
Putra sedang duduk di bangku koridor, menunggu Una yang masih di kelas. Sembari menunggu ia memainkan game di ponselnya.
Baru saja membuka aplikasi, seseorang datang dan bergelayut manja di lengannya. Pemuda itu merotasikan bola mata malas.
"Putra, pulang yukkk ...."
"Apaan sih? Lepasin ga?" Putra melepaskan tangan Naysha yang menempel di lengannya dengan kasar. Oleh tenaganya yang lumayan, gadis yang menempelinya itu sedikit terdorong. Putra menampilkan senyum jemunya.
"Awshhh." Gadis itu merintih lalu menatap tajam. "Kasar banget lo. Padahal kalau di ranjang manis banget," tukas Naysha frontal, membuat orang yang ada disekitar mulai melihat Putra dengan pandangan yang entahlah. Putra sendiri memilih tak acuh. Tak patah semangat, gadis dengan rambut purple itu kembali mendekati Putra.
Pemuda itu menepis tangan Naysha yang akan menyentuh rahangnya. "Apaan sih, lo? Jangan aneh-aneh, ini di kampus!"
Naysha menaikkan alis. "Jadi ... kalau di luar kampus mau dong, ya?" Naysha mengedip genit, membuat Putra bergidik muak.
"Halah sok-soan, lo aja kalau gue sodorin body langsung ngegas!" Naysha menunjukkan smirk-nya. Lagi pula ia mengucapkan fakta, Putra acap kali memintanya untuk datang ke apartemen hanya untuk menemaninya tidur—tentu bukan arti tidur yang sebenarnya.
"Lo pergi sana! Ngapain si ngikutin gue segala." Putra berjalan meninggalkan Naysha, tetapi yang namanya Naysha tetep Naysha. Dia mengejar Putra. Gadis itu kembali bergelayut di lengan Putra. Membuat berpasang-pasang mata menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apaan, sih? Pergi ga lo! Lagian, Zahra udah nyuruh lo pergi, ngapain masih di sini?"
Naysha terkekeh meremehkan. "Itu kan, tadi pagi. Sekarang Zahra juga ga ada di sini, jadi bebas dong gue mau ngapain sekarang. Emangnya ini daerah otoritasnya?"
Putra membenarkan letak tas punggungnya, membuat dirinya nyaman dengan obrolan semacam ini. Tangannya menyugar sedikit poni yang menutupi alis tebalnya. "Mungkin lo sedikit lupa. Apa gue udah pernah bilang, bahwa dia yang memegang kendali anak-anak yang membuat keributan di tempat lo?" Putra tersenyum jenaka. "Seenggaknya mereka ga tau kalau tempat itu milik Naysha Rifadin."
Naysha tersenyum miring, tentu ia tidak akan lupa siapa Zahra. Gadis dengan kekuasaannya, hm? Tapi kedatangan Zahra ke tempatnya beberapa pekan lalu, membuatnya tidak yakin dengan gadis itu. Meskipun begitu, orang-orang masih mengenal Zahra dengan wajah sombong dan judesnya, juga beberapa ancaman serius yang keluar dari mulut mungilnya.
Terkecuali dirinya, ia memandang gadis itu berbeda. "Well, gue ga peduli, ini urusan kita—bukan urusan dia. Jadi, ga usah bawa namanya kalau pada akhirnya dia ga bisa membantu. Lebih baik lo ikut gue atau lo mau service yang lebih menyenangkan dari semalam?" Naysha menarik tangan Putra, menggenggamnya erat seakan buronannya akan segera berontak.
"Kak Putra!"
Suara itu mampu membuat Putra dan Naysha menoleh. Laki-laki itu segera menarik tangannya dari genggaman Naysha yang mengendur—bersaman dengan suara yang menyelamatkannya. Ia berjalan ke asal suara, dengan Naysha yang tetap mengikutinya. Melangkah ke dua orang gadis, juniornya. Una dan seseorang lagi dengan kemeja kotak-kotak merah hati—dongker, Arel.
