Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
82. Mulai Mencari Tahu


__ADS_3

Seorang pria dengan rambut yang hampir semua memutih tengah duduk di depan laptop yang berada di kantornya. Ia sebenarnya ingin menyelidiki identitas cucunya sejak lama, tapi baru terwujud baru-baru ini.


Di map yang sedang ia pegang, ia mengetahui kebenaran cucu pertamanya. Ia sudah curiga saat awal pertemuan mereka. Anak pertamanya, diam-diam menghamili pacarnya sewaktu muda dan tidak berani bertanggungjawab. Cucu dan seseorang yang harusnya menjadi menantunya ditelantarkan begitu saja. Ia merasa telah gagal menjadi orang tua dan kepala keluarga yang seharusnya membimbing keluarganya ke jalur yang benar.


Tapi, sebelum ia menghajar anaknya, ia harus menunggu hasil tes DNA terlebih dulu, meskipun semua bukti telah jelas. Genetika yang diturunkan anaknya pada cucunya juga memperlihatkan jika mereka benar-benar pasangan ayah dan anak. Ia memang telah mengambil sample dari rambut kedua cucunya itu diam-diam.


Ia menghela napas, tangannya bergerak mengambil sebotol air mineral, kemudian meminumnya. Meletakkan map itu di samping laptopnya. Selesai minum, jarinya menekan sebuah tombol pada telepon kantor yang berada di sampingnya. "Sam, ke ruanganku sekarang!"


Setelah tidak ada kata lanjutan dari bosnya, pria bernama Sam itu langsung menjeda pekerjaannya, kemudian keluar ruangan menuju ruangan bosnya berada.


Setelah asistennya berada di dekatnya. "Apa kau menyadari keanehan ini, Sam? Kenapa identitas asli Zahra tidak berhasil ku temukan? Apa kau menemukan petunjuk di kampus?"


Samuel terlihat menghela napas. "Tidak Yu, anak buah yang ku kirim juga tidak berhasil menemukan identitas yang jelas, banyak mahasiswa yang diduga teman dekatnya hanya mengatakan dia sepupu dari Darel Ario Kusuma. Dia juga dikabarkan dekat dengan  CEO perusahaan konveksi dan dikenal sebagai panglima merpati putih. Sementara, kedua orangtuanya dikabarkan meninggal dunia sewaktu anak itu masih kecil, dia merupakan putri angkat dari Johan Frendo Adhitama—pemilik perusahaan konstruksi yang sekarang mulai naik daun setelah hampir bangkrut beberapa periode," jelasnya panjang lebar.


Wahyu terlihat memijit pelipisnya, berkali-kali mengembuskan napas dengan gelisah. "Apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya?" gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. "Lalu, apa yang kau dapat mengenai laki-laki dan perusahaan itu?"


Samuel kembali menatap layar iPad miliknya. "Darel Ario Kusuma merupakan putra tunggal dari pasangan Deron Devranel Ario dengan istri pertamanya, Zaskia Anggun Moreta," Samuel menatap Wahyu, "aku agak sedikit ganjal mendengar nama istrinya, mirip-mirip sedikit dengan nama anakmu yang hilang itu. Deron dikabarkan meninggal karena kasus kecelakaan dan semua bawahannya juga ikut menghilang saat itu, aku tidak punya sumber pasti untuk kejelasan ini. Apalagi fakta kalau aku tidak berhasil menemukan latar belakangnya dan terdengar berita simpan-siur jika istrinya itu merupakan mantan anak jalanan. Bagaimana menurutmu?"


"Kau yakin mereka hanya memiliki seorang putra? Dan seperti apa wajah istrinya itu, aku ingin melihatnya," kata Wahyu dengan wajah seriusnya yang tak luntur.


Kini giliran Samuel yang menghela napas. "Deron dikabarkan hanya memiliki satu orang putra dengan istri pertamanya, lalu dengan istri keduanya ia tidak memiliki keturunan. Tidak ada yang tahu wajah kedua istrinya seperti apa, dia kemana pun selalu didampingi asisten pribadinya. Sepertinya Deron bukan orang sembarangan, mengingat publik tidak ada yang tahu mengenai rupa istrinya, publik hanya tahu dia memiliki istri dua dan kedua istrinya itu juga bersahabat sejak mereka kecil. Sepertinya, setiap foto yang diambil secara tidak sengaja oleh wartawan yang nekat—juga langsung diberantas. Banyak yang melakukan itu, esoknya perusahaan itu kehilangan beberapa persen keuntungan mereka. Kau mau melihat foto anak mereka?"


