
Gadis berambut hitam dengan ujung rambut coklat itu tengah menggedor-gedor salah satu toilet.
"Buka woy, gue kebelet pipis, nih. Toiletnya penuh." Sudah beberapa kali ia teriak, tapi orang di dalamnya seakan tak peduli. Seseorang yang masuk lima belas menit yang lalu itu, tetap berdiam diri di dalam toilet.
Gadis itu menghela napas kasar. Dengan Berbekal jepit rambut yang tadi ia temukan di pasir pantai, gadis itu berusaha membuka pintu toilet yang terkunci.
Setelah berusaha agak lama, akhirnya pintu terbuka. Ruangan yang didominasi warna putih itu berisi seorang perempuan yang sedang menangis dengan memegangi kedua lututnya.
"Astaga Ina? Lo kenapa? Baju lo, rambut, kenapa semuanya basah?" tanyanya bertubi-tubi.
Gadis yang bernama Ina itu masih menangis, malahan kali ini ia menenggelamkan wajahnya seperti tidak mau melihat wajah yang terpampang di depannya.
"Na? Please, jangan kayak gini. Lo kenapa?" Orang itu menggoyangkan badan Ina yang kaku dan menggigil, sepertinya gadis itu kedinginan.
Manik coklat miliknya menangkap benda kecil panjang yang berada di sudut ruangan, ia mengambilnya. Manik itu meneliti setiap sudut benda yang dipegangnya dengan intens.
"Dua garis merah?" gumamnya, lalu memerhatikan gadis yang terduduk di hadapannya.
Orang itu menutup mata sejenak berusaha menguatkan hati dan pikirannya. Lalu ia menepuk lengan gadis itu. "Lo tunggu sini sebentar, jangan kemana-mana!" Orang itu keluar dan kembali menutup pintunya.
Lima menit kemudian orang itu kembali dengan membawa kantung plastik hitam berisi baju bersih dan alat mandi. Ia membuka pintu dengan kasar, menemukan temannya yang masih di posisi yang sama.
Orang itu menepuk bahu Ina perlahan. "Jangan kayak gini, lo bisa sakit. Ganti baju lo!" Gadis itu diam, tidak merespon sama sekali. Hanya isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Na ... gue tau apa yang lo rasain, tapi jangan kayak gini. Gue tau ini berat, lo bisa puas-puasin nangis setelah keluar dari sini. Tapi, ga buat sekarang, sekarang lo berdiri dan ganti pakaian lo. Nih, gue bawain pakaian bersih!"
Gadis itu berdiri, mengikuti arahan meski dengan pandangan kosong. Tangisnya pun sudah mulai tak terdengar kembali. Orang itu keluar dari toilet dan menunggu gadis itu di luar.
...****...
Mereka diam. Sama-sama tidak ada yang mau mengawali pembicaraan. Terduduk canggung berdua. Saat ini mereka tengah berada di rumah sakit. Tentu pergi dengan diam-diam, tidak mungkin mereka mengabari yang lain.
Tadi Ina sempat memberontak, ingin melakukan aborsi untuk menyingkirkan makhluk hidup yang baru tumbuh di rahimnya.
__ADS_1
Tapi seorang gadis cantik yang diyakini sebagai sahabatnya mencegah perbuatan itu dan malah membawanya ke dokter kandungan.
Ina beberapa kali menghela napas, sungguh ia tidak ingin ke sini. Ia ingin kembali ke Jakarta saja rasanya. Duduk dengan Zahra seperti ini membuatnya semakin tidak enak dengan gadis itu.
Janin di rahimnya ini? Ina menggeram tertahan, mengusap perut datarnya pelan. Kenapa lo harus ada sih, janin sialan! batin Ina.
"Ibu Zaria Marina, silahkan masuk," kata seorang perawat sambil tersenyum hangat.
"Ayuk masuk!" ajak sahabatnya. Zahra menatap dengan tatapan tajam miliknya. Ayolah, ia hanya ingin memastikan kebenaran itu, bisa saja testpack-nya rusak.
"Gue ga mau!" Ina berpegangan pada kursi, supaya Zahra menyerah dan kembali mengajaknya ke pantai. Bukan masuk ke ruangan dokter itu. Melihatnya dari luar saja sudah tampak menyeramkan, apalagi masuk ke dalamnya. Ina bergidik. Ia bukan ibu-ibu. Ia bukan wanita hamil. Testpack itu pasti salah.
"Ayuk. Kita harus mastiin testpack itu bener atau salah!" ucap Zahra, seperti tahu saja yang Ina pikirkan.
Suster itu masih berdiri di sana dengan sabar, beruntung Ina adalah pasien terkahir, jadi tidak menghambat pasien setelahnya. Kembali ia tersenyum ramah.
