Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
58. Sang Sahabat


__ADS_3

Ina mondar-mandir di kamarnya sejak tadi, sejak ia dipulangkan paksa oleh anak buah Gery. Ia bingung, apa ia harus menyelamatkan sahabatnya? Tapi jika tidak diselamatkan, ia takut akan terjadi hal yang buruk padanya. Mengingat cara laki-laki yang menyeret Zahra tadi, hatinya menjadi gelisah.


Setelah tahu perihal Gery yang sebenarnya. Pasti pria yang baru ia ketahui tabiatnya tersebut tak akan membiarkan Zahra tenang begitu saja. Dia pasti sudah melakukan sesuatu.


"Gue harus nyelamatin Zahra, apa pun yang terjadi!" gumam Ina pelan, sambil memikirkan cara untuk keluar dari rumah ini.


Gadis dengan ujung rambut tosca itu tidak bisa membiarkan Zahra begitu saja. Ia akan bertindak sebagai Marina yang dulu, Marina yang selalu membela Zahra apa pun konsekuensinya. Tujuh tahun mereka bersama, ia tidak mau kehilangan Zahra kembali.


Sejak mengetahui jika putri semata wayangnya mengandung, Stevan dan Hani semakin protective. Mereka menempatkan banyak bodyguard di sekitar mansion, tapi ada satu kesalahan. Mereka lupa tidak memerintahkan bodyguard itu untuk mengikuti putrinya, padahal dunia luar lebih berbahaya.


Ina kembali berjalan ke sana kemari, rautnya berubah seiring kakinya melangkah. Dari mulai mengerutkan dahi hingga melipat bibirnya. Rasa cemas, gundah, tak beranjak dari hatinya. Memikirkan cara keluar dari mansion dua lantai tersebut. Bisa saja ia melewati jalur biasa, tapi para bodyguard dan asisten di rumah ini pastilah mencurigainya.


Langkah kaki membawanya menuju pintu, memutar knop lalu melihat keadaan di luar. Mengawasinya dari atas, karena jika pekerjaan asisten itu usai mereka hanya diperbolehkan di lantai bawah. Menjaga privasi tuan mereka.


Sepasang kaki itu terus melangkah, di otaknya sudah tertanam rencana kala sepasang indra bergerak ke sana kemari, mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan mereka di bawah


Mansion ini memang besar, megah bak istana. Halamannya saja sanggup jika untuk memarkir hampir dua puluh mobil, garasinya berisi kurang lebih sepuluh mobil. Ada juga beberapa motor terparkir, biasanya para bodyguard yang menggunakan untuk wara-wiri. Halaman belakanganya juga luas, ada kolam pribadi di sana.


Kakinya terus melangkah, ruangan yang luas itu memungkinkannya untuk sampai di gudang tanpa ketahuan. Mereka berada di sisi lain, bergosip di sana. Dengan berbekal kunci yang seluruh anggota keluarga miliki, gadis itu memutar kunci dengan perlahan.


Sepasang sea green itu belings*tan, mencari benda dengan warna biru baja yang biasa melingkar. Manik itu menemukannya di bawah sudut ruangan, kakinya dengan otomatis bergerak ke sana. Mengambilnya.


"Ada dua? Ambil ajalah, siapa tau berguna," gumamnya, sambil memegang benda yang tadi dicarinya. Salah satunya ia kalungkan pada leher dan satunya ia bawa dengan tangan. Gadis itu segera kembali ke kamarnya, takut bila ada yang melihat aksinya.


Setelahnya, ia langsung mengganti pakaiannya. Akhir-akhir ini ia lebih suka memakai gaun, padahal ia paling benci dengan model pakaian tersebut. Saat ditanya teman-temannya, ia hanya tersenyum tipis dan terlihat bahagia. Mungkin bawaan janin yang dikandungnya.


Ia mengambil tank top putihnya, lalu mengambil hoodie over size yang sudah disiapkan di sisi bantalnya. Lalu mengganti hotpants jeans itu dengan celana panjang yang hangat. Asumsinya, malam hari pastilah dingin.


Gadis itu membuka laci nakasnya, lalu mengambil pisau lipat yang sengaja ia taruh di sana. Pisau itu pasti akan berguna di luar sana, mengingat aksinya kali ini memang seorang diri. Ia membawa tali tambang itu bersamanya. Gadis bersurai tosca itu mengecoh para bodyguard dengan sesuatu yang ia lemparkan pada semak-semak. Ia bahkan berancang-ancang agar lemparan itu jauh dari lokasinya untuk kabur. Untung saja bodyguard yang berjaga di samping kamarnya tidak terlalu banyak.


