
Zahra melepaskan safety belt-nya, membuka pintu mobil lalu melangkah keluar. Kaca mobil terbuka, pelakunya pasti orang yang masih berada di dalam mobil, ia tersenyum memandang Zahra.
"Kakak ngapain? Udah sana berangkat!" Zahra heran dengan Rizki, pria itu tak segera menjalankan mobil, diam di belakang kemudi layaknya patung. Pintu kembali terbuka, Rizki keluar lalu menarik Zahra masuk kembali.
"Kok lo malah narik gue. Gue ada kelas lima menit lagi. Jangan main-main deh, ntar gue telat," Zahra mengomel kemudian berdecak.
Rizki menoleh ke adiknya, lalu melihat jam tangannya. "Ada kelas di gedung mana?"
"Gedung A, mana dosennya killer lagi, hihhhh," dengkus Zahra sebal.
"Oke, kalau gitu gue anterin sampai gedung A. Kalau dari sini mah, lo masih jauh jalannya. Nanti kalau udah kelewat lima menit, gue anter lo ke kelas, sama mau ketemu dosen lo. Dijamin, lo bebas hukuman."
"Halahh ... ga usah sok pahlawan kalau kenyataannya lo yang bikin gue telat!"
Tanpa memerdulikan Zahra, Rizki tancap gas menuju parkiran yang berdekatan dengan gedung A.
Rizki dan Zahra keluar dari mobil, melangkah ke gedung 4 lantai tersebut.
"Di mana kelas lo?"
"Lantai 4, kelas ujung. Males banget gue sebenarnya."
"Ga encok tuh naik tangga? Kenapa ga dibikin lift aja sama papi?"
Zahra mengidikkan bahu. "Tau, biar olahraga kali." Zahra berjalan cepat menaiki tangga, meninggalkan Rizki yang berlari mengejarnya. Dirinya tidak mau terlambat di kelas ini.
"Tungguin gue, Ra!" Rizki berusaha mengejar Zahra lalu berjalan beriringan dengan gadis itu. Napasnya masih terengah-engah, heran dengan adiknya yang tidak menimbulkan reaksi apa pun. Mungkin Zahra sudah bersahabat dengan tangga.
Tiga tangga sudah terlewati, Rizki tetap mengekori adiknya yang berjalan ke ruangan sudut. Orang-orang di sana menatapnya aneh. Sesampainya di depan kelas, Zahra bernapas lega, ternyata dosen killer-nya itu belum datang.
Rizki mengangkat lengannya, jam 8 kurang 30 detik. Ia tersenyum-senyum sendiri, rekor baru dalam hidupnya. Ia menoleh pada Zahra, tersenyum cerah. "Tuhkan, gue bilang juga apa. Dosen lo belum dateng."
Zahra merotasikan bola matanya, hendak meninggalkan Rizki begitu saja. Pergelangan tangannya digenggam oleh Rizki, gadis itu menaikkan alis bertanya. Setelah memandang Rizki, Zahra menoleh pada sekitarnya.
Tak jauh dari mereka, teman satu kelas Zahra yang masih bergerombol di salah satu sudut, tengah tersenyum senang. Beberapa orang yang berlalu lalang juga tampak berbisik-bisik. Wajahnya pasti akan muncul lagi di akun gosip kampus. Zahra kembali memandang Rizki, ia tak peduli. Toh juga ia tidak kekurangan apapun walau wajahnya sering masuk timeline.
"Ya udah, lo jalan gih. Ntar dicariin sama karyawan lo."
Rizki mengangguk kemudian menarik pinggang Zahra. Mendekatkan wajah lalu mencium pipinya. Zahra sudah tak terkejut lagi dengan hal itu, ia balas mencium pipi kakaknya. Rizki melepaskan rangkulannya, adiknya melambai kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.
...****...
Tiga jam terlewati. Para mahasiswa dan mahasiswi itu bernapas lega setelah Pak Bayu keluar dari kelas mereka. Zahra mengembalikan bolpoin milik teman sebelahnya, setelah itu membereskan laptopnya.
Setelah semuanya beres, ia dan lainnya keluar kelas. Kali ini ia berbeda jadwal dengan dua bodyguard terkasihnya, alhasil gadis itu menuruni tangga sendirian, berjalan menuju kantin gedung B. Karena memang suka kumpul di sana, banyak teman-temannya yang berada di sana. Sembari berjalan, ia bersenandung kecil, sambil sesekali menyapa teman lain yang ia kenali. Tak sedikit juga yang memberinya bingkisan kecil, meskipun ia tidak pernah membuka isinya—namun bingkisan itu tidak berakhir sia-sia. Biasanya ia berikan pada pengawalnya.
