
Rio memandang garang dua orang gadis yang berjalan dari belakang Zahra. Gadis itu mengikuti arah pandang Rio, seketika ia membulatkan mata.
...***...
"Kalian? Bikin orang hampir mati aja," ucap Zahra kesal.
Dua tamu tak diundang itu duduk di kursi yang tersisa.
"Ya sorry, Ra. Gue cuma bercanda," kata salah satunya dengan santai.
Sedangkan Rio memerhatikan seorang gadis yang mengambil kursi di samping kirinya— di antara ia dan Zahra. Sebenarnya ada apa dengan jantungnya, kenapa detaknya dua kali lebih cepat saat ia berdekatan dengan gadis ini?
"Ehm," Rio berdehem cukup keras, membuat tiga orang gadis itu terkejut, apalagi gadis dengan kardigan hijau—menatap Rio dengan pandangan sulit diartikan.
"Pak Darel," ucapnya pelan penuh kecanggungan. Ia memang tahu jika kakak dari Zahra ialah Rio, tapi ia tidak menyangka bahwa akan bertemu di sini. Satu meja dengan Rio, apalagi tadi ia sempat menghubungi Rio di hari Minggu—membuatnya sedikit kena amukan.
"Defi."
"Lohh, kalian saling kenal?" ucap Zahra pura-pura tak tahu. Ia ingin mengetes keduanya, apakah kakaknya akan mengakui sesuatu di depannya.
Dilihat dari cara Rio memandang Defi, entahlah, Zahra pikir memang ada sesuatu di antara keduanya. Begitu pun Defi, gadis itu memandang Rio gugup.
"E–iya. Dia sekretaris kakak," sahut Rio pada akhirnya.
Zahra tersenyum sumringah, ia sebenarnya tahu jika Defi menyimpan rasa pada kakaknya. "Ohh, sekretaris, ya? Pantesan kek cocok gitu."
Ucapan Zahra membuat pipi Defi memunculkan semburat, sementara gadis dengan kemeja mocha cekikikan di tempatnya. Gadis itu mengerling jahil.
"Eh, iya loh. Kalian cocok, satunya CEO, satunya sekretaris—satunya tampan, satunya cantik."
Rani dan Defi, sahabat secret Zahra. Dua orang gadis yang menempuh pendidikan lewat jalur beasiswa di Merpati Putih.
Zahra dan Rani terkekeh setan, membuat Defi semakin malu.
"Jangan dengerin mereka, Pak. Mereka cuma bercanda."
"Terserah, saya juga ga peduli."
Zahra melongo, apa begini sikap Rio saat di kantor. Berwajah datar dan irit ngomong? Pantas saja jika bawahan banyak yang takut padanya, waktu itu Zahra pernah ke kantor Rio. Di sana semua karyawan menghormati atasan dengan sangat baik.
"Biasa aja dong, Kak. Kaku amat kek kanebo kering!"
"Hm," balas Rio singkat.
“Eh, lo berdua udah makan belum?” tanya Zahra pada tamu tak diundang.
“Belum, kenapa? Mau nraktir nih?” Rani sangat berharap jika Zahra tak keberatan mentraktirnya, pasalnya ia sangat lapar. Ia hanya membawa sedikit uang, yang lainnya berada di kosannya.
“Pesen aja, nanti biar Kak Rio yang bayar, iya kan, Kak?”
Rio mengangguk setuju dengan perkataan Zahra, hal itu membuat Rani berbinar.
“Wahh, thanks yah. Lo mau makan apa, Def?” tanya Rani pada Defi, akhirnya permohonannya terkabul.
“Samain," jawab Defi singkat.
Rio memanggil pelayan, kemudian mengucapkan pesanan dua gadis yang baru datang tersebut.
“Makasih udah mau bayarin makanan kita, Pak,” kata Defi pada Rio.
“Santai aja. Oya, jangan panggil pak kalau lagi di luar, saya masih muda. Satu lagi, panggil saya Rio,” ucap Rio santai. Pria itu berusaha menetralisir gugup yang menderanya, dengan berbicara sesantai mungkin.
