Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
77. Diterima Baik


__ADS_3

Gadis dengan rambut hitam itu kembali membuka mata setelah melewati malam yang panjang. Di sinilah ia sekarang, mansion Ario.


Putra mengajaknya keluar apartemen kemarin malam, dia bilang akan memberikan hadiah untuknya. Tak disangka, ternyata Putra membawanya ke mansion Ario. Mansion tempat Zahra tinggal. Ia memantau Zahra sejak kejadian di makam hari itu, akhirnya ia tahu di mana adiknya selama ini berlindung. Ia sangat senang ketika Zahra baik-baik saja dengan hidupnya.


Sangat mudah untuk menemukan alamat rumah Zahra meskipun ia tidak menguntitnya. Cari saja alamat Darel Ario, siapa sih yang tidak mengenal konglomerat yang satu itu? Dengan begitu, ia tahu rumah Zahra dengan mudahnya. Sudah pasti Darel akan satu rumah dengan Zahra.


Raisha menguap, menyibak selimut dengan gambar pemandangan alam itu. Tidurnya nyenyak sekali malam ini. Selama di Jakarta, ia belum pernah merasakan tidur nyenyak seperti sekarang.


Dulu, saat di rumah orangtua angkatnya, ia tidur dengan beralaskan tikar. Mereka sangat baik. Meski serba kekurangan, mereka mau menampung anak yang tidak jelas asal usulnya. Sedangkan setelah ia menjerumuskan diri dalam dunia malam itu, ia tidak juga tidur nyenyak. Tubuhnya selalu saja terasa pegal. Membuat waktu tidurnya berkurang. Batinnya tersiksa selama ini, mau bagaimana lagi? Ia harus mendapatkan uang lebih cepat agar hutang orangtunya segera lunas.


Sebelumnya bibi telah mengganti bed cover Doraemon itu menjadi bed cover pemandangan alam, kemarin siang. Kebetulan sekali jika Raisha datang, gadis itu bisa beristirahat di kamar ini, kamar milik Zahra.


Raisha kembali menguap, memandangi kamar yang ia tempati. Kamar ini bahkan lebih kecil dari kamarnya yang berada di mansion, tapi sesungguhnya tempat prost*tusi. Kamar ini terasa hangat dan nyaman. Tidak ada AC, hanya ada kipas angin berdiri. Balkon kamarnya juga tersedia tempat duduk, pemandangan malam Jakarta bisa dilihat dari balkon itu. Benar-benar memukau.


Andai saat ini Zahra ada di mansion ini, pasti mereka akan tidur bersama. Melepaskan kerinduan yang meletup-letup selama belasan tahun.


Suara ketukan pintu terdengar. Raisha segera turun dan membuka pintu. Seorang pria yang kemarin berbagi suapan dengannya sekarang tengah ada di depan kamar.  Pizza itu datang, mereka berempat menikmatinya. Dia tersenyum hangat, membuat Raisha mau tak mau membalas senyum itu.


"Pagi, Rai."


Raisha mengangguk. "Pagi, Riz-ki." Gadis itu masih agak canggung menyerukan nama itu. Pria itu menyuruhnya memanggil nama saja, karena Rizki teringat akan cerita Zahra, jika usia keduanya hanya terpaut satu bulan.


"Mau jogging bareng ga? Lumayan, jogging sama cogan, kapan lagi coba lo ditawarin eksklusif kayak gini?" Rizki telah siap dengan singlet navy dan handuk mininya.  Pria itu terlihat bersemangat.


Seseorang memukul pundak Rizki. "Jangan mau, modus doang itu mah. Hati-hati, ceweknya galak." Seseorang itu berlalu, memasuki kamar yang berada di sebelah kamar yang Raisha tempati.


Rizki mendengkus tak suka. "Sialan lo, Bang."


