Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
6. Orang Misterius


__ADS_3

"Sayang, kalau airnya sudah mendidih, sayurannya dimasukin, ya," ujar Bi Heni kepada putrinya yang baru pulang. Ia sangat senang, putrinya memberikan surprise untuknya, dengan tidak memberitahu tentang kepulangannya.


"Oke, Bu," jawab gadis itu riang.


Rio baru saja keluar dari kamarnya, pria itu menuju dapur untuk mengambil minum. Sesampainya di dapur, Rio melihat ada dua orang. Satunya bibi, sedangkan satunya? Siapakah gerangan? Orang itu kelihatannya masih muda, kira-kira berusia delapan belas tahunan.


Rio menghampiri bibi untuk menanyakannya, "Bi—"


Baru saja Rio akan bertanya, gadis itu berbalik badan dan memandang Rio. Rio mengerutkan dahinya.


"Lo," tunjuk Rio pada gadis itu.


"Surprise." Gadis itu memamerkan deret giginya dan berjalan menubruk Rio, memeluk tubuh tegap itu.


"Kok ga bilang kalau mau pulang? Kan bisa gue jemput. Kapan pulang? Bareng siapa?" Rio menghujani gadis itu dengan berbagai pertanyaan.


"Kan surprise, kalau bilang namanya bukan surprise dong," jawab gadis itu.


"Mulai nakal, ya, lo?"


"Enggak, si. Oh ya, Kak Zahra di mana?"


"Berani emang mau nemuin dia?"


"Berani dong, hehe."


"Ya udah sana, di kamar gue, tuh."


"Boleh masuk?"


"Ketuk aja pintunya."


"Ya udah, Kak. Gue mau nemuin Kak Zahra dulu." Gadis itu melepas pelukannya pada Rio dan berjalan menuju lantai dua.


"Dia kapan pulang, Bi?" tanya Rio pada Bi Heni. Niat awal mau minum, tapi malah ketemu sama anaknya bibi.


"Semalam. Saya aja kaget gitu waktu dia pulang. Kan dulu kalau pulang dia biasanya minta jemput kamu. Lah ini, malam-malam pulang sendiri," jelas bibi.


"Dia enggak lagi ada masalah 'kan, Bi?"


"Enggak, kok. Lagi libur aja, sebulan mungkin."


"Bagus deh, Bi. Zahra jadi ada teman."


"Iya."


"Oh, iya, Bi. Dia masih suka nanyain Om Aldo?"


"Masih lah. Semalam saja dia sudah nanya-nanya."


"Sabar ya, Bi. Mungkin ini memang belom waktunya kita dipertemukan sama Om Aldo. Ini Rio juga bantu nyari."


"Makasih banyak, ya."


"Ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan jasa bibi pada keluarga saya. Bibi udah Rio anggap ibu kandung Rio malahan."


"Sekali lagi makasih. Mungkin tanpa keluarga kamu juga, hidup bibi masih serba kekurangan sampai sekarang."


"Bibi 'kan teman seperjuangan ibu saya sedari kecil. Jadi, bibi secara ga langsung udah jadi bagian keluarga kita."


"Ha-ha, kamu bisa aja. Bibi kan jadi terhura."


"Ha-ha, ikutan gaul juga sekarang, Bi?"


****


Zahra merapikan kasur Rio yang berantakan. Setelah semua kembali pada tempatnya, Zahra memainkan handphone Rio yang berada di atas nakas.


Suara ketukan pintu dari luar mengejutkan Zahra. "Kak Rio ngapain ngetuk pintu segala?" gumam Zahra bingung, gadis itu memilih melanjutkan melihat-lihat beranda instagram Rio.


"Gue boleh masuk?"


Zahra mengerutkan dahi ketika mendengar suara itu, suaranya tidak asing. Tapi siapa?


Seseorang memutar knop pintu. Setelah pintu terbuka, masuklah seorang gadis, gadis itu menatap Zahra dengan senyum. Senyumnya manis, di kedua pipinya terdapat lesung pipi, membuat gadis itu mempunyai pesona sendiri. Zahra tertegun melihatnya.


"Kak? Hello ...." Gadis itu melambaikan tangan di depan wajah Zahra, membuat Zahra terkejut dan mengerjab sesaat.


Zahra menatap gadis asing di depannya, bagaimana gadis ini masuk? Bukannya di luar ada bodyguard yang menghalau orang asing masuk.


