
Kelas telah usai dari sepuluh menit yang lalu, seorang gadis berdiri tanpa sepatah kata. Baru saja ingin melangkah, seseorang mencekal pergelangan tangannya. Gadis itu berdecak.
"Apaan sih, lepas!" Dia menatap sosok di hadapannya berang. Dengan sekali tarikan, ia berhasil meloloskan tangannya dari cekalan orang di depannya.
"Lo kenapa? Dari gue datang diam aja, padahal tadi gue lihat lo bicara sama yang lain, terus pas ada gue lo jadi diam. Maksudnya apa?"
Zahra memutar bola matanya. "Terus kenapa kalau gue diam, masalah?"
"Gini ya hasil sama Devan seminggu, lo nyuekin gue. Ngapain aja lo sama dia?"
Zahra menatap cowok yang menjabat sebagai kekasihnya tersebut, tentu ini semua tidak ada hubungannya dengan Devan. Kenapa ia malah membawa-bawa nama Devan? Marah, tentu saja. Siapa yang terima jika orang tidak salah apa-apa malah disangkut pautkan dalam sebuah masalah.
"Ga usah bawa-bawa Devan. Ngaca sama diri lo, emangnya lo udah benar pakai nuduh orang?"
"Maksud lo apaan? Gue yang salah gitu, jelas-jelas lo yang jalan sama sahabat gue!"
Zahra mengangkat dagu, menatap tajam Putra. "Kemarin ngapain sama mantan jabl*y lo? Dikasih berapa ronde, sampai lo nagih gitu?" Gadis itu menatap kekasihnya dengan senyum sinis.
Putra terdiam, bagaimana gadis dihadapannya ini tahu? ****, ia lupa mengganti kata sandi waktu itu, pasti Zahra diam-diam ke apartemennya.
"Kenapa diam? Malu kegep gue? Bener ya kata orang, sekali brengs*k ya tetap brengs*k. Ga akan pernah berubah, nyesel gue perjuangain lo kalau balasan lo begini. Mana janji lo buat ga nebar benih sembarangan? Bullshit ternyata!"
"Zahra!"
"Apa? Masih mau ngelak? Jelas-jelas gue udah lihat sendiri. Lo ga lebih dari seorang bast*rd!"
Putra kembali menahan Zahra yang hampir mendekati pintu, laki-laki itu berdiri menghadang di pintu kelas.
"Minggir lo!" perintah Zahra ketus.
"Ga! Dengerin penjelasan gue dulu!"
"Kurang apalagi omongan gue? Gue emang ga punya bukti, tapi hati gue yang terluka ngelihat lo begitu sama cewek lain."
"Gue minta maaf."
"Halah, blegedes!" Zahra mendorong Putra yang menghalangi jalannya, gadis itu berjalan cepat meninggalkan Putra yang menatapnya dari kejauhan.
Sudah cukup! Ia harus mengubur rasa cintanya yang telah tersisa 50 persen tersebut. Mereka benar, Putra memang bukan laki-laki baik, beruntung ia tidak menjadi salah satu korban cab*lnya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, di manakah Devan berada? Seharusnya laki-laki itu telah ada di kampus sejak ia di bawa ke rumah sakit, tapi nyatanya sampai sekarang laki-laki itu tidak menampakkan batangnya. Zahra mendesah resah, apa terjadi sesuatu? Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah Devan pergi tanpa kabar.
Di tengah perjalanan, gadis itu bertemu Una yang sedang bercanda ria dengan sahabat-sahabatnya. Zahra berjalan mendekat.
"Una!"
Begitu ada orang yang menyerukan namanya, gadis bernama Unailil Muna tersebut mendongak. Ia berdiri, menatap Zahra yang berdiri menatapnya. Gerakan tersebut diikuti kedua sahabatnya yang menatap Zahra dengan pandangan bertanya.
"Ada apa, Kak?"
"Jauhin cowok gue, cewek polos kayak lo ga pantas sama cowok bast*rd macam Putra!"
"Maksudnya apa, Kak? Udah dua kali gue nemuin orang ngatain Kak Putra bast*rd."
"Lo akan tahu sendiri dan gue harap kalian bertiga hati-hati."