"Please, jangan salah paham. Kita jadi, kan jalannya?" tanya Putra ketika sampai di depan Una dan Arel. Laki-laki 21 tahun tersebut memasang wajah mengharap, dengan senyum tipis yang mampu ia tunjukkan di depan gebetannya.
"Jalan? Inget ya, lo itu harus nganter gue balik!" celetuk Naysha, saat gadis incaran Putra tersebut ingin membuka mulut.
"Denger! Urusan kita udah selesai, jadi lo bisa, kan, balik sendiri?"
Lagi-lagi gadis dengan rambut blonde tersebut tertawa remeh, membuat Putra geram dibuatnya. "Hello ... siapa ya, yang bilang semalem bakal ngater gue? Siapa ya, hmm?"
Arel melotot, sahabatnya tidak bisa dipermainkan seperti ini, ia tidak terima. "Duh, Kak. Kalau udah ada janji jangan PHP-in Una dong!"
"Hey, engga gitu ... ini cuma salah paham. Gue ga pernah janjiin apa pun ke dia!" Putra melakukan pembelaan, pemuda itu berharap Una akan memihaknya, karena ia juga tidak mau pulang bersama Naysha.
"Halah, bullshit!" balas Arel cepat.
"Udahlah, Kak. Mending rencana kita ditunda aja, dari tadi dia ngerengek mulu. Mending Kak Putra anterin dia balik."
Putra mendelik ke arah Una, ini dia tidak salah dengar, bukan? What the ****? Gebetannya malah membela Naysha?
"Terus lo pulangnya gimana? Berangkat sama gue, pulangnya juga harus sama gue!"
"Ga papa, Kak. Gue bisa pulang sama Arel. Bye, Kak." Una pergi bersama Arel, meninggalkan Putra yang terbengong di tempat.
"Un-una ... tunggu!" Putra ingin mengejar Una setelah kesadarannya kembali, tapi tangannya malah dicekal oleh Naysha. Membuat Putra ingin menghabisi partner mainnya itu.
"Udahlah, ayo anterin gue balik!"
"Ini semua gara-gara lo. Gara-gara lo juga Zahra marah sama gue, ngapain sih lo pake ngikut ke sini?"
"Loh, kok semuanya jadi salah gue? Itumah cewek lo aja yang cemburuan. Lagian—"
"Ter–se–rah!" Putra meninggalkan Naysha sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
...***...
Jadi, hari ini Putra ingin menebus janjinya sama Una yang gagal kemarin.
"Bentar ya, Unanya lagi bersih-bersih. Mungkin sebentar lagi akan turun," kata ibu Una sambil meletakkan segelas teh hangat dan beberapa potong cake. "Maaf, adanya hanya ini."
Putra terkekeh tulus. "Ga apa-apa, Tante."
"Oh ya, kamu ini siapanya Una? Saya baru ketemu kamu sekali ini."
Putra tersenyum. "Saya seniornya Una, Te."
"Owch, saya agak trauma. Dulu Una juga pernah dekat sama kakelnya waktu SMA, tapi dia malah mendapat bully-an dari kakelnya yang perempuan. Saya jadi berpikiran negatif kalau Una dekat sama lawan jenisnya. Apa saya bisa menitipkan Una sama kamu?"
Putra mengangguk. "Bisa tante, saya siap buat jagain Una."
"Maaf ya, tante jadi curhat."
"Ga papa, Tante."
Tak lama kemudian, Una turun dan duduk di samping ibunya. "Ibu ke belakang dulu," katanya sambil mengusap kepala Una. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"Kakak sporty banget style-nya, emang kita mau kemana, sih?"
"Kita ... jongging." Putra memamerkan deret giginya.
__ADS_1
"Hah?" Mata Una membulat.