Kamar di depan Raisha terbuka, seorang pemuda yang dikenalnya berdiri di ambang pintu dengan muka bantal. Rambutnya masih berantakan. "Ngapain lo ga bangunin gue?"


Rizki menoleh ke belakang, menatap pemuda yang masih berdiri di ambang pintu tersebut. Sesekali pemuda itu terlihat memejamkan mata, terlihat sekali jika dia kurang tidur. "Ogah, lo ileran!"


"Huft." Putra mengembuskan napas kesal, kembali ke dalam untuk bersiap mandi.


Raisha dan Putra memang menginap, hari sudah larut, tak mungkin mereka pulang. Raisha juga disuruh oleh Rio untuk tinggal di sini.

__ADS_1


"Gimana, mau jogging?" Rizki mengulangi ajakannya.


"Eum, kapan-kapan aja."


"Gue ngerti kok. Sekarang lo mandi aja, pakai aja baju Zahra. Di walk in closed banyak, pilih aja yang lo suka."


Raisha tersenyum, "Makasih. Ya udah, gue mandi dulu."


Raisha berjalan menuruni tangga dengan salah satu pria Ario, dirinya masih canggung berada di keluarga ini. Setelah mandi tadi, ia tidak tahu harus melakukan apa, hingga ketukan pintu kembali terdengar.


Pria yang memeluknya semalam pelakunya. Pria itu mengajak Raisha turun, bertemu anggota keluarga lainnya.


Detak jantungnya kembali berdetak kencang. Apa yang akan ia katakan ketika bertemu anggota lain di rumah ini? Tangan besar itu meraih tangannya, menggandengnya erat.


Raisha memandang pria yang pandangannya lurus ke depan, ia masih canggung dengan pria ini.


Pria itu menghentikan langkah, membuat Raisha juga otomatis berhenti. Gadis itu menautkan keningnya.


"Ga usah gugup, anggap aja rumah sendiri." Pria itu memperlihatkan senyum hangatnya, pegangan tangan itu tetap tak dilepaskan, dia kembali melangkah.


Mereka sampai di dapur. Raisha melihat dua orang perempuan tengah berkutat dengan bumbu dapur dan kompor yang sedang memasak sesuatu. Sepertinya akan membuat sarapan.


Wanita dengan daster batik itu berbalik badan, menatap laki-laki tertua di rumah ini. Manik itu memicing, menatap bergantian pada Rio dan gadis di sebelahnya. "Siapa gadis itu? Kamu tak berniat selingkuh, bukan?"


"Ayo!" Rio menarik tangan Raisha mendekati bibi, gadis itu terlihat kembali menunduk.


"Angkat kepalamu, Rai. Biar bibi melihat dan mengenal rupamu," Rio berucap dengan suara beratnya, mau tak mau Raisha menurut.


Bi Heni terdiam di tempatnya, wanita itu mematikan kompor lebih dulu sembari menunggu penjelasan Rio.


"Bi, perkenalkan, ini Raisha. Saudara perempuan Zahra."


Gadis dengan rambut pirang itu menghentikan kegiatannya, kebetulan sekali masakannya telah matang. Ia mematikan kompor, mendekati ibunya dan Rio.


Bi Heni mengatupkan bibirnya rapat, ia tidak percaya dengan gadis yang dipandangnya kini. Gadis dengan manik coklat terang itu terlihat gugup, kulit putih pucatnya terlihat cocok dengan gadis berambut panjang sepinggang itu. Hooded eyes itu menatap ragu, sedangkan pipi tirusnya terlihat merona. Bibir pink itu sangat menawan. Gadis ini terlihat imut dan cantik disaat bersamaan.

__ADS_1


"Kakak ... cantik sekali," cicit Tria pelan, ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


Raisha meringis pelan, pipinya kembali memerah. Wanita ini masih menatapnya intens, membuat rasa gugup yang perlahan hilang kembali mendera.


Gadis yang berada di samping Rio itu tersentak, tubuhnya ditubruk oleh wanita di depannya. Pegangan Rio terlepas, tubuhnya kembali membeku, merasa dejavu.