__ADS_1
Sesampainya di kantin, Zahra menemukan dua curut kesayangan sudah menunggu di meja kebesaran. "Hai," sapanya pada dua gadis yang asik berbincang-bincang itu. Zahra tersenyum kemudian duduk di depan mereka
"Hai," balas Ardelia dan Ica bersamaan.
"Lah, Ina ke mana? Biasanya kan sama kalian?" tanyanya heran. Padahal, dimana ada Ica dan Ardelia, pasti disitu ada Ina. Sahabatnya yang satu itu anti sekali tertinggal.
Ardelia dan Ica saling pandang, lalu kompak mengangguk, membuat Zahra menaikkan alis. "Lah, lo belum tau kalau Ina dijauhin sama anak-anak karena ketahuan jual diri? Orang bego aja yang mau temenan sama dia. Kita ga mau ketularan," jawab Ardelia, Ica mengangguk setuju kemudian menyeruput milktea miliknya.
"Loh, masa, sih? Terus, bukannya kita sahabatan? Kalau sahabat harusnya bantuin sahabatnya bukan malah menjauhinya." Zahra menasehati kedua temannya, berharap mereka menghentikan aksi untuk menjauhi Ina. Yang Zahra inginkan ialah, persahabatan mereka kembali pulih seperti dulu.
"Dia bukan sahabat kita lagi. Tau ga lo, masa dia mau ngerebut Putra dari lo? Itu yang dinamakan sahabat?" balas Ica. Gadis petakilan itu menunjukkan ekspresi datarnya, sangat tidak cocok.
"Hee?? Ga peduli dan ga ngurus. Lagian kan Putra juga udah ada Una."
"Udahlah, males gue ngomongin dia, dari pada nafsu makan gue ilang." Ardelia menyuapkan nasi uduk ke mulutnya, malas jika terus membahas Ina. Lagi pula, kenapa Zahra malah memilih membela Zaria Marina Stevani, sang penghianat itu?
Ica mengangguk. "Lo ga pesen, Ra?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya. Gue pesen bentar, ya!" Zahra beranjak lalu berjalan ke stand mie ayam. Saat di perjalanan, matanya menemukan sosok yang tak asing lagi. Kok mirip sih, dari suaranya juga kok mirip? Tapi dia ngapain di sini? batin Zahra. "Telepon aja kali ya, itu beneran dia apa bukan?" Akhirnya Zahra memutuskan untuk menghubungi seseorang yang mirip dengan orang yang ia lihat, dari pada menduga-duga lebih baik bertanya langsung, bukan?
Gadis itu segera mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sebuah nama pada kontaknya—lalu menelepon nomernya. Zahra menempelkan ponsel itu di telinganya, sembari menunggu panggilannya terhubung.
"Halo."
"Kakak ngapain? Gue pengen main ke kantor."
"Jangan-jangan, lain kali aja. Gue pusing banget sumpah, ntar malah lo gue anggurin. Kapan-kapan aja ya mainnya."
Orang yang ditelepon Zahra memutuskan sambungan sepihak, membuat Zahra kesal bukan main. Dari tadi ia sudah mengamati gerak-geriknya. Zahra menyeringai, meremas pelan ponselnya, kembali mengantungi benda persegi itu.
Zahra berpapasan dengan Jaka yang sedang membawa makanan di atas nampan, sepertinya itu miliknya dan milik Mita. Karena, Zahra melihat Mita baru keluar dari toilet dan sedang mencuci tangannya. Ia mengambil begitu saja salah satu minuman yang ada di nampan.
"Heh, minum gue!" Jaka memelototinya.
"Ntar gue ganti!" jawab Zahra tak acuh. Gadis itu meninggalkan Jaka yang menggeleng pelan.
Dengan langkah perlahan—supaya langkahnya tidak diketahui mangsanya, gadis itu berhasil menyiramkan jus milik Jaka pada targetnya.
Pria dengan blazer crem dan celana bahan itu menggebrak meja lalu berdiri, saat akan memaki orang yang menumpahkan jus padanya ia terdiam.
"Za-zahra?" ucapnya terkejut.