Zahra berlalu meninggalkan tanda tanya di benak mereka. Gadis itu berjalan menuju kantin, mencari orang yang dekat dengan Devan. Kemungkinan dia tahu di mana pemuda itu berada.
Ah, itu dia, pikir Zahra, saat melihat orang yang dicarinya tengah memakan bakso bersama seorang gadis.
"Ajis, Jane," sapa Zahra pada dua orang itu.
Keduanya mendongak. "Duduk, Ra," sahut salah satunya.
"Ada apa nih, tumben nyariin kita?" tanya Jane.
"Gini, gue mau tanya sesuatu, ke Ajis, sih."
"Gue? Nanya apaan?"
“Ehm, Jis. Lo kan wakil ketua nih yaa? Lo pasti dekat kan sama Devan?”
Dia memicingkan mata, kemudian mengangguk. "Hm, kebetulan kita juga sepupuan. Eh, ada apa nih? Tumben lo nyariin Devan?"
“Ohhh, he-he. Lo tahu ga Devan di mana? Kan jarang dia ga masuk tanpa kabar gini."
“Khawatir nih ceritanya? Gue juga gatau. Sejak lo ga masuk, Devan juga belum masuk, bahkan sampai hari ini," ungkap Ajis.
"Masa, sih?"
"Iya, bahkan kata Tante Mila, Devan ga ngasih kabar sama sekali. Pokoknya sejak dia jemput lo malam itu, dia belum pulang sampai sekarang."
"Bentar, itu kan tiga hari yang lalu. Berarti selama ini dia belum pulang sama sekali?" Terlihat binar khawatir tercetak di netra Zahra, entah kenapa hatinya jadi tak nyaman dan gelisah.
"Iya, waktu kita telepon HP-nya ga aktif."
"Ya udah, kalau gitu gue pergi dulu. Thanks, Jis, Jane." Zahra berdiri dari tempatnya. Keduanya mengangguk, gadis itu keluar dari kantin menuju parkiran. Ia harus mencari Devan.
Tiga hari bukanlah waktu yang singkat, kenapa Devan bisa menghilang? Kenapa dia hilang setelah pulang dari rumah sakit malam itu?
Zahra melajukan motornya ke rumah Devan, ia harus meminta keterangan dari Mila terlebih dahulu.
Mila bercerita, setelah pergi menjemputnya malam itu, Devan tidak pulang. Sebenarnya mereka telah lapor polisi, tapi polisi belum berhasil menemukan Devan. Ia berjanji pada Mila, jika dirinya telah menemukan Devan, ia akan langsung memberi kabar.
__ADS_1
Saat ini gadis itu tengah berada di salah satu cafe, menunggu kabar dari anak buahnya. Ia telah menyuruh mereka mencari Devan hingga ditemukan. Dirinya tidak bisa membiarkan Mila khawatir, ia akan menyalahkan dirinya sendiri apabila Devan tidak ditemukan.
Handphone gadis itu berdering, sebuah panggilan masuk dari anak buahnya.
"Saya segera ke sana!" Zahra menghabiskan minumannya terlebih dahulu, gadis itu bergegas meninggalkan kafe setelah mendapat kabar dari anak buahnya.
...****...
Rumah sakit Adinegara, di sinilah Zahra sekarang. Gadis itu terkejut setelah mendapat kabar bahwa Devan dirawat di rumah sakit ini. Kemarin pemuda itu baik-baik saja, lantas sekarang?
Zahra melangkahkan kaki ke meja resepsionis, setelah memantapkan hati ia bertanya pada suster, “Permisi, Sus! Pasien atas nama Devan Ramadhani ada di ruang mana ya?”
"Sebentar, saya cari datanya dulu."
"Ah, baik."
Suster itu pun mengutak-atik komputer di depannya, setelah mendapatkan nama yang sesuai ia mengeklik nama tersebut.
"Pasien korban kecelakaan, dia ada di Mina dua."
Kecelakaan? batin Zahra. Entah rasa apa yang mencuat di dadanya saat ini, gemuruh itu semakin kuat kala suster mengatakan kecelakaan tersebut terjadi tiga hari yang lalu. Hari yang sama saat ia di bawa ke rumah sakit, itu artinya kecelakaan tersebut terjadi setelah Devan meninggalkan ruang rawatnya.