"Kenapa? Ga pernah jongging, ya?"
"Bukannya gitu, kan Kak Putra ngajaknya kemarin jalan. Bukan jongging."
"Iya jalan, sama olah raga. Kan jongging namanya."
Una memberengut, membuat laki-laki dengan kaus olahraga itu terkekeh. "Udah sana ganti baju!"
"Ya udah, deh."
...****...
"Huh ... huh ... huh." Una menyeka keringat yang terus mengucur dari sela-sela pelipisnya. Baru kali ini dia jogging, terakhir jongging waktu awal masuk kuliah. Ini saja sudah hampir satu semester, tapi ia sudah tidak pernah jogging lagi. Jadi, ini jogging pertamanya setelah masuk perguruan tinggi.
"Kak-kak Putra ... istirahat dul-lu. Una capek ...." Una memanggil Putra yang sudah bersiap meninggalkannya di tengah jalan.
Una duduk selonjoran di tengah jalan karena tidak ada tempat duduk. Untung kondisi jalan saat ini sepi, bagaimana kalau sebaliknya. Tentu saja Una tidak akan bisa bersantai, bukannya istirahat sejenak, malah bisa istirahat selamanya.
Putra membalik badan, merasa Una tidak berada di belakangnya. "Lah? Una mana?"
"Un-Unaa!" Putra teriak sambil menyerukan nama Una berkali-kali, tapi panggilannya tidak direspon satu pun. Akhirnya pemuda itu kembali ke rute sebelumnya, menelusuri jalanan untuk menemukan gebetannya. "Masa Una ketinggalan, sih?"
Putra melihat gadis dengan kaus biru laut tengah duduk selonjoran di tengah jalan, tangannya melambai di depan dada membentuk kipas. Membuat dirinya sejuk dan nyaman. Rambut yang tadinya terikat rapi telah berganti menjadi cepolan nyeleneh, membentuk satu gelungan hingga tak ada satu pun helai yang menjuntai. Putra menggeleng sejenak, kakinya kembali bergerak menghampiri gadis yang tadi dikhawatirkannya.
"Lo ngapain?"
"Capek, Kak. Kak Putra cepet banget larinya, sampai gue ketinggalan," kata Una sambil mengatur napas.
"Huh!" Putra mengembuskan napas, ia rasa larinya biasa saja seperti orang jogging lainnya. Ini kenapa Una mengeluh larinya terlalu cepat? "Taman deket sini masih jauh, ya?"
"Enggak kok, mungkin 20 meter dari sini."
Putra jongkok di sebelah Una. "Naik, gih!"
"Kak Putra ngapain?"
"Udah, naik! Katanya capek."
"Emang Kak Putra ga capek?"
"Naik, cepetan!"
Hap!
Putra menurunkan Una di bangku taman, lalu duduk di samping Una. Pemuda itu menyandarkan tubuh, kepalanya menengadah sambil mengatur napas.
"Kak, capek?"
Putra membenarkan posisi duduknya lalu menoleh pada Una. "Lumayan."
"Emm ... gue cari air mineral dulu. Kak Putra sini aja."
Putra mencekal lengan Una yang ingin beranjak. "Biar gue, lo di sini aja!" Seakan tak memberi kesempatan Una untuk menolak, Putra pergi begitu saja.
Beberapa menit kemudian, Putra kembali dengan membawa dua botol air mineral, yang satu ia berikan pada Una.
"Thanks, Kak," ucap Una.
"Kita istirahat di sini aja, ya?"
Una mengangguk.
Mereka sama-sama menikmati sejuknya udara pagi. Semilir angin membuat anak rambut Una berterbangan, membuat gadis itu terlihat lebih cantik. Yah, cepolan asal itu rupanya sudah tidak serapi tadi.
Senyumnya saat menikmati angin membuat Putra terpikat. Una meneguk air mineral itu, bibir pink tipisnya terlihat basah dan menggoda.