Zahra tersenyum dengan sikap kakaknya yang tidak sekaku tadi, ia sangat terganggu dengan kakaknya yang seperti itu. Ia belum terbiasa.
“Sok muda lo, Kak!" Jiwa jahil Zahra meronta-ronta, senang saat melihat kakaknya ternista.
“Beda empat tahun doang dari lo!” kekeh Rio, pria ini tidak mau kalah dengan adiknya.
“Terus saya manggilnya gimana?” tanya Defi ragu, bercampur kebingungan.
“Make gue-lo aja. Panggil aja Rio!" kata Rio menegaskan.
“I–iya," jawabnya dengan ragu.
Pandangan Rio beralih pada Rani. “Lo siapa? Kok gue kayak familiar sama lo?"
“Gue seniornya Zahra," jawab Rani diiringi senyuman.
Mata Rio memicing, mencari kebohongan di matanya. “Lo bukannya pemilik perusahaan serta CEO dari Uly's Group, ya?”
Zahra menghentikan acara makannya, gadis itu juga melihat ke arah Rani. Sedangkan Rani sendiri bingung harus menjawab apa? Haruskah ia jujur? Gadis itu melirik Zahra sekilas.
Seperti habis menang tender, Rani tersenyum lebar. "Gue, CEO?" Rani terbahak sambil menunjuk dirinya sendiri. Sampai-sampai Defi mengisyaratkan Rani untuk diam pun, tidak Rani gubris. Gadis itu masih terbahak.
__ADS_1
Rio bingung.
"Udah deh, kalau nglawak jangan lucu-lucu amat, ga tahan gue."
Rani ini memang tipikal orang yang blak-blakan kalau bertemu orang baru. Makannya dia mudah akrab dengan sekitar. Zahra bernapas lega, setidaknya Rani tidak membocorkan rahasianya.
Rio mengangguk, sebelah alisnya seolah bertanya pada Zahra, gadis itu mengidikkan bahu.
"Jangan ada kesalahanpahaman di antara kita," kata Rani dengan meniru sinetron yang ditontonnya. Zahra dan Defi mencibir pelan.
"Maksudnya?" Rio tetap menyipitkan matanya.
"Gue bukan CEO elah, lo percaya nih kalo tampang kek gue nih CEO?"
"Enggak," jawab Rio cepat.
"Lo aja ga percaya kalo tampang menarik, rapi kek gue ni CEO. Apalagi yang tambang orak-arik kek gini?" kata Rani sambil menunjuk Zahra.
"Sialan!" desis Zahra pelan, Rio dan lainnya melirik Zahra yang terlihat kesal.
"Ga mungkin juga adik gue yang tampangnya kek preman gitu CEO, ga banget!" ucap Rio setelah mengerling jahil, ia sebenarnya percaya saja jika adiknya jadi CEO. Pasalnya, Ra Cafe dan Merpati Putih semakin bersinar saat Zahra yang menjadi rektornya. Bahkan, cafe adiknya itu akan menambah cabang di Surabaya dan Banten.
Zahra memang mempunyai jiwa kepemimpinan, tak salah jika Rio telah mempercayainya untuk membangun usaha sendiri.
"Kenapa jadi gue yang kena bully?" tanya Zahra dengan membuat ekspresi semenyedihkan mungkin. Rio menggelengkan kepala melihat tingkah Zahra yang sok tersakiti.
Rio berdehem, membuat rautnya kembali serius. "Terus CEO yang sebenarnya siapa?" Pasalnya ia sudah sangat kepo ingin tahu siapa sosok di balik berdirinya Uly's Group, perusahaan yang kesuksesannya hampir sama rata dengan perusahaan yang berusaha menjatuhkan Ario Company.
Meskipun aset besar Uly's Group yang telah berdiri hanya Hotel Anjani yang berada di Jakarta Selatan, tapi hotel itu banyak menarik wisatawan dan pebisnis untuk menginap di hotel tersebut. Usianya yang masih muda, namun tidak bisa jika disebut perusahaan pemula.