"Ayo sayang, semoga kita berhasil nyelamatin aunty kamu," ucapnya pada perutnya yang mulai membuncit.


Setelah berhasil, gadis itu segera menuruni kamar dengan tali tambang yang sudah ia kaitkan pada sesuatu. Ia segera berlari ke gerbang belakang yang sama sekali tidak ada penjagaan di sana. Ina segera masuk ke sebuah mobil yang telah menunggunya.


Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Ina berharap orangtuanya tidak marah jika dirinya pergi seperti ini, namun apa yang bisa dilakukan gadis sepertinya?


Gadis itu sesekali menengok kanan-kiri. Melihat sudah sampai dimanakah perjalanan ini. Entah kenapa, firasatnya mengatakan jika Zahra dibawa ke rumah ayah dari bayinya. Sebab, Gery bilang—Zahra berurusan dengan keluarganya.


Ia masih sangat ingat alamat pria itu, berkali-kali mereka 'main' di sana. Tentu saja saat Atha dan Dion sedang keluar, pria bermata auburn itu mana mau membagi miliknya.


Sementara itu, di rumah Ina sendiri saat ini sedang rusuh. Bodyguard yang sudah kembali bertugas itu menangkap benda panjang yang terulur dari lantai dua. Hal itu memancing kecurigaan mereka, salah satunya menaiki tali tersebut hingga berakhir di kamar nona mereka.


Setelah salah satu bodyguard mengumumkan jika Ina pergi dari rumah, penghuni mansion itu langsung kalang kabut. Mencari nona mudanya, jika tidak mau dimarahi oleh tuan dan nyonya besar.


Beberapa jam kemudian, Lamborghini Gallardo tampak memasuki pekarangan rumah. Stevan melemparkan kunci mobilnya pada salah satu bodyguard, memintanya memarkirkan mobil.


Sesampainya di dalam, kedua paruh baya yang baru saja menghadiri pesta di tempat rekan bisnisnya itu terkejut. Mendapati pegawainya yang berbaris rapi dan menunduk.


"Ada apa ini?" Stevan membuka suara.


Salah satunya memberanikan diri, maju selangkah. Kalimat yang muncul dari bibir pegawainya itu membuat Stevan naik pitam.


Hani sendiri langsung berlari menyusuri seluruh ruangan hingga berakhir di kamar putri semata wayangnya.


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan saat saya dan nyonya tidak di rumah? Bagaimana kalian bekerja? Saya sudah menggaji kalian agar bekerja maksimal di sini. Tapi menjaga satu gadis saja kalian tidak becus!"


Stevan mengancam mereka, jika mereka tidak bisa menemukan putrinya, ia akan memecatnya. Pria itu berbalik, menaiki tangga menuju lantai dua. Kakinya membawa pada sebuah ruangan bernuansa hitam putih yang sangat disukai putrinya.

__ADS_1


Berjalan pelan pada istrinya yang sedang memeluk bantal Ina, mengusap cairan bening yang baru saja terjatuh.


"Sayang, anak kita pergi ...."


Stevan menenangkan istrinya. Ia mengeluarkan ponsel, mencoba menghubunginya. Tidak ada satu panggilin yang tersambung. Istrinya menarik bagian bawah jasnya, menunjuk sesuatu.


Benda pipih di sudut meja belajar itu tampak tak tersentuh. Stevan berdiri, mengambil benda itu. Mencoba menyalakannya dan mati. "Sepertinya dia sengaja tidak mencharge ponselnya." Stevan menghela napas, kembali ke sisi istrinya. "Pasti ada yang tidak beres, Sayang. Putri kita tidak pernah senekat ini, kabur dengan tali, hm?"


"Entahlah, Sayang. Tapi aku mengkhawatirkannya. Dia di luar sana sendirian, sedang mengandung, tanpa pengawasan kita. Setelah kita mendekatinya kembali, memaafkan kesalahan kita—apa maksudnya dia pergi? Apa kita kembali membuat salah kepadanya?"


Ina memang tidak terlalu dekat dengan orangtuanya, sejak mereka memutuskan berpisah ranjang ketika gadis itu SMA. Tapi setelah perhelatan itu memasuki tahun ketiga, seorang paruh baya yang disebutnya ayah kembali mendekapnya— semenjak sosoknya menghilang hari itu.