Wahyu terlihat mengangguk. "Kirimkan kepadaku!"


Tak lama kemudian, notifikasi file muncul di handphone kakek-kakek yang kehilangan cucu ini. Pria itu segera membuka file yang dikirimkan Samuel beberapa saat lalu, ia terdiam mengamati foto seorang laki-laki dewasa yang ia taksir berusia kurang lebih 25-an. Entah kenapa hatinya sedikit menghangat dan ia menemukan beberapa kemiripan dengan Zahranya. Ia tersenyum tipis. "Sam, lakukan juga tes DNA pada anak ini, cocokkan dengan hasil kepunyaan Zahra."


Samuel mengangguk. "Baik."

__ADS_1


"Kau ceritakan juga tentang CEO konveksi yang dekat dengannya itu dan perusahaan konstruksi itu. Padahal aku berharap perusahaan itu bangkrut saja, pemimpin sebelumnya sangat tidak pantas disebut presdir."


Samuel terkekeh pelan. "Kudengar, perusahaan itu kini diambil alih oleh anaknya dan Darel Ario juga CEO konveksi itu juga turut andil di dalamnya."


Wahyu terlihat mengerutkan dahinya. "Ini terlihat semakin menarik saja, Sam!"


"Kau yakin berkata demikian? Menurutku, bukankah ini malah terdengar rumit, ketiga perusahaan itu tidak berkesinambungan. Dan kenapa mereka membantu perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan bisnis yang mereka geluti?" jawab Samuel setengah tidak percaya.


Wahyu tersenyum tipis. "Menarik bukan? Kau harus mengupas tuntas tentang ini semua."


"A–apa, kau bercanda?" Samuel sedikit tidak percaya. Tumben sekali sahabatnya ini mau mengurusi urusan orang dan heyy—ini bukan tugas dari seorang asisten.


"Pokoknya, kau harus cari tahu semua yang ada hubungannya dengan Zahra. Ayo makan siang dulu, suruh OB membelikan makan siang kita!" titah Wahyu, tersisa sedikit kekehan ditimbulkan dari orang di hadapannya itu. Meski begitu, Samuel pasti akan melaksanakan semua tugas yang ia berikan.


...***...


"Udah baikan, hm?" tanya Rizki.


Tadi siang, setelah Zahra dan Gery keluar bersamaan—ekspresi gadis itu mulai terlihat kembali cerah. Dan Zahra pun akhirnya meminta maaf pada semua saudaranya, terutama Raisha. Ina dan Raisha juga bersepakat damai, toh sekarang semua sudah terbongkar. Ina juga telah bersama Gery.


Zahra hanya bergumam, mengibaskan tangannya yang kebas setelah setengah jam memijat kakaknya. Ia berbaring di ranjang tersebut, menatap Rizki yang menyelesaikan desain gaun pernikahan. Kakaknya yang satu ini pandai menggambar, mendedikasikan sebuah butik untuk mendingan ibunya—yang dulu bermimpi untuk memiliki butik sendiri.


Gadis itu merubah posisinya menjadi tengkurap, dengan kepala di samping paha Rizki. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Gue juga mau dong dibuatin gaun nikah," ucapnya ringan.


Rizki terkekeh pelan, menoleh ke arah Zahra. "Nikah? Yakin emang, pacar aja ga punya lo, nikah sama siapa coba ...." Setelah menggoda adiknya, laki-laki itu tergelak—menutup sketsa gaun yang hampir selesai. Hanya tinggal menambahkan pernak-pernik agar gaun itu tampak lebih indah.


"Ah, kakak mah ... gue kan ada penggemar setia," elak Zahra, ia anti disebut tidak memiliki kekasih saat ini. Meskipun benar, ia kan memang sudah putus dari kekasihnya.

__ADS_1


"Ahahaha, gue kasih tahu Devan nih," kata Rizki, memancing gadis itu untuk merajuk.


Zahra langsung duduk. "Enak aja lo! Tabok, nih!"