"Kakak baik-baik aja?" Gadis itu merasa tidak nyaman saat Zahra memandangnya intens.


"Kakak?" Zahra mengerutkan dahi seketika. "Lo siapa? Kok bisa masuk sini?"


Gadis itu terkekeh. "Kakak lupa sama gue?"


Zahra menegakkan posisi duduknya. "Bentar deh, sini lo!" Zahra menepuk tempat di sampingnya, bermaksud agar gadis itu duduk.


Setelah gadis itu duduk, Zahra memberondong dengan berbagai pertanyaan. Gadis itu hanya dapat meringis mendengar pertanyaan yang Zahra ajukan.


"Lo kok cuma diam aja, jawab dong!" desak Zahra kesal.


Gadis itu memantapkan hati dan pikiran. Ia berharap, semoga kali ini Zahra tidak menyemburnya dengan kalimat pedas.


"Gue Tria," ucapnya sembari tersenyum lebar.

__ADS_1


Zahra menaikkan sebelah alis. "Tria? Siapa, tuh?"


Gadis itu menganga lebar. "Kak Zahra ga ingat gue?"


Zahra diam, gadis itu mencoba mengingat siapa Tria. Walaupun tidak asing dengan suaranya, tapi Zahra asing dengan wajahnya. Setelah mencoba mengingat, tetap saja Zahra tidak menemukan gambaran yang pas. Siapa itu Tria?


"Gue Tria, anaknya bibi," ungkapnya.


Zahra mengerjab beberapa saat. Tria? Anaknya bibi? "Loh, lo beneran Tria. Anaknya Bi Heni, yang kuliah di Newyork itu?" Zahra mengguncang bahu gadis yang kini dihadapannya. "Sorry," ucap Zahra setelah sadar dari yang ia lakukan. "Lo beneran Tria?"


"Iya, Kak. Gue Tria. Masa ga ketemu dua tahun aja, kakak udah lupa sama gue?"


Zahra menghambur memeluk Tria. Timbul perasaan senang saat Zahra memeluknya, beban pikiran yang sejak tadi ditutupinya terhempas begitu saja. Ah, rupanya Zahra memang telah berubah.


"Gimana ga lupa? Selain ga ketemu dua tahun, kita 'kan juga mis. komunikasi. Gua kangen banget sama lo, Ya," ucap Zahra saat memeluk Tria.


"Gue juga kangen sama lo, Kak," balas Tria.


Jadi, Tria itu usianya lebih muda dua tahun dari Zahra. Kepintarannya tidak bisa diragukan, IQ-nya lumayan tinggi. Gadis itu mengikuti sekolah program akselerasi, sehingga saat ini dia juga kuliah dengan semester yang sama seperti Zahra, semester tiga.


Tria dulu dipindahkan ke Newyork karena sering bertengkar dengan Zahra. Deron, ayah Zahra memindahkan pendidikan Tria ke Amerika, tepatnya di Newyork. Dia dipindahkan saat masih kelas satu SMP.


Zahra dulu sangat tidak suka pada  Tria, karena gadis itu dianggap merebut semuanya. Merebut kasih sayang dan perhatian Rio, jika mereka bertengkar, Rio selalu membela Tria.


Zahra dan Tria melepaskan pelukannya, mereka tertawa bersama.


Berbanding terbalik dengan masa lalu mereka, yang dipenuhi drama kakak adik tiri yang saling benci.


"Ternyata benar kata Kak Rio, kakak banyak berubah. Sekarang kakak jadi friendly, seneng banget akhirnya bisa ngobrol santai gini. Bukan sebatas tubir ataupun pertengkaran tidak berguna seperti dulu."


Zahra tersenyum hangat menatap gadis dihadapannya. "Gini ya, manusia  pasti ga lepas dari yang namanya kesalahan. Kesalahan itu ada yang bisa diperbaiki dan ada juga yang enggak. Nahhh, gue pengen perbaiki kesalahan gue sekarang. Intinya gue ingin berubah. Ngerti 'kan?"


Melihat Zahra tersenyum, Tria ikut tersenyum. "Gue ikut seneng dengernya."


"Harus itu," kekeh Zahra. Melihat Tria tersenyum membuat Zahra teringat akan Raisha. Zahra tersenyum nanar mengingat masa lalunya.


