Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
13. Awal dari Segalanya


__ADS_3

Lagi-lagi bunyi nyaring alarm yang membangunkan dua anak manusia ini. Setelah melaksanakan subuhan, Zahra kembali mengajak kakaknya bergelung di bawah selimut. Gadis itu memeluk erat tubuh Rio, pagi buta yang dingin—pelukan itu memberikan efek baik untuk kelanjutan mimpinya yang tertunda.


Rio membuka mata terlebih dulu, mengumpulkan kesadaran sembari memerhatikan langit-langit kamar. Tangannya bergerak menyingkirkan tangan adiknya yang melingkar nyaman di pinggangnya. Ia menyibakkan selimut dan duduk, kemudian memandangi adiknya yang masih terlelap.


Memang alarm tidak mempan jika untuk Ulyana Zahra, oleh sebab itu Rio memilih mengorbankan sedikit waktunya untuk membangunkan tukang tidur seperti Zahra.


Rio turun dari ranjang, laki-laki itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lebih baik seperti itu, ia tidak mau jika nantinya ikut tertidur kembali lantaran gagal membangunkan adik kesayangannya.


Pria itu kembali ke sisi ranjang, dilihatnya Zahra memeluk guling dengan erat.


“Zahra, bangun! Udah terang, tuh!” Rio merampas guling adiknya lalu menggoyangkan tubuh itu. Zahra menggeliat pelan kemudian memeluk tangan Rio yang sedang memainkan wajahnya. 


Saking gemasnya, karena adiknya sulit dibangunkan, Rio menciumi seluruh wajah cantik manis di depannya.


Karena ciuman Rio yang terlalu menekan, mengganggu mimpi indahnya—gadis itu bergumam pelan, “Kenapa sih, Kak! Diam napa, masih pagi juga.”


Rio menggelengkan kepala, dulu ibunya mengidam apa sampai adiknya terlahir bangor seperti ini. Pria yang geram itu akhirnya menarik tangan sang adik hingga terduduk, gadis itu mengoceh tidak jelas, setelah itu ambruk kembali.


Lama-lama Rio capek sendiri, pria itu menggunakan cara terakhir yang dipercaya ampuh. Membangunkan Zahra, seperti membangunkan robot yang kehabisan baterai. Tangannya mulai menjalar ke tubuh adiknya yang dipercaya sebagai titik sensitif. Lama Rio menunggu reaksi yang ditimbulkan oleh jemarinya, hingga apa yang ia inginkan terjadi—pria itu tersenyum miring.


“Kaaaak … ha-ha-ha … udah dong. Aha-ha-ha huh-huh, anjir. Hoam, masih ngantuk gue, kaaak, ha-ha-ha." Karena sudah tidak tahan dengan ulah kakaknya, Zahra tiba-tiba bangun, mendorong tubuh Rio yang ada di depannya—menggulingkan ke samping lalu menduduki perutnya.


“Lo mau ngapain? Turun anjir!” Rio terkejut dengan reaksi Zahra yang tiba-tiba.


Gadis itu mengabaikan perkataan Rio, baginya itu hanya angin lalu. Jemari mungil Zahra bergerak menggelitik sekujur tubuhnya, mempermainkan leher Rio dengan caranya—membuat pria dengan titik lemah tersebut tak dapat membendung ledakan tawanya.


“Anjir, Ra! Lo ha-ha-ha, mau bunuh gue, ya? Parah lo, nanti kalau gue kehabisan napas, gimana? Aha-ha-ha, Rahh, udah napa! Gue kenapa-kenapa, tahu rasa lo!" ucap Rio saat Zahra semakin menggelitiknya.


Gadis itu terdiam, turun dari tubuh Rio— menetapkan pantat di tepi ranjang kemudian menunduk. Matanya memanas, sungguh ia tidak berniat membuat Rio berkata demikian. Ia tahu Rio tidak serius mengatakannya, tapi ia tidak mau mengulang luka lamanya. Rasa sesak itu kembali, kala mengingat keluarga yang meninggalkannya satu persatu.


Isakan kecil memenuhi pendengaran Rio, pria itu mendekati adiknya lalu mendekapnya dari belakang. Menggenggam jemari Zahra yang mulai dingin berkeringat, kemudian menumpukan kepalanya di bahu sang adik.