Saat itu, ia dan ibunya tinggal di apartemen bekas ibunya sebelum menikah dengan ayahnya. Sejak saat itu, rumah yang tadinya sepi menjadi ramai. Ina kerap kali memergoki orangtunya bermesraan tidak tahu tempat. Padahal, sebelum mereka memutuskan jalan masing-masing, keduanya hanya saling bicara di depannya. Bahkan ia sering mendengar mereka terlibat perdebatan panjang.


Sebelum kembali ke rumah megah ini, Stevan mengajak anak dan istrinya ke gereja. Di sana telah ada seorang pastor, mengajaknya kembali untuk berjanji di hadapan Tuhan, di depan anak mereka yang telah dewasa—untuk bersama sehidup semati, menjaga karunia Tuhan bersama, tidak menjaga dalam dekapan masing-masing yang mereka jalani selama sembilan belas tahun menikah.


Manik Stevan menangkap sesuatu yang menarik, benda putih tipis yang dilipat sangat rapi. Mengulurkan tangannya, mengambil benda yang sepertinya sengaja ditinggalkan.


Sambil tetap mendekap istrinya, ia membuka benda itu dalam diam. "Srenggana, Jl. Amusti 5 No. 2C." Keduanya saling bertatapan dengan alis tertaut. Stevan segera merogoh kembali sakunya, menghubungi seseorang.


...****...


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, akhirnya Ina sampai di rumah Gery. Rumahnya masuk desa terpencil di pinggir kota, rumah di sana pun masih jarang. Jarak antara rumah satu dan lainnya sangat jauh. Bangunan itu pun, dapat dihitung dengan jari.


Taksi yang ia tumpangi berhenti sekitar 40m dari rumah Gery, dapat dilihat bahwa banyak orang berkaus hitam ketat tengah berjaga di depan rumah tersebut.


"Ini pak, uangnya." Ina memberikan dua lembar seratusan.


Sopir taksi menerimanya dengan senyuman tipis. "Sebentar, kembaliannya."


Ina mengangkat telapak tangannya bersyarat menolak. "Buat bapak aja kembaliannya," katanya sambil tersenyum hangat.


Ina keluar dari taksi, hawa dingin malam serasa menusuk kulitnya, padahal ia telah memakai pakaian yang cukup hangat. Gadis itu berdiri di tepi jalan, memandang rumah megah yang akan menjadi tantangannya.


"Gue ga akan bisa masuk kalau penjagaannya kayak gitu, bisa fatal jika ketahuan." Gadis itu mengusap perutnya perlahan. "Maaf sayang, hari ini kita harus tidur di luar."


Gadis itu mencari tempat yang nyaman untuk tidur dan aman dari gangguan makhluk-makhluk tak bertanggungjawab. Dilihatnya ada sebuah pohon pisang dengan daun yang cukup besar, itu cukup untuk alas dan selimut tidurnya.


Ina mengambil pisaunya lalu memisahkan daun dari pohon pisang. Gadis itu membaringkan diri di atas tanah yang telah dialasi dengan daun pisang tersebut. Ia memejamkan mata. Syukurlah, di tempat ini tidak ada nyamuk yang menganggu kenyamanan tidurnya.


...****...


Pagi telah menyapa, gadis yang sedang tidur di atas daun pisang itu membuka matanya dan menguap ringan.  Gadis itu berdiri guna merenggangkan otot-ototnya, badannya serasa sakit semua karena tidur di atas tanah dengan alas tipis. Perlahan, langkah kakinya menggiring menuju rumah megah yang mungkin saat ini sahabatnya masih disekap di dalam.


"Sial, mereka masih di sana. Gue gimana ngecohnya?" Ina mengetukkan jari telunjuk pada dagunya, bagaimana cara mengecoh para bodyguard itu, apakah menggunakan cara yang sama seperti ia mengecoh bodyguard di rumahnya? Tapi, pasti bodyguard di sini lebih pintar. Lama Ina memperhatikan mereka sampai mereka masuk ke dalam mansion


Kesempatan yang bagus, batin Ina senang. Gadis itu berjalan dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan. Lama ia berdiri di samping gerbang, mengamati pada bodyguard yang sedang makan.


Sial, mereka bisa melihatnya.


Setelah bodyguard itu fokus makan, Ina kembali mengendap-endap dan mencari jalan dimana ia bisa masuk ke rumah tersebut.


