Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
29. Kebersamaan


__ADS_3

Dua orang anak manusia disatukan dalam ruangan bercat putih. Suasananya sangat tenang hingga siapa pun yang melihat mereka akan berpikir sebaliknya. Dua anak manusia, yang tanpa sadar telah memegang kartu as masing-masing. Terdiamnya mereka membuat suasana pagi yang lumayan dingin itu bertambah sunyi.


Gadis dengan seragam rumah sakit itu menatap lurus ke atap, tangan kanannya mulai meraba-raba bawah bantal yang dipakainya. Seolah mendapatkan harta karun, gadis itu berdecak senang—mengabaikan tatapan seorang laki-laki di brangkar sebelah yang sejak tadi menatapnya.


Pemuda dengan dengan seragam rumah sakit yang sama tersebut berdecak sebal, ia menatapnya dalam diam. Saat gadis di sampingnya mulai memperlihatkan pisau lipat yang pernah ia lihat sebelumnya, ia semakin menatap kesal ke arahnya. Ke arah gadis yang sejak semalam bersama dirinya, dibawa ke tempat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Gadis itu menoleh ke arahnya, menampilkan senyum iblis yang tak mau ia lihat. Senyum itu mengingatkannya pada seseorang yang  berpengaruh di dunia hitam—yang sebenarnya enggan ia pijak. Ah, ia lupa jika mereka ialah orang yang sama.


Zahra menggeleng sambil tersenyum manis, sangat manis—hingga laki-laki di sebelah brangkar lupa jika gadis itu adalah iblis yang sesungguhnya. Gadis itu mengalihkan tatapannya, kembali memandang langit-langit kamar mereka.


"Mau serapi apa pun lo nutupin dari gue, mau gimana pun caranya—ikatan batin itu nyata. Mungkin dia ga pernah menunjukkan wujud aslinya di depan gue secara langsung, tapi gue tau kalau aslinya dia selalu memantau. Ga mungkin orang yang diam aja bisa mengetahui keadaan kita tanpa mengirimkan mata-mata," Zahra menurunkan nada suaranya, matanya mulai berkabut—gadis itu tersenyum tipis, "lagi pula, gue pernah ngelihat siluetnya dan pernah juga kok ngelihat dia, tapi ga jelas karena nyawa gue belum kekumpul. "


Putra menoleh ke arah gadisnya. "Zahra ...."


Zahra duduk, turun dari brangkar dengan hati-hati. Kaki mungilnya menutun ke brangkar sebelah, tempat kekasihnya. Putra terlihat ingin duduk tapi Zahra terlihat menggeleng. Kekasihnya itu duduk di pinggir brangkar, Putra melingkarkan tangan seketika di pinggang Zahra.


Tangan kiri Zahra yang masih memegang pisau ia ulurkan pada Putra, sementara laki-laki itu tak bergeming karena tak tahu maksudnya.


"Simpen! Lumayan buat jaga-jaga, sekalian ngirit amunisi. Dipakai kalau jarak dekat."


Putra yang akan meraih pisau itu tiba-tiba berjingkat, membuat pelukannya juga semakin mengerat. Zahra yang awalnya terkejut terkekeh pelan dengan tingkah kekasihnya.


"Tenang, yang gue kasih ke orang yang ga ada racunnya. Yang ada racunnya ya gue bawa sendiri."


Pagi tadi, sebelum sang surya menampakkan wujudnya—Xavier memberikan tiga bilah pisau pada Zahra. Dua pisau lipat biasa dan sisanya pisau lipat yang telah bercampur racun. Racun yang dapat menumbangkan mangsanya dalam hitungan detik.


Putra masih terlihat ragu-ragu ketika ingin menyentuh mata pisau, gadis itu kembali terkekeh. "Ambil aja, ga ada apa-apanya itu. Gue ga mau bunuh lo meskipun ingin. Gue masih butuh lo entah kapan."


Akhirnya Putra menggenggam mata pisau itu lalu menyelipkannya di bawah bantal, seperti yang Zahra lakukan tadi. "Thanks."