Rasa lelah mereka terbayarkan ketika sampai di taman ini, sejuknya udara membuat mereka masuk dalam ketenangan alam.
Putra menarik lepas ikat rambut Una, membuat semua helai rambut itu berterbangan diterpa angin. Putra melihat Una dari samping, sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Lo cantik kalau gini," ucap Putra. Sementara Una sedang menetralkan detak jantungnya akibat ulah laki-laki itu yang tiba-tiba.
"Ng? Kak-kak Putra ish, kan rambut gue jadi berantakan!" Una mengalihkan pandangan, berusaha untuk tidak menatap Putra.
Putra terus-menerus menatap Una, yang ditatap demikian menjadi salah tingkah.
"Kenapa? Kok lo kayak ngehindarin mata gue?"
"Kak Putra jangan natap gue kayak gitu ...."
"Kenapa? Ada yang salah sama tatapan gue?"
"Ng? Ng-gak ada, sih."
Putra mencubit pipi chubby Una. "Ngegemesin banget si kalau lagi salting."
Una mengusap pipinya. "Sakit tau!" Ia mengerucutkan bibir.
__ADS_1
Lagi-lagi Putra mencubit pipi Una dan mendekatkan wajahnya. "Tambah gemes tau ga."
Una semakin kesal saja dibuat Putra. "Jangan dicubit terus, kalau pipi Una dower gimana?" ucapnya polos. Putra tergelak.
"Kok malah ketawa?"
Putra menyeka matanya. "Udah-udah. Beli ice cream yuk ... tuh kebetulan ada yang jual."
"Ayo!" Una menarik Putra hingga laki-laki itu berdiri.
Putra mengusap kepala gadis itu lalu merangkul Una. "Ayo!"
Sebenarnya ice cream ialah alibi Putra untuk pergi dari tempat itu, ia mendengar suara gemerusuk yang sejak tadi ditutupinya dengan bercanda bersama Una.
"Lihat aja akibatnya, gue udah peringatan lo buat jauhin Putra. Tapi lo kepala batu!" Seseorang menunjukkan smirk dan kembali bersembunyi di balik semak-semak.
Setelah menghabiskan ice cream, mereka pulang dengan berjalan kaki. Sebenarnya Putra mengajak jongging lagi, tapi ia tak tega pada Una yang sepertinya terlihat kelelahan.
...****...
"Satu ... dua ... tiga ...."
Byurrrr.
Rio dan Rizki melompat ke kolam bersamaan. Hari Minggu ini mereka manfaatkan family time dengan berenang. Finish dari balapan renang ini adalah Zahra, yang sampai duluan boleh menciumnya.
"Ayo, Kak!" Zahra meneriakkan nama Rio dan Rizki bergantian, tentunya sambil bertepuk tangan dan melompat ringan.
Kali ini, Zahra memakai bikini dengan warna hijau muda. Sementara dua kalungnya ia simpan, supaya tidak lepas saat berenang. Entah apa yang ada di otak kecilnya hingga ingin berbikini, yang jelas keduanya tidak protes. Ia juga melepas bathrobe-nya saat sudah sampai di kolam renang. Itu juga permintaan kedua kakaknya supaya tubuh sempurnanya tidak dilihat oleh bodyguard yang sedang berjaga.
...Anggep aja warna ijo :)...
Rio dan Rizki saling menyalip. Pada akhirnya tidak ada dari mereka yang menang, keduanya seri. Keduanya memeluk Zahra bergantian lalu mencium pipinya. Zahra tentu menikmatinya. Padahal janjiannya hanya ciuman saja.
Bibi datang menbawa handuk dan minuman. Wanita itu menyerahkan handuk pada Zahra. Bibi berjalan ke arah kursinya, berbaring lalu memakai kaca mata gelapnya.
"Keringin badan kita, Dek!" ujar Rio, saat Zahra menerima handuk dengan wajah cengonya.