"Lalu orang yang menabrak Devan bagaimana?"
"Syukurlah, orangnya sekarang sudah sehat. Padahal waktu dibawa ke sini sama-sama parah. Untuk administrasi Tuan Devan pun juga sudah dibayar, untuk itu kita berani memberikan penanganan terbaik."
“Baiklah. Terimakasih, Sus.” Zahra menelusuri lorong rumah sakit dengan perasaan berdebar, apa yang sebenarnya terjadi? Gadis itu menekan sebuah tombol di handphone-nya, ia mengabari ibunya Devan jika anaknya telah ditemukan.
...****...
Putih, hanya itu yang Devan lihat saat pertama kali membuka mata. Pemuda itu menoleh ke samping, didapatinya seseorang yang tertidur dengan menggunakan tangannya sebagai bantal. Ia mengerti saat ini berada di rumah sakit, ia ingat semuanya.
Tangan Devan terulur untuk mengusap rambut seseorang yang terlelap di tangannya, ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi tangannya terangkat begitu saja.
Zahra merasakan seseorang mengusap kepalanya, ia mengangkat kepalanya pelan. Tangan yang tadinya mengusap lembut kepalanya menjauh seketika.
“Eh, sorry. Lo jadi kebangun gara-gara gue."
Gadis itu memutar kepalanya, lehernya pegal karena posisi tidur yang salah. Ia cukup terkejut saat pemuda yang terbaring dihadapannya tampak membuka mata, pemuda itu menatapnya terkejut.
"Zahra!"
Gadis itu tersenyum. "Akhirnya lo bangun juga," ungkapnya bahagia. "Sorry, karena tangan lo gue buat bantal. Habisnya gue ngantuk banget."
Pemuda dihadapan Zahra balas tersenyum. "Ga papa, kok. Gue seneng orang yang pertama gue lihat pas sadar itu lo."
Zahra terkekeh mendengarnya. "Bentar, gue panggilin dokter." Gadis itu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar, ia kembali dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putihnya. Dokter tersebut mulai memeriksa keadaan Devan.
“Syukurlah, keadaannya sudah membaik, perban yang ada di kakinya bisa di lepas nanti,” jelas dokter setelah memeriksa Devan.
"Nanti malam sudah boleh pulang, tinggal dua check up lagi. Kalau begitu saya permisi."
Zahra kembali duduk di kursi sebelah brangkar. “Kenapa bisa kek gini?” Sungguh menyesakkan melihat Putra memadu kasih dengan wanita lain, tapi lebih menyesakkan lagi melihat Devan seperti ini.
Devan menyentuh tangan Zahra dan menggenggamnya, laki-laki itu tersenyum tipis, memilih untuk tidak bercerita.
"Van, bilang sama gue. Kenapa lo bisa kayak gini!" Gadis itu balas menggenggam tangan hangat Devan.
Devan mengembuskan napas berat. "Cuma kecelakaan kecil, ga perlu khawatir."
Zahra memutar bola matanya. "Kecelakaan kecil bisa masuk rumah sakit, ga sadar tiga hari lagi. Lucu, ya?"
Laki-laki itu meringis. "Gue ga enak hati sama lo,” katanya sambil menggaruk belakang kepala dengan sebelah tangan.
“Udah, jujur aja kenapa! Emang kejadiannya ada hubungannya sama gue, sampai lo ga enak hati segala?”
“Iya, ada hubungannya sama lo. Tapi, sehabis gue cerita, lo jangan marah ya!” pinta Devan.
Zahra mengangguk, Devan menceritakan kejadian demi kejadian hingga ia masuk rumah sakit ini.
“Jadi gitu ceritanya. Lo jangan marah sama Putra, ya! Itu murni kecelakaan, mungkin gue aja yang kurang hati-hati," Devan mengakhiri ceritanya dengan senyum tipis. Gadis dihadapannya menghela napas panjang.
“Tapi gara-gara dia lo jadi ga fokus dan akhirnya kecelakaan."
"Ra ...."