Setelah sekian lama membujuk, akhirnya Ina berdiri, berjalan dengan perlahan ke ruang periksa. Sementara sahabatnya juga mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua duduk di hadapan dokter. "Siapa yang bernama Ibu Zaria?"
"Sa-saya, Dok!" jawab Ina dengan gugup, tak pernah ia bayangkan akan masuk ke ruangan seperti ini. Tidak sebelum menikah.
Bagaimana jika ayahnya mengetahui hal ini?
"Baik ibu Zaira. Apa keluhan yang ibu rasakan?"
"Emm." Ina menoleh pada gadis di sebelahnya, gadis di sebelahnya menganggukkan kepala. "Hanya pusing dan akhir-akhir ini sering mual, Dok."
Dokter itu mengangguk dan tersenyum ramah. "Kapan terakhir kali menstruasi?"
"Satu bulan lalu, Dok."
"Baik. Mari ibu ikut saya, kita lakukan tes kesehatan dulu lalu tes urine."
__ADS_1
Ina berdiri mengikuti wanita berambut keriting itu, memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Sementara Zahra menunggu di kursi tadi, sembari memainkan handphone-nya.
Hahh, banyak panggilan tak terjawab dari kedua kakaknya, sial. Ia sejak tadi memang menonaktifkan ponselnya, mematikan GPS dan beralih ke mode pesawat. Ia tidak ingin mereka sampai mengetahui keberadaannya. Mereka pasti menghawatirkan dirinya. Ia tentu paham akan hal itu.
Sepuluh menit kemudian, Ina dan dokter itu kembali. Zahra mengantungi kembali ponselnya, kedua laki-laki itu menyuruhnya agar tetap online. Tapi Zahra tetap mematikan GPS miliknya. Jangan sampai mereka menyusul. Ina juga kembali ke tempat duduknya.
Dokter itu berdehem singkat. "Dari hasil pemeriksaan, tidak ada masalah kesehatan yang serius yang menganggu perkembangan janin. Dan selamat, ibu mengandung. Usianya baru 4 minggu, untuk kelaminnya ibu bisa mengeceknya kembali setelah 3 bulan."
Ina terdiam, ternyata dirinya memang mengandung, bahkan usianya telah mencapai empat minggu. Zahra menyenggol temannya yang mulai kehilangan fokus. Gadis itu mengisyaratkan Ina untuk kembali mendengar pernyataan dokter. Ina hanya sanggup tersenyum di depan sang dokter.
"Rasa mual yang terjadi pada trimester pertama, itu hal yang wajar. Saya sudah buatkan resep vitamin untuk ibu, nanti silahkan di tebus. Oh ya, tolong makanannya dijaga ya, Bu. Makanan itu kan pengaruhnya besar bagi perkembangan janin. Perbanyak sayur, buah, serta protein ya, Bu. Usahakan makan dengan porsi seimbang."
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami permisi."
Kedua gadis itu menyalami tangan sang dokter, setelahnya mereka menebus resep itu. Sejak tadi Zahra yang banyak bicara, Ina masih terdiam cukup lama. Zahra tidak ingin memikirkan ini lebih berat, yang penting—kini hasilnya sudah jelas.
"Kita balik pantai ya, bisa mampus kalau abang nemu gue di sini." Zahra membuka pintu mobilnya, segera masuk dan memasang safety belt. Ina hanya mengangguk tanpa berucap.
Gadis itu sepertinya masih enggan untuk sekedar berbagi pada sahabatnya. Ia malu, ia telah mengandung.
Mereka menuju pantai Waiwo dengan menggunakan taksi. Sesampainya di sana Ina langsung keluar dan membaur dengan yang lain. Zahra tidak tahu itu hanya alibi atau memang bawaan calon bayi yang ingin bermain bersama teman-teman ibunya. Zahra menatap dari kejauhan sambil tersenyum.
Seseorang menepuk bahunya. Zahra menoleh penasaran. "Kak Rizki?"
"Baru sampai?"
Gadis itu mengangguk, matanya menatap sang mentari. Matahari itu masih berada di balik awan, mungkin satu jam lagi akan tenggelam. Tentu itu yang mereka tunggu.
"Ayo main, ngapain di sini?"
Zahra terkekeh lalu memeluk sang kakak. Kepalanya mendongak menatap lawan bicaranya. "Ayo!"
Keduanya berjalan mendekati teman-teman mereka yang tampak bersantai. Melupakan jika ada dua teman mereka yang baru saja kembali. Tentu yang menyadari kepergian mereka hanya Rio, Rizki dan Defi. Yang lainnya, sudah tenggelem dalam keindahan Waiwo.
__ADS_1