Maka dari itu, Rio sangat penasaran dengan sosok tersebut. Sejak Uly's Group berdiri, pemiliknya tak pernah menampakkan diri saat ada acara penting ataupun pertemuan dengan kolega. Pasti Rani yang datang dengan asistennya. Siapa sebenarnya sosok di balik kesuksesan Uly's Group?
Sadar mereka terdiam karena pertanyaannya, Rio mengalihkan topik. Huft, sepertinya itu topik sensitif yang harus dihindari . Mengingat Zahra yang tidak suka membicarakan apa pun tentang perusahaan, bisnis, dan perintilannya saat sedang makan.
"Ehm, sejak kapan kalian bertiga temenan?"
"Udah lama sih, cuman ya ... kita jarang jalan bareng. Kita kan punya kesibukan masing-masing, lagi pula mereka sahabat secret gue," jawab Zahra pelan.
Rio mengangguk dengan jawaban adiknya, lalu menoleh ke samping—menatap Defi. Defi yang ditatap Rio serasa mati kutu, ia mengalihkan bola matanya pada pengunjung lain.
“Kok lo ga pernah cerita kalo kenal sama adik gue?” tanya Rio pada Defi. Gadis itu meringis mendapati Rio menatap tajam ke arahnya. Jantungnya serasa mau meledak karena itu.
“Kan ga pernah nanya. Namanya juga temen secret," jawab Defi singkat, ia tidak mau menatap Rio lebih lama, bisa-bisa jantungnya meledak betulan.
Wajah Rani tiba-tiba berubah serius. “Oh ya Ra, gue denger-denger lo tadi hampir dilukai orang, ya?”
Rani memangku dagunya dengan kedua tangan yang disatukan di atas meja, masih menatap serius Zahra. “Itu orang kenapa nyerang lo?"
Zahra menggeleng. “Gue juga ga tau. Identitas gue masih aman kan, Kak?”
“Masih, selama ga ada orang yang ngacak-ngacak ruangan kakak. Semoga aja ga ada yang nge-hack data perusahaan, gue mau hapus data lo ga bisa masuk aksesnya—buat buka data itu kita butuh sidik jari papi, tapi kan papi udah ga ada."
Zahra mengerutkan dahi, tidak mungkin jika ayahnya memberikan tanggungjawab perusahaan pada Rio tanpa memberi kakaknya itu akses.
"Kakak yang bener aja, kayaknya ga mungkin deh kalau cara satu-satunya buat buka cuma sidik jari papi. Kalau gitu caranya, sampai anak cucunya pun data yang terakses ga akan valid dong?"
Defi ikut-ikutan memangku dagunya. "Mungkin ada orang lain yang tahu gimana masuk aksesnya tanpa sidik jari, tapi kayaknya ga mungkin. Kan yang bertanggungjawab sekarang cuma Rio doang."
Mereka hening, sama-sama memikirkan teka teki ini. Tiba-tiba Rani menjentikkan jarinya. "Mungkin aja kalau menurut gue."
Mereka memandang Rani dengan segala keyakinannya, sama-sama terkejut karena Rani menjentikkan jarinya di depan wajah mereka.
"Ayah kalian pasti punya orang kepercayaan, mungkin dia tahu caranya buka data itu, secara kan dia orang kepercayaan."
Defi memutar bola matanya. "Jadi maksud lo, Rio itu ga dapat dipercaya, padahal dia anaknya sendiri." Tiba-tiba gadis ini menjadi kesal karena perkataan Rani yang secara tidak langsung, bahwa Deron tidak mempercayai Rio untuk memimpin perusahaan.
Zahra dan Rio juga menatap Rani meminta penjelasan, gadis itu menghela napas.
"Bukan gitu, maksud gue—mungkin waktu itu Om Deron belum sempat ngasih tahu Rio karena belum menjabat langsung. Saat kecelakaan itu kan, Rio juga masih awal kuliah, belum waktunya buat ngurus yang begituan. Jadi, Om Deron cuma ngasih tahu orang kepercayaannya. Kalian tanya aja orang kepercayaan ayah kalian, pasti tahu."