Zahra mengangguk. "Sama-sama." Pandangannya kembali lurus, menatap hampa—rasa ini terlalu sakit jika di pendam sendirian. Ia harus meluapkannya. Rasa yang selama ini ia tahan karena tidak mungkin mengungkapkannya pada Rio maupun Rizki. Tapi begitu ia menemukan Putra, rasanya meluapkannya sekarang akan lebih tepat.


Semalam, mereka berseteru. Zahra mencekik Putra sambil melontarkan kalimat desakan bahwa Putra ialah salah satu orang bawahan ayahnya. Ia baru sadar ketika menaiki mobil Putra, harum yang sama seperti seminggu yang lalu saat Deron membawanya. Lagi pula, ia ingat semua plat dan semua koleksi mobil milik kekasihnya—mobil yang kemarin terasa asing. Revolver yang dipakai Putra juga menunjukkan sesuatu.


Ia hampir saja membuat darah Putra berhenti mengalir jika Rio dan Rizki tidak datang dan memisahkan. Rio mengusulkan jika kamar mereka dipisah, tapi Zahra malah merengek ingin tetap satu kamar dengan Putra dan berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Tapi dengan hal itu, membuatnya cukup tahu bahwa tebakannya benar.


"Gue kangen sama papi, sama mama dan kehangatan yang mereka tinggalkan. Gue ga mungkin ngomong begini sama dua saudara gue secara langsung, karena ini bakal nyakitin mereka. Lo bisa sampaikan ke papi kalau gue kangen."


Putra duduk, sebelah tangannya bergerak melingkari bahu Zahra—tapi nyatanya pemuda itu malah mencopot dua kancing atas pakaian Zahra. Putra menurunkan pakaian Zahra hingga memperlihatkan bahu belakang Zahra. Putra menempelkan bibirnya di sana.


"Ssshhh." Zahra meremas tangan Putra yang masih melingkari pinggangnya. Rasa gelisah kembali timbul ketika Putra melakukan sesuatu pada bahunya. "Put, shhh. Bisa, kan?"


Putra berdecak senang dengan hasil karyanya ini, ia mengusapnya perlahan karena kekasihnya meringis perih. Ia kembali mengancingkan pakaian Zahra lalu menghadapkan gadis itu ke arahnya. Begitu Zahra melihat Putra, gadis itu disambut oleh Putra yang menangkup wajahnya kemudian mencium lembut bibirnya.


Saat Zahra akan menjauhkan wajah dan menyudahi ciuman mereka, Putra menahan tengkuk kekasihnya. Sialan Putra ini!


Setelah sekian menit, kedua insan tersebut baru melepaskan tautan bibir mereka. Jujur saja, sebenarnya Zahra menikmati ciuman ini, not bad! Putra merengkuh tubuh Zahra, menyandarkan kepala kekasihnya di dadanya. Mencium pucuk kepalanya kemudian mengusap pelan bahunya.


"Jangan terlalu dipikir. Lo yang bilang sendiri kan kalau ikatan batin itu nyata? Meskipun bukan lewat gue atau siapa pun itu, dia akan tau keadaan lo, dia tau kalau lo sayang sama mereka. Mereka tau, jangan khawatir."


Zahra melingkarkan kedua tangannya di pinggang Putra. "Sampai sekarang gue masih mikir, kenapa ini semua terjadi? Gue mau semuanya berakhir, tapi gue belum nemuin akar masalah yang sebenarnya, gue ga mau gegabah. Gue ga membela siapa pun, tapi dalam sebuah masalah mesti ada penyebabnya, kan? Api ga akan nyala ketika ga disulut, Put ...." Gadis itu menggelengkan kepala, terlihat hampir menyerah.


Putra mengangguk. Ia juga memikirkan hal ini dari lama? Apa yang sebenarnya terjadi di keluarga kekasihnya?


"Oh iya, soal senjata. Kak Rizki sama Kak Rio belum bahas, nanti kalau mereka nanya lo jawab aja gini, 'Itu hadiah anniversary kita, gue beli dari black market'".


Putra menoyor kepala Zahra pelan, gadis itu terkekeh. "Sialan, mau lo jadikan umpan ya, gue?"


"Lo kan cowok, tanggungjawab dikit kek. Lagian kalau gue bilang beli sendiri yang ada mereka malah curiga ke gue, lagian lo belinya juga di BM kan? Ngaku lo!"