"Maaf, kakak kelepasan," ucapnya lirih. Ia hanya salah bicara, tapi itu cukup membuat adiknya terluka.


"Kakak janji ga akan tinggalin gue, gue ga mau sendirian lagi, cuma lo yang gue punya, gue masih butuh lo, Kak," balasnya lirih dengan isakan yang menyesakkan dada.


Rio membiarkan adiknya sampai isakan itu reda, setelahnya membawa adiknya ke kasur tengah, tempat mereka tidur. Menghadapkan Zahra ke arahnya, meminta gadis dengan mata sembab yang mulai memerah itu menatapnya. Rio menghapus bekas air mata yang menempel di ekor mata adiknya.


Pria itu tersenyum kecil, menatap Zahra teduh—membuat gadis dihadapannya sedikit tersipu karena ditatap sedemikian rupa. Rio terkekeh mendapati reaksi Zahra yang berlebihan.


Dengan gerakan cepat, Zahra menubruk tubuh dihadapannya, memeluknya erat. Tubuh itu sedikit limbung, tapi akhirnya mampu menjaga keseimbangan.


"Jangan tinggalin gue ...," ucapnya manja dengan suara serak bekas tangisan.


Rio balas memeluknya, mengusap kepala adiknya pelan. "Siapa juga yang mau ninggalin, kakak cuma kelepasan."


"Kelepasan berarti udah direncanakan dan akan dilakukan ketika timingnya pas."


"Bukan gitu, kakak cuma refleks karena lo ga mau berhenti gelitik tadi."


Zahra melepas pelukannya kemudian kembali duduk di depan Rio. Gadis itu menyodorkan jari kelingkingnya. "Janji?"


Rio menyambut uluran itu, menautkan kelingkingnya dengan kelingking adiknya. "Janji, gue ga akan ninggalin lo, but ...?" Rio menggantung kalimatnya.


"But?" ulang Zahra bingung.


"You also have to promise me!"


"Kok gitu? Tadi, kan gue yang minta kakak janji, kenapa sekarang kakak minta juga?"


"Zahra...!"


"Ya udah, apa?"


Rio tersenyum senang mendengarnya. "First, don't be stubborn, obey what I say. Second, don't go to the club, I'm afraid of losing you, only you have me—I can't afford to lose you again.  Third, don't smoke, because I don't want you to be damaged by it. Continue to be a good little sister, never change. Love you so much Zahra."


Zahra menatap Rio tanpa berkedip, apa benar seperti itu? "Thanks for loving me, but i love you more," sedetik kemudian gadis itu menghela napas, "masalah klub dan rokok itu ... entahlah, Kak. Gue sendiri ga yakin, tapi ... gue akan usaha buat jauhin itu. Semua butuh proses, gue pun sama, butuh waktu untuk menjauhi itu semua."


Rio mengangguk. "Memang, yang penting kamu udah niat buat jauhin itu semua. Semua itu dampaknya ke kesehatan, coba pikirin diri kamu? Kakak? Kakak ga mau kejadian kemarin terulang. Itu emang salah kakak, but I don't want to see you like that again."


Zahra tersenyum tipis dan mengangguk. "Suatu saat aku akan bikin kakak bangga dengan hasil kerja kerasku, tapi jika kakak mengetahui rahasia besar yang aku simpan selama ini, jangan membenciku. Kakak boleh kecewa, tapi jangan pernah benci, aku ga akan sanggup."


Rio tidak mengerti apa yang dimaksud adiknya, tapi pria itu tetap mengangguk. Rio meraih tangan Zahra, menggenggamnya erat. "Maafin kakak ya, kadang kakak suka kasar sama kamu."


"Ga papa, kakak ngelakuin itu, kan juga buat aku. Mungkin ga ada orang yang seberani kakak buat kasarin aku, tapi aku tahu kalau sebenarnya kakak ga mau lakuin itu. Even though you hurt me, you also found the cure for me. You always understand what I need, I'm very lucky to have you." Zahra menatap Rio dalam, membuat yang ditatap tak mampu untuk menyembunyikan senyum.


