
Angin malam berembus kencang di Waisai, membuat siapa saja yang tengah berkeliaran malam atau sekadar menikmati terangnya bulan menjadi kedinginan. Tapi lain bagi gadis berambut sepinggang itu, ia malah duduk di teras sambil menikmati bintang yang bertaburan di langit.
Seseorang duduk di sebelahnya, menemaninya menikmati keindahan malam di Waisai.
Ah, dari parfumnya saja sudah tercium siapa yang duduk di sebelahnya.
Gadis itu menoleh. "Ra ...!"
"Hm ...," jawab gadis di sebelahnya. "Lo kok belum tidur, udah jam sepuluh ini," lanjutnya kemudian.
Gadis itu menggeleng. "Gue bingung." Lalu gadis itu memeluk seseorang di sebelahnya, cairan bening keluar begitu menemukan tempat mengadu. Zahra langsung membalas pelukan itu.
"Gue bingung ... gue ga tau apa yang harus gue lakukan dengan anak ini," ujarnya pelan.
Zahra mengusap kepala sahabatnya dengan lembut. "Yang pasti lo harus jaga dia, sayangi dan jaga dia seperti lo menjaga diri lo sendiri. Pokoknya jangan melakukan tindakan yang akan membuat lo menyesal suatu saat nanti."
"Tapi dia hadir tanpa keinginan gue."
"Mau tanpa keinginan ataupun dengan keinginan, janin yang ada di diri lo itu tetep calon anak lo. Anak yang lo kandung. Itu artinya, Tuhan mercayain anak ini buat dirawat sama lo, makannya Tuhan hadirin janin itu di diri lo."
"Gue ga tau, gue bisa pertahain dia atau engga."
"Ustt, lo harus yakin dan mempertahankannya. Dia hasil lo dan seseorang yang gue ga tau, yang pasti dia darah daging lo."
"Lo yakin kalau gue bisa bertahan?"
Zahra mengangguk yakin. Ina melepaskan pelukannya lalu kembali menatap bintang. "Untuk saat ini, gue ga pengen semuanya tau dulu. Lo rahasiain tentang kehamilan gue ya, Ra?" pinta Ina memelas.
Zahra mengusap punggung sahabatnya. "Iya, bakal gue rahasiain. Mungkin untuk saat ini, itu yang terbaik."
Ina berbalik menghadap sahabatnya, lalu memegang kedua tangan Zahra. "Ra, makasih. Lo selalu ada buat gue, lo tulus. Ga peduli seberapa banyak salah gue sama lo, lo tetep orang yang paling peduli di antara yang lain. Padahal, gue dulu yang ingin hidup lo hancur, tapi keadaan berbalik. Sekarang malah hidup gue yang hancur."
Zahra melepaskan tangannya lalu memeluk sahabatnya. "Heyy, ga papa kok. Gue udah maafin lo, gue juga udah lupa kejadian itu. Hidup lo ga hancur, malahan dia yang akan membuat hidup gelap lo jadi bersinar. Udah, jangan nangis!"
__ADS_1
Zahra mengulurkan tangannya, bergerak menghapus cairan bening yang terjatuh dari manik di depannya.
"Gue pasti akan jaga anak ini, kok," ucapnya sambil tersenyum.
"Nah, gitu dong, senyum. Sekarang lo ceritain gimana janin ini bisa ada di perut lo," ucap Zahra sambil menunjuk perut Ina yang masih datar.
Ina mengangguk, sebenarnya ia agak ragu. Tapi jika dengan bercerita rasa gelisah di hatinya mungkin akan berkurang, maka ia akan melakukannya.
"Dulu," Ina memulai ceritanya, "gue ga kenal sama pria yang selalu main sama gue. Gue dan three chili dijebak sama sekelompok pria. Mereka baik sama kita, tapi perlahan mereka mengungkapkan jati diri jika mereka ingin kita.
"Beruntung three chili bisa lepas dari mereka, tapi enggak buat gue. Gue udah minta bantuan three chili buat bantu gue lepas dari dia. Tapi, mereka ga ada yang berani, mereka takut jika kembali berurusan dengan pria-pria itu. Itu alasan kenapa mereka ngehindarin gue, mereka takut gue mintain pertolongan.
"Pria itu, dia selalu memaksa dan membuat gue ga bisa lepas dari dia. Dia selalu nawarin diri buat bantuin gue di setiap kelakuan buruk yang gue lakuin. Pen-penculikan Una itu juga hasil bantuan dia. Setelah kalian pergi hari itu, kita juga melakukannya.
"Dia selalu ngajak berhubungan di setiap akhir minggu. Ini yang gue paling nyesel, setiap kali dia ngajak, gue selalu ga berkutik. Gue selalu ngikutin dia. Entah kapan janin ini hadir, gue gatau. Dia selalu rutin ngunjungin gue.
"Perkataan dia yang terakhir membuat gue selalu berpikir sampai hari ini, habis itu dia gak pernah nampakin diri lagi di hadapan gue." Ina menghela napas lalu menatap sahabatnya. "Itu makannya gue bingung sama anak ini."
"Kalau boleh tau, emang dia ngomong apaan yang terakhir?"
"Malam sebelum dia menghilang, dia datang ke rumah dalam keadaan marah. Dia nuduh gue tidur sama cowok lain, padahal itu ga seperti apa yang dia lihat. Dia tau kalau Putra hari itu nginep di rumah gue, tapi kita ga ngelakuin apa-apa karena gue posisinya juga lagi marah sama dia. Dan hari itu memang kita ga ada niatan apa-apa, Putra habis nolongin gue waktu itu. Dia cuma tidur, itu aja. Dan pria itu, dia gampar gue, nyayat, pokoknya dia marah banget sama gue.