"Oke." Dengan telaten, Zahra mengusap badan keduanya. Punggung mulusnya, perut kotak-kotaknya nyaris membuat Zahra lupa diri. Jika dihadapkan oleh pemandangan seperti ini terus, lama-lama ia juga akan hilang akal.
Meskipun Rio dan Rizki sibuk dengan pekerjaan, setidaknya mereka menyempatkan diri untuk berolahraga, sehingga otot mereka tetap terbentuk dan badannya tetap sehat dan bagus.
Setelah selesai, Rio juga berjemur seperti yang bibi lakukan. Mereka ingin mendapatkan vitamin D, agar kulit mereka tetap sehat.
Sementara Zahra duduk di pinggir kolam dengan kaki yang ia menjuntai ke air. Sesekali kaki itu bergerak kesana kemari, yang membuat butiran air naik hingga membasahi tubuhnya. Sedangkan Rizki masih berdiri di belakang Zahra.
"Ra, njebur gih!"
"Ogah!" Ia sudah berenang cukup lama tadi, jarinya pun sudah terlihat pucat. Hanya saja, ia masih ingin bermain air.
"Kyaaaa!"
Rizki mendorong Zahra setelah gadis itu melontarkan penolakan. Pria itu tertawa dengan ulah bodohnya.
"Heh, ga lucu tau! Untung gue bisa renang, coba kalau engga. Kelelep dah gue," maki Zahra, menatap berang Rizki yang masih menertawakannya.
Karena sudah terlanjur di air, akhirnya Zahra berenang kesana-kemari. Sampai ia merasakan capek dan kembali menggigil. Sedangkan Rizki tetap menungguinya di tepi kolam, lagi pula ia yang menyebabkan adiknya kembali ke air.
"Dek, udah naik. Nanti kamu masuk angin kalau kelamaan di kolam," ucap bibi dengan teriak.
"Iya, Bi!"
"Nih, Bang. Kasih adiknya!" Bibi memberikan handuk pada Rio, yang berada di sebelahnya.
Zahra berenang lagi sampai tepian, Rizki membantunya naik lalu memakaikan bathrobe yang tadi dibawa Rio. Sementara handuk yang tadi dipakai Zahra untuk mengeringkan badan, kini ia gunakan untuk mengeringkan rambut Zahra.
Rizki menuntun Zahra ke kursi santai. Gadis itu mengambil jatah sprite-nya. Memang minuman yang dibawa bibi tadi ialah sprite. Rizki juga ikut berbaring di sebelah adiknya.
****
Hello, berjumpa kembali dengan diriku... gimana kabar kalian? I hope you are always fine.
So, dikesempatan kali ini aku mau kasih tau sesuatu. Kalian tau kan di google play ada e-book, nah... ternyata guys, kita juga bisa loh menerbitkan e-book kita sendiri di google play tanpa berhubungan dengan penerbit. Artinya, kita melakukan self publish, yang artinya juga kita promosi sendiri. Dan keuntungannya itu 3:7 ... 30% untuk google dan 70% untuk kita.
Nah, jika ada dari kalian yang tertarik menerbitkan buku lewat e-book, kalian bisa tanya-tanya ke aku, bisa PC or tanya di grup ku. Kalau mau terbit cetak juga bisa, aku ada rekomendasi penerbit bagus buat kalian. Tapi alangkah baiknya sebelum terbit cetak, kalian tanya readers kalian dulu ya,, pengen peluk versi cetaknya apa engga.
Nah, aku berencana untuk self publish salah satu karyaku di e-book google play, tapi entah kapan... ini masih rencana yak, wkwkwk...
Intinya aku cuma kasih tau itu aja,,, and selamat hari raya idul Adha bagi yang merayakan...
Jangan lupa bagi-bagi kalau udah siap makan...
Love you all❤️
__ADS_1