"You know? I'm always regret after hurting you, but it's all useless because it happened and indeed happened. Saat itu gue lagi kacau, ditambah kelakuan lo setiap hari bikin gue jengkel. Gue ga tahu harus melampiaskan ke siapa, tapi lo sepertinya sasaran yang tepat saat itu. Gue sadar seiring berjalannya waktu, ternyata ga harus melampiaskan semuanya sama lo. Cukup dengan senyuman, lo berhasil buat hati gue yang tadinya kacau jadi lebih tenang. Ternyata yang gue butuhkan selama ini ialah senyuman lo, kebahagiaan lo. Mulai sekarang gue ga akan ngelarang lo buat berhubungan sama cowok lo, berhubungan yang sehat dan tahu aturan. Saat melihat lo sedih apalagi karena gue, di situ gue sakit. Gue merasa gagal. From now on, when you do that again, I will punish you in my own way. But I won't hurt you like before."

__ADS_1


“Makasih, Kak. Makasih.” Zahra kembali menghambur memeluk Rio, pria yang menjelma menjadi kakaknya ini selalu membuatnya merasa disayangi.


“Everything for you.” Rio balas memeluk adiknya. Beban yang saat ini selalu menghantui, serasa hilang begitu saja. Saat ia mengungkapkan isi hati dan pikiran yang sesungguhnya. Rio melepas pelukannya, ia memandang Zahra tulus. "Mandi, habis itu kita jongging."


Zahra mengangguk dengan senyum tipis, gadis itu bangkit kemudian berlalu ke kamar mandi. Rio pergi ke kamarnya, melakukan hal yang sama.


...****...


Selesai dengan kegiatan lari pagi, keduanya duduk bersama di depan TV. Rio duduk santai dengan menikmati secangkir susu paginya, sedangkan Zahra tiduran di paha kakaknya sambil mengunyah snack.


TV pun sudah bisa beralih channel karena permintaan Zahra beberapa menit yang lalu. Gadis itu menikmati kartun paginya yang diisi petualangan dua bocah kembar.


Zahra meletakkan bungkus snack yang telah kosong, matanya menatap sang kakak dari bawah. "Kakak kapan bawa calon kakak ipar ke rumah?"


Pertanyaan Zahra membuat Rio tersedak susu yang diminumnya. Topik yang selalu ia hindari saat berbicara serius dengan bibi, kini malah ditanyakan oleh adiknya sendiri.


Keadaan berubah canggung, Rio meletakan cangkir yang dipegangnya dengan hati-hati. “Kenapa nanya gitu?” tanyannya balik, pria itu membangunkan Zahra yang masih asik menatapnya.


Zahra bersandar di sofa, lalu kembali menatap Rio. "Ya nanya aja, heran juga karena kakak ga pernah dekat sama cewek. Padahal usia kakak udah matang kalau mau menikah."


"Usia kakak masih dua puluh empat. Matangnya, kan dua puluh lima, sesuai undang-undang pernikahan."


“Tapi, kan bisa pacaran dulu."


Rio menggeleng—mendesah pelan kemudian menyeruput susunya. "Gue belum nemuin cewek yang cocok sama gue."


"Gue punya kenalan, cakep pula. Sesuai sama kriteria kakak."


Rio kembali menggeleng. "Gue mau fokus ke kantor sama lo dulu, urusan cewek bisa belakangan."


Jika seperti ini Zahra tidak bisa memaksa, kakaknya pasti kukuh dengan pendiriannya. Jika bukan kemauan sendiri, Rio tetap menolak cewek yang Zahra sodorkan. Mereka gadis dewasa, seusia Rio.


"Hubungan lo sama Putra gimana? Yang gue lihat, makin ke sini semakin renggang?" tanya Rio setelah terdiam lama.


Zahra menghela napas. "Putra ternyata cuma jalanin tugas buat jagain gue, dia bilang kontraknya akan berakhir beberapa bulan lagi."


Rio balas memandang Zahra yang di sampingnya. "Kontrak? Maksud lo gimana?"


"Iya, jadi selama ini hubungan kita sebatas kontrak. Sebrengs*k- brengs*knya dia, cowok itu ga akan berani merusak gue barang sedikit pun, karena dia punya amanah yang harus ia jaga. Setelah kontrak berakhir, gue bakalan dijagain sama orang kontrak selanjutnya, tapi ... kata Putra, itu kontrak untuk selamanya. Yang artinya gue sama dia kayak dijodohin gitu."


"Tunggu, yang ngontrakin lo sama Putra siapa?"


"Kalau dari cerita lo, kakak mikirnya juga gitu."


Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Dering telepon Zahra memecah suasana, gadis itu segera mengangkat telepon yang masuk.


"Ada apa?" 


“Sepertinya ada yang mengawasi nona dan tuan, dia terus-menerus mengintai mansion.”


“Bisa sebutkan ciri-cirinya?” 


“Maaf nona, saya tidak bisa mengenalinya. Dia memakai pakaian serba hitam, tudung dan masker.” 


Apa jangan-jangan? “Pria ataukah wanita?” tebak Zahra, ia sangat berharap jika itu Raisha.


“Pria, Nona.” 


Gadis itu mendesah kecewa, ternyata bukan Raisha seperti yang ia harapkan.


“Tetap awasi dan jangan berbuat apapun sebelum saya memerintahkanmu untuk melakukannya.”


“Baik, Nona.” 


Telepon tersebut dari salah satu bodyguard pribadi milik Zahra, yang juga bekerja sebagai mata-mata dengan menyamar menjadi bodyguard milik Rio.


"Siapa? Serius banget?" tanya Rio.


"Ada yang mengintai mansion. Tapi dia ga bisa mengenali pelaku sebab pelaku tersebut memakai masker."


"Heran gue, kenapa ga langsung mereka usir aja. Udah tahu mencurigakan!"


"Jangan. Kita tunggu saja apa yang dia inginkan."


Mereka kembali menikmati acara TV yang mereka lupakan beberapa saat. Mereka tidak mau ambil pusing dengan orang yang mengintai mereka.


Seorang bodyguard masuk, memberitahu jika di luar terjadi kerusuhan. Awalnya Rio yang akan keluar, tapi telepon dari sekretarisnya membuatnya mengizinkan Zahra yang melihat kondisi luar terlebih dulu.

__ADS_1


Kenapa sekretarisnya harus menelepon di saat seperti ini? Tidak bisakah menyelesaikan tugas kantor di hari senin saja, kenapa hari Minggu malah bertanya mengenai laporan yang bisa dibahas esok hari.


Zahra membuka pintu mansion, seketika ia disajikan oleh beberapa bodyguard yang melawan orang misterius tersebut. Gadis itu berjalan mendekat.


"Hentikan! Siapa kamu berani membuat kerusuhan di tempat saya?


Orang itu membanting bodyguard terakhir yang menyerangnya. "Makannya kalian jangan menentang gue, lihat sendiri, kan akibatnya!" Orang itu berjalan mendekati Zahra yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kita berjumpa lagi. Do you miss me, Zahra?” Dia berdiri di depan Zahra, menatap gadis itu dengan mengerling jahil. 


Siapa gerangan orang di balik masker ini? Apa Zahra mengenalnya? Gadis itu mengingat samar, pria sama yang menyerangnya saat berjalan bersama Putra beberapa minggu yang lalu. Jika itu memang dia, untuk apa dia kemari?


“Lo yang waktu itu, kan?”


“Benar, bagus jika lo masih ingat. But, do you still recognize me?” Pria itu menampilkan seringainya.


“Apa maksud lo?”


“Lo benar-benar udah ngelupain gue ternyata.” Ia terkekeh kecil mendengar Zahra, yang ternyata belum tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


“Bacot! Sini lo, lawan gue!” Gadis itu memasang jurusnya.


“Dengan senang hati,” balas orang di hadapannya.


Zahra bertarung dengan orang itu, di waktu awal memang Zahra yang memegang kendali. Tetapi saat pertengahan, orang itu menyerang Zahra tanpa jeda, gadis itu hampir kewalahan menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya.


“Ini masih awal permainan, Zahra,” bisiknya di telinga Zahra.


Gadis itu terduduk di paving, kedua kakinya dihimpit oleh kedua kaki orang itu—sementara tangannya terikat di belakang.


Sedangkan posisi orang itu seperti memeluk Zahra dari depan, tangan kirinya berada di tengkuk Zahra, sedangkan tangan kanannya memegangi tangan Zahra yang terus memberontak.


Entah kenapa orang dihadapan Zahra terasa lebih kuat darinya? Gadis itu benci situasi seperti ini, kenapa ia tidak bisa berkutik sama sekali? Siapa sebenarnya orang ini?


“Penasaran gue siapa?” tanyanya lirih.


Zahra mendengar dengan saksama, suaranya familiar di telinganya. Tidak mungkin jika orang dihadapannya ini sosok yang tergambar di benaknya.