Zahra menyeringai. "Ngantor, huh? Makan tuh kantor!"
Ardelia dan Ica yang mendengar keributan akhirnya menyusul Zahra. Saat sudah menemukan sahabatnya yang berdiri angkuh dengan menghadap pada seorang pria, Adelia memutuskan untuk bertanya, "Kenapa, sih? Tadi gue denger anak-anak yang di belakang ngomongin lo."
__ADS_1
Zahra mununjuk Rizki dengan dagunya. Sedangkan pria yang ditunjuk oleh Zahra menoleh malas pada Ardelia dan Ica.
"Hee? Lah, Riz ... lo kenapa?" tanya Ardelia heran.
Sedangkan Ica sudah tertawa riang sedari tadi. "Yawla Riz, kalau mau mandi itu pake air, ini ngapa make jus?" Rizki menatap gadis berambut sebahu tersebut dengan datar.
Zahra hanya menyiramkan jas itu di lengan kemeja Rizki, sebenarnya mau menyiramkan ke kepala kakaknya, tapi ia mengurungkan niat itu.
Zahra menggebrak meja lalu mendelik ke arah Rizki. "Ngapain di sini, hah? Terus goda-godain mereka, ngapain?" Zahra menunjuk beberapa mahasiswi yang duduk di samping dan depan Rizki.
"Gue ga godain mereka, tadi tempat duduknya penuh. Jadi ya gue duduk aja sama mereka."
Seseorang menghampiri Rizki tanpa memedulikan Zahra dan lainnya. "Rizki, lo kenapa?" tanyanya.
Zahra tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh sebagian rambut yang terurai, tapi gadis itu mengenali suara orang yang baru datang tersebut.
"Gara-gara dia, tuh." Rizki menunjuk Zahra kesal, harusnya ia tadi mempertimbangkan saran Rio untuk memilih kantin yang berada di gedung A, B, C dan D, karena empat kantin itu sering disinggahi oleh Zahra dan kawanannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau gebetannya berjalan jauh karena kuliahnya berada di gedung B. Terpaksa, walau sejak awal perasaanya tidak enak karena telah melihat beberapa teman Zahra sudah menduduki beberapa meja.
Gadis dengan coat hijau tersebut menoleh pada Zahra, mulutnya terbuka sesaat karena terkejut. Zahra menunjukkan senyum setannya.
"Jadi lo siapanya dia? Pacar atau gebetan?" tanya Zahra. Gadis itu terdiam kemudian menatap Rizki.
Zahra terkekeh, memandang gadis itu dari atas hingga bawah. "Jadi, masih pedekate ya ... gue saranin jangan mau sama dia. Tadi aja gue lihat dia lagi godain cewek-cewek di sebelahnya, tuh." Rizki berkata benar, ia tidak menggoda mahasiswi di sini, Zahra hanya mau mengerjai kakaknya saja.
"Tau, ah!" Gadis tadi beranjak keluar kantin, Zahra memandangnya dengan tawa.
"Awas, lo, Ra!"
Zahra menahan tangan Rizki yang ingin mengejar gebetannya. "Apa?" ucap Rizki kesal.
"Sensi amat masnya, masa lo mau ngejar cewek dengan pakaian kotor kek gitu. Ga banget."
Rizki melepaskan blazer yang dipakainya dengan perlahan, lalu menggulung blazer itu menjadi gulungan kecil. Pria dengan kaus putih itu terlihat mempesona.
"Ugh, abang gue ... ganteng banget," goda Zahra. Gadis itu tersenyum manis.
Rizki memberikan gulungan tadi pada adiknya. "Taruh di mobil." Setelahnya dia pergi.
Zahra memandang kedua temannya yang sejak tadi menyimak obrolan mereka. Ia memberikan gulungan yang Rizki berikan itu pada Ardelia. "Taruh di atas tas gue."
Ardelia menerimanya, kemudian mengangguk. "Lo hutang cerita sama kita."
"Nahhh, benar! Lo pasti mau balikan ya sama Rizki?" tambah Ica. Gadis itu memicingkan mata, mengarahkan telunjuknya pada Zahra.
Zahra menurunkan jari Ica. "Gue pesen dulu! Nanti gue ceritain." Gadis itu berlalu, berjalan ke arah stand yang diinginkannya, sembari menunggu ia memesan jus untuk menggantikan minuman Jaka dan untuk dirinya.
__ADS_1