****


*Sepasang kakak beradik tengah berjalan bersama, sang kakak menggenggam tangan adiknya begitu erat, dia tidak mau kehilangan permata kecilnya itu. "Kita mau ke mana, Kak?"


"Eumm, ke taman yuk, Dek!"


"Ayuk, Kak," jawab sang adik.


Sepasang kakak beradik itu berjalan bersama menuju sebuah taman, ketika telah sampai di taman mereka mengobrol bersama. Membuat suatu kehangatan tercipta, diantara kesepian yang kini mereka rasakan. Siksaan yang selalu mereka dapatkan saat berada di rumah membuat mereka frustasi dan hampir gila. Setetes air mata tiba-tiba lolos dari pelupuk mata sang kakak.


"Ehh, kakak kenapa nangis?" Tangan mungil Zahra bergerak menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk Raisha.


"Ehh, gak papa, Dek. Dek, kita pergi dari rumah yahh, kakak udah ga bisa ngelindungi kamu lagi kalo di rumah." ungkap Raisha. Sebenarnya Raisha tidak tega berucap seperti itu, kalau mau pergi, memang mau ke mana?


"Hah?? Kakak yakin? Kalau sampai om sama tante nyariin kita gimana? Kalau ketemu, mereka pasti menyiksa kita lebih berat."


"Pergi yok, Dek! Kakak bosan di sini," ajak Raisha.


"Iya, Kak. Ayok," sahut Zahra antusias.


Mereka berjalan sangat jauh hingga tidak terasa waktu telah kembali malam. "Kita tidur di mana, Kak?" tanya Zahra.


Tidur? Ini di mana, emang kamu kira kakak tahu ini kita di mana, batin Raisha.


"Kita duduk dulu di situ, ya? Kakak tahu kamu capek," kata Raisha sambil menunjuk trotoar.


Kini mereka telah duduk bersama di trotoar. Raisha ingin pergi meninggalkan Zahra saat ini juga. Gadis kecil itu beranjak ingin pergi.


"Ehh? Kakak mau ke mana?"


"Kakak mau cari makan. Kamu lapar 'kan? Kakak cuma sebentar, kok." Raisha mengusap pipi adiknya pelan, meyakinkan bahwa ia pasti kembali.


"Kakak jangan pergi seperti mami sama papah, Zahra ga mau sendiri kakak," rengek Zahra manja.


"Kakak cuma sebentar, kok," bohong Raisha sambil melempar senyum. Dia pergi meninggalkan Zahra. Maaf, batin Raisha, lalu perlahan menghilangkan di tengah gelapnya malam.


Sudah tiga hari Raisha meninggalkan Zahra. Saat orang-orang berlalu lalang, mereka iba melihat Zahra yang terus menangis. Tapi mereka heran dengan Zahra yang terus memberontak ketika didekati. Hingga akhirnya datang seorang pria paruh baya, pria itu datang dengan seorang  bocah.


Mereka turun dari mobil dan menghampiri Zahra. Pria paruh baya itu jongkok, menyamakan posisinya dengan Zahra. Dia menatap anak kecil itu dengan mata berbinar.


"Bahkan wajahmu sangat mirip dengan ibumu, sayang." Pria itu mendekati Zahra. Dengan sigap Zahra menangkis tangan yang akan mengusap kepalanya. Zahra menjauhkan dirinya dari pria itu.


"Om pergiiii! Jangan dekat-dekat sama Zahra, jangan sakiti Zahra. Z Zahra udah ga ada siapa-siapa lagi, kakak Zahra udah pergi ninggalin Zahra. Om jangan gangguin Zahra!" papar Zahra sembari terisak. Tangisnya semakin menjadi kala pria itu kembali mendekati Zahra.


"Tenang, Nak. Papi ga akan nyakitin kamu kok, papi mau bawa kamu pulang, Sayang." Pria itu segera mendekap Zahra dan memberikan kehangatan bagi gadis kecil itu.


"Om, siapa? Papah aku udah meninggal, dia udah ninggalin aku," ucap Zahra lirih, suaranya tenggelam dalam dada pria itu. Dada pria bergetar mendengar suara lirih Zahra.


"Enggak sayang, papi di sini! Mulai sekarang, papi akan melindungi kamu. Kamu jangan merasa sendiri. Mami ke mana, Sayang?"