"Yakin, ga penasaran sama gue?" tanyanya lagi, ia terkekeh saat mengetahui Zahra mengangguk terpaksa.


Dia memundurkan kepala, hingga matanya tepat di depan mata Zahra. Mata yang mengingatkannya pada seseorang, Zahra menepis jauh pikirannya. Itu tidak mungkin!


Dengan perlahan, orang itu menurunkan masker yang dipakainya, ketika masker tersebut terbuka— memperlihatkan wajah putih dengan bibir merah alami. Zahra dapat melihat keseluruhan wajahnya, gadis itu terkejut dengan wajah di depannya. Sulit dipercaya!


“Lo? Mau apa?” tanya Zahra setelah sadar dari keterkejutannya.


“Gue mau lo! Lo harus ngerasain apa yang dirasain nyokap gue waktu itu! Lo harus membayar semuanya!”


“Maksud lo apa? Waktu itu kita putus baik-baik, kan? Kenapa jadi kek gini?”


“Iya, waktu itu kita emang putus baik-baik. Gue heran, lo yang terlalu bodoh, atau gue yang terlalu licik. Selama kita pacaran, gue ga pernah sayang sama lo, justru sebaliknya. Yang gue suka adalah kepolosan lo dulu, mudah dimainkan, mudah dipegang-pegang," Ia tersenyum jahil, "mudah dipake kali, ya?"


"Jangan membual dengan mulut sialan lo itu," desis Zahra, gadis itu menatap sinis orang di hadapannya.


Orang itu terkekeh, membuat Zahra geram dibuatnya. "Mengingat atau menyangkal? Nyatanya emang lo sepolos itu, yah, mungkin juga lo suka sama perlakuan gue dulu. Jadi, jangan jijik sama diri lo sendiri, karena itulah kenyataannya."


"Shut up!"


Lagi-lagi ia terkekeh. "Jika Rio ga mengagalkan niat gila gue dulu, lo ga akan kayak gini. Mungkin lo sekarang udah bahagia dengan mengasuh anak kita."


"Apa maksud lo? Gue ga sudi punya anak dari lo! Lepasin gue, Anj*ng!" Zahra meronta, tubuhnya meliuk ke kanan-kiri, mencari celah supaya tangannya dapat menggampar mulut sialan di depannya.


"Lo ga akan bisa lepas, kekuatan kita aja perbandingannya jauh, jadi jangan harap bisa kabur dari gue. Kalah di kandang sendiri, ya? Dulu lo boleh lepas, tapi sekarang ga akan! Nyokap gue akan tersenyum bangga sama anaknya, karena udah berhasil balasin dendamnya!" Tangan kanannya yang menahan tubuh Zahra berpindah ke depan, mengusap pelan perut gadis di hadapannya. "Ga lama lagi, perut ini akan ditumbuhi oleh calon baby kita."


"Lepasin tangan lo dari perut gue!"


Dia memang melepasnya, tapi kedua tangannya menangkup kedua pipi Zahra. Memajukan wajahnya tepat di depan wajah Zahra, memiringkan kepalanya kemudian mengikis jarak antara ia dan Zahra. Meraup bibir pink nan mungil itu, menggigitnya kecil supaya sang pemilik bersedia membuka mulutnya dan membiarkan bibir mereka bertukar saliva.


Zahra memberontak, tapi itu hanya sia-sia, dirinya tak berhasil lepas. Bahkan, laki-laki di hadapannya semakin menekan tengkuknya untuk memperdalam aktivitas. Mengunci pergerakannya, hingga gadis itu kesulitan bergerak meski sepintas.


Kekuatan apa yang sebenarnya membelenggunya kini? Kenapa ia sulit terlepas dari orang ini? Kenapa ia sama kuatnya dengan Rio? Kemanakah kakaknya itu, kenapa mengangkat telepon bisa selama ini? Kenapa bodyguard-bodyguard itu tidak ada yang membantunya? 


Apa tujuan sebenarnya? Kenapa dia menginginkan Zahra, dosa apa yang sebenarnya diperbuat Deron di masa lalu? Siapa jati diri dibalik sosok dihadapannya kini?


****


TBC!!!

__ADS_1


Jangn lupa like, komen dan vote yaaa, masukin favo juga yahhh...


Makasih ❤️


__ADS_2