"Oke, buat lo gue ga akan marah. Tapi kenapa lo diam aja waktu Putra mukulin lo brutal? Apa yang salah jika lo pengen nolongin gue, ga ada, kan? Lagian lo mau aja dipukulin, bela diri kek!" ucap Zahra kesal.
Devan terkekeh, Sepertinya Zahra benar-benar mengkhawatirkan dirinya. “Emang ga ada salahnya, tapi gue ga mau masalahnya jadi panjang. Gue ga mau persahabatan yang udah terjalin lama putus gara-gara masalah ginian.”
“Lo baik banget. Gue jadi mikir buat enggak sia-siain lo." Perkataan Zahra membuat Devan tersentak, apa kata Zahra tadi? Devan menatap manik dihadapannya, bola mata coklat itu sangat serasi dengan wajah Zahra yang tersenyum teduh saat ini. Pipinya menggelembung ke atas, ekspresinya berubah lucu saat gadis itu berkedip menunggu reaksi darinya.
Devan bangun, pemuda itu mengesampingkan rasa sakit yang tersisa di tubuhnya, bergerak merengkuh tubuh mungil Zahra yang hanya berjarak satu jengkal dari tubuhnya saat ini.
"Terimakasih," bisiknya di telinga Zahra.
Gadis itu membalas pelukan Devan, tentu ia terkejut dengan yang Devan lakukan, tapi tubuhnya tak dapat menolak. Rasa itu, menerimanya dengan nyaman, seolah tubuh besar Devan sangat cocok dengan tubuhnya yang mungil.
"Izinin gue perjuangain lo, untuk kali ini, gue ga akan ngalah!"
"Gue udah tahu semuanya, Van. Gue tahu, makannya gue mau. Apa rasa lo masih sama? Dan gue udah dapat jawabannya, ternyata rasa itu masih sama. Gue ga mau jatuh untuk kesekian kalinya, gue ga tahu kedepannya akan seperti apa, tapi gue mau lo jadi salah satu tumpuan gue. Daftar orang yang akan selalu ada di hati gue, bisa?"
Devan tidak menyangka jika Zahra akan berbicara seperti itu padanya, apa gadis itu baru saja mengutarakan isi hatinya? Devan melonggarkan pelukannya, menangkup kedua pipi Zahra yang bersemu. "Tanpa lo minta gue akan jadi tumpuan lo. Syukurlah, Tuhan udah buka hati lo, gue seneng dengernya." Pemuda itu mencium kening Zahra, kening kedua yang akan selalu diciumnya.
__ADS_1
Setelah sekian menit, kedua insan tersebut melepas pelukannya, mereka tersenyum canggung. Tapi itu tak bertahan lama, karena ponsel yang berada di saku Zahra tiba-tiba bergetar hebat. Sebenarnya ponsel itu telah bergetar sejak tadi, tapi sang pemilik memilih mengabaikannya.
Zahra membuka looksreen-nya, ponselnya menampilkan sebuah panggilan dari kekasihnya. Putra telah menghubunginya sebanyak 30 kali, dan mengirim pesan sebanyak 50. Gadis itu masih kesal, ia mematikan daya HP lalu kembali memasukkan ke sakunya.
Devan melirik sekilas, pemuda itu terkekeh. "Masih marahan?"
"Ya siapa yang ga marah kalau digituin, gue lihat langsung, Van."
"Jadi lo lihat sendiri?"
"Gue ga akan kayak gini kalau ga lihat langsung, benar-benar keterlaluan."
"Udah-udah, yang penting kan lo udah tahu yang sebenarnya."
"Iya, sih." Zahra tersenyum tipis, kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Gue cari makan dulu, laper," katanya sambil mengusap perutnya yang rata.
"Gue nitip dong," pinta Devan.
"Ini udah masuk jam makan siang, bentar lagi juga suster nganter makanan."
"Ya udah, deh," balas Devan seadanya.
Seorang suster masuk dan diiringi Zahra di belakangnya. Suster itu mengantar makanan dan obat, setelah itu pergi.
"Udah makan, cepat amat?"
Zahra tidak menjawab, melainkan membuka jaket hitamnya lalu mengeluarkan sejumlah makanan dari dalamnya. Devan menatapnya tak percaya.