Dia menemukan jendela di lantai dua yang sekiranya bisa ia panjat. Gadis itu celingak-celinguk memastikan keadaan di sekitar aman. Sea green itu berbinar kala menatap pohon yang menjulang di sampingnya. Dengan mudahnya, gadis yang sedang mengandung tersebut menaiki pohon di sampingnya. Walau ketar-ketir, rasa takut terus membayanginya. Bagaimana jika ia jatuh dan ketahuan? Dengan keyakinannya, keteguhan hatinya, ia tetap melanjutkan langkah, merangkak menuju ujung dahan yang langsung berseberangan dengan jendela itu.


Puji Tuhan, jendela itu tidak terkunci. Hanya saja ia sedikit kesusahan saat membukanya. Untung pisau yang dibawanya sedikit membantu.


Sepasang kaki menapak di lantai dua itu, rumah yang pernah menjadi saksi bisu pergulatan dua insan dengan gairah yang membara. Ina memejamkan mata, niatnya ke sini bukan untuk merenungi hal itu, tapi menyelamatkan sahabatnya. Ya, sahabatnya, Zahra.

__ADS_1


Ina melepaskan tali tambang yang sejak tadi terkalung di lehernya, meletakkannya di lantai sembari tersenyum lega. Sekarang ia harus menemukan di mana sahabatnya disekap. Ia letakkan tali itu di dekat jendela, agar ia nanti membawa sahabatnya pergi lebih mudah—jika tidak bisa membawanya lewat jalan utama.


"Ina?"


Seseorang menyerukan namanya dengan lirih, sangat. Tapi entah bagaimana, pendengarannya bekerja bagus. Suara itu terus bergema, sea green itu membola ketika menatap seorang gadis dengan rambut terurai dan seluruh badan yang terlilit tali tengah menatap sendu ke arahnya.


Tanpa sadar kakinya melangkah, otaknya masih blank dengan semua ini. Ia menemukannya? Ini terasa lebih mudah jika ia sudah melihatnya. Ia bergegas.


"Zahra?" Tangan mungilnya menangkup pipi yang tak lagi mulus itu, sayatan-sayatan di wajah angkuhnya semakin membuat aura gadis ini menyeramkan. Persis seperti cakaran kucing, hanya saja ini lebih rapi dan terarah.


"Lu ngapain di sini?" Manik coklat itu menatap khawatir, ia tidak pernah menyangka jika yang diucapkan gadis yang kemarin terjebak bersamanya itu, menjadi kenyataan. Ia tidak menyangka sahabatnya senekat ini, mengantarkannya dalam bahaya yang menunggu. Mengantar nyawanya akan mainan baru ketiga pria yang baru saja membuat lukisan baru di lengannya. Mereka membuang jaket kesayangannya.


Luka-luka itu tak luput dari pandangan Ina, wajah yang penuh sayatan, leher yang sedikit darahnya tengah mengering—ada juga yang masih basah, menggenang di sana. Lengan yang masih basah akan cairan merah itu, kakinya yang terdapat cairan yang telah mengering. Sedikit Ina menyentuhnya, setelah mendapatkan ringisan Zahra yang tak bisa didiskripsikan, ia berhenti. Pasti sangat sakit. Sudut bibir Zahra yang robek membuatnya hampir menangis, beberapa bekas cambukan juga tak lepas dari pandangannya. Bahkan, salah satu lengan sahabatnya telah robek, membuat daging merah muda itu terlihat. Apa mereka mulai mengulitinya?


"Zahra? Apa yang mereka lakuin sama lu?" Suaranya bergetar menahan tangis, ia tidak boleh cengeng sekarang. Ia harus membawanya keluar.


"Keluar! Bahaya, Na!" Suara itu menegaskan, meskipun lirih tapi syarat akan ketegasan.


Ina berjongkok, menyentuh kedua tangan yang dingin dan pucat itu. Ia menggeleng pelan. "Kita harus keluar dari sini sama-sama. Apa gunanya gua ke sini, jika ga berhasil membawa lu pergi?" Gadis di depannya memalingkan wajah, tangannya terulur menyentuh pipi tirus itu—memaksa menatapnya meski terhalang rambut yang beberapa helainya menjuntai. "Gua janji akan ngeluarin lu dari neraka ini!"


"Keluar!" Suaranya yang ini benar-benar dingin. Ini bukan Zahranya.


