyatukan kedua alisnya, melirik ke arah pepohonan yang tadi ditunjuk Ardelia. "Masa, sih? Ga ada apa-apa kok di sana." Ia kembali memandang Ardelia. "Udah yuk, tidur. Lagian ga ada apa-apa kok."
"Lagi-lagi pandangan Ardelia tertuju ke luar. "Lo kok santai aja, beneran ada yang ngintai elu deh."
Zahra menengok sekilas pada Ardelia, jemarinya masih sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya. "Udah, cuekin aja. Mendingan kita tidur, udah capek banget nih gue." Zahra meletakkan ponsel itu ke nakas, menatap datar gadis di sebelahnya.
"Ya, semoga aja."
...****...
Zahra tersenyum manis saat berpapasan dengan Rizki di depan pintu kamar. "Pagi, Kak," sapanya.
"Pagi. Cerah banget muka lo. Pasti nyenyak ya semalam," ucap Rizki, berjalan mendekati Zahra, mengusap rambutnya lembut.
"Iya nih, efek kemaren kali." Zahra terkekeh pelan, menurunkan tangan Rizki yang masih bertengger di kepalanya. "Lo sendiri gimana?"
Rizki menatap adiknya dalam, menggenggam tangan halus itu. "Gue ga pernah nyesel terlahir di keluarga ini, cuma satu penyesalan gue," Rizki menyelami manik Zahra yang menunggu ucapannya, ia mengusap pipi Zahra dengan telunjuknya, "gue ga bisa mengendalikan keegoisan gue saat itu, rasa nyesel itu masih ada sampai sekarang, Ra."
__ADS_1
Zahra tersenyum tipis, melepaskan genggaman Rizki. Mengusap lengan kakaknya pelan. "Gue udah maafin lo, udah ngelupain juga," ia membalas tatapan Rizki, "jadi buang rasa menyesal kakak, gue benar-benar udah maafin lo."
"Tapi rasa menyesal gue ga akan pernah hilang dari hati gue, Ra. Ga tau malu banget kalau gue sama sekali ga nyesel," ucap Rizki.
"Woi, ngapain lo berdua? Pacaran di tengah jalan!" ucap seseorang yang tiba-tiba mengagetkan keduanya.
"Apaan sih lo." Rizki menjauhkan diri dari Zahra. "Kayak ga pernah ngelihat kita mesra-mesraan aja."
"Nj*r, otak gue masih negative kalau ngelihat lo begitu sama Zahra. Jadi jauh-jauhan deh lo berdua," ucap Rio dengan nada malas.
"Otak lo aja yang kotor," balas Rizki.
Zahra memutar bola matanya. "Turun aja yuk, yang lain pasti udah nunggu."
"Lah, kan ... Raisha, Revan sama Ardel masih di dalem," kata Rizki, saat keduanya berjalan meninggalkannya. Ia segera menyusul di belakang Rio dan Zahra.
"Biarin, ga mungkin kan mereka bakalan tersesat di sini. Emang lo kita ini hutan apa," jawab Zahra agak kesal.
"Iya, aneh banget lo," timpal Rio.
"Bukan gitu saudara-saudara, kalau kita turun rame-rame kan kelihatan keren gitu lho ...."
Rio menggelengkan kepalanya, ia berjalan agak cepat agar bisa menjauhi kedua adiknya. Zahra menanggapi ucapan Rizki yang tak mutu, membuat keduanya terlibat perdebatan.
"Sendiri aja, Yo?" tanya Rivan saat melihat Rio datang seorang diri.
Rio tampak tersenyum tipis. "Iya, Om. Yang lain masih di atas. Zahra sama Rizki lagi cekcok di tangga."
"Dibiarin aja?" Tiba-tiba Wahyu menyahut.
__ADS_1
"Iya Kek, udah terbiasa. Makanan sehari-hari," jawab Rio.
Bi Heni dan Zaskia telah selesai memasak. Keduanya menyajikan makanan dibantu dengan Rio. Sedangkan Tria sudah berangkat awal dengan dijemput oleh Diki.