"Gue cuma beli, gue mau nemenin lo makan." Zahra memandang Devan sejenak sebelum bertanya, "Mau gue suapin?"
Devan menggeleng. "Kita makan sama-sama, ya?" Gadis itu tersenyum tipis kemudian mengangguk. Mereka sama-sama menikmati makanan dalam diam.
Setelah makan, Zahra menyodorkan obat dan segelas air pada Devan, laki-laki itu menyambutnya dengan senang. "Thank."
Zahra berpamitan pada Devan, gadis itu keluar dari ruang rawat bersamaan dengan orangtua Devan yang akan masuk.
Zahra yang berjalan santai ke parkiran terkejut, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang.
"Putra!" pekik Zahra setelah mengetahui orang yang tiba-tiba menariknya. "Lo ngapain di sini?"
"Ngikutin lo, ngapain lagi?"
"Jadi lo tau kalau Devan di rawat di sini?"
"Devan di rawat di sini?"
Zahra memutar bola matanya. "Iya, puas lo udah bikin dia kek gini. Dia ga fokus, abis berantem sama lo, jadinya kecelakaan deh."
"Serius?"
"Lo pikir gue ngarang?"
Putra kembali meraih tangan Zahra, pemuda itu akan kembali menarik jika pertanyaan Zahra tidak menghentikannya.
"Mau ngapain? Ga puas mukulin Devan malam itu?"
"Huft ...." Putra menarik kekasihnya untuk duduk di salah satu kursi. Pemuda itu menatap kekasihnya. "Dengerin gue! Gue mau jenguk Devan dan lo harus nemenin, kita bertiga harus bicara!"
"Lo mau ngapain dia lagi?"
"Zahra ... jangan suuzan mulu sama gue, gue tahu gue brengs*k, tapi lo ga tau alasan—"
"Ya makannya kasih tahu!"
Putra mengela napas. "Belum saatnya! Gue tahu kok kalau Bang Rio sama teman-temannya ga suka sama gue, sadar diri aja, Ra! Tapi gue yakin, mereka akan merubah mindset mereka perlahan, gue ga sebrengs*k yang kalian kira."
"Terus kenapa lo ngelakuin itu, gue sakit, Put, sakit."
Putra menangkup kedua pipi Zahra, gadis itu menatapnya tanpa berkedip, menunggu jawaban yang akan Putra berikan.
"Sorry, dari awal gue ga pernah sayang sama lo. Gue cuma jalanin amanah buat jagain lo, selama ini gue nahan diri buat engga ngelakuin hal lebih ke lo, gue sadar, gue cuma disuruh jagain lo, ga lebih."
"Apa maksud lo?"
"Lo ingat saat pertama kita ketemu? Waktu itu lo duduk di depan ruangan Gretak sambil main game, gue ngamatin lo dari kejauhan, lo tersenyum kecil saat itu. Saat itu gue berpikir buat jadiin lo target, tapi seseorang datangin gue dan mercayain lo ke gue. Orang itu—"
Zahra memegang tangan Putra yang menangkup pipinya, gadis itu kembali memotong ucapan kekasihnya. "Siapa yang lo maksud?"
Putra menggeleng. "Belum saatnya, jika udah saatnya, dia bakalan balik sama lo." Putra berdiri, lalu menggenggam tangan Zahra.
"Ayo ke ruang rawat Devan!"
Zahra ikut-ikut saja saat Putra membawanya pergi. "Kita ga putus?"
Putra terkekeh lalu mencubit hidung kekasihnya gemas. "Belum waktunya, Sayang. Gue masih harus jagain lo, kontraknya masih beberapa bulan lagi."
"Kontrak?"
"Iya, sampai dia datang lagi ke gue dan mengakhiri kontrak tersebut. Setelah itu dia bakal datangin orang yang tepat buat jagain lo kembali dan itu kontrak untuk selamanya." Pemuda itu terkekeh dengan raut bingung yang ditampilkan Zahra, tapi apa boleh buat, ia tidak bisa mengungkapnya sekarang.
****
Holla gaesss? Pa kabs?
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya
Plisseu❤️