Rio menggeleng, menarik napas berat. Pria itu mengacak rambutnya kasar, lalu menghabiskan suapan terakhir. Kenapa ia tidak pernah berpikir tentang itu selama ini? Kenapa ayahnya tidak memberikan hak akses data pribadi pemilik perusahaan?
Deron mewanti-wanti untuk menyembunyikan identitas adik-adiknya, tapi di data itu seluruhnya terpampang nyata. Rio khawatir jika sewaktu-waktu data itu bocor.
"Satu-satunya orang yang jadi kepercayaan papi saat itu hanyalah Om Aldo, tapi sampai sekarang Om Aldo belum ditemukan. Sejak tiga tahun yang lalu, kasus hilangnya Om Aldo sama tim belum ditutup, pencarian masih dilakukan hingga saat ini. Tapi, hingga kini pencarian itu belum membuahkan hasil."
Zahra berkedip, kemudian mengusap rambutnya ke belakang. Benar, Aldo lah satu-satunya orang kepercayaan Deron, tapi hingga kini tidak ada yang tahu keberadaan Aldo. Ia hanya berharap keamanan yang diterapkan ayahnya begitu kuat, sehingga tak memungkinkan hacker untuk membobolnya.
Dua orang pelayan membawakan makanan dan minuman yang dipesan Defi dan Rani, kedatangan makanan itu menghentikan pembicaraan mereka. Rani langsung melahap makanan yang ada dihadapannya, perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lebih lama.
"Jadi kalian berdua masih kuliah?" tanya Rio heran, mereka berdua sama-sama bekerja di perusahaan sukses, tapi kata adiknya mereka seniornya.
“Iya, mau gimana lagi. Orang tua kita maunya kita lulus kuliah dulu baru kerja. Awalnya kita cuma mahasiswa magang kan, tapi kalian terlanjur suka sama kerjaan kita. Jadi kalian jadiin kita karyawan tetap, sebenarnya ada surat persetujuan orang tua. Tapi mereka bilang ga papa, buat tambahan keperluan kuliah dan biaya hidup di Jakarta."
__ADS_1
"Bentar deh, maksudnya 'kalian' itu gimana? Jadi lo tahu pemilik Uly's Group?"
Defi meringis, rupanya ia salah bicara. "Enggak, maksud gue lo sama pimpinan Uly's Group itu suka sama kerjaan kita."
“kalian ngejar apa?”
“Strata satu.”
“Sekarang semester tujuh, kan? Gue ada usul kalo kalian mau, ini bakalan ringanin beban kalian. Pekerjaan kalian berat, apalagi mahasiswa semester akhir, tugasnya pasti numpuk-numpuk."
"Emang kakak ada usul apaan?"
"Tapi sebelumnya sorry jika ini nyinggung. Menurut gue, lebih baik kalian berhenti kerja, fokus kuliah dulu."
Defi dan Rani terdiam, jika mereka berhenti kerja, pasti akan memberatkan orang tua mereka. Mereka pasti akan meminta tambahan uang untuk biaya hidup di sini. Memang mereka diberi uang saku juga oleh Merpati Putih, tapi rasanya uang itu tidak cukup jika digunakan di dunia yang serba kejam. Belum lagi uang kos yang mereka bayar sendiri tiap bulan, itulah mereka kenapa menjadi teman sekamar. Sebab bisa menekan pengeluaran.
Rio berdehem, menatap keduanya. "Kalian butuh berapa per bulan? Nanti gue transfer ke rekening masing-masing."
Kedua gadis itu mengerjab polos dengan tawaran Rio, mereka serasa menerima durian runtuh. Zahra terkekeh melihat dua sahabatnya, mereka mengerjab dengan mulut terbuka. Gadis itu tersenyum miring, lalu mengambil tisu dan memasukkan ke mulut mereka berdua.
"Bahhh." Rani meludahkan tisu tersebut ke piring Zahra yang telah kosong, Defi juga menarik piring itu kemudian meludahkan tisu juga.
Rani menjambak rambut Zahra yang menjuntai bebas. "Bangk*, lo! Suka banget jahilin orang."
"Iya nih, hish. Hampir aja ke telen, nih ... makan tuh tisu." Defi balas menjejalkan tisu ke mulut Zahra.