"Malam itu kita bertengkar hebat, pada akhirnya dia yang menang. Gue nangis kejer. Dia ngiket gue di ranjang, dia ngelakuin itu sama gue, kasar banget. Gue, udah mau pingsan rasanya. Gue ga bisa nikmatin apa pun saat permainan terakhir itu.
"Tapi saat dia selesai main, dia cium seluruh wajah gue, apalagi pas bagian yang dia sayat. Gue samar-samar denger dia ngomong gini, 'Gue sayang sama lo, Marina. Love you.' Habis itu dia ngecup pipi gue, lama banget sebelum akhirnya gue ga sadar.
"Paginya, gue bangun dalam keadaan badan sakit semua. Ikatan gue juga udah lepas, baju yang gue pakai juga baju bersih dan selimut itu melekat sempurna di tubuh gue. Akhirnya hari itu gue ga ngampus, gue bolos. Setelah dia nglakuin itu, dia menghilang. Sampai hari ini gue ga ketemu dia lagi." Ina mengakhiri ceritanya dengan mata sedih yang kentara. Sakit rasanya ketika mengingat kejadian itu, apa itu juga yang dirasakan Zahra sewaktu dirinya berbuat demikian?
"Lo sabar aja! Pokoknya kalau gue tau cowok yang ngehamilin lo, gue akan bawa dia ngadep lo. Tenang aja!"
Ina tersenyum paksa, mengangguk setuju. Ia sendiri tidak yakin pria itu akan kembali untuknya.
"Kalau dia emang bener-bener sayang sama lo, berarti dia cemburu sama Putra. Soalnya Putra nginep di rumah lo. Itu sebabnya dia ga ngelepasin lo kayak yang lain, dia pengen bareng terus sama lo. Tapi kalau nginep doang kan, seharusnya dia ga semarah itu?" Kening Zahra berkerut.
__ADS_1
"Putra ... dia tidur di kamar gue."
"Apa?" Zahra membulatkan matanya, menatap Ina tak percaya, gadis itu terbengong sesaat sebelum kembali mengatupkan bibir. "Itu ... itu alasan dia marah banget sama lo. Dia pasti cemburu."
"Tapi, dia tau dari mana?" tanya Ina bingung.
"Coba deh, kalau kita udah pulang nanti cek kamar lo. Tebakan gue sih, dia pasang CCTV. Kalau dia bener-bener sayang, pasti dia bakal balik buat bayi lo. Mengingat kamar lo yang dia pasangin CCTV, pasti dia juga mata-matain lo. Dia harusnya tau kalau saat ini lo ngandung anaknya dia, kecuali kalau dia emang bener-bener udah ga peduli sama lo."
"Ya udah kalau emang dia ga peduli. Gue bakal tetep perjuangin bayi ini sendirian. Thanks, udah dengerin curhatan gue dan tetap nerima gue jadi sahabat lo meskipun gue kayak gini."
Zahra tersenyum hangat. "Ayo masuk, gue buatin coklat panas."
Ina menggeleng. "Ga, gue masih pengen lihatin bintang." Gadis yang memakai baju maroon itu mendekatkan lututnya pada dada, memeluk diri sendiri agar kehangatannya tetap terjaga. Matanya kembali memandang birunya malam.
"Ya udah gue masuk dulu, nanti gue ke sini lagi."
Ina mengangguk tanpa menoleh, Zahra masuk ke penginapan untuk membuat coklat. Tak sadarkah mereka jika sedari tadi ada seseorang yang mencuri dengar obrolan?
Orang itu keluar dari persembunyiannya dan menyeringai. "Udah hancur ya sekarang? Berati usaha lo membuat orang hancur malah balik ke diri lo sendiri," ejeknya sambil tersenyum kemenangan.
Ina membulatkan mata ketika menyadari suara itu, ia menengok ke belakang. Orang itu berdiri tak jauh di belakangnya.
"Hmm, kaget ya?" Senyum liciknya mengingatkan Ina kepada perjanjian mereka malam itu. Ah, ia selalu membencinya.
"Lo ...?" Ina seketika berdiri, menatapnya nyalang. Tak disangka, dari sekian banyak penghuni penginapan, kenapa harus dia?
Mata yang tadinya berbinar, kini kehilangan binarnya dan perlahan meredup. "Jujur, gue seneng melihat lo menderita gini. Tapi, kisah lo tadi buat gue perihatin. Gue bayangin, seandainya adik gue yang ada di posisi lo ...." Orang itu menggeleng. "Bener kata adik gue, lo harus jagain dia. Gue mau lo besarin calon ponakan gue. So, baikan?" ucapnya sambil mengulurkan jari kelingking dan tersenyum tulus. Tidak seperti tadi yang tersembunyi devil.
Gadis itu mengerjab pelan, ini di luar dugaannya. Ina ragu-ragu untuk membalas uluran itu, tapi pada akhirnya ia mengaitkan jarinya pada kelingking itu.
"Iya, baikan. Makasih." Ina membalas senyuman tulus itu.
Mereka kemudian melepaskan tautan kelingkingnya, tersenyum canggung.
__ADS_1
"Ayo masuk, udara dingin ga baik buat kandungan." Pria itu memilih mengakhiri rasa canggungnya, mengatakan sesuatu yang bermanfaat.
Ina akhirnya mengangguk. "I-iya." Mungkin setelah meminum coklat panas, ia harus kembali membalut tubuhnya dengan selimut.