"Akhirnya mereka menemukanmu. Kami sudah lama menunggumu, Sayang."


Wanita yang memeluknya itu terisak, ia masih bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Rio memberinya isyarat, tangannya terangkat dengan ragu—perlahan, ia mulai membalas pelukan itu. Hatinya kembali menghangat, aliran darahnya berdesir hebat.


Ia merasakan tidak hanya satu orang yang memeluknya, lebih dari itu. Rasanya seperti dua ibunya yang lain ikut memeluknya, menyalurkan kerinduan yang sangat.


Raisha mengeratkan pelukannya, dirinya ikut meneteskan kristal itu. "Boleh aku memanggilmu, ibu?" tanyanya dengan ragu.


Kedua wanita beda usia itu melepaskan pelukannya. Bi Heni tersenyum hangat, menghapus air yang meleleh di wajah gadis di hadapannya. "Tentu, Sayang. Sangat boleh."


Tria terkekeh pelan. "Kelihatannya aku punya saudara baru lagi. Rumah ini akan semakin ramai. Selama ini aku sudah berbagi ibu dengan yang lain, tentu aku tidak akan keberatan berbagi ibu denganmu, Kak—" Tria menggantung ucapannya, ia tidak tahu siapa nama anggota baru ini atau mungkin ... ia lupa.


Raisha menyingkir dari hadapan bibi, bergerak ke depan Tria. Mengambil salah satu tangannya. "Raisha, namaku Raisha."


Tria melepaskan tangannya, bergerak memeluk Raisha. "Senang bisa menjadi salah satu saudaramu, Kak Raisha"


...***...


"Kalian ga jijik deketan sama gue, maksudnya—" Raisha bingung harus berucap bagaimana. "Gue–gue kan—" Mulut itu berhenti berucap ketika sebuah tangan tiba-tiba membekap mulutnya.


"Kita ga suka lo ngomong gitu, kita ga peduli masa lalu lo kayak gimana, lo tetap menjadi bagian dari kita. Bagian dari mansion ini." Suara berat itu kembali terdengar, tangan yang membekapnya perlahan terlepas.


Ia tidak pernah membayangkan akan diperlakukan seperti ini di tempat ini, bahkan ia tidak pernah memimpikannya. Ia cukup sadar dengan keadaannya, mereka akan malu saat tahu dirinya yang sebenarnya. Tapi ini apa?


Pria kulit putih itu duduk di samping pemuda berjambul. Pria berkaus oblong terlihat segar dengan rambut yang masih basah. "Bang, laman berita dan media sosial yang memuat Zahra dan dua cowok itu semakin bertambah. Setelah diredam, mereka semakin bermunculan. Gue takut, Zahra ga kembali karena berita itu."


Putra memperbaiki posisi duduknya. "Biarin aja. Kalau mereka udah pada puas, lama-lama juga hilang sendiri. Zahra udah terbiasa kayak gini, ga usah kaget kalau dia jadi topik hangat. Abaikan, daripada capek sendiri."


Raisha terlihat cemas. Apa Zahra akan pulang? Sedangkan dirinya ada di sini? Ia takut Zahra masih membencinya. "Maafin kakak, Dek ...," Gadis itu bergumam pelan.

__ADS_1


Rio terdiam. Pria itu termenung sesaat sebelum akhirnya berkata, "Suruh Robby untuk tetap meredam berita itu. Zahra jangan sampai terlalu mencolok atau kita ga akan bisa tenang. Bilang kalau gue naikkan gajinya tiga kali lipat."


Rizki mengiyakan permintaan Rio. Dia segera mengambil ponsel dan melakukan apa yang Rio katakan tadi. Ayah mereka meminta identitas Zahra harus tetap aman. Jadi, kakak yang baik harusnya tahu, harus apa ia sekarang?


__ADS_2