Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
97. Membuka Hati


__ADS_3

"—Akan hidup lagi?"


Dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya terkumpul, Zahra memaksakan bangun karena mendengar suara Revan yang sepertinya sangat marah.


"Aduhh ... Bang Revan tuh ngapain, sih? Ga bisa apa kek gue gitu, masih lapang dada, disakiti sodara sendiri," gumamnya sedikit kesal.


Katakanlah ia agak dungu karena terlalu berkorban dan dengan mudahnya memberi maaf begitu saja. Namun, semua kewarasannya mendadak lenyap saat diiming-imingi bahkan keluarganya akan kembali berkumpul. Dengan masih menggerutu, ia berjalan dengan tergesa ke sumber suara yang mengganggu.


Sesampainya di depan ruangan, ada banyak pengawal yang mengawasi keduanya. "Permisi." Ia segera menebaras melewati beberapa orang itu. Setelah sampai di dalam ruangan, ia begitu terkejut melihat abangnya yang begitu bern*fsu ingin menghabisi sang ayah.


Dengan panik, ia berlari pada dua orang yang sedang memojok itu. "Bang Revan, jangan, Bang. Lepasin tangan Abang," ucapannya sambil menarik tangan Revan, yang tengah mencekik Rivan.


"Lo ga usah ikut campur, ya!" bentaknya, saat melirik tangannya yang ditarik paksa.


"Bang, kasian Om Rivan. Tolong jangan kayak gini, Bang! Itu ayah Abang lhooo." Zahra berusaha melepaskan cengkeraman Revan yang begitu kuat, sedangkan Rivan matanya berkaca-kaca, menyaksikan darah dagingnya begitu berkeinginan untuk menghilangkan nyawanya. Hatinya begitu sesak, melihat putranya seperti seorang monster.


"Bang, apa kesalahan Om Rivan yang ga bisa abang maafkan? Jangan gini bang! Pasti Abang akan menyesal setelah kehilangan Om Rivan."


Bukan tanpa maksud ucapan itu keluar, ia hanya mau Revan tidak gegabah dan membuatnya menyesal seumur hidup. Ia tahu, pria yang dilanda emosi itu juga mendamba sosok ayah seperti dirinya.


Revan menyentak tangan Zahra, sehingga gadis itu terdorong hingga terjatuh ke lantai. Ia memandang bengis.

__ADS_1


"Lo ga akan tahu rasanya dihina! Dihujat, katain anak haram! Gara-gara—" Tangan satunya menunjukan wajah Rivan, "Gua disangka anak haram, bangs*t! Lo ga akan tahu, Ra! Lo itu anak yang didambakan sama keluarga lo, beda sama gue. Dia nih, bapak gue, ga pengen punya anak kek gue. Kalau gitu, gue juga ga pengen punya bapak kek dia." Mata Revan memerah, ia semakin kuat mencengkeram leher Rivan.


"A–abang ... jangan seperti ini, tolong lupakan itu semua. Semua itu masa lalu, Bang. Abang sekarang ga dihina, kan? Hidup Abang udah enak. Meskipun aku, seorang yang diinginkan keluargaku, tapi di luar sana, banyak yang ingin nyawa aku, Bang. Kita memiliki ujian masing-masing, tolong jangan samakan nasib kita.


"Jika saat ini papi aku di sini, aku pengen bermanja-manja sama papi aku. Bang, ingat Tante Kirana. Apa Tante Kirana pengen Abang ngebunuh Om Rivan? Engga, kan? sedih Tante Kirana lihat Abang seperti ini. Dia ... yang mau Abang bunuh ... selain dia keluarga inti Abang yang tersisa ... dia juga merupakan seseorang yang tente Kirana cintai. Abang jangan sampai menyesal!"


Zahra berdiri, mendekati Revan yang masih dalam posisi yang sama. "Bang, tolong lepasin tangan Abang. Lihat, Om Rivan udah kehabisan napas!"


"Biarin! Biar dia mati sekalian!" bentak Revan. Ia sungguh tidak peduli, karena rasa sakit yang bercokol di hatinya memupuk sebuah rasa yang tak seharusnya ada, menjadi semakin besar.


"Bang! Aku masih belum ikhlas sepenuhnya papi aku meninggal. Abang jangan bilang kek gitu. Orang tua itu merupakan harta kita Bang, masih banyak orang di luar sana yang hidup tanpa didampingi orang tua. Abang jangan egois. Inget Tante Kirana, Bang!


"Abang lupa sama mami aku? Mami pengen banget ketemu keluarganya, bertemu dengan ayah ibunya. sedangkan abang, harusnya bersyukur, bisa mendapatkan kasih sayang dari semua orang tua abang, meskipun terlambat. Setidaknya, abang bisa tersenyum masih memiliki ayah yang sehat. Jangan di sia-sia kan, Bang!"