"Punya gue udah ada surat-suratnya ya, lengkap."


Zahra memukul punggung Putra. "Punya gue juga ada lah suratnya. Tinggal gitu doang, ribet bat lo."


"Iya-iya. Ngalah gue mah, terus pisau lo tuh masalah juga."


Zahra menatap Putra sambil tersenyum manis, laki-laki itu merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Nah yang itu, lo bilang hadiah dari lo pas ultah gue yang ke-19."


Putra mendelik, menatap datar gadis yang di rengkuhannya. Meskipun begitu, ia malah mencium pucuk kepalanya berkali-kali. Ia sebenarnya tidak keberatan melakukan itu, hanya saja—apakah Rio dan Rizki akan percaya padanya?

__ADS_1


...****...


Sekarang ruang rawat Zahra dan Putra sedang digunakan rusuh oleh kawan-kawannya. Mereka baru saja datang saat keduanya selesai makan siang. Bukannya membuat ketenangan, ke tujuh orang itu malah asik sendiri. Putra sampai memijat pelipisnya.


Ina, Ica dan Ardelia sedang live di akun Instagram masing-masing. Jaka yang bermesraan dengan Mita. Willy dan Fandi yang bermain mobile legend.


Devan berjalan ke brangkar Zahra, laki-laki itu duduk di sampingnya. Ia tersenyum lembut. "Gimana keadaan lo?"


Zahra tersenyum tipis. "Baik, hanya saja masih sedikit nyeri," gadis itu melirik brangkar sebelah yang sedang melirik mereka. "Tol*l banget temen lo, masa dia kena empat kali. Demen banget dioperasi."


Devan dan Putra terkekeh jenaka mendengar ucapan sarkastik Zahra. "Kayak lo ga aja, Ra," ucap Putra sembari tersenyum miring. Gadisnya itu mendengkus sebal.


Devan mengusap kepalanya pelan lalu berpindah duduk di samping Putra, pemuda itu mengeluarkan benda segi empat besar dari dalam tasnya. Zahra merotasikan bola matanya melihat Devan dan Putra asik sendiri dengan laptop yang dibawa Devan. Lagi-lagi Zahra merasa bosan, ia mengedarkan seluruh pandangan.


Matanya menangkap Jaka dan Mita yang tengah berdebat tak jauh dari ketiga sahabatnya yang masih live Instagram.


Mereka membicarakan game wormmate, game cacing-cacing yang lebih menantang dari pada wormzone. Tapi sayang, game itu online, tidak seperti wormzone yang offline.


"Nge-lag gitu kemaren gue main, Yang. Mendingan gue pake PUBG, kalau engga main ML." Jaka memang suka bermain game online, tapi dia tidak suka kalau gamenya nge-lag gara-gara koneksinya rendah atau kondisi smartphone yang kurang mendukung.


"Tapi kalo di wormzone ga menantang tau, lebih asikan wormmate ... tau ga, kan gue ni ya main, cacing gue kecil. Kan ada cacing besar mati tuh, gue makan itu, tiba-tiba gue langsung gede aja," ucap Mita tak mau kalah.


"Halahh, itu mah ada ramuan 10x, makannya langsung gede. Coba aja lo matiin cacing yang besar tapi lo ga da ramuan yang kali 2, 5 or 10, auto kecil itu."


"Enggak ih, cobain nih!" Mita memberikan ponselnya ke pangkuan Jaka. Laki-laki itu menerimanya dengan malas. Sedangkan Mita melihat-lihat isi handphone kekasihnya.


"Bukain, noh!" Zahra memberikan perintah pada Willy yang lokasinya paling dekat dengan pintu.


"Atas nama Devan Ramadhani," ucap Bang go-food.


"Eh iya, makasih, Mas." Willy tergagap saat driver itu memberinya dua box pizza. Laki-laki itu kembali ke tempatnya setelah bang go-food pergi.


"Kapan lo pesennya?" tanya Zahra saat mereka turun untuk makan pizza di bawah.


"Tadi, sama Putra," jawab Devan.


"Pinter banget kalian, gue laper," sahut Ica gemas.


Setelah acara makan siang selesai dan berbincang sebentar, mereka pamit pulang. Tinggal tiga orang yang berada di ruangan itu, salah satunya Devan yang memilih tinggal.