"Ish, apaan sih!" Zahra menolak tisu yang diberikan Defi, "ini lagi apaan!" ia menghempas tangan Rani yang menarik-narik rambutnya.
"Ah, ga asik lo! Maunya menang sendiri," tukas Rani sebal. Zahra mendelik ke arahnya.
"Udah-udah. Ga guna kalian berantem, jadi gimana? Kalian setuju sama tawaran gue?"
Keduanya terdiam. Apa pantas merepotkan Rio yang notabenenya atasan sendiri?
"Ambil aja kali, jarang-jarang loh Kak Rio baik sama orang? Kalau kalian setuju, nanti langsung aja kirim nominal sama nomor rekening ke nomor gue," ucap Zahra sembari tersenyum.
"Kalian serius?"
"Dua rius malah, ya gak?" Zahra melirik Rio yang tersenyum kecil, ia tahu. Kakaknya sangat berharap jika kedua sahabatnya mau menerima tawaran tersebut.
"Ya udah deh, kalau kalian maksa." Rani tersenyum lebar, sedangkan Defi mengangguk ragu.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Rio yang menangkap keraguan di mata Defi langsung bertanya.
"Posisi gue gimana, maksudnya yang gantiin sebagai sekretaris lo?"
"Lo tenang aja, gue bakalan cari pengganti sementara untuk Kak Rio—setelah lulus lo bisa deh kerja lagi di Ario Group."
Rani tenang saja bila ia resign dari Uly's Group, ada asistennya yang bisa membantu Zahra. Tapi mungkin, Elvin butuh asisten baru mengingat Zahra yang jarang menginjakkan kaki di kantor.
Rio memanggil waiters, ia meminta bill dan pesanan yang akan dibawa pulang.
“Thanks ya, Yo, Ra. Padahal kita baru aja deket, tapi kalian udah baik banget sama kita."
“Iya, makasih banget ya, lo udah banyak bantu kita."
“Ga papa, dengan sesama kan kita harus saling membantu, apalagi sama orang yang membutuhkan.” Zahra mengangguk setuju dengan ucapan Rio.
Waiters itu kembali dengan bill dan sekantung makanan. Ia menyerahkan bill itu pada Rio, pria itu memberikan dua lembar seratusan. "Kembaliannya ambil aja," kata Rio.
"Baik, Tuan."
Setelah pelayanan itu pergi, Rio memeriksa handphone-nya, ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari bibi. Pria itu menyalakan mode hening, akibatnya ia tak tahu jika dari tadi bibi telah menunggu di mobil.
Rio mengirimkan pesan pada bibi, sehabis itu menoleh ke adiknya yang menggangu acara makan Rani.
"Ayo pulang, bibi udah nunggu di mobil." Rio berdiri dari duduknya, berpamitan pada Defi dan Rani.
Zahra juga berdiri, gadis itu dengan sengaja menepuk keras punggung Rani yang sedang minum. Akibatnya Rani terdesak minumannya sendiri.
"Dek!" peringat Rio dengan mendelik sinis ke adiknya.
"Ha-ha, rasain tuh." Zahra tertawa lebar, mengabaikan Defi dan Rio yang menatap tajam.
Defi memijat tengkuk temannya, setelah dirasa mendingan gadis itu kembali ke kursinya.
Rio menarik Zahra ke luar, sebelum gadis itu kembali membuat ulah.
"Sorry, Ran. Habisnya lo ngeselin," ucap Zahra sambil teriak, pasalnya ia sudah hampir sampai di gapura restoran.
Orang-orang di sana memandang Zahra aneh, sedangkan para karyawan dan Rio hanya menggelengkan kepala.
Rani yang sudah selesai dari acara tersedaknya hanya melambaikan tangan ke arah Zahra yang menoleh ke arah mereka. Sedangkan Defi tampak abai dengan melahap kembali makanan di depannya. Ia sudah sangat terganggu dengan kejahilan Zahra, gadis itu memilih mengabaikan sesi pamitan Zahra yang heboh.
__ADS_1
****
Jangan ketinggalan like dan komennya, thanks 🌹