"Mami ... mami ... mami meninggal ...."


Pria itu mendekap tubuh kecil Zahra semakin erat. Jadi, Zaskia dan Johan sudah meninggal? Kenapa kabar ini tidak sampai ke aku? Aku harus cari tahu, batin pria itu dalam kebingungannya.


"Mulai sekarang kamu tinggal sama papi ya, Sayang?"


"Om, siapa? Zahra ga kenal sama Om! Om ga akan nyakitin Zahra 'kan?"


"Mulai sekarang kamu panggil Om  papi ya, Sayang. Papi ga akan nyakitin kamu kok. Nanti setelah di rumah, papi akan jelasin sesuatu ke Zahra, oke?"

__ADS_1


"Janji?" ucap anak kecil sembari mengulurkan jari kelingkingnya.


"Papi janji. Oh ya sayang, ini kakak kamu, Rio."


Zahra menoleh ke samping papinya, seketika pandangannya bertemu dengan pandangan bocah laki-laki di samping papinya. Bocah itu berjalan ke arah Zahra, lalu memeluknya.


"Hyy, Zahra. Kenalin nama kakak, Rio. Kamu bisa panggil Kak Rio."


"Kak Rio?"


"Iya. Kakak boleh panggil kamu Ara?"


"Boleh. Ara suka," kata Zahra dengan senyum manisnya.


"Gemes, deh." Rio mencubit pelan pipi gembul adiknya dan membuat Zahra mengerucutkan bibir.


"Lucu sekali adik kakak ini," ucap Rio.


"Kakak ga akan ninggalin aku seperti Kak Raisha 'kan, Kak?"


"Kakak ga akan ninggalin Ara kok, udah jangan nangis lagi. Kamu jelek kalo nangis terus." Rio menghapus air mata Zahra dengan lembut.


"Kita pulang yukk, kalian pasti sudah lapar?" tanya pria itu kepada kedua anaknya, mereka serentak menganggukkan kepala.


Pria itu lalu membawa Zahra ke dalam gendongannya, serta menggandeng tangan Rio untuk kembali ke mobil.


Mereka tidak sadar jikalau sepasang mata tengah melihat mereka.


Akhirnya kamu menemukan kembali keluargamu. Jadi, aku tidak perlu lagi mengawasimu, karena kamu telah menemukan penjagamu sendiri, ujar seseorang yang memakai kaos dan masker hitamnya, dia adalah Raisha. Dia datang untuk melihat adiknya terakhir kali. Dia tersenyum ketika melihat adiknya senyum yang jarang-jarang ditampilkan itu*.


****


"Ehh, Kak! Kok kakak jadi ngelamun?" Suara Tria membuat Zahra terkejut.


Zahra menggeleng dengan senyum kecil.


Pintu terbuka, menampilkan Rio dengan kaus abu-abu polos.


"Kakak ngagetin aja," kata Tria pada  Rio.


"Pada turun gihhh, tuh makanan udah siap. Keburu dingin nanti," kata  Rio.


Zahra langsung berdiri ketika mendengar makanan telah siap. "Ya udah, cusss ...." Zahra menerobos Rio yang masih berdiri di depan pintu, gadis itu dengan sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Rio.


"Eh, santai aja dongg ...." maki Rio saat bahunya ditabrak Zahra secara sengaja. Tria terkekeh melihat tingkah Zahra.


****


Sekarang Zahra dan Rio sudah ada di area pemakaman. Makam orang tua kandung sama orang tua tiri mereka itu berdekatan. Jadi, kiri sendiri itu makam Deron (ayah kandung), sebelahnya ada Zaskia (ibu kandung), terus Johan (ayah tiri) dan sebelahnya ada Tiffani (ibu tiri). Tiffani meninggal karena kanker rahim, beruntung saat itu Raisha bisa lahir dengan selamat, tetapi Tiffani langsung meninggal di tempat.


Saat itu, rumah tangga Deron dan Zaskia diambang kehancuran, akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Entah apa penyebab mereka bercerai, itu yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Hanya ada beberapa orang yang tahu, termasuk Rio.


Dulu makam Zaskia, Johan dan Tiffani berada di Bandung. Karena permintaan kecil Zahra, akhirnya tiga makam itu di boyong ke Jakarta dan dipindahkan ke area pemakaman milik keluarga Ario. Akhirnya, saat Deron meninggal, jasadnya disemayamkan di sebelah mantan istrinya.