Putra membawa laptop milik Devan ke bawah, melanjutkan pekerjaan mereka yang terjeda akibat makan siang.


"Kapan kalian pulang?" tanya Devan sambil membuka sebuah website.


"Ga tau," jawab Zahra cuek, gadis itu sedang menyelesaikan ketikannya untuk membalas pesan seseorang


"Dua hari lagi kita pulang!"


Zahra spontan menoleh menghadap Putra. "Kok dua hari, gue kira ntar malem."


"Badan gue masih pegel semua, emang lo engga?"


Zahra cengengesan. "Pegel sih, tapi ga terlalu." Gadis itu menyimpan kembali handphone-nya lalu memilih bergabung dengan kedua laki-laki yang ada di ruangan itu.


"Kesukaan lo kan, Ra?" Putra terkekeh melihat Zahra yang memalingkan wajah, bukan apa-apa. Hanya saja, ada Devan di sini. Ia takut jika pemuda itu berpikiran yang aneh-aneh tentang dirinya.


Devan merangkulnya tenang. "Kerja sampingan gue, royaltinya lebih besar daripada bantuin papa."


Zahra terkejut mendengarnya, Devan yang selama ini ia lihat berpacaran dengan tugas ternyata juga suka bermain-main di dunia peretasan. Ia memilih tersenyum saja dan melunakkan diri.


"Ngapa ga bawa laptop dua lo, gue siap membantu kalau pekerjaan lo masih banyak," keluh Zahra. Ia capek sendiri melihat keduanya yang membuka tutup situs itu lalu menyalin hal penting dan dikirimkan pada seseorang. Padahal list yang ada di handphone Devan masih banyak.


"Sana istirahat, obatnya di laci jangan lupa di minum," perintah Putra.


Kekasihnya itu menatap sebal. "Lo kan lebih parah, yang harusnya istirahat itu lo. Lo juga kan belum minum obat, seenaknya aja nyuruh gue."


Keduanya terbahak. Alhasil Devan memaksa Zahra untuk kembali ke brangkar dan beristirahat. Ia berasa bersalah juga karena mengganggu waktu istirahat Putra, laki-laki itu hanya menyelesaikan setengah dari pekerjaannya. Kemudian juga menyuruh Putra melakukan hal yang sama seperti Zahra. Setelah membereskan barang-barangnya, ia berpamitan pada Putra yang masih meminum air putih. Ia mencium dahi Zahra kemudian melangkah keluar.


...****...


Oke gengs, saatnya melanjutkan visual part 2.

__ADS_1


Oh ya, ternyata yang ciwi masih ada gaess,,, ketinggalan kemaren. Jadi gue lanjut di sini. Oke, siap2 kalian yaaa


10. Clara Defiana (Defi)



Si cantik yang kemaren ngedate sama bos Rio.


11. Listya Rani Arabella (Rani)



Orang yang buat Zahra tersedak di mall.


Sekarang giliran cwo2 nya gengs,, siapkan diri kalian!!


1. Darel Ario Kusuma (Rio)



Abang pertama Zahra yang jadi incaran semua umat.


2. Rizki Alvaro Devranel (Rizki)



Lu pada jangan pada Mikir macem-macem ya pas ngelihat si Rizkii... Ini kenapa dia sexy banget woyyy!!!


3. Putra Rastungo Mahendra (Putra)



Abis ngapain lau Put, pake kutang doang??


4. Devan Ghiffar Ramadhani (Devan)



Penjaganya si cantik kita nih...


Dan ini squad dari Putra dan Devan



Jaka Gevino, pawangnya Mita.



Nadean Willy Setyawan, yg lagi kepincut sama salah satu temennya Zahra, tapi sayang dianya kurang peka. Pdahal udah di kodein :((



Ahmad Fandi Prastian, si biang rusuh.


Saatnya squad kakak kesayangan Zahra....



Lukas Diki Sanjaya, Abang posesif nya Una



Reynando Aditya



Rezaldi Prasetyawan



**Revan Adhitama, sang Abang jadi2an nya Zahra

__ADS_1


Jika ada cast lain akan ditayangkan lain waktu,,, semoga suka❤️**


__ADS_2