"Abang jangan nyalahin Om Rivan, ga semua salah beliau. Bila mereka waktu itu Om Ruvan tidak datang, itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun usaha kita untuk mempertemukan mereka, jika Tuhan tidak mengizinkan, tidak akan ada hasilnya, Bang. Tolong di lepas ya, Bang!


Zahra mendekati Revan. Ia berarti harus lebih halus dalam meredakan amarah seseorang. Ia tidak boleh terpancing juga oleh amarah Revan. Gadis yang kini berantakan itu, menghela napas berkali-kali. Ia berjongkok di depan Revan, menangkap pipi Revan dengan kedua tangan hangatnya.


"Bang, tatap aku!"


Revan menatap mata coklat sepupunya, rasanya begitu damai. Amarahnya serasa menguap setengah, membuat cengkeraman pada leher Rivan sedikit longgar. Pria paruh baya itu segera menarik napas, sebelum dirinya benar-benar kehilangan napasnya.

__ADS_1


Revan menaikkan sebelah alisnya, menunggu gadis dengan raut sayu itu mengucapkan sesuatu. Ia memang tidak suka dinasehati, apalagi mengenai dirinya dan ayah biologisnya. Tapi ia suka, ketika ada seseorang yang masih memperhatikan dirinya.


"Aku pengen tahu, bagaimana perasaan terdalam Abang ketika tahu—bahwa Om Rivan, ayah abang dalam keadaan sehat? Abang bisa ngobrol, memeluk, saling berbagi tawa dan sedih bersama. Aku yakin, di hati Abang yang paling dalam, abang sebenarnya juga sangat menginginkan—bagaimana rasanya memiliki ayah? Bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh? Iya kan?


"Jika memang Abang hingga saat ini belum mampu memaafkan kesalahan yang Om Rivan perbuat di masa lalu, aku mohon ... Abang jangan pernah membunuh Om Rivan. Setidaknya jangan bertengkar, itu sudah cukup. Kasian Tante Kirana sama Kakek. Tolong jangan kecewakan mereka.


"Abang tahu? Kakek capek, stress setiap hari memikirkan kalian. Jika Abang tidak bisa membahagiakan kakek, setidaknya jangan menambah bebannya. Kakek udah cukup tertekan selama ini, tolong jangan membuat kesehatan Kakek menurun. Dan, jangan egois."


Zahra tersenyum tipis, ia melepaskan tangannya dari pipi Rivan. Beralih memegang satu tangan Revan yang bebas. "Abang jangan kayak gini ya, sebenarnya aku takut. Takut kehilangan kalian, kalian keluarga aku. Kita baru saja berkumpul, masa udah cerai berai kayak gini. Jadi aku mohon dengan sangat pada kalian berdua untuk berbaikan, terlepas bagaimanapun masa lalu dan kesulitan yang kalian alami.


"Mari kita membuka lembaran baru dengan hati yang bersih dan tentram. Oh iya, habis ini aku mau keluar dulu, nanti Abang sampaikan ya sama Kakek aku mau jalan-jalan. Capek aku di rumah ini. Satu lagi, saat aku balik nanti, aku ga mau lihat Abang sama Om Rivan masih berdebat. Apalagi ngelihat Abang pengen bunuh orang kek gini." Gadis itu menggeleng. "Nga, aku ga mau."


Setelah itu, Zahra dengan pelan melepaskan tangan Revan yang tadi digenggamnya, begitu pula melepaskan tangan sepupunya dari leher ayahnya. "Ingat, ada Kakek di rumah ini! Aku mau jalan-jalan dulu."


Pikiran Revan kosong, raut wajah Zahra yang kelem membuat dirinya terhipnotis. Begitu pula dengan apa yang disampaikan gadis itu. Ntah kenapa, ucapan panjang lebarnya, mau tidak mau membuat dia termenung. Dalam beberapa detik, ia hanya menyaksikan Rivan yang meraih napas sebanyak-banyaknya.


Dia memang termenung, namun hatinya masih berkobar api. Tapi, Zahra tidak akan suka apabila melihat dirinya melukai pamannya. Lalu, bagaimana jika ia melukai dirinya sendiri? Hasrat untuk membunuh belum sepenuhnya hilang.


Ia mengambil pisau mini yang terselip di sela-sela lipatan baju. "Sepertinya, bukan ide yang buruk!" Bibir itu menyeringai.


Rivan yang tidak sengaja melirik pun dibuat terkejut. Lantas, ia segera mendekatkan diri ke arah putranya. Ia tidak mau melihat putranya dalam nuansa merah-merah.

__ADS_1


"Revan! Jangan lakukan ini, Nak!" ucapan lirih sarat akan makna keluar dari bibir pucatnya, ia masih berusaha merebut benda yang akan difungsikan oleh Revan.


__ADS_2