"Apa pun rintangannya akan gua lewatin, ga peduli apa pun yang terjadi. Kita akan keluar sama-sama. Berapa kali pun lu nyuruh gua pergi, gua akan tetap di sini. Membebaskan lu." Ina tetap sama, gadis keras kepala yang mempunyai tekad besar.


Tangan mungilnya mulai membuka tali yang mengikat tangan sahabatnya, pergelangannya memerah. Pasti mereka sengaja mengikatnya seperti ini, bahkan pergelangan itu sudah bermotif saat ia membukanya.


Gadis yang saat ini masih terlilit tali itu menghela napas, akan sulit meyakinkan sahabatnya jika gadis itu sudah bertekad. "Na? Apa lu yakin? Ini bahaya, mereka bisa membunuh lu kalau ngelihat lu di sini."


"Jadi lu mau dibunuh sama mereka, ga punya hati banget. Pokoknya lu harus keluar sama gua, lu masih kuat, kan?" jawabnya pelan, tangannya masih berkutat dengan tali yang melilit tangan sahabatnya. Ternyata ini lebih sulit dari yang ia kira. Banyak lilitan di sana-sini, padahal hanya sebelah tangan saja.


Zahra luluh juga dengan tekad besar sahabatnya, sejujurnya ia juga ingin lepas. Hanya saja rasanya tidak mungkin, tapi sepertinya Tuhan mengabulkan doanya. Tuhan mengirimkan sesosok malaikat yang kini masih berusaha membuka lilitannya. Seperti sebuah sengatan, otaknya tiba-tiba bereaksi. Mengingat bagaimana cara mereka melilit tubuhnya. Dengan ingatan yang baru diterimanya, Zahra akhirnya menuntun Ina melepaskan lilitan itu. Ina juga mulai mempelajari pola lilitan yang dikerjakannya, akan lebih mudah jika ia memahami pola yang dipakai.


"Akhirnya," seru Ina lega. Satu ikatan di tangan Zahra terlepas. Gadis yang selalu mengurai rambutnya itu beralih ke tangan satunya. Kedua tangannya terus menari, berusaha melepas lilitan yang dirasanya semakin membingungkan. Polanya seperti sengaja dirubah, semakin menyulitkan.


Zahra yang menuntunnya tiba-tiba berhenti bicara, Ina yang tengah menunggu terus melanjutkan membuka lilitan tali tersebut.


"Na?" Suaranya kembali terdengar, syarat akan keraguan terdengar di pita suaranya.


"Susah banget, Ra. Diktein lagi dong, ruwet banget ini tali."


Tangannya terus menari, ikatan mana dulu yang harusnya terbuka.


"Na, ada yang mau datang. Lu pergi sekarang, sebelum mereka ngelihat lu!"


"Apa, sih? Ga ada apa-apa, astaga." Gadis itu tetap melanjutkan, menarik talinya ke atas bawah, sesekali menggigitnya karena jarinya tak kuat menarik simpul itu. "Ah, berhasil." Suaranya terdengar gembira, dua lilitan telah terselesaikan. Mari menyelesaikan tali yang melilit tubuh yang tertancap di kursi ini.


Bunyi langkah bergema di pendengaran Zahra, gadis itu merasakan suaranya semakin mendekat. Jantungnya sudah tak karuan, berdetak kencang. Hatinya semakin gelisah bila mengingat gadis yang mengandung itu masih berkutat di belakangnya.


"Na, mereka udah deket. Lu pergi sebelum mereka masuk," ucapnya dengan bergetar, sedikit melirik pada Ina yang tak peduli.


"Gua ga denger apa-apa, Ra," jawab Ina, sambil tetap berusaha membuka lilitan di tubuh Zahra.


Gadis bermanik coklat itu bergerak tak beraturan, membuat gadis dengan surai tosca kesulitan dengan pekerjaannya. "Ra, diem. Gua susah bukanya!"


"Mereka hampir sampai, Na."


Ina diam, jemarinya terus menari, otaknya terus berjalan agar ujung tali tersebut bisa keluar dari pola yang tak beraturan.

__ADS_1


Mereka semakin dekat, Zahra terus bergumam agar Ina meninggalkannya. Gadis sea green itu tetap kukuh, terus berusaha melepas lilitan yang melekat di tubuh sahabatnya.


Bunyi sepatu bergema, bunyinya semakin cepat kala mendekati ruangan yang dihuni dua gadis itu. Bunyi kunci yang diputar membuat Zahra membatu.


__ADS_2