Tentang penyebab mereka meninggal, mereka meninggal tragis. Johan meninggal karena kecelakaan yang sudah terencana, Zaskia juga dibunuh dengan cara yang sadis. 


Pembunuhan tragis yang terjadi di depan mata Zahra, yang saat itu usianya masih sembilan tahun menjadikan trauma tersendiri baginya. Dan trauma itu berlangsung hingga sekarang.


Deron meninggal karena kecelakaan, entah siapa pelakunya yang pasti pelakunya belum dapat dipastikan secara jelas. Dan untuk pelaku pembunuhan Zaskia dan kecelakaan Johan, Zahra sendiri masih enggan membicarakan hal itu pada keluarganya. Zahra seakan menulikan pendengarnya ketika dirinya dimintai keterangan oleh polisi tentang pembunuhan tersebut. Jangankan polisi, Deron saja harus mengusut sendiri kasus itu.


Zahra jongkok di depan makam Deron, Rio juga melakukan hal yang sama. "Assalamualaikum keempat orang tuaku. Gimana kabar kalian, Zahra harap kalian selalu baik-baik aja. Semoga Allah selalu menyayangi kalian."


Bukan empat, Ra. Tapi lima. Gue harap semoga mama Areta juga dalam keadaan baik dan selalu disayang sama Allah. Semoga mama Areta bisa memaafkan papi, karena kini mereka ada di dunia yang sama, ucap Rio dalam hati.


Setelah melangsungkan doa, mereka menaburi makam tersebut dengan bunga . Zahra berhenti menaburkan bunga, saat melihat siluet orang tengah berjongkok di makam ayah tirinya.


Zahra berdiri lalu menepuk bahu orang itu keras. Orang itu menegang, kemudian berdiri dan berbalik badan menghadap Zahra.


"Kamu siapa? Ada perlu apa ke makam papah saya?"


Orang itu diam, dia malah mengamati wajah Zahra. Wajah yang dia rindukan. Beberapa kali dia menyangkal jika wajah yang berhadapan dengannya saat ini bukan Zahra yang ia kenal, tapi ternyata memang Zahra.


Zahra tidak dapat melihat wajahnya, wajahnya tertutup oleh masker. Gambaran alis pun tidak ada yang cocok dengan isi pikirannya, tetapi jika orang itu berziarah ke makam ayahnya. Itu tandanya mereka mempunyai hubungan bukan?


"Siapa kamu?"


Orang itu tidak menjawab, melainkan berbalik badan. Saat mau melangkah, Zahra mencekal kuat tangan orang itu.


"Lepaskan tangan saya," pinta orang itu dingin.


"Saya tidak akan melepaskan kamu. Siapa kamu?"


Orang itu memberikan perlawanan, dia mengembalikan cekalan Zahra kemudian memitingnya. Orang itu menyikut perut Zahra kemudian berlari menjauh.


Rio melihat adiknya berjongkok dengan bahu bergetar, pria itu langsung menghampirinya. "Siapa dia?"


Zahra menggeleng. "Hanya beberapa orang yang tahu jika makam-makam itu ada di sini. Orang tadi tidak mungkin datang tanpa tujuan. Entahlah, tapi hati gue bilang jika itu Raisha. Ada jejak air mata di matanya, pasti dia baru menangis."


Rio memeluk Zahra dari samping, pria itu mengusap pelan bahu Zahra yang bergetar. Rio menghadapkan wajah Zahra ke arahnya, ibu jarinya bergerak menghapus air mata adiknya. "Lupa pesan gue semalam? Jangan nangis, nanti orang tua kita sedih melihat putri kesayangan mereka menangis."


"Gue yakin itu Raisha, Kak. Dia pasti mau ke makan papah sama mamah."


"Jika memang itu Raisha yang lo cari, suatu saat kalian pasti akan bertemu. Kita lanjutin menaburkan bunganya, udah jangan nangis."


Rio membawa Zahra ke makam ibu mereka, melanjutkan menaburkan bunga yang tertunda.

__ADS_1


Seseorang melihat Zahra dan Rio dari jauh, ia tersenyum simpul.


Maafin gue, gue janji bakal kembali jika urusan gue udah selesai, ucapnya dalam hati.


__ADS_2