Rizki meletakkan sketsanya tadi ke atas nakas, menatap adiknya serius. "Lo udah kasih tau Raisha soal Gery?"


"Ya udah sih, tapi cuma sebatas kalau Gery itu yang sekarang megang perusahaan papa, kalau yang anaknya Om Dion lebih baik biar Gery aja yang kasih tau. Dia lebih berhak. Besok kan gue mau ngajak Kak Raisha ke sana, sekalian mempelajari bisnis itu. Gery kan kalau udah nikah bakal gantiin posisi Om Stevan, jadi Kak Raisha harus belajar mulai dari sekarang."


"Bagus deh, soalnya Raisha masih kayak canggung gitu di rumah ini. Kalau ada kegiatan, mungkin itu bisa sedikit ngurangin beban di pikirannya." Rizki menyodorkan sekaleng keripik dengan bentuk tabung ke hadapan Zahra. "Mau ga?"


"Bercanda nih? Ya maulah, siapa sih yang bisa nolak ini, tuh." Gadis itu langsung bergerak mencari kertas kosong, kemudian membentuknya menjadi piring. Menuangkan kripik itu pada piring-piringan buatannya. Mereka akhirnya menikmati keripik itu sambil berbincang ringan.


...***...


Saat ini Zahra dan Raisha telah berada di ruang CEO perusahaan konstruksi milik Johan, ya ayah mereka. Berhadapan langsung dengan Gery dan Zaldi—yang masih tidak percaya dengan seseorang yang duduk anggun di samping Zahra.


Zaldi memandang Zahra dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ra, be–benarkah yang di hadapanku ini Raisha? Saudarimu yang ku anggap telah meninggal itu?"


Zahra dan Gery terkekeh bersamaan. "Ayolah, Om. Jangan kaku begitu, dia masih gadis yang sama—yang suka meminta om menggendongnya."


Terlihat semburat merah di pipi gadis dengan blouse biru itu. Ingatannya kembali menerawang pada saat keluarganya masih tentram dulu. Setiap Zaldi berkunjung ke rumahnya, baik dalam urusan pekerjaan, maupun kunjungan karena anaknya yang saat itu seusia Zahra—ingin bermain bersama. Ia selalu meminta gendong pada laki-laki paruh baya itu. Dari awal kakeknya memperkenalkan Zaldi sebagai pengacara keluarga, ia sudah tertarik dengan pria itu.


"Apa kabar Om Zaldi? Lama tak berjumpa," ucap Raisha dengan senyumnya yang merekah. Pertemuannya dengan Zahra membawa kembali masalalu untuk mengikutinya, termasuk perseteruan yang hingga kini masih belum menemukan titik terang. Ia senang, pada akhirnya ia bisa kembali berjumpa dengan orang baik seperti Zaldi.


Zaldi terlihat mengulum senyum tipisnya. Mengulurkan tangan pada Raisha yang disambut hangat oleh gadis itu. "Welcome home, Raisha. Kabarku baik, ikut senang apabila kau juga baik-baik saja," ia melepaskan tautan tangannya, "aku sempat tidak yakin kau kembali, tapi adikmu selalu meyakinkanku. Hingga saat ini tiba, akhirnya aku bisa memenuhi amanah ayahmu," ucap Zaldi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia segera berkedip untuk menghilangkan air itu. "Senang melihatmu kembali."


Raisha terlihat mengganti duduknya, menatap foto ayah dan kedua ibunya yang memang kembali dipajang di dinding ruangan ini. Memang sebelumnya, foto itu dicopot saat Dion mengambil alih. "Saya malah tidak menyangka kalau akhirnya bisa berkumpul seperti ini lagi. Saya sempat putus asa saat itu. Ternyata Tuhan menyiapkan kejutan indah bagi para hamba-Nya."

__ADS_1


Zahra dan Gery berdiri bersamaan, membuat dua orang lainnya memandang tanya. Sadar akan hal itu, Zahra segera berucap, "Kalian berbincang lah, pasti butuh bicara berdua juga. Kami masih ada urusan." Ia tersenyum tipis.


"Kami pergi dulu," ucap Gery, bersamaan dengan menggandeng tangan Zahra untuk keluar. Mereka ingin membuktikan sesuatu yang mereka curigai.


__ADS_2